
Sampai di Indonesia, mereka dijemput oleh sopir pribadi Tante Celine. Rasa lelah dan letih menggelayut di tubuh mereka. Mobil yang mereka tumpangi pun langsung melaju menuju rumah Tante Celine. Hanya membutuhkan waktu empat puluh menit saja, sudah sampai di depan rumah. Para pelayan menyambut kedatangan sang majikan dengan ramah dan hormat. Beberapa pelayan membawakan barang-barang bawaan majikannya.
"Amelia, Tante ke kamar dulu, ya? Badan Tante sepertinya sudah sangat lelah," ucap Celine, ia merasa tidak enak badan.
"Silahkan, Tante! Nanti biar Sherly dengan saya saja," jawab Amelia.
"Terima kasih banyak ya, Sayang," ucap Tante Celine. Amelia bisa melihat rasa lelah di raut muka Tante Celine.
Amelia mengajak Sherly untuk mandi dan bersih-bersih. Sherly menurut, dia memang anak yang baik dan penurut. Saat hendak melangkahkan kakinya ke lantai dua, seorang pelayan datang dengan memberikan sebuah surat.
"Permisi, Nona! Ini ada surat untuk Anda," ucap salah satu pelayan, "Kurir yang mengantarkannya ke sini," imbuh pelayan itu sambil menyerahkan surat tersebut kepada Amelia.
"Terima kasih banyak, Bi," jawab Amelia sangat ramah.
Amelia menggandeng tangan Sherly dan menyuruhnya untuk mandi. Sherly mandi dengan dibantu oleh baby sister. Sembari menunggu Sherly mandi, ia membuka surat dari pengadilan Agama. Ternyata isi surat tersebut adalah surat panggilan dari pengadilan terkait sidang perceraiannya dengan sang suami. Dia menyimpan surat itu di dalam tasnya.
"Tante?" teriak Sherly, memekik di telinga Amelia.
"Sayang, kamu mengagetkan Tante saja," ucap Amelia sambil menoel hidung mancung milik Sherly. Sherly malah justru terkekeh.
"Ayo, pakai bajumu!" perintah Amelia. Amelia membantu Sherly memakai baju santai. Kemudian barulah dirinya mandi dan bersih-bersih.
Keesokkan paginya
Bangun pagi, tubuh Amelia terasa sangat bugar. Karena dia memilih untuk tidur lebih awal, supaya badannya terasa segar dan bertenaga. Setelah mandi, dia membantu pelayan untuk menyiapkan sarapan. Rencananya hari ini dia akan langsung bekerja. Karena sudah satu Minggu lebih dia tidak datang ke butik Tante Celine. Makanan sudah terhidang di meja makan, sekarang saatnya dia membangunkan Sherly. Mungkin hari ini Sherly masih libur sekolah, jadi, ia lebih santai untuk membangunkan Sherly.
Sherly sudah mandi dan berganti baju, dia terlihat sangat cantik. Amelia menyuruh Sherly untuk sarapan. Hari ini, Amelia belum melihat Tante Celine keluar dari kamar. Ia pun merasa khawatir, dan memutuskan untuk mendatangi kamar Tante Celine. Dan benar juga ternyata Tante masih tidur. Amelia mencoba untuk membangunkan Tante Celine, namun badannya sangat panas, Amelia pun merasa panik.
"Tante?" panggil Amelia. "Tante sakit?" tanya Amelia. Bibir Tante Celine bergetar, sepertinya dia menggigil. Amelia pun langsung menyuruh pelayan untuk memanggil dokter keluarga, supaya datang ke rumah. Dia juga menelfon putrinya Alina, memberitahukan bahwa Mamanya sedang sakit. Amelia juga memberitahukan kabar ini kepada Thomas. Tentu Thomas sangat khawatir, namun untuk pulang tidak mungkin. Dia pun meminta tolong kepada Amelia untuk menjaga Mamanya.
Beberapa menit kemudian Dokter keluarga datang dan memeriksa kondisi Tante Celine. Sekitar lima belas menit, Tante Celine diperiksa oleh Dokter. Selesai diperiksa, Dokter pun keluar.
"Dok, Bagaimana keadaan Tante Celine?" tanya Amelia cemas.
"Dia hanya kelelahan saja, tidak perlu dirisaukan," jawab Dokter. "Ini saya berikan resep untuk penurun demam, dan vitamin! Nanti ibu bisa menebusnya di Apotek," tutur Dokter.
"Baik, Dok," jawabnya.
__ADS_1
"Baiklah, Saya permisi dulu! Kalau ada apa-apa, bisa hubungi saya lagi," terang Dokter.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Amelia. Amelia menyuruh sopir untuk membeli obat ke Apotek.
