Amelia

Amelia
Episode 34


__ADS_3

Pukul sepuluh malam


Amelia merasakan lapar diperutnya, dia terbangun dan mencari makanan di dapur. Dia membuka kulkas, hanya sayur-sayuran dan buah-buahan saja di dalam kulkas. Dia pun hendak membuat mie instan untuk pengganjal perutnya. Mie rebus sudah siap dengan toping sosis dan telor rebus, ditambah dengan beberapa cabe diatasnya. Saat hendak memakannya, tiba-tiba ia ingin pipis. Ia pun langsung ke kamar mandi untuk membuang hajat kecilnya.


Selesai dari kamar mandi, Amelia hendak melanjutkan acara makannya. Namun ia melihat ada seseorang sedang duduk di meja dapur, dia sedang menikmati mie rebus miliknya. Amelia terkejut, dia pikir itu adalah pencuri yang sedang kelaparan, Amelia pun mengambil payung yang kebetulan menggantung di paku. Dia pukulkan ke arah orang tersebut, dan ...


BUGH ... BUGH .... BUGH


"Auw, Auw, Auw," pekiknya. Orang tersebut menoleh ke arah Amelia, ternyata yang berdiri di depannya adalah seorang pria tampan memakai jaket berwarna hitam.


"Sssssiapa kau?" tanya Amelia ketakutan.


"Harusnya, aku yang bertanya! Kau ini siapa?" tanya pria tersebut sambil memegangi kepalanya yang sedikit benjol.


"Kenapa malah balik bertanya?" bentak Amelia. "Atau kau jangan-jangan pencuri! Ayo ngaku?" teriaknya.


"Enak saja mengatai ku pencuri!" cibir Thomas.


"Mana ada pencuri yang mau ngaku? Aku yakin kau pasti pencuri!" seloroh Amelia.


"Aku bukan pencuri! Justru aku yang harus bertanya kepadamu! Kau sedang apa disini? Jangan-jangan kau pencurinya!" tuduhnya. "Oh, aku tahu! Kau dan suamimu mau mencuri di rumah ini kan?" tuduhnya lagi.


"Sekarang, aku akan membawamu ke kantor Polisi! Mana suamimu? Dia juga harus aku bawa ke kantor polisi!" ucapnya, sambil menarik tangan Amelia.


"Lepaskan aku! Aku bukan pencuri," kata Amelia berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu.


"Tante, Tolong! Tolong!" teriak Amelia.


Tante Celine yang mendengar teriakkan Amelia langsung terbangun dan keluar dari kamarnya.


"Thomas, Apa yang kamu lakukan?" ketus Tante Celine.


"Ini, Mah! Ada pencuri di rumah kita," ujarnya.


"Pencuri apa sih?" tanya Tante Celine, dia menoleh ke arah Amelia, ternyata pencuri yang dimaksud putranya adalah Amelia.


"Dia bukan pencuri, namanya Amelia," jawab Mamanya.


"Hah, Mama kenal dengan perempuan hamil ini?" tanyanya.


"Lepaskan," ucap Amelia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Thomas.


"Dia, Amelia! Yang sering Mama ceritakan kepadamu! Kau masih ingat tidak?" tanyanya.


"Oh," jawabnya ber'oh ria.


"Lalu kenapa malam-malam begini kau berkeliaran di dapur?" tanyanya.

__ADS_1


"Saya lapar, Pak!" jawabnya sambil menunduk.


GLEK ..


Thomas baru teringat, dia yang menghabiskan mie rebus milik Amelia. Kemudian, Thomas tersenyum dan meminta maaf.


"Ehm, Maaf! Mie rebusnya aku habiskan! Habisnya aku lapar sekali," ujarnya dengan malu.


"Ish, kau ini! Kau harus bertanggung jawab atas mie tersebut! Kau yang menghabiskan, kau juga yang harus membuatnya untuk Amelia! Apakah kau tidak merasa kasihan dengan wanita hamil yang sedang kelaparan?" tanya Mamanya, membuat Thomas semakin merasa bersalah.


"Aduh, Bagaimana yah?" Thomas nampak berfikir.


"Tidak usah, Tante! Biar Amelia kembali ke kamar saja!" ujarnya.


"Tidak bisa begitu! Kau lapar kan? Kalau begitu biarkan Thomas yang membuatkannya untukmu," seloroh Tante Celine.


"Baiklah, aku yang akan membuatnya! Buat mie rebus saja, kecil," sombong Thomas.


"Kalau begitu Mama juga mau dong?" pinta Mama.


"Oke, siap! Chef Thomas akan membuatkan mie rebus spesial untuk pelanggan wanita yang cantik-cantik," pujinya.


