Amelia

Amelia
Episode 140


__ADS_3

PLAKKK ...


Tamparan keras berhasil mendarat di pipi Diego. Seketika pipi Diego memanas dan perih. Ada darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Diego menyekanya dan menjilati darah tersebut. Dia mencengkeram lengan Amelia dengan erat.


"Sakit, Lepaskan!" teriak Amelia.


"Aku akan membuat suamimu menceraikanmu! Dan akan aku pastikan kau menjadi milikku!" bisik Diego ditelinga Amelia. Amelia sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat.


"Lepaskan! Aku akan berteriak jika kau tidak melepaskanku!" ancam Amelia. Diego pun melepaskan cengkeramannya di lengan Amelia. Amelia memberhentikan taksi dan pergi dari tempat itu.


Tubuh Amelia bergetar hebat, kakinya terasa lemas tidak bertenaga. Dia mengingat ucapan-ucapan Diego sebagai ancaman.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya sopir taksi.


"Eh, tidak apa-apa, Pak," sahutnya.


"Saya lihat, Anda ketakutan," ujar sopir itu lagi.


"I-iya, Pak. Ada orang gila yang berusaha mengancam saya," ujarnya kepada Pak Sopir.


"Orang gila," gumam Pak Sopir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Taksi melaju dengan kecepatan tinggi menuju jalan pulang. Amelia memutuskan untuk pulang ke rumah. Perutnya yang lapar, tiba-tiba saja sudah tidak lapar lagi. Ia juga kesal kepada sang suami yang tak kunjung menjemput.


"Sudah sampai, Non!" suara Pak sopir membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya, Pak!" sahut Amelia tergagap.


"Ini, Pak!" ucapnya menyerahkan satu lembar uang ratus ribuan.


"Aduh, Bapak nggak ada kembaliannya, Non. Bapak baru narik!"


"Eh, nggak usah, Pak! Kembaliannya ambil saja!"


"Wah, terimakasih banyak, Non! Semoga rezeki Nona dan keluarga bertambah banyak!"


"Terimakasih, Pak!" jawabnya tersenyum.


Amelia masuk ke dalam rumah. Aska yang sedang bermain dengan baby sister melihat sang Mommy, berteriak senang sambil meloncat-loncat.


"Mommy .. Mommy. Hole pulang!" senang Aska kecil.


"Hey, anak Mommy sedang bermain apa?" tanya Amelia mendekat ke arah putranya.


"Aka sedang belmain petak umpet sama mba," celotehnya.


"Sudah makan siang?"


"Uda," jawabnya dengan anggukan.


"Mommy mau masuk. Apakah Aska mau ikut Mommy masuk?"


"Iya," jawabnya dengan anggukan.


"Ayo!" ajak Amelia menggandeng tangan mungil putranya.


"Hole, Mommy puyang," celotehnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Celine yang baru keluar dari kamarnya.


"Eh, Ma!" Amelia mencium punggung tangan mertuanya, "Iya, nih, Ma. Amelia langsung pulang,"


"Lho, kamu nggak sama Thomas?"

__ADS_1


"Amelia sudah menunggu Mas Thomas. Tapi, dia nggak kunjung datang. HP-nya juga nggak aktif, Ma!"


"Kemana tuh anak?"


"Nggak tahu, Ma. Amelia juga kesel banget sama Mas Thomas," cemberutnya.


"Kenapa dengan wajah kamu, Sayang. Kok pucat?"


"Masa sih, Ma?" Amelia meraba wajahnya sendiri.


"Iya, Sayang,"


"Mungkin, Amelia kecapean, Ma!" jawabnya tersenyum.


"Kalau begitu kamu harus beristirahat. Jangan paksa tenaga kamu untuk bekerja!"


"Iya, Ma. Mungkin istirahat sebentar akan membuat tubuh Amelia kembali fit,"


"Iya, sudah. Sana istirahat saja!"


"Ayo, Sayang, kita ke kamar!" ajak Amelia ke putranya.


"Hole ... Hole!" ucapnya sangat menggemaskan.


"Sini, Aska sama Oma saja!"


"Ndak au," sahutnya. Membuat Celine terkekeh geli melihat cucunya yang semakin menggemaskan.


"Nggak apa-apa, Ma. Biar Aska sama Amelia saja!"


"Oh, begitu. Kalau kamu capek, kamu bisa panggil suster untuk menjaga Aska,"


"Iya, Ma. Amelia ke kamar dulu ya!"



Saat akan menjemput istrinya, tiba-tiba saja rem mobil Thomas tidak berfungsi. Thomas berusaha untuk melajukan kendaraannya semulus mungkin. Karena kalau tidak, dia bisa membahayakan para pengguna jalan yang lain. Dengan usaha yang sangat keras, dia membanting stir mobil ke arah pohon. Hingga mobil berhenti dengan sendirinya karena tertahan oleh pepohonan yang besar. Dan bagian depan mobil Thomas cukup parah kerusakannya. Terpaksa dia harus membawa mobil ke bengkel.



