
Di kamar, Thomas sudah mandi dan wangi. Dia juga sudah terlihat sangat tampan dengan menggunakan kaos berkerah warna biru muda dan celana pendek warna putih.
"Mas, kamu sudah mandi?" tanya Amelia.
"Hem," jawab Thomas singkat.
"Mas, Aku mandi dulu! Aku titip Aska yah?" ucap Amelia.
"Hem," jawab suaminya. Lagi-lagi suaminya menjawab dengan singkat.
"Huft," Amelia menghela nafasnya kasar. Suaminya benar-benar sedang mode marah, batin Amelia.
Selesai mandi dan berganti baju, Amelia melihat suaminya sedang bermain dengan sang buah hati. Amelia berjalan mendekat ke arah mereka. Dan duduk disamping suaminya. Thomas tidak merespon apa-apa. Dia asyik bermain dengan Aska.
"Sayang, bilang ke Daddy. Jangan ngambek terus, nanti cepet tua!" ucap Amelia kepada putranya. Aska hanya melongo, kemudian dia tertawa, lalu berceloteh sendiri. Tingkah lakunya sangat menggemaskan.
"Sayang, bilang juga sama Mommy. Di tempat umum nggak usah main pegang-pegang tangan sama mantan!" ucap Thomas kepada Aska. Aska juga tersenyum, kemudian tertawa. Sebenarnya Aska tertawa karena dia pikir, Daddy dan Mommy nya sedang mengajaknya bermain.
"Astaga, Mas. Nggak seperti itu. Aku mohon, kamu jangan salah paham dulu! Aku sudah nggak ada hubungan apapun dengannya. Sumpah, Mas?" ucap Amelia. Namun Thomas kembali mendiamkannya.
Acara makan malam, Thomas masih mendiamkan Amelia. Mama Celine yang melihat perubahan pada wajah keduanya, membuat dirinya bertanya-tanya. Biasanya mereka sangat romantis di tempat umum sekalipun. Namun, dia melihat mereka berdua saling diam.
Acara makan selesai, Thomas pamit ke ruang kerjanya. Dia ingin menyelesaikan sedikit pekerjaan dari kantor. Saat Amelia sedang membereskan piring-piring kotor, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh sang mertua.
"Mama?" kaget Amelia.
"Sini, ikut Mama! Ada yang ingin Mama bicarakan!" ucapnya. Amelia pun menyerahkan tugas membersihkan piring piring kotor kepada pelayan.
"Ada apa, Ma?" tanya Amelia. Amelia mendudukkan pantatnya di sofa yang berada di ruang tengah.
"Ada apa dengan kamu dan Thomas? Kenapa kalian saling diam?" tanya Mama. Dengan diamnya Thomas, pasti Mama akan bertanya. Amelia yakin ini sejak awal. Amelia pun menghela nafasnya panjang. Dia mulai menceritakan kejadiannya sampai akhir. Sekarang dia bersedih, ternyata sangat susah membujuk Thomas yang sedang marah. Kalau biasanya dia membujuk Sherly sangatlah mudah, ternyata membujuk ayah semangnya sangatlah susah.
"Sini, Sayang! Mama bisikkan, bagaimana cara ampuh membujuk suami yang sedang marah!" ucap Mama. Amelia pun mendekatkan telinganya ke mulut Mama. Amelia membelalakkan mata setelah mendengar ucapan Mama Celine.
"Apa yakin akan ampuh, Ma?" tanya Amelia ragu-ragu.
"Mama yakin pasti ampuh!" jawab Mama penuh keyakinan.
"Baiklah, nanti Amel akan coba mempraktekkannya," jawab Amelia penuh penekanan.
__ADS_1
Disebuah kamar hotel, sepasang pria dan wanita yang usianya terpaut jauh, sedang menikmati surga duniawi. Mereka melakukan hubungan suami istri atas dasar saling membutuhkan. Si pria membutuhkan pelepasan, sedangkan si wanita membutuhkan uang untuk hidup mewah dan berfoya-foya.
"Om pakai pengaman kan?" tanya Ratih disela kegiatan panasnya.
"Nggak, Sayang. Om lupa! Nanti Om keluarin di luar kok!" ucapnya.
"Beneran ya, Om! Pokoknya Ratih nggak mau sampai hamil, Om!" ucap Ratih.
Mereka sama-sama \*\*\*\*\*\*\*, mencapai kenikmatan duniawi.
