
Semua persiapan untuk pergi ke Jerman sudah siap, visa dan tiket sudah ada ditangan. Barang-barang juga tertata rapih, Tante Celine menyuruh Amelia membawa baju yang tebal. Karena kebetulan, di sana sedang musim salju.
Mereka keluar dari Bandara Frank Furt am main, dari pintu keluar Bandara mereka disambut oleh Bram dan dua pengawalnya.
"Mama?" panggil Bram.
"Bram, anak Mama!" sahutnya. Mereka berpelukan, merasakan rindu yang teramat sangat. Bram menyebut Mama kepada Celine, karena memang sejak kecil dia di rawat dan dibesarkan oleh keluarga William.
"Lama kita tidak berjumpa, kau tambah gagah saja," ujarnya.
"Ah, Mama bisa saja!" ucap Celine. Bram menoleh ke sebelah Mamanya, ada perempuan cantik sedang menggandeng gadis kecil. Bram merasa bingung, ingin bertanya namun dia tidak berani. Celine tahu apa yang dipikirkan oleh Bram.
"Bram, kenalkan ini Amelia! Sherly mau datang ke sini asalkan Amelia ikut bersama kami! Dia sudah Mama anggap seperti keluarga juga," jelas Mama.
"Oh, perkenalkan saya Bram! Saya anak angkat Mama Celine!" Bram mengulurkan tangan menjabat tangan Amelia.
"Amelia," jawab Amelia. "Senang bisa bertemu, Tuan!" ucapnya sopan.
"Panggil Bram saja! Jangan panggil, Tuan! Saya bukan bos dan bukan Tuan besar! Saya hanyalah seorang bawahan dan karyawan biasa," jawabnya panjang lebar.
"Ah, kau ini pandai sekali bercanda," seloroh Mama Celine sambil mencubit perut putranya.
"Ish, Mama," Bram meringis kesakitan.
"Apakah Thomas masih di kantornya?" tanya Mama.
"Iya, Ma! Tadi Bram minta izin untuk pergi keluar sebentar!" ujarnya.
"Eh, Apakah ini Sherly?" tanya Bram menoleh ke arah gadis kecil yang di gandeng oleh Amelia.
"Iya, ini Sherly," jawab Celine.
"Wah, sekarang dia sudah besar! Padahal terakhir aku melihatnya, dia masih sangat kecil," ujarnya. "Hallo, Sayang! Apa kabar?" tanya Bram ke Sherly.
"Baik, Om!" jawab Sherly malu-malu.
__ADS_1
"Oya, Silahkan, Ma! Bram sudah menyiapkan mobil untuk semuanya," ucap Bram.
"Terima kasih banyak, kau memang bisa diandalkan," ucap Celine.
Mereka semuanya masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh Bram. Para pengawal suruhan Bram, membantu membawakan barang-barang. Mobil melaju meninggalkan Bandara, menuju perumahan milik Thomas di Bremen, Jerman Barat Laut. Celine sengaja tidak memberitahukan kedatangannya kepada sang putra, karena dia ingin memberikan kejutan untuk putranya.
Bram mengemudikan mobilnya sendiri, dan kedua anak buahnya mengekor di belakang dengan menggunakan mobil sendiri. Tante Celine duduk di depan bersama Bram, sedangkan Amelia bersama Sherly duduk di kursi belakang. Amelia menikmati pemandangan dari luar jendela, ternyata sepanjang perjalanan dia disuguhi dengan pemandangan sungai yang sangat ramai. Amelia sangat takjub dan tidak percaya bisa datang ke Jerman.
Kota Bremen sendiri adalah ibu kota dan kota otonom di negara bagian Bremen, Jerman barat laut. Sebagai kota pelabuhan sepanjang sungai weser. Bremen adalah bagian daerah metropolitan Bremen-Oldenburg.
Tidak terasa mobil yang dikendarai oleh Bram sudah sampai di halaman rumah. Rumahnya cukup besar dan cukup luas. Mereka semua turun dari mobil. Dan ini adalah rumah kedua keluarga William setelah rumah di Indonesia. Beberapa tahun tidak kesini, Celine juga sangat merindukan rumah keduanya. Dulu, saat suami Celine masih hidup, mereka sekeluarga sering berlibur ke Jerman dan tinggal di sini. Namun karena suami sudah meninggal, dia jarang kesini lagi. Dia juga harus mengelola butik dan mengurus cucunya.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh kedua pelayan yang mengurus rumah. Pelayan yang dulu bekerja di rumah ini sudah meninggal, dan sekarang yang bekerja di rumah besar ini adalah pelayan baru. Bram mempersilahkan Mamanya untuk masuk ke dalam, dan para pelaya membantu membawakan barang-barang nyonya besarnya. Bram memperkenalkan kepada pelayan, bahwa yang datang adalah nyonya besar rumah ini. Jadi, mereka harus memperlakukannya dengan sangat baik.
