
"Saya mau ikut Kak Thomas!" ucap Arum.
"Tunggu, Arum!" Dicky menarik lengan Arum, "Biarkan Pak Thomas bertemu dengan istrinya dulu! Mereka butuh waktu untuk berdua. Kasihan mereka!"
"Tapi ... !"
"Arum, Ikutlah bersamaku. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah ku. Ini juga sudah malam. Tidak baik seorang wanita berkeliaran di malam hari!"
"Baiklah," jawabnya lesu.
Setelah penggeledahan Rumah Diego, dan menangkap semua anak buahnya yang tinggal di rumah. Kini Dicky sedikit lega. Polisi kini tinggal mencari jejak Diego kabur.
Dicky mulai menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Dia ingin mengantarkan Arum pulang terlebih dulu. Arum juga terlihat kelelahan.
Sampai di rumah Dicky menyuruh Arum untuk langsung istirahat.
"Apakah Mas Dicky tidak mampir dulu? Nanti biar Arum buatkan kopi!"
"Tidak usah. Kamu langsung istirahat saja!"
"Ehm, terimakasih banyak, Mas. Sudah mengantar Arum!"
"Sama-sama! Aku pergi dulu!"
"Hati-hati!"
Dicky kembali ke rumah Diego untuk mencari bukti lain. Sampai di sana ternyata rumah Diego sudah dipasang garis polisi ( Police Line ).
...Police line adalah garis batas polisi berwarna kuning bertuliskan police line berwarna hitam. Tujuannya untuk mengamankan lokasi agar aparat hukum lebih mudah untuk melakukan penyelidikan atau penyidikan....
Terpaksa Dicky putar balik, dan kembali ke rumah. Setidaknya dia mengistirahatkan tubuhnya dulu. Seharian penuh dia belum beristirahat. Badannya terlalu lelah dan letih.
Thomas dan Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Melihat Abangnya yang sangat gelisah, terpaksa Bram memaksa mengambil alih mobil untuk dikemudikannya. Dia takut diperjalanan Thomas tidak berkonsentrasi. Yang ada di dalam pikiran Abangnya saat ini adalah Amelia dan juga anak-anak.
Sekitar empat puluh lima menit mereka sampai di Rumah Sakit tujuan. Mobil belum terparkir dengan benar, Thomas langsung keluar dan berlari masuk ke dalam Rumah Sakit. Dia mendatangi pihak resepsionis, dan pihak resepsionis memberitahukan kamar pasien yang baru saja masuk bersama dengan dua orang polisi. Thomas yakin mereka adalah Bripda Nadhif dan anak buahnya.
"Terimakasih, Mba!"
"Sama-sama."
Thomas berlari seperti orang kesetanan. Dia langsung menuju ke ruang UGD, dimana di sana ada Bripda Nadhif dan anak buahnya sedang menunggu.
"Pak Polisi?" panggil Thomas.
"Pak Thomas! Akhirnya Anda datang juga!"
"Bagaimana keadaan istri saya?"
"Istri Anda sedang ditangani oleh Dokter. Dan Dokter masih berada di dalam!"
"Tapi dia baik-baik saja kan, Pak!"
"Bu Amelia sempat berteriak ketakutan. Dia pikir, saya dan anak buah saya adalah komplotan Diego. Dia berteriak dan sempat menodongkan pisau kepada saya!"
"Pisau?" Thomas terkejut.
"Iya, Pisau. Pisau itu sepertinya sudah disiapkan Ibu Amelia untuk melukai Diego."
"Ya Tuhan. Apa yang telah terjadi. Aku sangat bodoh, aku tidak bisa menjaganya. Pasti saat itu dia hidup dalam tekanan, membuatnya bertindak nekad seperti itu!"
"Bu Amelia memang nekad, Pak. Mungkin dibawah tekanan Diego juga. Bu Amelia berusaha melukai dirinya sendiri, Pak. Dia mengiris nadinya sendiri!"
"A-pa?"
"Sayang, Maafkan aku. Aku tidak becus menjagamu. Kau pasti sangat menderita, sehingga Kau nekad melakukan itu!" isak Thomas.
"Keluarga Bu Amelia!" panggil Dokter.
"Sa-saya, Dok." Thomas memutar tubuhnya, dan mendekat ke arah Dokter.
"Anda, siapanya?"
"Saya suaminya."
__ADS_1
"Begini, Pak. Ibu Amelia mencoba untuk melakukan percobaan bunuh diri. Untungnya sayatan tersebut tidak terlalu dalam. Sehingga dia selamat. Setelah sadar, Saya dan tim Dokter akan mencoba mengobservasi apa yang dialami Ibu Amelia. Kami takut, Bu Amelia mengalami tekanan mental atau depresi!" ucap Dokter.
"A-pa? Tekanan mental? Depresi?" Bripda Nadhif berusaha untuk menguatkan Thomas.
"Tenanglah, Bu Amelia pasti baik-baik saja!" tutur Bripda Nadhif.
"Bolehkah saya bertemu dengan istri saya, Dok?"
