
Alina sudah siap dengan dandanannya. Dia memakai baju hamil selutut bermotif bunga-bunga, dipadukan dengan sepatu flat warna merah. Setelah mematut dirinya didepan cermin besar, wanita cantik itu memakai tas selempang kesayangannya.
Alina melangkahkan kakinya keluar kamar mencari keberadaan sang suami. Ternyata Bram suaminya sedang duduk mengikat tali sepatu.
"Bang?" panggil Alina manja. Dia duduk di sebelah Bram, menggelayut manja.
"Sudah siap?" tanya Bram.
"Sudah," jawab Alina mengangguk.
"Pamitan dulu sama Mama," suruhnya.
"Sebentar, ya, Bang!" Alina mendatangi kamar mamanya untuk berpamitan.
"Ma?" panggil Alina, seraya memasuki kamar Celine. Ternyata mamanya sedang menemani Sherly dan Aska bermain.
"Iya, Sayang,"
"Alina pergi dulu ya, Ma!" pamitnya.
"Kamu jadi periksa kandungan?" tanya Celine.
"Iya, Ma. Hari ini Alina mau periksa kandungan,"
"Oh, ya, sudah kalau begitu. Hati-hati ya! Ingat kata kakak kamu! Bawa dua bodyguard untuk menjaga kalian," tutur Celine.
"Tapi, Ma. Sepertinya keadaan sudah aman kok?"
"Meskipun sudah aman. Tapi, alangkah baiknya kita harus waspada selalu, Sayang?" tutur Celine, "Kejahatan akan terus mengintai, di manapun tempatnya!"
"Iya, Mah. Mamah tenang saja ya. Alina akan bawa dua bodyguard untuk menjaga kami berdua," jawab Alina lembut.
"Al, pamit ya, Ma!"
"Hati-hati, Sayang!"
Bram melajukan mobilnya, keluar dari pintu gerbang. Satu mobil mengekor di belakangnya. Dimana di mobil tersebut ada dua bodyguard yang mengawal mereka.
Selama tiga puluh menit mereka sampai di RS. Bram dan istrinya menunggu antrian yang lumayan panjang. Hingga tiba giliran mereka, mereka bergegas memasuki ruangan dokter kandungan.
Bram sangat senang bisa menemani istrinya melakukan USG. Dengan begitu dia bisa tahu jenis kelamin buah cinta mereka.
"Bapak, Ibu. Lihatlah dilayar monitor, ini sudah terbentuk ya, Bu, Pak!" Dokter menunjukkan ada gumpalan kecil di layar monitor. Sesekali gumpalan tersebut bergerak.
"Ibu bisa merasakannya?" tanya Dokter, "Lihatlah anak ibu bergerak," tunjuknya lagi. Betapa senang hati Alina. Dia terus mengualas senyum seraya maniknya tidak berpindah dari layar monitor.
"Apa jenis kelaminnya, Dok?" tanya Bram.
"Sepertinya jenis kelamin bayi Bapak dan ibu adalah perempuan," ujar Dokter.
"Wah, kita akan mempunyai anak perempuan, Sayang!" senang Bram.
"Iya, Bang. Al, seneng banget deh!"
"Dijaga dengan baik ya, Bu. Setiap bulan harus kontrol. Dan jangan lupa minum vitamin. Biar baby-nya sehat," ucap Dokter.
"Terimakasih banyak, Dok," senang Alina seraya mengelus-elus perutnya yang sudah nampak jelas.
"Jangan lupa harus dijaga makannya. Minum susu, makan buah dan sayur-sayuran. Itu sangat baik untuk pertumbuhan bayi dikandungan. Pokoknya apa yang dimakan ibu, pastilah si baby ikut memakannya," terang Dokter panjang lebar.
__ADS_1
"Baiklah, Dok. Saya akan mengingat nasehat Dokter," jawab Alina.
"Ini saya buatkan resep untuk Ibu ya, Pak!" Dokter menulis beberapa obat untuk diminum Alina di rumah.
"Terimakasih banyak, Dok," ucap Bram setelah menerima kertas yang disodorkan Dokter kepadanya.
"Sama-sama," setelah menebus obat, mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Bang, kita mampir ke Supermarket terlebih dahulu. Sepertinya stok susu di rumah habis deh!" ucap Alina disela Bram sedang mengemudikan kendaraannya.
"Okey, Sayang. Di depan ada Supermarket. Kita berhenti di sana, ya!"
"Okey,"
Nampak terlihat Supermarket yang dimaksud oleh suaminya. Bram memarkirkan mobilnya di tempat parkiran. Mereka keluar dari mobil dan langsung masuk menuju tempat trolly. Alina mengambil trolly besar dan mendorongnya. Bram yang ada disampingnya, mengambil alih tugas istrinya mendorong trolly tersebut.
"Kita mau kemana dulu, Sayang?"
"Ke sana dulu deh!" Alina menunjuk tempat susu.
Bram mendorong trolly mengekor di belakang istrinya. Alina mengambil beberapa susu untuk ibu hamil ukuran jumbo.
"Sayang, Ayo kita ke tempat buah!" ajak Bram.
