
Seorang wanita cantik, bermata indah dengan tubuh semampai turun dari taksi, dan berdiri di depan gerbang. Dia memanggil salah satu penjaga.
"Permisi!"
"Iya, Ada yang bisa saya bantu, Nyonya!" ucap Penjaga.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Thomas, Apakah ada di rumah?" tanya wanita tersebut.
"Tuan dan Nyonya muda sedang bekerja, di rumah hanya ada Nyonya besar," jawab penjaga.
"Nyonya muda. Maksudnya, Apakah Thomas menikah lagi?"
"Iya, Nyonya," jawab penjaga.
"Ah, jadi Thomas sudah menikah lagi," batin perempuan itu.
"Kalau begitu, Tolong katakan kepada Nyonya besar, Saya ingin menemuinya," ujarnya.
"Nona siapa?" tanya penjaga.
"Katakan saja, Nama saya Clara Vincent, Cepatlah, Saya kepanasan di sini!" ucapnya.
"Baik, sebentar. Tunggu di sini!" ucap penjaga.
Penjaga memberitahu kepada Nyonya besar bahwa ada tamu diluar, sepertinya Celine agak terkejut dengan kedatangan wanita itu. Tapi, dia sangat penasaran dengan kedatangan Clara, mantan menantunya. Dia pun menyuruh penjaga untuk mempersilahkannya masuk ke dalam.
Clara melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dia nampak mengamati setiap sudut rumah ini. Rumah yang sangat lama dia tinggalkan. Seiring berjalannya waktu, semuanya telah berubah.
Celine menemui Clara yang sedang duduk di ruang tamu. Dia menatap sinis ke arah wanita yang berdiri di depannya.
"Mau apa kau kesini?" ketus Celine.
"Mama?" sapa Clara hendak mencium punggung tangan mantan mertuanya. Namun Celine menepisnya dengan kasar.
"Tidak usah berbasa-basi. Mau apa kau datang kemari?" ketus Celine lagi.
"Mah, aku tahu kalau aku salah. Aku mohon maafkan aku," ucapnya.
"Maaf? Setelah apa yang kau lakukan dengan putra dan cucuku, kau bilang Maaf?" marah Celine.
"Aku salah, Ma. Mama boleh menghukum ku. Aku menyesal dan aku ingin memperbaiki hubungan kita yang sempat renggang," ujarnya.
"Ha .... Ha .... Ha," tawa Celine.
__ADS_1
"Kau ini sangat lucu sekali, Clara! Setelah yang kau lakukan kepada keluargaku, sekarang kau datang dan meminta maaf. Dan kau bilang ingin memperbaiki hubungan yang renggang? Hubungan macam apa? Hah?"
"Sekarang Thomas sudah bahagia dengan istrinya. Jangan ganggu kebahagiaan mereka!" ucap Celine penuh penekanan.
"Iya, Ma, Aku tahu. Clara datang kesini karena Clara ingin melihat Sherly. Clara sangat rindu dengan Sherly," ucapnya.
"Rindu? Kemana saja selama tujuh tahun ini? Kau meninggalkan putrimu, sewaktu dia berusia dua bulan, kemana kau selama ini?" ketus Celine.
"Karena itu, Ma. Aku ingin menebus kesalahanku, biarkan aku bertemu dengan Sherly!" pintanya.
"Tidak. Aku adalah orang pertama yang akan menolak kau untuk menemui Sherly," tegas Celine.
"Tapi, Ma, aku mohon!" ucap Clara.
"Clara, Sherly sudah bahagia dengan Mommy sambungnya. Jadi, biarkan Sherly hidup bahagia," tutur Celine.
"Tapi, Sherlly adalah anakku. Dia darah dagingku, Ma. Sherly harus tahu bahwa aku adalah ibu kandungnya," ucap Clara.
"Clara, Mama tahu. Tapi, kau harus ingat bahwa Sherly tidak mengenalmu. Dia bahkan tidak tahu siapa ibu kandungnya. Jika tiba-tiba saja kau datang dan mengatakan bahwa kau adalah ibu kandungnya, Mama takut jika itu akan menggangu pikirannya,"
"Tapi, Ma .... !" belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Thomas, Amelia dan Sherly sudah berdiri di ambang pintu.
"Sayang, bawa Sherly ke kamarnya!" perintah Thomas kepada Amelia. Amelia tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya, raut muka sang suami tiba-tiba saja berubah. Tatapan matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang mengobrol dengan Mama Celine.
