
Hari ini adalah hari dimana mereka akan fitting baju pengantin. Amelia sudah berdandan cantik dengan menggunakan lengan panjang warna putih dan rok di atas lutut warna hijau. Dengan rambut yang di gerai indah dan menaburkan sedikit bedak dan lipstik warna merah. Dia semprotkan parfum, khas wangi vanila dipadukan dengan wangi bunga lavender.
Dia berjalan menuruni tangga dengan menggamit tas dilengannya. Thomas sampai tidak berkedip melihat calon istrinya.
"Kamu cantik sekali, Sayang," puji Thomas.
"Terima kasih, Mas." jawabnya.
"Wah, Sayang, kamu cantik banget," puji Mama Celine.
"Terima kasih, Ma," jawabnya. "Mah, Amelia titip Sherly dan Baby Aska ya?" tanya Amelia.
"Iya, Sayang, kamu tenang saja. Ditangan Mama semuanya beres," ucap Mama Celine.
"Terima kasih banyak, Ma! Tadi Amelia juga sudah menyimpan stok ASI di kulkas, Mama tinggal menghangatkan saja," ucapnya.
"Baiklah, Sayang! Kamu harus berangkat sekarang, nanti keburu siang," ujar Mama. Memang Amelia adalah sosok yang selalu khawatir.
Thomas dan Amelia berpamitan kepada Mama Celine. Mobil Thomas melaju dengan kecepatan sedang menuju butik yang sudah direkomendasikan oleh Mama Celine. Thomas tidak berhenti menatap calon istrinya, rasanya tidak ada bosannya selalu menatap calon istrinya.
"Mas, jangan terus menatapku! Nanti menabrak," ujarnya. Thomas hanya cengengesan saja.
"Habisnya kamu cantik banget," puji Thomas lagi.
"Ish, gombal. Ternyata kamu pandai merayu ya, Mas!" ucapnya.
"Kamu seoranglah wanita yang pertama kali aku rayu," ujarnya.
"Hem, bohong," jawab Amelia.
"Aku jujur, Sayang. Memang kamu wanita pertama yang aku rayu," ucap Thomas.
"Mommynya Sherly," kata Amelia tiba-tiba. Thomas memberhentikan mobilnya seketika, membuat Amelia terkejut. Thomas menatap Amelia dengan intens.
"Tapi, kamu memang wanita pertama yang aku rayu," ujarnya.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Amelia penasaran.
"Nanti akan aku ceritakan setelah menikah, aku hanya ingin fokus dengan pernikahan kita," ujarnya. Kemudian Thomas mencium bibir Amelia secara tiba-tiba, Amelia tidak sempat menolak, dia menikmati ciuman yang diberikan oleh Thomas. Hingga Thomas menghentikan pagutannya, barulah dia menyadari bahwa sekarang mereka sedang di tepi jalan raya. Seketika Amelia terdiam, dia merasa sangat malu. Apalagi dia juga menikmati ciuman dari calon suaminya, membuat pipinya memerah menahan malu.
"Kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Thomas untuk mencairkan suasana. Di jawab anggukan oleh Amelia.
Sesampainya di butik, mereka turun dari mobil. Mereka disambut baik oleh pemilik butik.
"Perkenalkan, nama saya Audy, panggil saja Tante Audy," ucapnya. "Ini pasti, Mas Thomas dan disampingnya pasti Mba Amelia," ucapnya.
"Iya, benar, Tan! Kedatangan kami kesini, kami ingin fitting baju pengantin," ucap Thomas.
"Oh, Mamah kamu sudah memberitahukan semuanya kepada Tante. Dan Tante sudah menyiapkan semuanya," ucapnya. "Kalian bisa pilih contoh baju pengantin yang menurut kalian bagus dan cocok, nanti akan kita modifikasikan dengan trend fashion zaman sekarang," ucap Tante Audy kepada Thomas dan Amelia.
Pilihan mereka jatuh pada baju pengantin warna putih, ungu, dan biru laut, dengan bersulam benang sutra, terdapat banyak Payet dan pernik-pernik yang sangat indah. Saat Amelia mencobanya, Thomas begitu terpukau dengan kecantikan calon istrinya.
"Mas, Bagaimana?" tanya Amelia.
"Kamu cantik sekali, Sayang," jawab Thomas.
"Baiklah, mau coba yang lainnya?" tawar Tante Audy.
"Tidak, Tan, Kami pilih tiga warna. Warna putih, ungu dan coklat," jawab Thomas.
