
"Tenang saja, Sayang. Wanita itu sudah ada di sini kok," jawab Mamanya. Sontak Bram, Alina dan Thomas menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan perempuan yang dimaksud mama. Tapi, mereka bertiga tidak menemukannya. Jelas mereka sangat bingung dengan ucapan mama Celine. Sedangkan Amelia hanya duduk dengan tenang, karena sebelumnya dia sudah mengetahui rencana Mama Celine. Amelia hanya terkekeh melihat reaksi ketiganya, terutama melihat reaksi Bram dan Alina.
"Sayang, Sebenarnya ada apa sih ini?" bisik Thomas, karena melihat istrinya nampak tenang dan mengulum senyum.
"Lihat saja nanti," jawab Amelia.
"Mana Ma?" tanya Bram dan Alina serentak.
"Tuh di depan kamu!" ucap Celine kepada Bram. Bram bingung, karena yang sedang duduk berhadapan dengannya adalah Alina. Dia semakin tidak mengerti.
"Siapa Mah?" tanya Alina yang juga ikut penasaran.
"Memangnya, siapa lagi wanita yang duduk di hadapanmu! Dasar bodoh!" ejek Mama Celine kepada Bram. Bram hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Seketika Bram memandang ke arah Alina. Alina pun demikian, mereka saling memandang dengan penuh keheranan.
"Maksud Mama, Alina!" celetuk Thomas. Bram dan Alina beralih memandang Mamanya. Dan Mama Celine mengangguk pasti.
"He'em," jawab Mama.
"Maksudnya apa sih, Ma? Alina nggak ngerti!" protes Alina.
"Bram juga nggak ngerti," imbuh Bram.
"Alah, Jangan sok nggak ngerti deh! Kalian pikir Mama anak kecil? Yang harus kalian bohongi terus!" kesal Mama. Bram dan Alina hanya saling pandang saja.
"Mama sudah tahu semuanya. Mama tahu kalau kalian memiliki hubungan spesial!"
Degh ....
"Mama tahu dari mana?" tanya Alina kaget.
"Dari Amelia," jawab Mama.
"Amelia," jawab mereka serentak, pandangan mereka beralih ke arah Amelia. Termasuk Thomas juga melirik ke arah istrinya.
__ADS_1
"Ish, Sayang, kenapa kau harus bilang ke Mama?" tanya Thomas.
"Thomas, memang kenapa kalau Amelia mengatakan kepada Mama? Apakah ada yang salah dengan itu?" kesal Mama Celine.
"Bukan begitu, Ma. Memangnya Mama nggak marah?" tanya Thomas lirih.
"Kenapa Mama harus marah?" hardiknya dengan nada tinggi. Membuat Thomas, Alina dan Bram melonjak kaget. "Mama justru kecewa dengan sikap kalian! Yang menyembunyikan ini semua. Kenapa tidak dari dulu kalian mengatakannya kepada Mama?" sedih Celine.
"Maafkan kami, Ma," jawab Alina, dan langsung memeluk tubuh mamanya.
"Bram yang salah, Ma. Bram terlalu pengecut mengakui perasaan Bram sendiri. Padahal Alina seringkali mengatakan kepada Bram untuk jujur, tapi, Bram cuma tidak mau menyakiti hati Mama. Dan tidak mau membuat Mama kecewa. Bram sangat menyayangi Mama seperti Mama kandung Bram sendiri," jawabnya panjang lebar.
"Bram, Bram. Kau sudah tua, tapi masih sangat bodoh! Mana mungkin Mama akan marah dan kecewa. Justru Mama sangat bahagia, karena akhirnya kamu akan menjadi anak mama. Mama justru kecewa dan sedih, gara-gara Mama, kalian harus mengalami semua ini. Bahkan kalian sempat berpisah oleh keadaan dan situasi. Mama benar-benar merasa bersalah dengan kalian. Dan kamu pasti sangat terluka, Al, saat Mama menjodohkan Bram dengan wanita pilihan Mama?" sedih Mama, membuat Bram dan Alina semakin bersalah.
"Maafkan Alina juga, Ma. Karena Alina juga tidak jujur," ucap Alina. "Alina sangat takut," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kalian harus berterima kasih dengan Amelia. Berkat dia, Mama bisa mengetahui semuanya," ucap Mama. "Sekarang Mama akan merestui hubungan kalian. Jika memang kalian saling mencintai dan menyayangi, Mama akan merestui hubungan kalian. Kamu harus bahagia, Sayang," ucap Celine kepada putri tercintanya.