Pelayan menyiapkan dua kamar untuk nyonya besarnya dan Amelia. Sherly meminta satu kamar dengan Amelia, karena dia ingin tidur dengan Amelia. Sebenarnya Celine sudah melarangnya, karena takutnya Sherly tidak bisa tidur dalam keadaan tenang. Namun Amelia tidak merasa keberatan, dia justru sangat senang Sherly mau menemaninya tidur. Celine menyuruh Amelia dan Sherly beristirahat terlebih dahulu. Karena Celine yakin bahwa mereka pasti kecapean setelah menempuh jarak yang lumayan jauh.
Amelia dan Sherly langsung memasuki kamarnya. Kamarnya lumayan luas dengan kamar mandi di dalam. Dan tempat tidur dengan ukuran yang besar. Amelia membantu Sherly mandi dan bersih-bersih, barulah dirinya mandi. Amelia memakai dress bunga longgar, terlihat sangat cantik dan lebih segar.
"Tante, kapan Daddy pulang?" tanya Sherly dengan manja.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang! Bersabarlah! Anak cantik harus bersabar!" tutur Amelia.
"Tapi, Sherly sangat merindukan Daddy, Tan!" jawabnya.
"Tante tahu! Sebentar lagi pasti Daddy mu pulang!" ujar Amelia.
Beberapa menit kemudian, suara mobil terdengar dari luar. Sherly yang mendengar, langsung berlari keluar.
"Daddy?" teriak Sherly kepada Thomas. Thomas mengucek matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sherly, kau kah itu?" tanyanya. Sherly berlari dan menghambur ke pelukan daddy-nya. Celine dan Amelia yang melihat, menjadi sangat terharu. Thomas mencari sosok yang sudah membuat putrinya menyusul sampai di Jerman, ternyata sedang berdiri di pintu. Dia adalah Mamanya sendiri. Dan ternyata Mamanya mengajak Amelia juga.
"Amelia?" panggilnya. Thomas menghampiri Mamanya yang sedang berdiri di sana.
__ADS_1
"Bagaimana kalian bisa kesini?" tanya Thomas.
"Tentu saja dengan pesawat," jawab Celine santai.
"Maksud Thomas, kenapa kalian menyusul ke Jerman? Harusnya Mama menghubungi ku, biar Thomas bisa menjemput!" ujarnya.
"Alah, sok-sokan! Bukankah selama ini kau sibuk!" sahut Mamanya. Thomas hanya tersenyum simpul. Dia menoleh ke arah Amelia.
"Mama yang mengajaknya," ujar Mama, karena Thomas tidak berhenti menatap Amelia." Mama tidak tega meninggalkan Amelia sendiri di rumah," imbuhnya lagi.
"Oh," jawabnya hanya ber'oh ria.
"Ayo masuk! Kenapa hanya berdiri di luar?" ajak Thomas. Mereka pun masuk, dan duduk di ruang tamu. Sherly duduk dipangkuan Daddy-nya.
"Sherly merengek ingin bertemu denganmu! Dia sampai sakit dan dirawat di Rumah Sakit," jelas Celine kepada putranya.
"Benarkah, Sayang! Maafkan Daddy, Sayang! Daddy belum bisa menjadi orang tua yang baik," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Dad!" jawab Sherly polos.
"Mama terpaksa membawanya ke sini! Dia masih sangat merindukanmu, Thom!" tutur Mamanya.
"Maafkan, Thomas, Ma! Tapi, memang disini Thomas sangat sibuk! Tapi, Thomas janji akan meluangkan waktu Thomas untuk Sherly," ujarnya. "Nanti kita jalan-jalan ya, Sayang!" ujar Thomas kepada putrinya.
"Hore ... Hore ... Hore!" senang Sherly.
"Aku mau jalan-jalan dengan Deddy," ucapnya.
"Apakah kalian semua sudah makan?" tanya Thomas.
"Belum, kami menunggu mu pulang!" jawab Mamanya.
"Baiklah, Thomas akan mandi dan bersih-bersih! Tunggu Thomas sebentar," ujarnya. Thomas langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih. Sedangkan Amelia menemani Sherly bermain di ruang tamu.
to be continued....
__ADS_1