
"Tapi .... !"
"Sudahlah, Sayang. Jangan sampai Sherly tahu kalau Clara adalah ibu kandungnya! Titik," ucap Thomas.
"Apa, Dad? Jadi Tante Clara adalah Mommynya Sherly?" tanya Sherly ingin memastikan bahwa yang didengarnya adalah benar.
"Sherly?" kaget Thomas.
"Sherly?" Amelia juga ikut terkejut.
"Katakan Dad, Apakah Tante Clara Mommynya Sherly?" tanya Sherly lagi, "Ayo, Mom, katakan sejujurnya kepada Sherlly!" mohon gadis kecil itu.
"Kenapa Daddy dan Mommy nggak mau mengatakan kepada Sherly? Bukankah Daddy dan Mommy sendiri yang selalu mengajarkan untuk berkata jujur?" ujarnya dengan raut muka sedih.
"Bukan, dia bukan Mommy kamu. Mommy kamu sudah meninggal. Dan sekarang Mommy Amelia adalah Mommy kamu. Wanita yang sangat baik dan sangat menyayangi kamu!" ujar Thomas. "Tidak ada yang perlu dibahas lagi, sekarang ini sudah malam. Kamu kembali ke kamar, Nak. Besok kamu harus sekolah!" suruh Thomas.
"Tapi ini masih pukul delapan malam, masih banyak yang ingin Sherly tanyakan," ujarnya.
"Sherly, Daddy bilang kembali ke kamar. Besok kamu sekolah!" ucap Thomas dengan nada agak meninggi.
"Ayo, Sayang. Biar Mommy temenin!" ajak Amelia menggandeng tangan Sherlly. Sherly menuruti perintah Mommynya.
"Mom, Apa benar Tante Clara, Mommy nya Sherly?" tanya Sherly setelah sampai di kamarnya sendiri.
"Ehm, itu .... !" ucap Amelia tergagap. Dia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudah, Sayang. Jangan kamu pikirkan! Sekarang kamu harus tidur, besok Sekolah!" suruh Amelia. Merapikan selimut Sherly, supaya Sherly bisa tidur dengan nyaman.
"Good night, Sayang. Mimpi indah ya?" ucapanya sambil mencium kening putrinya.
"Good night, Mom," jawabnya.
Amelia keluar dari kamar Sherly, dan menutup pintunya dengan perlahan. Dia kembali ke kamarnya sendiri. Ia lihat, suaminya sedang melamun di balkon sambil merokok. Biasanya
Thomas akan merokok, jika hatinya sedang gusar. Ada sesuatu yang sangat ia cemaskan.
Amelia memeluk pinggang suaminya dari belakang. Dan menyandarkan kepalanya dipunggung lebar suaminya.
"Apakah Sherly sudah tidur?" tanya Thomas.
"Kok mas tahu, kalau ini aku?" tanya istrinya.
"Tentu saja aku tahu, bau tubuhmu aku sangat mengenalnya. Dan aku sangat menyukainya," ucapnya sambil tersenyum. Thomas menatap istrinya, dia akan merasa damai jika sudah menatap wajah ayu Amelia.
"Ada apa? Apakah ada yang mengganjal pikiran Mas?"
"Ada, Sayang. Tapi, aku belum bisa bercerita denganmu. Kalau waktunya tepat pasti aku akan bercerita," ucap Thomas.
__ADS_1
"Baiklah, jika Mas belum mau bercerita. Aku akan menghargainya,"
"Terima kasih banyak, Sayang," ucap Thomas memeluk tubuh Amelia.
"Sudah malam, Ayo, kita tidur!" ajak istrinya.
"Ayo, Sayang," ucap Thomas. Tidak terjadi apa-apa malam itu, karena memang tubuh Thomas terlihat sangat lelah.
Keesokkan Paginya
Seperti biasa, Amelia akan sibuk dengan aktivitasnya di pagi hari. Menyiapkan keperluan suaminya, barulah dia menyiapkan keperluan Sekolah Sherly. Mereka semuanya sudah berada di meja makan untuk sarapan.
"Sayang, mau pakai apa? Selai nanas atau coklat?" tanya Amelia kepada suaminya.
"Coklat saja, Sayang," jawabnya.
"Sherly, mau selai yang mana?" tanya Amelia kepada Sherly setelah selesai mengoleskan roti untuk suaminya.
"Coklat saja, Ma," jawabnya.
Selesai sarapan, mereka pun berpamitan kepada Mama Celine. Sebenarnya, Amelia masih ingin bermain dengan putranya. Tapi, hari ini dia harus ke butik.