"Iya, Bang,"
Alina mengambil banyak buah untuk stok dikulkas. Dia juga membeli beberapa minuman jus kaleng, dan makanan sehat lainnya. Selesai berbelanja dan membayar barang belanjaan, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Amelia melirik ke arah jam yang terpasang dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya untuk makan siang.
Tring ...
'***Maaf, Sayang. Hari ini kita tidak bisa makan siang bersama. Karena hari ini, klien mengajakku makan siang. Mas nggak enak menolaknya. Kamu makan siang dengan teman-teman yang lain ya***?
***I love you***,'
Amelia nampak mengerutkan keningnya. Dia tertegun sejenak sambil bermonolog sendiri.
"Hem, aku makan siang sendiri nih! Lebih baik aku mengajak semuanya."
Amelia keluar dari kantor, dia berniat ingin mengajak karyawannya makan siang bersama, ternyata mereka semua sudah keburu keluar untuk makan siang.
"Iya sudah, terpaksa aku makan siang sendiri," gumamnya.
Amelia memilih tempat makan yang letaknya tidak terlalu jauh dari butik. Dia duduk di dekat jendela sambil memandang orang yang berlalu lalang di jalan.
"Mau pesan apa, Nona?" tanya seorang pelayan sambil menyodorkan buku menu kepada pengunjungnya.
"Ehm, apa ya enaknya?" Amelia mencari menu yang kira-kira cocok dengan seleranya.
"Saya mau satu porsi nasi rawon dan orange jus," ucapnya.
"Baik, ditunggu ya, Nona!"
"Okey, terima kasih banyak," sahutnya.
__ADS_1
Tidak menunggu terlalu lama, pesanan yang dipesan wanita cantik itu datang. Aroma rawonnya sudah tercium sampai ke indera penciuman.
"Heum, baunya sedap sekali," monolognya.
Saat ingin menikmati makan siangnya, tiba-tiba seorang pria datang tanpa permisi, dan duduk tepat di depannya. Sontak Amelia terkejut.
"Bolehkah aku duduk disini!" ucapnya.
"Pak Diego!" Amelia tertegun melihat kedatangan Diego secara tiba-tiba. Namun, dia berusaha untuk bersikap tenang di depan pria itu.
"Nggak ada tempat yang kosong. Jadi, bolehkah aku duduk di sini?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Amelia mengamati sekelilingnya. Memang tidak ada tempat yang kosong. Mungkin memang ini adalah jam makan siang, jadi tempat makan ini sangatlah ramai.
"Ehm, Silahkan, Pak!"
Melarang pria itu duduk di depannya juga nggak enak hati, terpaksa Amelia mengiyakan permintaannya.
"Mba!" panggil Diego kepada salah satu pelayan.
Dia memesan spaghetti dan ice cappucino. Kemudian dia tersenyum lebar ke arah Amelia menampilkan deretan gigi putihnya. Amelia yang merasa ditatap secara intens, tentu saja merasa sangat canggung. Beberapa menit kemudian pelayan datang menyajikan pesanan Diego di meja.
"Huft." Amelia bisa bernafas lega. Diego terkekeh geli melihat tingkah lucu wanita di depannya.
"Sepertinya punyamu enak?" ucapnya.
"Apa?" tanpa merasa canggung, pria itu mengambil satu sendok nasi rawon milik Amelia. Amelia sampai terbengong dibuatnya.
"Memang benar, ternyata makananmu memang enak. Bagaimana kalau kita bertukar makanan?"
"Jika memang Bapak suka, saya bisa pesankan untuk Bapak!"
"Tidak usah. Saya hanya ingin makan punya kamu," ujarnya.
"Aneh. Benar-benar sangat aneh!" batin Amelia.
"Iya, sudah. Ini untuk bapak saja," sahut Amelia.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya, "Atau Kau makan saja punyaku!" Diego menukar piring Amelia, dengan piringnya sendiri.
"Ah, tidak usah. Lagipula aku sudah kenyang," ucap Amelia. Amelia memanggil pelayan meminta biil pembayaran makanannya. Namun saat akan membayar tangannya ditahan oleh tangan kekar pria itu.
"Jangan, Pak. Biar saya bayar sendiri saja," ucap Amelia, namun tidak diindahkan oleh Diego.
"Sudah biar saya saja yang bayar," ucapnya.
"Aduh, orang ini sangat aneh!" batinnya.
"Terserah Bapak saja deh," sahutnya.
"Sudah aku bayar," ucapnya.
"Ini!" Amelia menyerahkan uang lembaran seratus ribuan kepada Diego, kemudian dia berlalu pergi meninggalkan meja. Diego mengejar wanita cantik itu hingga pintu keluar Restaurant.
"Tunggu!" panggilnya seraya menahan tangan Amelia.
__ADS_1
"Ada apa, Pak Diego? Maaf saya buru-buru. Saya harus segera kembali ke butik," ujarnya. Diego memberikan uang lembaran itu, dan berlalu pergi begitu saja. Membuat Amelia bingung dengan sikap aneh Diego.
to be continued ...