
Hari ini Amelia dan Karyawannya terlihat sangat sibuk. Butik dalam keadaan ramai. Hingga dia tidak menyadari kalau Diky sedang berdiri dan menatapnya.
Kaki Amelia terasa sangat sakit, karena terlalu lama dia berdiri dan berjalan, membuat jari-jari kakinya terluka. Wanita cantik itu duduk, dan melepaskan high heelsnya.
"Aduh, kakiku sakit sekali!" ucapnya.
"Mba Amelia nggak apa-apa?" tanya Fifin.
"Kakiku sakit, Fin!" wanita berparas ayu itu meringis kesakitan.
"Lebih baik jangan memakai sepatu high heels dulu, Mba!" ucap Rani.
"Iya juga sih, mungkin karena terlalu lama berdiri dan berjalan, membuat kakiku lecet," ucapnya.
Hem .... Hem .... Hem
Suara seorang pria berdehem, membuat wanita-wanita itu menoleh ke sumber suara.
"Pak Dicky!"
"Maaf, Saya mengganggu!" ucap Dicky.
"Tidak. Anda tidak menggangu," ujar Amelia, "Oya, Ayo kita ke kantor ada yang ingin aku bicarakan!" ajak Amelia dengan ramah. Diam-diam Dicky mengagumi sosok wanita ayu tersebut. Bukan hanya wajahnya yang cantik, dia juga sangat ramah kepada semua orang.
"Silahkan, Pak Dicky!" ucap Amelia mempersilahkan Dicky masuk ke kantor. Dicky melihat Amelia berjalan pincang.
"Kau tidak apa-apa? Kenapa jalanmu seperti itu?" tanya Dicky.
"Oh, ini karena saya terlalu lama berdiri dan berjalan. Kaki saya sedikit lecet. Sepatunya juga kurang nyaman saat dipakai," jawabnya.
"Kalau begitu buang saja jika memang membuatmu sakit," ujarnya.
"Iya, kan sayang. Harganya sangat mahal, sayangkan kalau dibuang. Mungkin akan aku jadikan koleksi saja di rumah," jawabnya. Jawaban Amelia membuat seorang Dicky terpana.
"Apakah ada kotak P3K?" ucapnya tiba-tiba.
"Ada. Buat apa?" Amelia menunjuk kontak P3K di sudut ruangan. Dicky mengambil salep dan pembersih luka.
"Biar, aku obati," ujarnya.
"Maaf, tidak usah. Aku bisa sendiri," jawab Amelia. Amelia menyerobot salep yang ada di tangan Dicky.
"Auw," pekiknya. Tangan wanita cantik itu tidak bisa menjangkau kakinya yang sakit.
"Sini, biar aku bantu!" Dicky merebut salep itu kembali, dan duduk membungkuk, membersihkan lukanya agar tidak infeksi kemudian mengoleskan salep pada kaki Amelia yang terluka.
"Terima kasih," jawab Amelia menarik kakinya menjauh. Dicky menatap Amelia dengan tatapan penuh arti. Hatinya berdesir jika berdekatan dengan wanita itu. Dia tersenyum senang karena bisa membantu wanita cantik itu.
"Silahkan duduk!"
"Terima kasih," jawab Dicky.
Amelia berjalan ke sebuah lemari. Dan dia memberikan contoh pakaian yang Dicky pesan untuk acaranya nanti malam. Rencananya, dia akan menyelenggarakan fashion show disebuah gedung ternama dipusat kota.
"Ini coba Anda lihat. Apakah ada yang suka?" ucap Amelia. Dicky nampak memilah-milah baju yang akan dipakai oleh modelnya nanti.
"Ini semua keluaran terbaru dari Jerman, Eropa dan Amerika. Dan butik kami membelinya dari seorang perancang kelas dunia," ucap Amelia.
"Iya, aku suka dengan modelnya. Aku ambil ini semua, dan akan aku bayar lewat rekening," ucap Dicky.
"Baiklah. Nanti karyawan saya yang akan mengantarkan ke sana!"
"Okey," jawabnya, "Jika Nona berkenan datanglah ke acara fashion show nanti malam. Aku sendiri yang menyelenggarakannya. Jadi, aku memberikan undangan khusus buat wanita cantik yang berdiri di depanku," ucap Dicky.
__ADS_1
"Maaf, bukannya aku tidak mau. Aku tidak bisa. Sepulang dari butik, waktuku hanya untuk keluarga," ucap Amelia.
"Aku mohon, Nona!" pinta Dicky, "Dan acara ini juga sangat bagus untuk kerjasama antara agensiku dan butik Anda!" Amelia nampak berfikir.
"Coba nanti aku pikirkan lagi. Nanti saya akan menghubungi Anda!" jawab Amelia.
"Baiklah, kalau begitu. Saya tunggu kabar dari Nona," ucap Dicky.
"Ehm." Amelia menganggukkan kepalanya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore. Amelia bersiap-siap untuk pulang. Dia membereskan dan merapihkan barang-barangnya yang tercecer di meja.
"Mba Rani aku pulang dulu! Nanti jangan lupa ditutup dan kunci pintunya!" ucap Amelia.
"Baik, Mba Amelia,"
Amelia keluar dari butiknya. Ternyata Thomas sudah menunggunya di luar. Dia berdiri dan bersender di mobilnya dengan mengulas senyum.
