
Sepulangnya dari tempat tersebut, Sherly begitu bahagia. Didalam mobil, ia terus berceloteh lucu sekali. Membuat Amelia dan Tante Celine tertawa geli. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Amelia pun meminta izin langsung pulang ke rumah. Mobil Tante Celine terlebih dahulu mengantarkan Amelia pulang sampai depan rumah. Amelia hendak berpamitan kepada Tante Celine dan Sherly, namun Sherly terlihat sangat lelah, dia pun langsung tertidur di pangkuan Tante Celine. Ia pun mengurungkan niatnya berpamitan kepada Sherly. Ia hanya mendaratkan ciuman sayangnya kepada gadis manis itu. Ia berpamitan hanya kepada Tante Celine saja. Saat hendak keluar, tanpa disadari ponselnya terjatuh di jok mobil. Amelia melambaikan tangannya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Badannya terasa gerah dan lengket, seharian diluar rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Saat hendak mengambil handuk untuk mandi, tiba-tiba saja pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Amelia keluar untuk membuka pintunya terlebih dahulu, ternyata yang datang adalah suami dengan madunya. Amelia menatap kesal ke arah mereka.
"Ada apa kalian datang lagi kesini?" ketus Amelia.
"Sayang! Jangan marah-marah seperti itu dong! Kedatangan kami kesini karena kami ingin berbicara serius denganmu!" ucapnya.
"Bicara serius? Bicara apalagi Mas? Aku sudah terlalu capek menghadapimu?" kesalnya.
"Jangan begitu dong! Mas benar-benar membutuhkan bantuan mu!" ujarnya. Amelia mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
"Maksud Mas?" tanyanya.
"Mas butuh modal untuk usaha! Dan rencananya Mas akan menggadaikan sertifikat Rumah ini untuk modal usaha! Bagaimana menurut kamu, Sayang?" ucapnya.
"Setelah kamu mengenal wanita ini, kenapa sifat mu begitu berubah, Mas?" sedih Amelia.
"Sayang, Mas melakukan ini untukmu juga! Jika kita berhasil, hasilnya untukmu juga! Apakah mas salah melakukan itu?" ujarnya. "Kamu harus memahami semua ini, Sayang! Bahwa Mas memiliki dua istri yang harus dinafkahi, jadi, Mas butuh biaya yang banyak untuk menafkahi kalian! Dan jalan satu-satunya Mas harus menggadaikan sertifikat rumah ini, dan uangnya untuk modal usaha!" jelasnya lagi panjang lebar.
"Apakah uang yang selama ini kamu dapatkan sebagai Manager masih kurang, Mas?"
"Tentu saja masih kurang! Mas butuh uang yang sangat banyak untuk usaha, mas!"
"Kenapa tidak mas gadaikan saja sertifikat rumahnya?" ucap Amelia, matanya melirik nyalang ke arah Ratih.
__ADS_1
"Enak saja! Rumahku untuk masa depan anak kami! Anak kandung mas Arga! Sedangkan anak kamu, dia bukan siapa-siapa mas Arga," selorohnya, membuat Amelia sangat kesal.
"Dasar kau wanita tidak punya perasaan! Kau memang wanita ja****ng! Bisanya merebut suami orang," murka Amelia hendak menjambak rambut Ratih, namun Arga menghalangi niat istri pertamanya.
"Sudah cukup, Sayang!" bentak Arga.
"Aku melakukan ini semua juga untuk kita bersama! Aku ingin membuka usaha, dan hasilnya kau juga bisa ikut merasakan!" ucapnya. "Rumah yang aku belikan untuk Ratih, tidak sebesar ini, Sayang! Sedangkan aku membutuhkan modal yang besar," jelasnya.
"Kau tega sekali kepadaku, Mas! Setelah apa yang aku lakukan untukmu selama ini! Baiklah, kau ambil saja semuanya, aku juga tidak butuh semua ini! Dan ini." Amelia melepaskan cincin kawinnya dan perhiasan yang diberikan Arga kepadanya sebagai mas kawin dulu. "Kau hanyalah laki-laki pecundang dan sangat kejam! Kau tega melakukan ini padaku! Kau bilang ini juga untukku! Aku kira kau salah! Kau melakukan ini semua untuk dirimu dan wanita ja***ng ini! Aku harap kalian musnah di hadapanku," murka Amelia.
