
Yang masih bocil diharap menyingkir jauh-jauh.
Amelia mematut dirinya di depan cermin. Dia berdandan dan memakai lipstik berwarna merah. Ia semprotkan sedikit parfum di leher dan tubuhnya. Aroma lavender dan mawar menyeruak di seluruh kamar.
Amelia menoleh ke arah jam dinding di kamar, sebentar lagi suaminya akan segera pulang. Sebelum suami pulang, dia memastikan dirinya untuk tampil cantik dan menggoda. Dia sengaja memakai lingerie warna merah, berbahan transparan, mengekspos setiap bagian lekuk tubuhnya.
Suara mobil Thomas terdengar di telinga Amelia. Kemudian dia merebahkan tubuhnya, memberikan posisi yang paling menantang.
"Ya, Ampun. Aku seperti wanita penggoda saja dengan posisi seperti ini. Tapi, tidak apa-apa, ini demi meluluhkan hati suami yang keras seperti baja," batin Amelia.
CEKREEK ...
Suara pintu di buka dari luar. Thomas masuk dan menoleh ke arah sang istri yang sedang rebahan, sambil memainkan ponsel. Padahal Amelia hanya berpura-pura, untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Thomas yang melihat pemandangan menggairahkan itu menelan ludahnya sendiri.p
"Tidak, Tidak. Aku tidak boleh terpancing. Dia hanya ingin menggodaku supaya aku tidak marah lagi. Padahal aku sengaja ingin memberikannya pelajaran! Aku ingin tahu, seberapa besar cintanya kepadaku!" ucap Thomas di dalam hati. Melihat reaksi suaminya biasa-biasa saja, tentu saja membuat Amelia heran. Dia pun berinisiatif untuk lebih mengekspos pahanya yang putih. Lagi-lagi Thomas menelan salivanya.
"Ck, Apa-apaan sih Amelia? Apa dia memang sengaja ingin menggodaku!" gumamnya. Amelia semakin gemas karena belum ada reaksi dari suaminya, dia pun berdiri dan menghampiri suaminya.
"Mas baru pulang? Amelia kok nggak dengar Mas pulang?" tanya Amelia mencium punggung tangan suaminya.
"Hem," jawab Thomas, "Tadi aku ada meeting dengan klien," imbuhnya.
"Oh, begitu. Oya, Mas mau mandi?" tanya Amelia. Dia mendekatkan hidungnya ke tubuh sang suami, Thomas sedikit beringsut. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan istrinya.
"Sayang, Apa yang kau lakukan?" tanya Thomas.
"Bau asem. Sana mandi!" kata Amelia tiba-tiba sambil menutupi hidungnya.
"Apa? Mana ada aku bau!" manyun Thomas. Kemudian dia mencoba untuk mencium tubuhnya sendiri.
"Tidak bau. Kau bohong ya!" ucap Thomas. Amelia terkekeh geli.
Amelia menatap suaminya dengan tatapan menggoda, kemudian dia menarik tengkuk Thomas. Dia menciumi bibir Thomas dengan gemas, dia sengaja melakukan itu, karena ini adalah sebuah trik supaya suaminya berhenti marah.
"Sayang, Apa yang kau lakukan?" nafas Thomas nampak memburu mendapatkan serangan ciuman yang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan memakan mu!" goda Amelia menirukan auman harimau betina. Thomas bergidik ngeri.
"Ya Ampun, Apakah istriku salah makan? Kenapa jadi agresif begini?" lirih Thomas.
"Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Thomas. Amelia mendorong tubuh Thomas hingga jatuh ke tempat tidur. Kemudian ia melepaskan jas yang masih melekat di tubuh suaminya. Dengan gaya sensasional, Amelia menindih tubuh Thomas.
"Astaga, Sayang, kamu nggak apa-apa kan? Kamu nggak salah minum obat kan?" ucap Thomas sambil memegang kening istrinya.
"Ck, Mas pikir aku tidak waras!" cibir Amelia. Kemudian beranjak dari tubuh suaminya. Thomas terkekeh geli melihat reaksi istrinya.
"Mas sudah tidak marah lagi kan?" tanya Amelia, "Buktinya Mas sudah bisa tertawa," ucap Amelia.
"Oh, jadi Kau sengaja memancingku supaya aku tidak marah lagi begitu?" tanya Thomas, Amelia hanya terkekeh geli.
"Baiklah, karena kau sudah membangunkan singa jantan yang sedang tertidur, kau harus mendapatkan hukumannya!" ucap Thomas sambil menerkam tubuh istrinya tanpa ampun.
Thomas menggelitik setiap inci tubuh istrinya, membuat Amelia berteriak-teriak kegelian. Untung saja kamarnya dilapisi dengan dinding kedap suara, sehingga teriakan dan jeritan Amelia tidak terdengar sampai ke luar.
