
Selesai mandi Thomas memakai baju santainya. Dia pergi ke kamar putri kecilnya, untuk melihat apakah Sherly sudah bangun atau belum. Dengan dibantu oleh baby sister, ternyata Sherly sudah mandi dan cantik.
"Sayang?" panggil papanya.
"Papa." Sherly menghambur ke pelukan papanya.
"Kapan papa pulang?" tanyanya.
"Kapan yah?" goda Thomas, sambil menggelitik tubuh putri kecilnya.
"Geli, Pah! Geli!"
"Ha .... ha ..... ha." tawa Cherly merasa sangat bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan papanya kembali. Mereka memang jarang bertemu, itu semua karena kesibukan Thomas mengurus beberapa Perusahaannya.
"Sebentar ya, Papa punya hadiah buat kamu, Sayang!" ucap Thomas, kemudian Thomas kembali ke kamarnya untuk mengambil boneka beruang yang sangat besar.
"Taraaa." Thomas memberikan boneka jumbo itu kepada putri kesayangannya.
"Wow, besar sekali, Pa!" heran Sherly, karena bonekanya memang sangat besar, bahkan tingginya dengan dirinya hampir sama.
"Kau suka?" tanya Thomas.
"Sangat suka, Pa!" jawabnya sangat bahagia.
"Lain kali akan Papa belikan boneka yang lebih besar lagi dari ini!" ucap papanya.
"Benarkah, Pah? Terima kasih, Pah! Sherly sayang papa," ucapnya seraya memeluk papanya dengan sayang.
"Iya, Sayang! Papa juga sangat menyayangi Sherly," ucap papanya, mengecup kening putri kecilnya dengan sayang.
"Wah, sepertinya Sherly bahagia sekali bertemu Papa!" ujar Omanya yang tiba-tiba masuk ke kamar Sherly.
"Tentu dong, Oma! Karena Sherly kan lama nggak ketemu papa! Jadi Sherly senang sekali!" jawabnya sangat menggemaskan, Oma dan papanya tertawa melihat tingkah lucu gadis cilik ini.
__ADS_1
"Oya, kata Oma, Sherly habis makan ice cream! Kok nggak ngajak papa?" tanya papanya.
"Kan papa nggak di sini! Jadi Sherly dan Oma mengajak Tante cantik," ucapnya.
"Tante cantik!" Thomas agak bingung.
"Tante cantik, Siapa?" tanya papanya.
"Tante cantik yang bekerja di butiknya Oma! Iya kan Oma?" cakap Sherly, Thomas melirik ke arah mamanya.
"Oh, itu, karyawan mama! Dia memang sangat cantik, namun dia sudah menikah!" ujarnya.
"Oh," jawab Thomas ber'oh ria.
"Oya, waktunya makan malam! Ayo kita makan malam dulu!" ajak Omanya.
"Ayo," jawab Ayah dan anak ini serentak.
Sherly sangat bahagia dengan kepulangan papanya. Terlihat dari sifat manjanya, mau turun ke lantai satu saja, Sherly meminta gendong kepada sang papa. Namun Thomas juga menuruti kemauan sang anak. Thomas menggendong tubuh Sherly dengan gaya pesawat terbang, Sherly sangat bahagia. Omanya mengekor di belakang ayah anak itu, tersenyum bahagia.