"Bapak sabar ya! Kita tunggu sampai Bu Amelia siuman. Apa yang terjadi selanjutnya kita tidak tahu! Tapi mudah-mudahan semuanya baik-baik saja!"
"Berapa lama, Dok? Berapa lama saya harus menunggu. Saya ingin bertemu dengan istri saya. Saya sangat merindukannya!" isak Thomas.
"Tunggu, Bu Amelia sadar ya, Pak!
"Pak Thomas, turuti nasehat Dokter jika ingin Istri Anda cepat pulih! Ingat Pak, Istri Anda belum mengetahui bahwa Anda masih hidup. Kita pelan-pelan saja memberitahukannya! Biarkan seperti air mengalir!"
"Baiklah," lirih Thomas nampak dengan wajah yang tidak bersemangat.
Bersambung ...
☄️☄️☄️☄️☄️
Mampir juga di karyaku yang lain berjudul "KADARSIH (PELET PENGASIHAN LINTRIK)
BAB 1 :
\# Kadarsih ( Pelet Pengasihan Lintrik)
Kadarsih adalah ibu dari dua orang anak bernama Aminah dan Adrian. Di usia muda dia harus berjuang mencari nafkah untuk kedua buah hatinya. Tiga bulan yang lalu, Wiranto suaminya pergi merantau ke kota mencari pekerjaan. Tanpa mengirim uang ataupun kabar, suaminya hilang bagai ditelan bumi. Usut punya usut ternyata sang suami sudah menikah lagi di kota dengan seorang janda kaya beranak tiga dengan identitas yang berbeda.
Kadarsih, sebenarnya wanita yang cukup cantik. Namun karena kemiskinan yang melanda hidupnya, dia terlihat kumal, kotor, dan tidak terawat. Kulitnya hitam legam, terkena paparan sinar matahari terus menerus.
Dia terpaksa harus mencari rongsok yang kemudian ia jual, untuk menghidupi kedua buah hatinya. Pulang dari menjual rongsok, ia membeli satu bungkus nasi dengan lauk tempe atau tahu goreng saja. Menurutnya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perut kedua anaknya kenyang. Dan jika ada sisanya, akan ia makan untuk mengganjal perutnya sendiri.
Sebenarnya hatinya sangat sedih melihat keadaannya sekarang. Kadarsih hanya bisa memberikan makan nasi ala kadarnya saja. Tidak ada telur, ayam, ataupun daging. Tapi, dia masih bisa bersyukur kedua buah hatinya bisa makan dengan kenyang.
Ibu mana yang tidak bersedih melihat anak-anaknya hanya makan nasi dan tempe tahu saja? Tentu dia sangat bersedih. Setiap malam, saat kedua buah hatinya terlelap, dia menangis sendiri sambil memandang sendu keduanya. Namun apa daya, hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini.
Pernah Kadarsih membawa kedua buah hatinya, bekerja membersihkan rumah salah satu tetangga. Bukannya uang yang ia dapatkan, justru makian. Pasalnya, kedua buah hatinya yang sangat aktif sudah memecahkan barang-barang mahal dirumah itu. Hari itu juga, Kadarsih diusir secara kasar tanpa gaji sepeserpun.
Dari kejadian itu, ia enggan untuk bekerja di rumah orang. Melihat kedua buah hatinya juga masih kecil, dan belum bisa ditinggal sendirian di rumah.
Kadarsih terpaksa harus mencari rongsok berupa botol bekas, kardus dan besi. Nilai jual dari barang-barang tersebut berbeda-beda. Kalau botol bekas, ia akan dibayar sangat murah. Sedangkan untuk kardus agak lumayan. Dan untuk besi, harganya juga cukup bagus. Tapi, dijaman serba susah seperti ini, besi menjadi rebutan semua tukang rongsok. Karena memiliki nilai jual yang lumayan bagus. Terkadang jika ada proyek pemerintah, besi menjadi rebutan tukang proyek itu sendiri.
Dengan tertatih-tatih Kadarsih dan kedua anaknya membawa dua karung rongsok, yang diperkirakan mungkin banyak rongsok yang mereka cari hari ini. Wanita itu menyuruh kedua buah hatinya untuk duduk beristirahat, sambil menyeka peluh dan keringat.
"Aminah, Adrian! Sini duduk dulu! Kita tunggu Bang Jali disini!" suruh Kadarsih kepada anak-anaknya untuk duduk di kursi butut yang terletak di depan rumah Bang Jali. Bang Jali adalah pengepul barang-barang rongsokan.
__ADS_1
Lumayan lama mereka menunggu akhirnya Bang Jali nampak berjalan tergopoh-gopoh, dengan perut buncitnya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Membuat Aminah dan Adrian tertawa geli melihatnya.
"Stttttttt. Jangan tertawa terus, kalau Bang Jali tahu kalian bisa dimarahi!" sungut ibunya.
"Habisnya perut Bang Jali lucu," sahut Adrian, anak bungsunya.
"Adrian!" kesal Kadarsih membulatkan matanya.