"Mas, hentikan. Geli, Mas!" sewot Amelia.
"Cepatlah mandi!" suruh Amelia.
Thomas melucuti semua pakaian yang menutupi tubuh molek istrinya, hingga terpampang lah pemandangan yang sangat indah di depannya. Kemudian dia melucuti pakaiannya sendiri.
Melihat keindahan tubuh istrinya, Thomas tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menindih tubuh Amelia, ia menciumi seluruh bagian sensitif istrinya dan meninggalkan bekas kemarahan di tubuh mulus sang istri. Amelia yang mendapat serangan demi serangan itu, mendesah nikmat merasakan sentuhan demi sentuhan yang diberikan suaminya.
Setelah cukup pemanasan, Thomas tidak mau menunggu terlalu lama. Mereka melakukan penyatuan sebagai sepasang suami istri yang halal. Sampai waktu dini hari barulah mereka selesai melakukan olahraga panasnya.
Amelia sudah tidak kuat berjalan, Thomas benar-benar mengerjai tubuhnya hingga tidak bisa berjalan dan badan juga terlalu lemas. Thomas yang melihat istrinya tidak berdaya, dia pun berinisiatif membantu sang istri untuk bersih-bersih.
Dengan telaten Thomas memakaikan baju tidur di tubuh Amelia. Kemudian barulah ia menyuruh sang istri untuk tidur terlebih dahulu.
"Mas mau kemana?" tanya Amelia.
"Mas lapar, sepulang kerja belum sempat makan malam," jawabnya.
"Astaga, jadi Mas belum makan malam?" ucap Amelia.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa. Biar nanti aku ambil sendiri," jawabnya.
"Nggak bisa begitu dong! Aku kan istri kamu, Mas! Jadi, sudah kewajiban aku untuk melayanimu!" ucap Amelia.
Amelia mencari makanan di dapur. Ternyata sudah tidak ada, sepertinya para pelayan tidak menyisihkan lauk pauk di kulkas. Terpaksa dia harus membuat makanan untuk suaminya.
Di dalam kulkas hanya ada telor, sosis dan bakso. Amelia pun memasak nasi goreng dengan bahan seadanya. Hidangan sudah siap, dia menatanya dipiring yang besar, dengan toping sosis dan telor mata sapi.
"Wah, sepertinya menggoda, Sayang!" ucap Thomas yang baru saja keluar dari kamar karena mencium wangi masakan istrinya.
"Tentu saja, kan istrimu yang memasaknya. Sekarang duduklah!" Amelia meletakkan nasi goreng dan segelas air putih di depan suaminya.
Thomas menikmati nasi goreng itu, memang masakan istrinya tidak ada lawannya. Sungguhlah sangat sedap. Sekali-kali Thomas menyuapi istrinya juga.
Lain dengan Thomas dan Amelia. Pasangan Bram dan Alina juga tidak kalah romantis. Walaupun Alina tidak bisa memasak, dia berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Sepulang dari klinik, dia sengaja mengikuti kursus memasak supaya dia bisa belajar menjadi istri idaman bagi suaminya. Lelah memang, tapi, niatnya membuat dia bersemangat mengikuti kursus tersebut.
Di pagi hari yang cerah ini, sengaja Alina bangun pagi untuk membuatkan sarapan. Kali ini Alina ingin membuatkan omelette untuk suaminya. Seperti yang dia pelajari di kursus, Ia memasak omelette sesuai dengan bahan-bahan yang ada.
Omelette sudah siap dihidangkan, dia pun menatanya di meja makan. Bukan hanya Omelette yang dia hidangkan, ada nasi goreng juga. Dari arah belakang, tiba-tiba tangan kekar Bram memeluknya.
"Sedang apa, Sayang?" tanya Bram.
"Abang sudah bangun. Cepatlah mandi Bang! Aku sudah membuatkan sarapan!" ucap Alina.
"Oke," jawab Bram bergegas mandi, karena ingin mencicipi nasi goreng dan omelette istrinya.
Bram sudah siap dengan pakaian kantornya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Dia duduk di ruang makan, sembari menunggu Alina mengganti baju.
"Bang, kok nggak di makan?" tanya Alina.
"Menunggu kamu, Sayang," jawab Bram. Lalu, Alina duduk di sebelah suaminya. Menyendokkan nasi goreng di piring suaminya.
"Ayo, Bang, cicipi masakan ku! Ini adalah masakan pertama ku, Bang. Kamu adalah orang yang beruntung bisa mencicipi masakan ku," ujarnya.
"Baiklah,"
__ADS_1
to be continued...