"Thomas?" panggil Clara sambil berdiri. Thomas melangkahkan kakinya ke arah Clara. Dia menatap tajam ke arah Clara.
"Mau apa kau kesini?" ketusnya.
"Maaf, Thomas. Aku datang kesini tanpa memberitahumu. Niatku baik datang kemari!" ujarnya.
"Niat baik apa? Jika memang kau memiliki niat baik seharusnya sejak awal kau datang kesini!" ketus Thomas, masih dengan sikap yang sama.
"Karena itu, aku ingin memperbaiki semuanya! Aku ingin bertemu dengan putriku. Darah dagingku!" ujarnya.
"Clara, Clara! Kau masih sama seperti dulu. Begitu egois dan penuh kepalsuan! Aku tidak tahu apa tujuanmu. Tapi, aku katakan sekali lagi. Sherly bukanlah putrimu. Dia adalah anakku dan istriku," ucap Thomas.
"Thom, aku mohon, berikan aku kesempatan memeluk anakku! Berikan aku kesempatan bertemu anakku, biarkan Sherly tahu kalau aku ibu kandungnya!" mohon Clara.
"Tidak. Pergi dari sini!" usir Thomas. Thomas menarik tangan Clara dengan kasar, dia begitu marah dengan kedatangan mantan istrinya. Apalagi sekarang dia meminta haknya sebagai seorang ibu. Thomas tidak menerima semua itu.
Amelia keluar dari kamarnya, dan melihat suaminya menarik tangan wanita itu dengan kasar. Ini adalah pertama kalinya, melihat sang suami begitu marah.
"Pergi dari sini!" usir Thomas lagi.
__ADS_1
"Thom, Aku mohon, jangan usir aku!" isak Clara. Thomas menutup pintunya, supaya Clara tidak bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa, Ma? Siapa wanita itu?" tanya Amelia penasaran.
"Itu adalah Mamanya Sherly," jawab Celine.
"Mamanya Sherly," heran Amelia.
"Sudah, jangan dipikirkan. Lain kali Mama ceritakan. Redakan amarah suami kamu, Sayang. Hanya Kau yang bisa meredakan amarahnya," ujar Mama.
"Baiklah, Ma," ucap Amelia.
Amelia melihat suaminya langsung masuk ke ruang kerja. Sepertinya dia ingin mengurung dirinya sendiri.
Amelia membawa kopi untuk Thomas ke ruang kerja.
Tok .... Tok .... Tok
"Mas?" panggilnya. Amelia membuka pintu, dan melangkahkan kakinya masuk. Ia lihat suaminya sedang melamun.
"Mas?" Amelia meletakkan kopi yang dibawanya di atas meja. Dia mendekat ke arah suaminya. Dan memijat pelipis Thomas. Thomas langsung memeluk tubuh istrinya.
"Ada apa?" tanya Amelia, "Ceritakan lah kepadaku, Mas. Mungkin jika mas bercerita, akan sedikit berkurang beban yang Mas pikul. Amel bersedia mendengarkan ceritamu, Mas," ucap Amelia.
"Aku sangat marah. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Dia benar-benar wanita yang tidak tahu diri. Sekarang dia kembali dan ingin meminta pengakuan sebagai seorang ibu. Kemana dia selama ini? Dengan teganya meninggalkan Sherly yang masih bayi. Sekarang dengan seenaknya, dia meminta haknya sebagai wanita yang sudah melahirkan Sherly. Aku benar-benar tidak rela, Sayang," jelas Thomas.
"Apa yang kamu lakukan tidak salah, Mas. Kamu sebagai seorang Daddy hanya ingin melindungi Sherly. Dia sebagai Mamanya juga tidak bersalah, sebagai seorang ibu pasti rindu kepada anak yang sudah ia lahirkan," tutur Amelia.
"Tapi, aku tidak rela, Yang. Sejak kecil Sherly tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya. Tiba-tiba dia datang, pasti ada sesuatu yang dia rencanakan!" sewot Thomas.
"Jangan berfikiran negatif dulu, Mas. Seorang ibu tidak akan tega mencelakai anaknya,"
"Kamu tidak tahu, Clara seperti apa!" ucap suaminya.
"Iya, sudah. Ini aku buatkan kopi, supaya mas rileks!" Amelia menyerahkan kopi yang tadi dibuatnya.
"Terimakasih, Sayang," ucap Thomas.
"Setelah ini, Mas mandi dan bersih-bersih. Aku akan siapkan baju ganti di kamar,"
"Syiap, Sayang,"
to be continued.....
__ADS_1