"Ya Ampun, Sayang! Kenapa kau tidak mau mengerti aku? Padahal selama ini aku sudah berusaha adil kepadamu! Tapi, apa balasannya? Kau tega mengatai suamimu seperti itu, Hah?" bentak Arga. Namun Arga tetap ke kamarnya untuk mengambil sertifikat itu.
"Ck." Amelia begitu marah dan murka, ia menatap ke arah Ratih dengan tatapan yang tajam.
"Dengar ya, Amelia! Sebaiknya kau ikhlaskan saja mas Arga untukku! Lagipula aku yang paling berhak atasnya! Aku sedang hamil anaknya, sedangkan kau!" hinanya.
"Kau memang wanita ja***ng! Tidak tahu diri! Aku benar-benar benci kepadamu!" Amelia berusaha mencekik perempuan yang sudah menghina dirinya dan anaknya.
"Kau bahkan lebih menjijikkan dari diriku! Dasar perempuan ja****ng! Pelakor," marah Amelia.
"To .... long! To ... long!" pekik Ratih, nafasnya mulai sesak karena Amelia mencekiknya. Arga yang melihat kejadian itu langsung menarik tangan Amelia dan menamparnya.
PLAKKK ...
Amelia mendapatkan tamparan yang cukup keras, hingga dirinya mengeluarkan darah segar disudut bibirnya.
__ADS_1
"Mas?" Amelia tidak percaya suaminya tega menamparnya demi wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya.
"Kau yang ja***ng! Dan anak yang kau kandung, memang anak haram! Seharusnya kau yang musnah, bukan Ratih! Kenapa kau menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa dirimu! Jangan-jangan memang benar kau wanita ja**ng!" hardik suaminya.
PLAKKK...
Amelia dengan reflek menampar suaminya dengan keras, dia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Arga menatap tajam ke arah Amelia. Ratih menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Amelia kepada suaminya.
"Jaga batasan mu, Mas!" marahnya.
Arga menampar keras pipi Amelia berkali-kali, amarahnya sampai di ubun-ubun. Tubuh Amelia sampai terpental ke sofa yang terletak dibelakangnya. Darah segar mengalir dari mulut dan hidung Amelia. Amelia mengaduh kesakitan dan dia berusaha untuk menutupi perut dengan kedua tangannya dari amukan sang suami.
"Berani-beraninya kau menamparku!" murka Arga, melototkan matanya dengan tajam.
"Kau akan tahu seberapa murkanya diriku!" ucapnya lagi. Arga kembali menampar istrinya, dia menyeret tubuh istrinya ke kamar mandi dan menyiram tubuh itu dengan air. Ratih menghentikan aksi suaminya, dia takut terjadi sesuatu dengan Amelia. Banyak darah yang keluar dari mulut dan hidung Amelia.
Mereka berdua membiarkan Amelia meringkuk di kamar mandi, mereka memilih untuk pergi dari rumah Amelia.
Setengah jam kemudian, Tante Celine datang ke rumah Amelia untuk mengembalikan ponsel Amelia yang tertinggal di jok mobilnya. Tante Celine masuk ke dalam, ternyata pintu depannya tidak di kunci. Tante Celine memanggil-manggil Amelia. Dia merasa heran karena rumah Amelia sedikit berantakan. Tante Celine mencari keberadaan Amelia, ada suara wanita merintih dan menangis di dalam kamar mandi. Tante Celine pun langsung berlari ke arah kamar mandi, dia khawatir kalau Amelia jatuh terpeleset di kamar mandi. Setelah ia mendatangi arah kamar mandi, betapa terkejutnya Tante Celine melihat keadaan Amelia.
to be continued....
************************************
Hey temen-temen, sebelum lanjut, yuk kasih like dan komentarnya. Vote boleh banget, apalagi tambah bunga, Author seneng banget..
__ADS_1
Yang memberikan like, komentar,dan votenya, semoga rezekinya tambah banyak.Amin.