Amelia

Amelia
Episode 113


__ADS_3

Hujan deras yang mengguyur kota, membuat semilirnya angin menjadi terasa dingin. Thomas menarik tubuh Amelia supaya dia bisa mendekapnya. Tidak ada penolakan dari Amelia. Karena dia juga merasa nyaman berada di dekapan suaminya.


Amelia yang terus menggoyang-goyangkan tubuhnya, membuat terjadinya gesekan antara kulit dan kulit. Tentu saja membuat adik kecil dibawah sana berdiri dengan gagahnya.


"Sayang?" panggil Thomas dengan manja.


"Hem," jawab Amelia, suara khas bangun tidur.


"Sayang, aku lagi pengen nih!" pinta Thomas.


"Hem," jawabnya lagi, "Aku masih ngantuk, Mas!"


"Sayang?" panggilnya dengan lembut, "Lihat nih, adik kecilku bangun!" ucapnya.


"Hem, aku ngantuk," ujarnya.


"Ayolah sebentar saja!" ajak Thomas.


"Amelia nggak bisa, Mas,"


"Lho kenapa? Kita kan sudah halal?"


"Ish, bukan itu?"


"Terus kenapa? Ayolah, mumpung suasananya mendukung, Sayang," ucapnya.


"Tapi, Aku tidak bisa," jawabnya lagi.


"Memangnya kenapa?" tanya Thomas penasaran.


"Karena aku sedang datang bulan, Mas," jawab Amelia.


"Apa?" seketika Thomas tidak bersemangat.


"Aku tidak jadi makan kue apem," manyunnya, melihat raut muka suaminya yang cemberut Amelia terkekeh geli.


"Aku bantu, Sayang!" ucap istrinya menawarkan bantuan kepada suaminya.


"Bagaimana caranya?"


Amelia melepaskan celana boxer milik suaminya, memang kalau Thomas tidur dia hanya mengenakan celana boxer saja. Dengan gaya nakalnya, Amelia mulai meraba dan meremas pusaka yang sudah mengeras dan mengacung dengan gagah.


Thomas merasa keenakan dan menikmati permainan tangan istrinya.


"Enak, Sayang. Terus! Ayo, Sayang! Lanjutkan!" ceracaunya.


"Ah, aku mau keluar, Sayang!"


Hampir saja mau keluar, tiba-tiba Sherly masuk tanpa permisi. Membuat Thomas dan Amelia begitu terkejut. Dengan gerakan langkah kaki seribu, Thomas langsung berlari ke kamar mandi.


"Mommy?" panggil Sherly. Amelia sangat syok dan juga bisa bernafas dengan lega, untung suaminya langsung berlari ke kamar mandi.


"Kok Mommy melamun?"

__ADS_1


"Nggak kok. Siapa yang melamun? Tadi jantung Mommy hampir copot," bohong Amelia.


"Kenapa, Mom? Mommy sakit?" cemas Sherly sambil memegang kening Mommynya.


"Bukannya sakit. Mommy terkejut," elaknya.


"Hem," Sherly menatapnya penuh selidik, sedangkan Amelia tersenyum simpul.


Thomas keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Rambutnya juga basah. Dia menoleh ke arah istrinya, yang masih berusaha untuk menjelaskan kepada Sherly.


"Sherly, kenapa belum mandi? Bukankah hari ini kamu sekolah?" tanya Thomas.


"Yes, Dad. Sherly mau mandi," ucapnya kemudian berlalu dari kamar orangtuanya.


"Apakah butuh bantuan Mommy?"


"Tidak, Mom. Sherly kan sudah besar. Jadi harus mandiri," jawabnya.


"Good," jawab Amelia sambil mengacungkan ibu jarinya.


Setelah Sherly keluar dari kamarnya, Thomas dan istrinya bisa bernafas dengan lega.


"Akhirnya, keluar juga," ucap Thomas.


"Ck, semua ini gara-gara kamu, Mas! Coba kalau kamu nggak macam-macam?" manyun istrinya.


"Ish, Kau ini! Lagipula siapa suruh membangunkan si Joni. Jika, kau tidak membangunkannya, mana mungkin Joni minta jatah," goda Thomas tanpa merasa bersalah.


"Tapi kan aku sudah bilang kalau aku sedang datang bulan, Mas," ucap Amelia sambil berlalu ke kamar mandi.



Thomas sudah memakai pakaian kerjanya, dia terlihat begitu tampan dengan jas berwarna hitam. Amelia membantu suaminya menyisir rambut.


"Ehm, tampannya suamiku!" puji Amelia.


"Terima kasih, Sayang," ujar Thomas mengecup kening istrinya.


