
Amelia kembali ke butik untuk bekerja. Tidak mungkin dia membiarkan butiknya begitu saja, dan berlarut-larut dalam kesedihan. Namun yang berbeda, dia membawa sekalian Aska dan baby sisternya ke butik. Amelia tidak tega harus meninggalkan Aska dirumah sendiri, iya, meskipun ada pengasuh anak.
Para karyawan menyambut kedatangan bos-nya dengan hangat. Sesekali Rani dan karyawan lain ikut bermain bersama Aska. Aska anak yang sangat pintar dan mudah akrab dengan seseorang, membuat anak sepintar itu langsung akrab dengan para karyawan Mommy nya.
"Permisi! Selamat siang!" sapa seseorang.
"Eh, Pak Dicky," sahut Rani ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Amelia. Apakah dia ada di dalam?"
"Ada. Sebentar ya, Pak!" nampak Rani masuk ke dalam ruangan, kemudian keluar lagi.
"Pak, Silahkan masuk saja! Mba Amelia mempersilahkan Pak Dicky masuk!"
"Terimakasih, Mba Rani," senang Dicky.
"Selamat siang! Apakah saya mengganggu?" ucap Dicky melongokkan kepalanya di celah pintu.
"Selamat siang,"
"Eh, Pak Dicky. Silahkan masuk!" suruh Amelia. Nampak diruangan Amelia ada putra dan baby sister nya.
"Hey, jagoan ganteng. Sedang apa?" tanya Dicky kepada Aska.
"Ain. Om ciapa?" tanya Aska sangat menggemaskan. Dicky nampak mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dikatakan Aska kepadanya.
"Nama Om siapa?" ucap Baby sisternya, menerjemahkan kata-kata Aska.
"Oh." Dicky terkekeh geli.
"Perkenalkan, nama Om adalah Om Dicky. Panggil dengan Om Dicky,"
"Oh, Om Dicky," gelaknya.
"Aska sedang bermain apa?"
"Obil-obilan. Om au nemenin Aka!"
"Om, ngobrol sama Mommy dulu ya! Nanti kita main mobil-mobilan!"
"Beneran?"
"Beneran dong!" ucap Dicky kepada Aska. Membuat Amelia terkekeh.
"Wah, anak kamu sangat manis dan lucu ya!"
"Namanya juga anak-anak," ujar Amelia, "Silahkan duduk, Pak Dicky!"
"Terimakasih,"
"Ada keperluan apa ya, Pak? Bukankah kita sudah tidak ada kerjasama lagi?"
"Oh, itu. Eh, bukan! Saya datang ke sini bukan untuk membicarakan masalah kerja,"
__ADS_1
"Lalu?"
"Saya baru mendengar kabar duka yang menimpa keluarga kamu. Saya benar-benar ikut prihatin. Maafkan saya, kalau saya tidak datang ke acara pemakaman Tante Celine!"
"Tidak apa-apa, Pak Dicky. Saya mengerti kok!"
"Saya juga mendengar bahwa Pak Thomas juga sudah meninggal dalam kecelakaan itu!"
"Tidak, Pak Dicky. Saya yakin bahwa suami saya masih hidup. Dan saya yakin dia akan kembali kepada saya dan anak-anak!" ucap Amelia menyanggah ucapan Dicky.
"Maaf, bukan maksud saya untuk membuat kamu bersedih!"
"Tidak. Anda tidak bersalah! Karena Anda tidak tahu. Tapi, perasaan saya mengatakan bahwa suami saya masih hidup!"
"Iya, Baiklah," sahut Dicky, "Jika kamu berkenan, biarkan saya membantu kamu untuk mencari keberadaan Pak Thomas. Saya akan menyuruh orang-orang saya untuk menelusuri jurang, sepanjang sungai dan hutan sekalipun!"
"Benarkah, Pak Dicky mau membantu?"
"Iya. Itu jika kamu mau!"
"Baiklah, Pak Dicky. Saya menghargai kebaikan Anda!"
"Baiklah saya permisi dulu! Jika ada kabar saya akan menghubungi kamu!"
"Baik, Pak. Saya tunggu kabar baiknya!"
Pak Dicky keluar dari ruangan Amelia. Kemudian Amelia mengajak putranya menjemput Sherly dan makan siang diluar. Aska nampak begitu bahagia dengan ajakan Mommynya.
"Mba Amelia, Saya ijin ke toilet sebentar!" ucap Lina, baby sister Aska.
"Baik, Mba,"
Lina nampak senang, karena dia berhasil memotret aktifitas majikannya yang sedang mengobrol dengan teman pria. Dua foto berhasil dia kirim ke ponsel seseorang.
"Ah, berhasil. Dapat doble bonus aku!" senang Lina.
to be continued ...
Ayo dukung karya ini dengan like, komentar, vote dan hadiahnya.....
Author juga punya karya lain yang ceritanya nggak kalah seru nih.
Yuk mampir!!!!
ISTRIKU BERBEDA
Penggalan Bab:
"Apakah dosa Zina bisa dimaafkan, Kak?" tanya Nathan kepada Adnan.