"Kok nggak masuk?" tanya Amelia.
"Aku baru sampai, Sayang," jawabnya sambil merengkuh tubuh sang istri.
"Ck, malu, Mas, nanti dilihat orang!" manyun Amelia. Thomas terkekeh geli.
"Kenapa harus malu? Kita kan halal!" cibir Thomas.
"Maksudku, ini tempat umum. Apakah kau tidak malu?"
"Tidak. Aku tidak malu mengumbar kemesraan di tempat umum. Karena aku bermesraan dengan istriku sendiri," ujarnya.
"Ck, mesum!" decihnya, "Yuk kita pulang! Aku kangen sama anak-anak. Tapi, nanti kita mampir ke Supermarket dulu ya, Mas!" pinta Amelia.
"Aku mau belanja bulanan. Kamu kan tahu, sabun dan pasta gigi sudah mau abis. Sherly dari kemarin nggak berhenti ngomel. Kasihan kan?" ucap istrinya.
"Okey, Ayo masuk ke mobil!"
Sampai di Supermarket, Amelia langsung mengambil trolly dan Thomas yang mendorongnya ke tempat sabun dan shampo. Amelia mengambil beberapa shampo, sabun, sikat gigi, dan pasta gigi. Dia juga mengambil beberapa cemilan sehat untuk putra dan putrinya.
"Sudah, Sayang?"
"Sudah, Mas. Ayo kita bayar!"
"Pakai uangku saja, Sayang,"
"Okey,"
Setelah membayar belanjaan istrinya dikasir, Thomas menata belanjaan tersebut didalam bagasi mobil. Amelia sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Mas?"
"Iya, Sayang. Ayo kita pulang!"
"He'em," jawabnya. Mobil Thomas melaju dengan kecepatan sedang.
"Oya, Mas. Sebenarnya nanti malam aku ada undangan ke acara fashion show. Tapi, aku bingung apakah aku harus datang atau tidak? Menurutmu bagaimana, Mas?" tanya Amelia.
"Siapa yang mengajakmu?"
"Pemilik agensi yang mengajakku,"
"Wanita atau pria?" tanya suaminya.
__ADS_1
"Pria, Mas,"
"Masih muda?"
"Iya,"
"Aku nggak mengizinkan. Kecuali kalau kau datang bersamaku!" tegas Thomas. Amelia bisa mengerti kenapa suaminya nggak mengizinkannya pergi.
"Iya, Mas," jawab Amelia.
Tidak terasa mobil suaminya sudah sampai di depan rumah. Mereka berdua turun, Thomas menyuruh para pelayan untuk membawa barang-barang belanjaan.
"Mommy!" teriak Sherly, ditiru oleh Aska. Dia sudah mulai pandai meneriakkan kata 'Mommy.'
"Mommy," ucap Aska dengan suara cadelnya.
"Sayang!" Mereka berhambur kepelukan Amelia.
"Mommy!"
"Anak Mommy sudah mandi?"
"Sudah dong, Mom," jawab Sherly.
"Uda," ucap Aska mengikuti kata-kata Sherly. Amelia terkekeh geli melihat Aska menirukan kata-kata kakaknya.
"Mommy," ucapnya, "Daddy," panggilnya melihat Thomas mendekat ke arahnya.
"Hey, Boy. Anak Daddy!" Thomas membopong tubuh gembul itu, kemudian menggelitiknya. Aska terkekeh karena geli, tubuhnya meliuk-liuk karena kegelian.
"Oya, Mommy baru saja membelikan cemilan buat Kakak Sherly dan Adek Aska. Ayo masuk ke dalam kita bongkar belanjaan Mommy!" ajaknya. Mereka berempat pun masuk, Amelia membantu anak-anaknya membuka cemilan yang baru saya ia beli.
"Sayang, aku mandi dulu. Badanku gerah banget!"
"Iya, Mas," jawab istrinya. Thomas berlalu ke kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih.
"Dimana Oma?" tanya Amelia kepada Sherly.
"Oma di kamar Tante Alina. Tante Alina sedang bersedih," jawab Sherly. Amelia mengernyitkan alisnya.
"Kenapa?"
"Nggak tahu, Mom," jawabnya dengan menaikkan bahunya.
"Sebaiknya nanti saja aku tanyakan," batin Amelia.
"Mommy ini kesukaan Sherly," ucap Sherly.
"Iya, Sayang. Mommy beli banyak buat kamu!" ujar Amelia.
"Hoye!" celetuk Aska, membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
Mereka berdua adalah hartanya yang tidak berharga. Sesibuk apapun Amelia, kalau sudah berada dirumah waktunya hanya untuk keluarga kecilnya. Apalagi kalau weekend tiba, seharian penuh dia akan menemani putra dan putrinya bermain.
to be continued........
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
...'Sesibuk apapun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga.'...
...'Kamu tidak bisa memilih keluargamu. Mereka adalah anugerah Tuhan untukmu, seperti halnya kamu untuk mereka." -Desmond Tutu...
...'Ikatan yang menghubungkan keluarga sejati bukanlah ikatan darah, tetapi rasa hormat dan sukacita dalam kehidupan satu sama lain.' - Richard Bach...
__ADS_1