"Minum dulu kopinya!" Amelia menyerahkan satu cangkir kopi kepada suaminya. Sambil duduk Thomas menyeruput kopi yang dibuat istrinya.


"Enak, rasanya manis seperti wajah kamu, Sayang,"


"Ish, gombal!" ucap Amelia malu-malu. Amelia mendekat ke arah suaminya, dan Thomas menarik pinggang istrinya hingga Amelia terduduk di pangkuan Thomas.


"Mas, kemarin ada seorang dari agensi model datang kepadaku. Katanya,


mereka tertarik dengan produk yang di jual di butik kita. Dan mereka ingin mengajak kerjasama dengan butik kita. Mereka ingin memakai produk baju kita, untuk para model-modelnya. Menurut kamu bagaimana, Mas?" tanya Amelia.


"Boleh aku tahu dia dari agensi mana?"


"Kalau nggak salah namanya DK Model agensi. Mas tahu agensi itu?"


"Kurang tahu sih. Nanti coba aku akan mencari tahu," jawab Thomas.

__ADS_1


"Iya, sudah, Ayo kita berangkat nanti terlambat lho, Mas!"


"Baiklah, Ayo!"


Setelah sarapan mereka pun berpamitan kepada Mama Celine dan Alina, tidak lupa Amelia berpamitan kepada putra kesayangannya.


"Bye, bye, Sayang. Jangan nakal-nakal sama Oma," ucap Amelia sambil melambaikan tangannya.


Thomas mengantarkan Sherly ke Sekolah terlebih dulu, barulah dia mengantarkan istrinya ke butik. Sedangkan Bram dengan menggunakan mobilnya sendiri langsung menuju ke Perusahaan.


"Aku kerja ya, Mas!" pamit Amelia kepada suaminya. Tidak lupa dia mencium punggung tangan suaminya.


"Nanti siang kita makan bersama ya, Sayang,"


"Oke,"


"Bye." Amelia melambaikan tangannya.


Setelah mobil suaminya tak terlihat, barulah dia masuk ke dalam butik. Semua karyawan sudah berdiri untuk menyambut kedatangan majikannya.


"Selamat pagi, Mba Amelia. Mba Amelia semakin cantik saja, apa sih rahasianya?" tanya Fifin.


"Ah, Mba Fifin bisa saja," ujar Amelia, "Rahasianya cuma satu kok, Mba. Banyak-banyak tersenyum!" jawab Amelia.


"Tuh, Fin, hanya tersenyum kamu bisa secantik Mba Amelia. Makanya kamu harus banyak tersenyum. Di depan orang kamu tersenyum. Mau makan kamu tersenyum. Mau ke toko kamu juga harus tersenyum. Mau ke toilet juga harus tersenyum. Dan kemana-mana kamu harus tersenyum, Fin," celetuk Rani.


"Ish, kalau aku tersenyum terus nanti dikira orang gila gimana dong Mba Rani?"


"Emang kenyataannya?" ucap Rani terkekeh geli.


"Ha ... Ha .... Ha." semuanya tertawa mendengar celotehan lucu Fifin dan Rani.


"Ish, Mba Rani iki. Kok tega banget sih?" Amelia hanya geleng-geleng kepala saja.


Satu jam kemudian, Amelia berpamitan kepada karyawannya. Karena hari ini dia ada jadwal ke butik cabang.


Dengan menggunakan taksi, dia menuju ke sana. Hanya dengan hitungan beberapa menit saja, taksi yang ditumpangi oleh Amelia berhenti di depan mall.


Butik yang masih baru beberapa bulan ia rilis berada di lantai tiga mall besar ini. Amelia hendak mengambil ponselnya yang terselip di dalam tas, hingga ia tidak memperhatikan jalan. Tanpa disengaja dia menyenggol seorang pria yang sedang menelpon, dan ponsel milik pria itu terjatuh.


"Ups, Maaf," ucap Amelia kemudian mengambil ponsel tersebut.


"Saya minta maaf, saya tidak sengaja. Ini ponsel Anda! Coba cek kembali, apakah ada yang rusak? Nanti akan saya ganti," ucap Amelia menyesal.


"Tidak ada yang rusak kok," ucapnya sangat ramah. Pria tersebut nampak memperhatikan dan mengangumi wanita cantik di depannya.


"Saya benar-benar minta maaf,"


"Tidak apa-apa. Semuanya terkendali!"


"Baiklah, saya harus pergi. Karena saya terburu-buru!" ucap Amelia sambil berlalu pergi.


"Cantik," gumamnya.

__ADS_1


"Ck, harusnya aku menanyakan namanya! Bodohnya diriku!" umpatnya pada diri sendiri.


to be continued.....


__ADS_2