Om Farhan mengecup kening Ratih dengan sayang. Om Farhan adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal dan sukses di Indonesia. Semenjak istrinya terkena stroke, dia sering jajan diluar, sekedar untuk mengeluarkan cairan pelumasnya. Dia tidak berniat menikah lagi, karena dia sangat mencintai istrinya. Namun sudah setahun ini, istrinya mengalami stroke. Membuat dirinya terpaksa harus memilih wanita malam untuk memuaskan kebutuhan biologisnya.
Mereka dipertemukan oleh Baron, ayah Ratih. Ratih yang memang memiliki wajah yang cukup cantik dan body yang menggoda, pria manapun pasti tidak akan menolaknya.
Setelah melakukan hubungan suami-istri, Om Farhan menyuruh Ratih untuk mandi dan bersiap-siap. Karena rencananya, dia ingin mengajak Ratih berjalan-jalan ke Mall.
"Sayang, cepatlah mandi! Hari ini aku ingin mengajak mu jalan-jalan ke Mall," ucap Farhan.
"Tentu saja berbelanja. Semua yang kau inginkan, Om akan membayarnya!"
"Benarkah?"tanya Ratih tidak percaya.
"Tentu saja benar. Om ini bukan seorang pembohong. Jika, Om sudah menyukai sesuatu maka Om akan memanjakannya dengan barang-barang mewah," ucap Farhan.
"Terima kasih banyak, Om!" jawab Ratih begitu girang.
Tidak menunggu lama, Ratih pun sudah bersiap dan berdandan sangat cantik. Mereka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju mall.
Di dalam mall yang sangat besar, mereka berjalan beriringan dengan mesra. Ratih merangkul lengan Om Farhan, seakan-akan Farhan adalah suaminya. Banyak mata memandang ke arah mereka dengan sinis, pasalnya, mana mungkin hubungan mereka ayah dan anak. Mereka terlihat begitu intens dan mesra. Tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya tidak dihiraukan oleh Ratih.
"Om, Ratih mau beli baju, tas, sepatu, perhiasan dan HP baru. Boleh ya, Om?" tanya Ratih menggelayut manja.
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu?" ucap Farhan. "Tapi, nanti kamu harus melayani Om sampai pagi," goda Farhan.
"Ah, Om, nakal ya! Kalau Ratih harus melayani Om sampai pagi, bisa-bisa Ratih nggak bisa jalan besoknya, Om!" ucap Ratih. Farhan hanya terkekeh geli melihat wanita yang sangat menggemaskan di depannya.
Mereka berbelanja banyak hari ini, hingga Ratih kesusahan membawa barang-barang belanjaannya.
"Aku akan mengatarkanmu sampai di depan rumah," ucap Farhan.
"Jangan, Om! Nanti biar aku naik taksi saja," ucap Ratih.
"Mana mungkin Om tega, membiarkan mu pulang dengan membawa banyak belanjaan," ucap Farhan lagi.
"Nggak apa-apa, Om. Jika memang Om ingin mengantarkan Ratih, sampai di ujung jalan saja. Bagaimana?" tawar Ratih.
"Baiklah, aku menurut saja!" jawab Farhan.
Mobil Farhan sampai di ujung jalan, Ratih pun keluar dari mobil tersebut. Dia tidak mau sampai suaminya tahu bahwa dia pulang diantarkan seorang pria. Ratih berjalan memasuki rumah, di ruang tamu mereka berkumpul. Suaminya, ibu mertuanya dan Mila. Ratih terlalu malas untuk meladeni mereka semua.
"Dari mana saja kamu?" bentak Arga.
"Aku ada urusan, Mas. Bukankah tadi aku sudah bilang ke Ibu!" jawabnya. Arga menoleh ke arah barang-barang belanjaan yang dibeli oleh Ratih. Sangatlah banyak.
"Kamu habis belanja?" tanya suaminya dengan tatapan tajam.
"Iya, Mas," jawabnya.
"Uang dari mana? Aku tidak merasa memberikan uang sebanyak itu?" tanya Arga dengan curiga.
"Tentu saja aku bekerja. Aku membutuhkan uang untuk kesenangan ku. Dan Mas tidak bisa memberikan itu semua!" jawabnya.
"Apa kau bilang? Kerja apa? Tidak ada pekerjaan yang dilakukan dalam sekejap mendapatkan uang sebanyak itu!" ucap Arga.
"Apa pekerjaan ku, itu bukan urusan kamu, Mas!" Ratih berlalu meninggalkan suami dan keluarga suaminya.
"Kau dengar sendiri, Arga! Dia sudah berani menjawab perkataan mu! Kamu harus lebih tegas lagi, Nak!" tutur Dahlia geram. Arga juga tidak kalah geramnya.
__ADS_1
to be continued......