"Kadarsih, Kau sudah disini?"
"Iya, Bang,"
"Banyak juga bawaan mu," ucap Bang Jali.
"Alhamdulillah," jawabnya.
"Masukkan ke sini biar aku timbang!" suruhnya.
"Baik, Bang!" Kadarsih membongkar semua barang rongsokannya dan memindahkan ke karung yang lebih besar.
"Biar aku timbang," ucap pria tambun itu.
"Hey, Kalian, Jangan menyentuh barang-barangku!" ucap Jali menggelegar melarang anak-anak Kadarsih menyentuh barang-barang rongsok miliknya. Mereka langsung terdiam tidak berkutik.
"Berapa kilo, Bang?"
"10 kg," jawabnya, "Jadi uangnya hanya segini," ucap Jali memberikan satu lembar uang sepuluh ribuan.
Kadarsih membuang nafasnya kasar. Hingga tertatih-tatih dia membawanya, hanya satu lembar sepuluh ribuan yang ia dapatkan.
"Apakah tidak bisa ditambah, Bang?" tanya Kadarsih kepada Bang Jali.
"Itu kan harga yang sudah kita sepakati. Satu kilo kardus seribu rupiah. Dan untuk botol plastik sekilonya lima ratus rupiah. Jadi, Kau tidak bisa tawar-menawar lagi kepadaku," ujarnya.
"Hhhhhh, baiklah, Bang. Terima kasih banyak," jawabnya.
"Hem,"
Kadarsih pergi meninggalkan tempat rongsok itu dengan menggandeng dua buah hatinya. Mereka begitu girang setelah melihat ibunya menerima uang lembaran sepuluh ribu. Dengan uang itu mereka bisa membeli jajan yang selama ini mereka impikan.
Berbeda dengan Kadarsih, dia harus memutar otaknya untuk mencari uang dari tempat yang lain. Uang sepuluh ribu hanya cukup untuk membeli makan saja. Sedangkan ia membutuhkan banyak uang untuk membayar listrik yang sudah dua bulan ini dimatikan oleh PLN karena menunggak.
Kadarsih dan kedua anaknya berjalan melewati persawahan, kemudian terlihat jelas warung nasi Mak Onah dipinggir jalan persis. Perempuan separuh baya itu, berjualan nasi dipinggir jalan sudah cukup lama. Warung yang luasnya hanya 7 x 9 meter saja, lumayan ramai disinggahi orang-orang kampung. Bukan masalah enak bagi Kadarsih, tapi, dengan satu bungkus nasi, kedua buah hatinya bisa kenyang, termasuk dia bisa ikut makan sisa anaknya.
"Mak, biasa ya! Nasi dan tahu goreng saja. Dikasih kuah ikan ya, Mak!" ucap Kadarsih.
"Siap, Sih, Tunggu sebentar ya!" ucap Mak Onah.
"Sih, kamu nggak bosan setiap hari makan dengan tahu dan tempe goreng," ejek Bu Darno yang sedang mengantri, membeli lauk disitu. Ibu-ibu yang lain terkekeh mengejek.
"Gimana mau beli ayam, Bu Darno. Wong beli nasi saja susah," ucap Bu Heni.
"Bener tuh, Bu. Nasi sama kuah ikan saja bagi mereka sudah lezaaaaaaaat banget," ucap Bu Wati. Tentu tawa mereka pecah menghina Kadarsih.
"Apakah ibu-ibu puas menertawakan saya?" ketusnya. Sontak mereka terdiam mendengar suara keras Kadarsih.
"Yang terpenting saya tidak menyusahkan hidup ibu-ibu sekalian. Kenapa kalian harus mengurusi hidup saya?"
"Hey, Kadarsih. Jangan sombong ya! Makan dengan tempe saja sombong! Bagaimana kalau makan ayam dan daging?" ejek Bu Darno.
"Saya tidak sombong! Saya hanya memeringatkan ibu-ibu saja! Saya tidak pernah merepotkan ibu-ibu, apalagi meminta bantuan kepada ibu-ibu. Kenapa jadi ibu-ibu mengurusi hidup keluarga saya?" ketus Kadarsih.
"Alah, miskin saja belagu!" nyinyir Bu Wati.
"Saya memang miskin, Bu. Setidaknya saya tidak pernah meminta-minta. Rezeki yang saya dapatkan halal. Dari keringat saya sendiri. Jadi, ibu jangan nyinyir!" kesal Kadarsih.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar di warung saya. Saya jadi nggak enak sama pelanggan yang lain!" ucap Mak Onah, "Sih, ini nasimu. Dan ini kembaliannya," ucap Mak Onah dengan menyerahkan kembalian.
"Terimakasih, Mak, Saya mohon diri!" ucapnya. Mak Onah menganggukkan kepalanya dengen tersenyum.
__ADS_1
Sebenarnya melihat Kadarsih seperti itu, wanita separuh baya itu tidak tega. Terkadang jika ada lauk lebih, sengaja ia sisihkan untuk Kadarsih dan juga anak-anaknya.
to be continued.....