Bram dan Alina saling berpandangan, Alina pun langsung memeluk sang Mama, kemudian beralih ke Kakak iparnya.
Bram pun mendekat ke arah Mamanya, dia juga memeluk Mama Celine. Berulang kali Bram mengucapkan terima kasih. Setelah memeluk Mamanya, dia juga beralih ke arah Amelia hendak memeluk, namun tangannya ditepis kasar oleh Thomas.
"Berani kau menyentuh istriku, Bogeman tanganku siap melayang di pipimu," ucap Thomas tegas. Bram mengurungkan niatnya untuk memeluk istri Abangnya.
"Ish, Pelit sekali kau, Bang! Padahal aku hanya ingin membagi kebahagiaan ku," ucap Bram dengan memajukan bibirnya lima centi. Membuat semuanya tertawa bahagia.
"Duduk lagi sana!" suruh Thomas kepada Bram, Membuat Amelia terkekeh geli. Bram pun menuruti perintah Abangnya dengan memanyunkan bibir.
"Jadi, kapan rencana kalian akan menikah?" tanya Mama kepada Bram dan Alina. Mereka belum bisa menjawab.
"Bram, ingat umur kamu! Kamu sudah tidak muda lagi. Harusnya seusia kamu sudah punya anak," ujar Mama Celine.
"Ish, Mama jahat sekali," manyun Bram.
"Bener tuh kata mama, dia memang perjaka tua," goda Thomas.
__ADS_1
"Sialan Kau, Bang," ucap Bram memberengut kesal.
"Bagaimana Alina? Kau ingin menikah kapan?" tanya Amelia menggoda adik iparnya.
"Terserah Bang Bram saja," lirih Alina tersipu malu.
"Wah, pipi Alina memerah. Sepertinya dia sangat malu," goda Amelia lagi.
"Nggak begitu, Kak. Aku serahkan semuanya kepada Mama saja," ucap Alina.
"Baiklah, mama putuskan bulan depan kalian akan menikah. Lebih cepat lebih baik, supaya tidak ada fitnah," ucap Mama. "Oya, Thom, kamu jelaskan kepada khalayak ramai, bahwa mereka bukan kakak beradik kandung. Jadi, mereka sah untuk menikah. Karena tidak ada hubungan darah. Mama tidak mau terjadi masalah saat pernikahan terjadi," terang Celine.
"Oke, Mah. Beres," ucap Thomas.
Betapa bahagianya mereka berdua, akhirnya jalan panjang yang mereka lalui akan berujung menuju pelaminan. Alina berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Kakak iparnya. Dia tidak menyangka, kedatangan kakak iparnya justru membuat keberuntungan baginya.
Satu Minggu berlalu setelah pemakaman. Arga seperti biasa melakukan aktivitasnya kembali. Berangkat ke kantor dan bekerja mencari rezeki untuk keluarganya. Setelah berpamitan dengan ibu dan istrinya, dia pun langsung melajukan mobilnya menuju Kantor.
Sedangkan kedua adik kembarnya, kembali ke Semarang untuk kuliah. Arga sudah menawarkan mereka tumpangan, namun mereka menolak, mereka lebih memilih menaiki travel untuk sampai ke Semarang.
Setelah berpamitan dengan ibu dan Kakak iparnya, mereka pun menaiki travel yang sudah mereka pesan. Travel melaju meninggalkan rumah Dahlia. Disepanjang perjalanan mereka hanya duduk tanpa mengatakan apapun. Mereka masih merasa sedih atas kehilangan ayah yang mereka cintai.
Di tengah perjalanan yang sepi, mereka dikejutkan dengan empat orang begal yang memberhentikan mobil travelnya. Mereka menyuruh sang sopir keluar dari mobil, kemudian mereka menyuruh Pak Sopir untuk menyerahkan dompet dan kunci mobil. Namun Pak Sopir menolak, mereka menghajar sopir itu dengan membabi buta. Meli dan Mila yang melihat kejadian tersebut merasa ketakutan, dan mereka pun berteriak sekencang mungkin meminta pertolongan. Namun naas, jarak mereka jauh dari perkampungan, sehingga teriakkan mereka tidak didengar oleh orang lain.
__ADS_1
to be continued....