"Tentu saja bisa. Asalkan Kau bersungguh-sungguh bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah. Insya Allah, Allah pasti memaafkanmu," tutur Adnan, "Semua orang punya kesempatan untuk kembali dan menjadi lebih baik. Maka akan saya tegaskan, Allah sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah," tandasnya.
Nathan menitikkan air matanya, pipi dan bajunya basah karena air mata. Entah kenapa apa yang disampaikan oleh Adnan, membuat tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1
"Selama ini aku sudah berdosa. Aku bukan hanya berzina, aku juga sudah menyakiti hati istriku sendiri," isaknya, "Suami macam apa aku ini?"
"Hiks ... Hiks ... Hiks." Adnan bisa merasakan kesedihan pria didepannya.
"Sabarlah, Bro. Kamu harus bertaubat dan instrospeksi diri kamu sendiri. Berusahalah untuk berubah sebelum terlambat. Dekatkan dirimu kepada sang Pencipta. Mohon pengampunan atas kesalahan dan dosa yang sudah kamu lakukan. Hanya Allah tempat kita mengadu dengan segala keluh dan kesah hambanya!" tutur Adnan lagi.
"Terima kasih banyak, Kak. Kakak sudah bersedia mendengarkan segala keluh kesahku. Terima kasih atas ilmu yang bermanfaat ini, Kak!" Adnan menepuk pundak Nathan agar dia bersabar dan bersyukur karena disituasinya sekarang ini, Michelle dengan ikhlas masih berada didekatnya.
Sudah lama juga mereka mengobrol dan saling berbincang. Hingga kedua perempuan cantik itu kembali.
"Mas, sudah sore banget. Ayo kita pulang, nanti Mustofa rewel!" ujar Amina. Adnan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata memang sudah sore. Mustofa kecil mereka titipkan dengan neneknya di rumah.
"Baiklah, Sayang," jawabnya, "Kami pulang dulu. Kalau ada kesempatan mainlah ke rumah sederhana kami,"
"Ah, Kak Adnan terlalu merendah. Oya, ini ada kue untuk si kecil Mustofa. Sampaikan salam ku untuk Mustofa dari Tantenya yang cantik," gelaknya. Semua orang di sana ikut tergelak.
"Terima kasih banyak, Michie. Jadi merepotkanmu," ucap Amina.
"Ah, tidak. Kami yang merepotkan kalian!" kekehnya.
"Apaan sih? Kami senang kok bisa kesini? Iya kan, Mas?"
"Iya, Sayang!" sahut Adnan, "Seorang muslim yang baik, jika ada muslim lainnya yang sedang sakit, alangkah baiknya jika kita menjenguknya. Hukum menjenguk orang sakit adalah sunnah. Seorang Muslim yang melakukannya akan mendapat pahala di sisi Allah Ta'ala karena menaati dan meneladani Nabi Muhammad SAW. Menjenguk orang sakit juga dapat menguatkan ukhuwah, persaudaraan, serta solidaritas sesama," tegasnya.
"Terimakasih banyak, Kak Adnan, Amina. Kalian memang saudara muslim yang baik," jawabnya.
"Baiklah, kami pulang dulu. Jika, ada kesempatan kami akan kesini lagi,"
"Baik, Kak. Terimakasih sekali lagi!"
Setelah berpamitan, suami istri itu pun keluar dari ruangan Nathan. Kini, hanya mereka berdua yang tersisa di kamar itu.
Nathan memanggil nama istrinya dengan lembut. Dia menggenggam tangan Michie dan mencium punggung tangannya. Dia terisak, air matanya membasahi punggung tangan istrinya.
"Kenapa, Mas?" tanya Michelle.
"Maafkan aku," isaknya.
"Sudahlah, Mas. Jangan berpikir macam-macam dulu. Kamu harus sembuh dulu, Mas. Kamu harus semangat dan yakin bahwa penyakit kamu bisa sembuh!" tutur istrinya.
"Maukah kamu membantuku?" tanya Nathan. Michelle terdiam sejenak, dia bingung harus menjawab apa.
"Aku tahu jawabannya. Pasti, kamu tidak mau. Apalagi setelah yang aku lakukan kepadamu. Aku memang tidak pantas mendapatkan wanita baik seperti kamu,"
"Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan, Mas? Aku nggak ngerti!"
"Tapi, itu kenyataan Michie. Faktanya, aku memang sudah menorehkan luka terlalu dalam dihati kamu. Kamu berhak marah kepadaku. Kamu boleh memilih kebahagiaanmu !"
"Bukan, bukan itu, Mas," ucapnya.
"Lalu?"
"Jika memang kamu berubah. Dan menjadi suami yang bertanggung jawab dan imam yang baik untukku. Aku bersedia kembali denganmu, Mas!" ujarnya. Ada hawa segar yang menerpa perasaan Nathan. Ada rasa bahagia, terharu dan sedih.
__ADS_1
"Benarkah? Jadi, kamu mau kembali kepadaku?" senangnya. Michelle menganggukkan kepalanya.
to be continued ....