Sambil menunggu mobilnya diperbaiki, Thomas hendak menelfon sang istri. Sialnya, ponsel tiba-tiba mati. Dan dia lupa untuk men-charge baterai ponselnya.


"Ah, bodohnya aku. Pasti Amelia marah!" Thomas merutuki kebodohannya sendiri.


"Pak, sepertinya mobil Anda selesai satu Minggu lagi. Karena kerusakannya cukup parah. Kita harus mengganti bagian mobil yang penyok. Dan masalah rem mobil, sepertinya ada seseorang yang sengaja memutus bagian rem mobil Bapak!" ucap montirnya.


"Apa?" Thomas agak terkejut, "Maksud Masnya ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai saya dengan memotong rem? Begitu?"


"Iya, Pak. Saya yakin. Karena bekasnya sangat jelas!" ujarnya lagi.


"Siapa yang tega ingin mencelakai ku?" batin Thomas.


"Okey, saya akan meninggalkan mobil disini?"


"Iya, Pak," sahut montir itu.


"Baiklah. Tolong perbaiki! Kalau bisa secepatnya ya, Mas!"


"Okey, Pak. Serahkan pada bengkel kami!"


Dengan menggunakan taksi, Thomas ke butik sang istri. Sampai dibutik, salah satu karyawan istrinya mengatakan bahwa istrinya sudah pulang terlebih dulu. Thomas nampak mengerutkan keningnya. Dia sangat yakin istrinya marah.


"Tidak biasanya Amelia pulang dijam makan siang. Apakah dia sedang sakit atau marah sama aku ya?" batin Thomas. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Dengan taksi juga, Thomas sampai di depan rumah. Dia bergegas masuk untuk menemui sang istri. Celine dan Alina yang sedang duduk bersantai di ruang tamu, sampai bingung melihat sikap Thomas. Yang berlari-lari masuk ke kamar.


"Kenapa Kak Thomas?" tanya Alina kepada mamahnya.


"Biasalah. Kakakmu pasti punya salah. Makanya dia bergegas menyusul istrinya!" ujar Mama.


"Wah, akan ada perang dingin!" kekeh Alina.


Thomas masuk ke kamar. Ternyata sang istri sedang bermain dengan Aska di lantai beralaskan karpet permadani. Istrinya nampak diam, tidak seperti biasanya.


"Sayang?" panggil Thomas. Namun tidak ada jawaban dari sang istri. Thomas tahu pasti sang istri sedang marah.


"Daddy?" Aska berhambur kepelukan Daddy nya.


"Aska sedang bermain apa?" tanya Thomas kepada putranya.


"Obil-obilan," jawab anak lincah itu.


"Boleh Daddy ikut bermain?"


"Oleh," sahutnya. Mereka mendekat ke arah Amelia yang duduk di karpet.


"Sayang, aku minta maaf!" ucap Thomas kepada istrinya.


"Untuk apa meminta maaf? Mas nggak salah kok," cemberut Amelia. Dia beranjak dari tempat duduknya, dan memasukkan mainan Aska yang berserakan di lantai, ke kantong mainan.


"Sayang, dengarkan aku dulu! Aku mohon dengarkan penjelasan ku," ujarnya.


"Penjelasan apa lagi?" kesal Amelia.


"Sayang, aku mohon!"


"Mas, tahu nggak? Aku menunggu Mas hampir satu jam. Dan aku menelfon Mas berkali-kali. Tapi, ponsel Mas nggak aktif. Memangnya Mas kemana saja sih?"


"Tadi ada insiden, Sayang," ujarnya.


"Insiden apa?"


"Ada seseorang yang berusaha untuk mencelakai ku. Ada seseorang yang sengaja memutuskan kabel rem mobil. Dan Mas hampir celaka! Untung saja Mas selamat," ujarnya.


"Siapa?"


"Entahlah, aku tidak tahu," ujarnya.


"Tapi Mas nggak apa-apa kan? Apakah ada yang luka?"


"Alhamdulillah nggak, Sayang. Allah masih sayang sama Mas,"


"Alhamdulillah. Kok bisa ada orang yang sangat tega melakukan hal itu? Apakah peneror itu, Mas?"


"Entahlah. Aku tidak tahu! Aku akan menyelidikinya segera," ujar Thomas.


to be continued ....


☄️☄️☄️☄️☄️


Sekian purnama akhirnya Author bisa muncul lagi di mari. Maaf ya jika update nya kelamaan...🙏


Profil Authornya lagi bermasalah sama NT. Dan Alhamdulillah NT bisa mengatasinya....


Ayo dong kasih semangat Author untuk berkarya, dengan like, favorit, bunga, dan Kopi'....


Hadiahnya, Ayo, bagi² hadiah????🤩🤩🤩

__ADS_1


__ADS_2