Amelia

Amelia
Episode 188


__ADS_3

Dicky mengajak Arum untuk ikut bersamanya ke kantor agensi. Dia juga memperkenalkan Arum dengan karyawan yang lain. Mereka menyambut kedatangan Arum dengan ramah. Arum yang ramah, cepat sekali akrab dengan karyawan yang lain.


Arum nampak sangat heran. Ternyata kantor agensi milik Dicky lumayan besar dan terkenal. Dia jadi minder sendiri. Ternyata pria itu bukanlah pria sembarangan.


"Maya, Tolong ajari Arum pekerjaan yang mudah dulu! Dia akan mulai bekerja di sini!"


"Baik, Pak Dicky!"


Selama belajar dengan Maya. Ternyata Arum cepat sekali menangkap ilmu yang diberikan Maya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia bisa menyelesaikan sebagian tugas yang Maya berikan.


"Bu Maya, Aurelia mengalami kecelakaan. Dan untuk hari ini kita tidak ada model pengganti. Semua model sibuk. Bagaimana ini, Bu?"


"Kok bisa?" Maya nampak bingung. Dia berjalan mondar-mandir sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Bu Maya?" tanya Arum. Bu Maya memperhatikan tubuh Arum yang proporsional. Seksi, cantik dan tubuh yang bagus. Sangat cocok menjadi model cover majalah.


"Rum, Kamu mau nolongin saya nggak?"


"Nolongin apa, Mba?"


"Menggantikan Aurelia,"


"Maksudnya?"


"Jadi begini, Rum. Kami ada pemotretan untuk cover majalah. Dan kebetulan modelnya kecelakaan. Tim kami sudah berusaha mencari penggantinya. Tapi mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Kamu mau Rum, menjadi pengganti sementara?"


"Tapi, Mba?"


"Ayolah, Rum. Kamu itu cantik. Tubuh kamu bagus. Seksi. Sempurna! Kamu mau ya?"


"Tapi saya harus meminta izin dulu sama Mas Dicky!"


"Tapi saya yakin, Pak Dicky pasti setuju kok!"


"Ehm, gimana ya?"


"Ayo dong, Jangan berpikir lama! Tolongin kami!"


"Oke, deh! Tapi ini saya cuma nolongin Mba ya!"


"Iya, Iya!"


"Lusi, Mana baju untuk model kita?" tanya Maya kepada pegawainya.


"Iya, Mba. Ini!" Lusi menyodorkan satu stel baju yang sangat bagus untuk pemotretan.


"Wah, ini bangus banget. Apakah aku pantas memakainya?" batin Arum.


Dibantu oleh Lusi, Arum mulai pemotretan perdananya. Awalnya memang masih kaku. Dia juga bukanlah model profesional. Melihat kamera saja baru kali ini. Ditambah harus berpose ini dan itu. Bergaya ini dan itu. Dia malu sendiri. Tapi, Mba Maya berusaha untuk menyakinkannya. Kalau Arum pasti bisa. Karena Arum memiliki modal tubuh yang sangat bagus untuk menjadi seorang model.


Dua jam lamanya mereka melakukan pemotretan. Hingga pemotretan terakhir, dan hasilnya luar biasa memuaskan. Maya sangat puas dengan hasil akhirnya.


Maya merangkul Arum karena begitu bahagia. Arum melakukan pekerjaannya dengan sangat memuaskan. Semua bertepuk tangan untuk Arum.

__ADS_1


"Kamu hebat, Rum. Padahal kamu baru lho. Tapi hasil fotonya sangat memuaskan. Bagus banget!" puji Maya.


"Beneran, Mba Maya. Aku nggak malu-maluin?"


"Iya, Nggak lah. Beneran hasilnya bagus kok! Nih lihat!" Maya menunjukkan hasil jepretan fotografer kepada Arum.


"Wah, iya Mba. Syukurlah kalau memuaskan!" senang Arum.


"Kamu punya bakat lho! Bagaimana kalau Kamu jadi model majalah saja?"


"Ah, Mba Maya ada-ada saja!" gelak Arum.


"Beneran. Kamu tuh punya modal tubuh yang bagus, Rum. Sangat proporsional. Perfect!"


"Nanti saya pikirkan, Mba!"


"Iya, Sudah. Pikirkan saja dulu! Ini kesempatan emas lho buat kamu!"


"Baik, Mba. Saya kembali kerja dulu ya!"


"Iya, Silahkan!"


 ___


___


 


"Sudah siap!" Arum menganggukkan kepalanya, "Ayo kita pulang!" ajak Dicky.


Saat melangkahkan kaki, tidak sadar Arum menginjak kaki satunya. Keseimbangan tubuh gadis itu goyah, Arum akan terjatuh. Dengan sigap Dicky menangkap tubuh gadis manis itu. Syukurlah Dicky langsung menangkapnya. Jika tidak, Arum bisa jatuh ke lantai. Dan tentunya dia akan sangat malu.


"Terimakasih, Mas!" Arum berusaha untuk menutupi rasa malunya.


"Lain kali hati-hati Arum. Untung ada aku? Kalau tidak, Kau bisa terjatuh tadi!"


"Iya, Mas. Maaf ya!"


"Tapi, Kau tidak apa-apa kan?"


"Tidak." Arum menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Manis sekali." gumam Dicky.


Mobil Dicky melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak ada percakapan diantara mereka. Mereka saling diam. Arum masih mengingat kejadian memalukan tadi, makanya di dalam mobil, dia hanya terdiam.


"Sudah sampai!"


"Terimakasih, Mas Dicky!"


"Sama-sama! Lain kali hati-hati!" Pipi Arum nampak memerah.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Setelah Arum masuk ke rumah, barulah Dicky melanjutkan perjalanannya untuk pulang.


To be continued ....


_____________


Mampir juga di novel temanku, DI JAMIN NGGAK KALAH SERU, KARYA AUTHOR: WENY HIDA


JUDUL : SEKEDAR PELAMPIASAN


CUPLIKAN:


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.

__ADS_1


__ADS_2