"Baiklah, tiga hari sebelum pernikahan pakaian akan siap," jawab Tante Audy.
Selesai dari butik Tante Audy, mereka mendatangi toko perhiasan. Kebetulan perhiasan yang direkomendasikan Tante Celine adalah perhiasan dari toko terkenal. Mereka disambut ramah oleh pemilik toko perhiasan, karena toko tersebut adalah toko langganan Mama Celine. Karena itu, pemilik toko sangat mengenali Thomas dan keluarganya.
Thomas menyuruh Amelia untuk memilih perhiasan yang dia suka. Sembari menunggu Amelia memilih perhiasan, Thomas meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar.
"Silahkan, Nona, mau pilih yang mana?" tanya Pemilik toko. Amelia bingung harus memilih perhiasan yang mana, karena semua perhiasan di toko ini sangat mahal dan kualitasnya tidak diragukan lagi dan bagus-bagus.
"Boleh saya melihat itu?" tunjuk Amelia.
"Ini," pemilik toko menyerahkan satu set perhiasan. Ada kalung, gelang, cincin dan anting. Mereka memliki model yang sama dan sangat indah. Ditengahnya terdapat batu permata, menambah keindahan perhiasan itu.
Dari luar toko perhiasan, Dahlia dan Ratih melihat Amelia sedang memilih-milih perhiasan. Karena penasaran, mereka pun memutuskan untuk menghampiri Amelia.
__ADS_1
"Wah, yang sudah bercerai dari Arga, Berapa duit yang Arga berikan buat kamu sebagai harta gono-gini?" tanya Dahlia dengan nada mengejek.
"Ibu, ibu ini bicara apa?" Amelia terkejut dengan kedatangan mantan ibu mertuanya dan madunya.
"Jangan pura-pura bodoh!" ketus Dahlia. "Kau pikir aku tidak tahu, biasanya wanita setelah menikah akan menuntut harta gono-gini," tegas Dahlia.
"Ibu jangan ngomong sembarangan, sedikit pun, Amelia tidak pernah meminta harta gono-gini," jelas Amelia.
"Bohong, kamu!" sentak Dahlia. "Jika memang anak saya tidak memberikan harta gono-gini, lalu dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli perhiasan?" tanya Dahlia.
"Itu dari?" belum sempat menjawab, Thomas sudah datang dan memotong kata-kata Amelia.
"Ada apa, Sayang?" tanya Thomas sambil meraih pinggang Amelia. Sontak kedua mata langsung tajam menatap ke arah pria tampan yang sedang merangkul pinggang Amelia di hadapan mereka.
"Ibu, Ratih, perkenalkan, dia adalah calon suamiku. Dan dia yang akan membayar semua barang-barang belanjaan ku, terutama perhiasan-perhiasan ini," jawabnya sangat menusuk di hati Dahlia.
"Apa? Kau baru bercerai, tapi, kau akan menikah lagi?" heran Dahlia. "Cih, dasar tidak tahu malu," ejeknya.
"Kenapa Amelia harus malu?" tanya Amelia.
"Seharusnya kau malu, kau ini baru bercerai, masa langsung menikah saja?" ejek Ratih.
"Aku tidak perlu malu, karena aku akan menikah setelah masa Iddah ku selesai! Dan, kenapa aku harus malu? Aku menikah sesuai dengan syariat agama, bukan seperti dirimu! Tiba-tiba saja kau datang dan menghancurkan segalanya," jawab Amelia. "Tapi, aku sangat berterima kasih kepadamu, berkat dirimu, aku mendapatkan yang lebih baik dari Mas Arga," jawab Amelia, membuat Dahlia meradan.
"Jadi menurut mu anakku tidak baik begitu," marah Dahlia.
"Ibu pikir saja sendiri," ucap Amelia berlalu meninggalkan kedua orang itu. Dahlia hendak menarik rambut Amelia, namun tangannya ditepis kasar oleh Thomas.
"Jangan berani menyentuh calon istriku!" murka Thomas.
"Apakah kau buta, Anak muda?" ucapnya. "Dia itu wanita murahan, sudah hamil di luar nikah, dan tidak tahu siapa bapaknya, sekarang dia sedang berusaha menggoda mu!" ucapnya, membuat Amelia malu dan meninggalkan toko.
"Tutup mulutmu, jika kau bukan orang tua, pasti sudah aku hajar mulutmu," bentak Thomas.
"Astaga, dia membentakku," ujar Dahlia sambil mengelus dadanya.
to be continued....
__ADS_1