Selesai makan malam, Sherly bermain dengan papanya diruang tamu. Sekali-kali, dia akan bercerita banyak mengenai kegiatannya sehari-hari di Sekolah. Dia juga bercerita mengenai Tante cantiknya kepada papanya. Thomas mulai tertarik dengan cerita putri kecilnya. Thomas mendengarkan putri kecilnya bercerita dengan antusias.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Thomas menyuruh putri kecilnya untuk tidur. Namun Sherly enggan, dia masih ingin bercerita banyak kepada sang papa. Akhirnya Thomas memutuskan untuk menemani putri kecilnya untuk tidur. Sherly meminta papanya untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Namun Thomas menolak, karena memang dia tidak pernah membacakan dongeng. Biasanya Sherly tidur ditemani oleh sang Oma. Sebelum Sherly tidur, Oma akan membacakan dongeng terlebih dahulu. Thomas yang tidak terbiasa membacakan dongeng pun terasa aneh ditelinga putrinya. Membuat Sherly tertawa terpingkal-pingkal, karena sang papa sangat lucu membacakan dongeng.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Sherly tertidur juga, tidurnya sangat menggemaskan. Sherly kecil akan tertidur pulas jika sudah menghisap ibu jarinya. Thomas juga sangat mengantuk, ia memberikan kecupan selamat tidur untuk putri kecilnya. Kemudian dia beralih ke kamarnya sendiri untuk beristirahat. Badannya juga terasa sangat lelah dan letih.
Keesokkan paginya
Seperti biasanya Amelia akan bangun pagi untuk menyiapkan sarapan paginya, ia sudah sibuk di dapur berkutat dengan bahan-bahan dan peralatan dapur. Hari ini, dia memasak masakan yang simpel dan praktis. Karena memang hanya untuk dirinya sendiri. Selesai memasak, dia langsung mandi dan bersih-bersih. Sekalian menunggu makanannya agar tidak terlalu panas.
Amelia sudah siap dengan pakaian kerjanya, ia menyambar tas kesayangannya. Sebelum bekerja dia akan sarapan dan meminum susu hamil terlebih dahulu. Namun saat dirinya akan memakan sarapan, suaminya datang bersama madunya. Mereka berjalan bergandengan tangan, sangat mesra. Amelia membulatkan matanya dengan tajam.
__ADS_1
"Mel?" panggil Arga, membuat dadanya terasa panas dan sesak.
"Mau apa kau bawa madumu kemari, Mas?" ketus Amelia.
"Mel, aku mohon! Aku hanya ingin kamu dan Ratih lebih akrab lagi!" ujarnya, membuat Amelia sangat muak mendengar kata-kata suaminya.
"Akrab?"Amelia tersenyum sinis.
"Kamu sudah tidak waras ya, Mas! Kamu menyuruhku untuk menerima wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga kita?" kesal Amelia.
"Bukan begitu, Sayang! Aku hanya ingin kalian berdua akur!" jawabnya.
"Aku mohon terimalah dia sebagai madumu!" ujarnya lagi tanpa merasa malu.
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi urusanmu! Jika memang kau sudah tidak menginginkan aku lagi! Sebaiknya kita bercerai saja!" marah Amelia, sambil berlalu pergi tanpa menyentuh sarapan yang tadi dibuatnya.
Amelia berlari meninggalkan pasangan suami istri itu dirumahnya, kemesraan mereka membuat hatinya sangat hancur. Di dalam taksi, dia menangis. Hatinya begitu sakit, berkali-kali suaminya menyiksa batinnya.
Namun rasanya sangat sulit untuk menerima semuanya.
Taksi berhenti di depan butik, Amelia menyeka air matanya yang masih menetes. Dia takut kalau orang lain sampai tahu, kalau dirinya sedang bersedih. Dia berpura-pura tersenyum, walaupun sebenarnya hatinya sangat kacau.
"Selamat pagi, semua?" sapanya kepada semua karyawan di sana.
"Selamat pagi, Mba Amelia!" jawab mereka serempak.
"Wah, mba hari ini cantik sekali," puji Desy, salah satu karyawan butik.
"Ah, mba Desy bisa saja!" jawab Amelia terasa malu.
"Benar lho, Mba! Mba Amelia sangat cantik! Pasti suaminya sangat tampan dan baik hati! Seperti mba Amelia juga," ujarnya lagi. Amelia hanya bisa tersenyum kecut, pasalnya suaminya tidak seperti yang dibicarakan teman-temannya.
"Terima kasih," ucap Amelia sambil berlalu ke kantor Tante Celine. Ternyata Tante Celine belum datang. Sebelum Tante Celine datang, Amelia mengecek kembali pembukuan yang kemarin disusunnya. Takutnya ada yang terlewat tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
to be continued........