"Yeay," senang Tante Celine, bertepuk tangan.


Dalam waktu tiga puluh menit, tiga mangkok mie sudah siap di meja makan, dengan toping sosis, nugget dan bakso. Mereka menikmati hidangan yang tersaji di meja makan dengan lahap.


"Bagaimana? Enakkan, Mah?" tanya Thomas kepada Mamanya.


"Lumayan," jawabnya santai.


"Bagaimana Amelia, enak tidak?" tanya Tante Celine kepada Amelia.


"Enak, Tan!" jawabnya, sambil menganggukkan kepalanya.


"Perkenalkan Amelia, dia ini putraku! Daddy-nya Sherlly," ujar Tante Celine.


"Oh," jawab Amelia ber'oh ria.


"Saya, Amelia, Pak!" ujarnya.


"Ish, Apakah aku setua itu?" berengutnya kesal.


"Jangan panggil, Pak! Kau panggil saja, Sayang atau Cinta!" goda Tante Celine tertawa terbahak-bahak. Mereka saling menatap satu sama lain, Amelia langsung menundukkan pandangannya. Dia merasa sangat malu, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.


Amelia melihat jam dinding, ternyata masih jam satu malam. Setelah mencuci mangkok yang kotor, dia langsung naik ke tempat tidurnya kembali. Tante Celine dan putranya juga sudah tidak terlihat, berarti mereka sudah kembali ke kamarnya masing-masing.


Keesokan paginya

__ADS_1


Seperti biasanya, Amelia bangun pagi membantu sang juru masak membuat sarapan. Jari-jemari lentiknya sangat lihai mengolah makanan. Dalam waktu satu jam makanan sudah siap di meja makan, kini tinggallah dirinya mandi dan bersih-bersih. Dia ke kamar Sherly untuk membangunkannya, ternyata di kamar Sherly ada daddy-nya. Sepertinya, semalem daddy-nya Sherly tidur di kamar putrinya. Amelia pun mengurungkan niatnya untuk membangunkan Sherly. Ia menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati.


"Selamat pagi, Tan!" sapanya kepada Tante Celine yang sudah duduk manis di ruang makan.


"Pagi, Sayang," jawabnya.


"Lho, Mana Sherly?" tanya Tante Celine.


"Ehm, itu, Tan! Sherly belum bangun, sepertinya semalem daddy-nya tidur di kamar Sherly," ucap Amelia.


"Oh, iya, itu alamat Sherly nggak mau sekolah," ujar Tante Celine.


"Kok bisa, Tan?" tanya Amelia bingung.


"Biasanya, kalau daddy-nya pulang! Sherly sangat susah buat sekolah! Seharian dia akan terus bersama daddy-nya," jelas Tante Celine.


"Mungkin Sherly kangen sama daddy-nya, Tan," jawabnya.


"Iya, tentu saja Sherly kangen! Dia bertemu dengan daddy-nya saja satu bulan sekali! Tentu saja dia sangat merindukan daddy-nya," jelasnya.


"Oma," teriak Sherly, mengagetkan Omanya dan Amelia. Mereka berdua menoleh ke arah Sherly dan daddy-nya. Ternyata Sherly sudah cantik dan wangi.


"Selamat pagi, semuanya!" sapa Thomas kepada Mamanya dan Amelia. Amelia hanya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Sangat manis," batin Thomas.


"Tante cantik!" teriak Sherly sambil memeluk Amelia dari belakang.


"Wah, kamu cantik sekali, Sayang! Dan sudah wangi lagi," puji Amelia.


"Daddy yang mandiin Sherlly!" ibu jarinya menunjuk ke arah Thomas.


"Oh, ya! Sekarang, duduklah!" perintah Amelia. "Kamu mau makan apa? Nasi goreng atau roti?" tanya Amelia.


"Ehm, roti saja, Tan!" jawabnya lagi. Amelia langsung mengambilkan Sherly dua lembar roti, yang ia olesi dengan selai coklat kesukaan Sherly.


"Makanlah!" ucapnya.


"Terima kasih, Tan!" jawab Sherly sangat manis.


Mereka menikmati sarapan paginya dalam diam, hanya suara sendok dan garpu yang berbunyi.


"Tumben, Mah! Nasi gorengnya enak sekali," ucap Thomas membuka percakapan. Dia memakan nasi goreng tersebut sampai habis. Mamanya terlihat bengong dan heran, tidak biasanya putranya memuji masalah masakan.


"Itu masakan Amelia," jawab Mamanya.


"Ya ampun, aku malu sekali! Harus memuji makanan seseorang didepan orangnya," batinnya, Amelia tersenyum simpul. Dia merasa malu, pipinya memerah.

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2