Amelia

Amelia
Episode 152


__ADS_3

Dicky terkejut melihat banyak foto terpasang di dinding. Foto Amelia. Dan yang paling membuatnya terkejut, banyak gambar koran bekas yang terpasang di dinding. Dicky mendekati gambar tersebut dan mengamatinya. Gambar sebuah kecelakaan. Namun yang membuat Dicky aneh, semua foto itu adalah foto kecelakaan lalu lintas beberapa tahun yang silam.


"Bukankah ini Monica? Jadi foto kecelakaan itu adalah foto saat Monica kecelakaan. Lalu, Apa hubungannya dengan keluarga Thomas?" monolog Dicky.


"Tunggu, Tunggu!"


"Apa kecelakaan itu ada hubungannya dengan keluarga Williams?" Dicky nampak mengamati setiap tulisan kecil yang ada di potongan gambar tersebut, "Tulisannya terlalu kecil dan sudah tidak jelas, aku tidak bisa membacanya!"


"Aku harus cari cara lain!"


Saat Dicky hendak mengacak-acak isi lemari Diego, telinganya mendengar ada suara mobil yang berhenti di halaman rumah. Dia pun langsung mengintip dari balik korden.


"Ah, Diego sudah pulang. Aku harus keluar dari kamarnya!" dengan bergegas Dicky keluar dari kamar Diego.


"Hey, Bro. Mau kemana?" tanya Diego saat berpapasan.


"Aku mau keluar sebentar. Gue duluan ya, Kak!"


"Oke, hati-hati!"


Diego masuk ke kamarnya. Dia mengernyitkan alisnya. Melihat lampu kamar menyala.


"Perasaan saat aku pergi, aku mematikan lampu? Siapa yang masuk ke kamar?" gumamnya.


"Ah, sudahlah. Aku mau mandi. Badanku capek banget!"


Bergegas dia mandi dan membersihkan tubuhnya. Seharian diluar membuatnya berkeringat dan lengket. Berendam adalah salah satu cara untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya.


"Ah, segarnya," gumam Diego.


"Amelia! Kau akan menjadi milikku. Menggantikan posisi Monica dihatiku!" gelaknya sambil menatap langit-langit kamar mandinya.


"Thomas sudah tidak ada lagi. Dan Kau akan segera terusir dari rumah besar itu. Aku akan datang sebagai dewa penolong mu. Dan ... !" Diego tertawa terbahak-bahak.


"Kau akan segera menjadi ratuku! Tidak apa-apa jika kau sudah mempunyai anak, aku akan menganggap anakmu juga seperti anakku! Tapi, anaknya Thomas .. ! Akan aku singkirkan dia!" senangnya.


"Hallo!"


"Iya, Hallo!"


"Hey, Wan. Masih ingat gue?" ucap Dicky.


"Ingatlah. Lo, kan teman gue. Masa gue nggak ingat!"


"Kirain Lo sudah lupa siapa gue!"


"Ingat!" ucap Awan tersenyum, "Tumben nelfon gue. Ada apa tiba-tiba nelfon gue?"


"Iya, nih. Gue butuh bantuan, Lo!"


"Ada apa, Bro?"


"Lo masih bekerja di kantor Berita Harian Hangat kan?"

__ADS_1


"Iya. Ada apa, Bro?"


"Bisa Lo cek siapa wartawan berita yang meliput kasus kecelakaan pada tahun 19xx?"


"Wah lama juga ya? Paling wartawan tuh sudah tidak bekerja disitu!"


"Makanya itu, aku ingin kamu cek!"


"Ada apa sih?"


"Nggak bisa gue jelaskan ditelepon. Karena ceritanya panjang banget!"


"Gue minta tolong banget. Bantu gue mencari informasi kecelakaan pada tahun tersebut!"


"Sebenarnya sih tidak boleh membagikan data kepada orang yang tidak berkepentingan dengan kantor. Tapi, karena Lo adalah teman baik gue. Oke, nanti coba gue cari tahu!"


"Thanks ya, Bro. Tolongin gue ya, Bro! Kabari gue secepatnya! Karena ini penting banget!"


"Okey, deh! Gua akan usahakan!"


"Terimakasih,"


Thomas berusaha dengan keras untuk melatih kakinya supaya bisa berdiri. Dia harus bisa berjalan kembali. Dan pulang ke rumah.