Jarak rumah ke apotik juga tidak terlalu jauh, Pak Sopir sudah mendapatkan obat dari Apotik. Amelia langsung memberikan obat penurun panas untuk Tante Amelia, dan membiarkan Tante Amelia untuk beristirahat sejenak.
"Tante, Apakah Oma akan sembuh?" tanya Sherly kepada Amelia.
"Tentu saja, Sayang! Oma pasti sembuh, Kamu berdo'a ya, Sayang!" tutur Amelia.
"Iya, Tan," kata Sherly.
"Apakah kamu sudah
sarapan?" tanya Amelia kepada Sherly.
"Sudah, Tan," jawabnya.
"Wah, kamu memang anak yang pintar," puji Amelia. "Tante akan membuat bubur untuk Oma, Apakah Sherly mau ikut?" tanya Amelia.
"Tentu, Sayang," jawab Amelia.
Amelia membuat bubur untuk Tante Celine, biasanya orang sakit paling susah buat makan. Makanya Amelia membuatkan bubur untuk Tante Celline. Bubur sudah siap di mangkok, sekarang wantunya membawa bubur ke kamar Tante Celline, Sherly terus mengekor di belakang Amelia. Panas tubuh Tante sudah mulai menurun, Amelia berusaha untuk membangunkan Tante Celine, perlahan mata Tante Celine terbuka. Amelia membantu Tante supaya duduk bersandar di tempat tidur, supaya lebih nyaman saat makan.
"Tante sekarang makan dulu, ya? barulah minum obat lagi," ujar Amelia.
"Terima kasih, Sayang! Tante tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kamu disisi Tante," ujar Tante Celine.
"Tante, kita manusia harus saling tolong menolong! Apa yang dilakukan Amelia tidak sebanding dengan apa yang telah Tante lakukan untuk Amelia, jadi Tante tidak usah sungkan-sungkan," ucapan Amelia membuat Tante Celine terharu.
"Sekarang Tante habiskan buburnya ya? Ini Amelia sendiri lho yang membuat," ucap Amelia.
"Sherly juga," ucap Sherly tidak mau kalah.
"Iya, Sherly juga ikut membantu Tante Amelia kok?" ucap Amelia terkekeh.
Setelah makan dan minum obat, Amelia menyuruh Tante Celine untuk beristirahat kembali. Dia dan Sherly keluar dari kamar Tante Celine supaya Tante bisa beristirahat secara full.
__ADS_1
Alina yang baru saja membaca pesan dari Amelia, dia merasa sangat cemas. Sepulang dari Rumah Sakit, dia pun langsung pulang ke rumah Mamanya. Alina mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah Mama. Dalam hitungan beberapa menit saja, mobil yang dikendarai oleh Alina sampai di depan halaman rumah. Security dan pelayan menyambut kedatangan anak majikannya dengan hangat. Lumayan lama juga Alina tidak pulang ke rumah.
Dia bergegas ke dalam untuk segera menemui mamanya, ternyata di ruang tengah sudah ada Amelia sedang bermain dengan Sherly.
"Assalamualaikum!" salamnya.
"Walaikum salam," jawab Amelia dan Sherly.
"Tante Alina," teriak Sherly berhambur kepelukn Tantenya.
"Wah, Tante kangen sekali sama kamu, Sayang," ujarnya. "Hey, Amelia, Apa kabar?" sapa Alina kepada Amelia.
"Allkhamdulilah sehat, Dok," jawab Amelia.
"Kan sudah pernah kukatakan, jangan memanggilku Dokter, kita kan seumuran," jawabnya.
"Rasanya tidak sopan, Dok," jawab Amelia.
"Tidak sopan apa? Justru dengan kita memanggil nama saja, kita kan lebih akrab," ujar Alina.
"Baiklah kalau begitu, Alina," ujarnya, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
"Oya, Bagaimana keadaan Mamaku?" tanya Alina.
"Baru saja tidur, karena habis makan.dan minum obat," jawab Amelia.
"Apakah sudah panggil Dokter?" tanya Alina.
"Sudah, Dokter sudah memeriksanya! Kata Dokter, Tante kelelahan," Jawab Amelia, "Mungkin kelelahan akibat menempuh perjalanan ke Jerman yang lumayan panjang," terang Amelia.
"Jerman, Kok Mama nggak ngasih tahu Alina ke Jerman?" batin Alina.
"Iya, sudah! Aku temui Mama dulu,"
"Silahkan, Al," ucap Amelia.
to be continued....
__ADS_1