"Sayang, Mommy berangkat dulu! Nanti kalau libur kita jalan-jalan ya?"pamit Amelia kepada Aska. Aska yang mendengar kata-kata Mommy nya langsung mengecup pipi Amelia dan melambaikan tangannya, seakan-akan dia tahu bahwa Mommy nya akan pergi bekerja.
"Bye ... Bye."
Thomas melajukan mobilnya ke Sekolah Sherly. Dia melihat ke arah kaca depan, Sherly menjadi pendiam, tidak seperti biasanya.
"Sherly, nanti Daddy jemput! Kita makan siang bersama!" ajak Thomas, "Kamu ikut ya, Sayang?" tanya Thomas kepada Amelia.
"Iya, Mas. Terserah kamu saja,"
Sherly masih terdiam, dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Thomas bisa merasakan kalau putrinya sedang kesal kepadanya. Amelia bisa melihat itu, kemudian dia menggenggam tangan suaminya.
"Semuanya akan baik-baik saja!" bisik Amelia membuat suaminya tenang.
"Sherly Sayang, nanti siang kita jalan-jalan ke Mall bagaimana?" tanya Amelia, "Sherly boleh membeli mainan yang Sherly suka. Daddy dan Mommy akan menurutinya," bujuk Amelia.
"Sherly sedang tidak mau jalan-jalan, Mom. Sherly ingin langsung pulang dan bermain dengan Dede Aska," jawabnya.
"Ehm, iya sudah, nggak apa-apa kalau begitu. Kita makan siang di rumah saja!" jawab Amelia agak sedikit kecewa. Tapi, cuma sedikit saja.
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan Sekolah Sherly. Setelah berpamitan dengan Daddy dan Mommynya, dia langsung masuk ke kelas.
Thomas kembali melajukan kendaraannya menuju butik tempat istrinya bekerja.
"Mas, sebenarnya hari ini aku mau ijin tidak ikut pulang sama kamu. Setelah ke butik sebentar, aku mau langsung ke butik kita yang ada di mall. Aku harus mengecek pembukuan di sana. Mungkin aku pulang sore," ujar Amelia.
__ADS_1
"Apakah perlu aku menyuruh orang untuk mengantar jemput kamu?" tanya suaminya.
"Enggak, Mas. Aku pakai taksi saja," jawab Amelia.
"Baiklah. Tapi, ingat! jangan terlalu capek, kamu harus menjaga kesehatan tubuh kamu!" tutur suaminya.
"Baik, Mas. Nanti setelah urusan Amel selesai, Amel langsung pulang,"
"Okey,"
Mobil Thomas berhenti di depan butik. Seperti biasa, Amelia mencium punggung tangan suaminya. Dan melambaikan tangannya. Setelah mobil Thomas sudah tidak nampak, barulah dia masuk ke dalam butik.
Pukul Sepuluh Siang
Hari ini ada rapat antar guru di Sekolah Sherly. Dia pulang lebih awal dari biasanya. Karena bingung mau pulang dengan siapa, akhirnya dia menunggu di taman Sekolah.
"Hey, Sherly!" sapa Clara.
"Mommy?" teriaknya sangat girang. Dia berhambur ke pelukan Clara.
"Mommy?" bingung Clara. Karena memang dia sama sekali belum cerita, dan Amelia juga melarang dirinya mengatakan kepada Sherly.
"Iya, Tante, Mommnya Sherly kan?" tanya Sherly polos.
"Iya, Aku Mommy kamu, sayang," senang Clara. Dia memeluk Sherl dengan erat.
"Kamu tahu dari mana kalau Tante, Mommy kamu, Sayang?" tanya Clara.
"Sherly tidak sengaja mendengar cerita Daddy dan Mommy," jawabnya.
"Ternyata takdir sedang berpihak dengan ku!" batin Clara tersenyum bahagia.
"Oh, begitu! Kok Sherly sendiri? Apakah Daddy tidak menjemput?" tanya Clara.
"Hari ini Sherly pulangnya lebih awal. Karena ada rapat dadakan. Sherly sedang menunggu Daddy menjemput," jawab Sherlly.
"Oh, begitu. Bagaimana kita menunggu Daddy sambil makan ice Cream?" bujuk Clara.
"Boleh, dimana kita beli ice Creamnya, Mommy?"
"Tuh, di sana ada!" tunjuk Clara pada Toko seberang jalan.
"Oke, Mom," jawab Sherlly.
Clara menggandeng tangan anaknya, mengajak Sherly untuk memilih rasa ice Cream yang dia suka. Sherly memilih ice Cream rasa coklat. Karena memang dia sangat menyukai sesuatu berbau coklat.
to be continued....
__ADS_1