Thomas sangat merindukan istri dan anak-anaknya. Setiap malam dia selalu terbayang-bayang wajah Amelia. Wajah cantik istrinya. Setiap memandangnya, hatinya terasa syahdu dan tenang.




Thomas kembali bangkit, saat dia terjatuh karena berusaha untuk berdiri. Keinginannya untuk bisa berjalan sangat kuat. Membuatnya tidak patah semangat dan harapan.



Sesekali Arum memapah tubuh Thomas. Dan melepaskan. Saat Thomas akan jatuh, Arum dengan sigap menangkapnya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Seakan-akan mau keluar dari tempatnya berdetak.



Arum mengulas senyum. Setiap hari dia bisa melihat wajah tampan rupawan pria kekar di depannya. Semakin hari perasaan kekagumannya berubah menjadi perasaan cinta yang mendalam. Membuat Arum takut sesuatu. Takut Thomas pergi dari sisinya.



Hari demi hari, ada sedikit kemajuan pada kaki Thomas. Thomas mulai bisa berdiri dengan kuat. Tanpa terjatuh dan sakit. Itu semua adalah kemajuan yang sangat pesat.



Pak Badi selalu mengatakan kalau dia bisa berdiri dengan tegap, besar kemungkinannya bisa sembuh dengan cepat. Dan Thomas bisa kembali berjalan seperti semula.



Lelah berlatih berdiri, Thomas pun duduk di kursi depan. Dia mengatur nafasnya, yang ngos-ngosan akibat latihan tadi. Sesekali dia melamun dan mengurutkan kejadian demi kejadian yang menimpanya.

__ADS_1



Tiba-tiba Thomas tersadar. Ada sesuatu yang dia lewatkan. Dan hampir dia tidak mengingatnya.



\# ***Flash back***


Saat itu mobil Thomas tersangkut di pohon dan hampir jatuh ke jurang. Dia melihat sosok Bram keluar dari sebuah mobil. Bram nampak ketakutan dan merasa bersalah. Thomas berusaha meminta tolong dengan tenaganya yang tersisa, tapi, justru Bram pergi meninggalkannya. Kemudian mobil Bram melesak pergi entah kemana.



Setelah mobil Bram tidak terlihat, mobil warna hitam datang. Keluar seorang pria dengan memakai kacamata hitam. Dia mengulas senyum bahagia.


"Thomas Williams putra dari pengusaha terkenal bernama Davidson Williams. Ayahmu sudah merenggut segalanya dari ku. Dia yang sudah menyebabkan calon istriku mati secara mengenaskan. Tepat di hari pernikahan kami. Aku tidak akan melupakan itu semua!" tawanya.


"Kau tahu apa yang menyebabkan Ayahmu mati di RS. Akulah orang yang sudah memutus selang oksigen ayahmu. Dan seketika dia terbujur kaku di tempat tidurnya!" senang pria itu.


"Apa kau tahu, apa yang membuat ku paling bahagia?"


"Breng-sek Ka-u!" ucap Thomas terbata.


"Ha ... Ha ... Ha!"


"Adik angkatmu yang akan membalas semuanya. Jadi, Aku tidak usah bersusah payah mengotori tanganku sendiri!" tawanya.



Setelah pria itu mengatakan itu semua, pria itu menjatuhkan batu ke sisi mobil bagian kanan. Keseimbangan mobil tidak pada tempatnya, akhirnya mobil Thomas terguling ke jurang.



Thomas ingat betul, dirinya terpental ke sungai. Tepat mobil itu meledak. Dan tentulah sang Mama menjadi korban di sana.



Api berkobar semakin tinggi, namun tubuh Thomas sudah lemas. Dia tidak berdaya saat aliran sungai membawanya. Hingga sampai ke tempatnya sekarang.


Tidak terasa air matanya menetes dengan deras. Arum yang duduk didekatnya sangatlah terkejut. Dia bingung harus bagaimana.


"Ada apa, Kak?"


"Mamah aku?" isak Thomas.


"Ada apa dengan Mamah kakak?"


"Dia berada di mobil itu. Mobilnya meledak!" isak Thomas lagi. Arum memberikan bahunya agar Thomas bisa menangis di bahunya.


"Sabar, Kak. Kakak harus bisa jalan!"


"Terimakasih. Kamu sudah memberikanku semangat yang besar!"


"Sama-sama!" senang Arum.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2