
Bram dan anak buahnya berhasil menangkap Diego dan empat anak buahnya. Mereka tertangkap di dermaga. Dengan jalan laut mereka hendak melarikan diri ke luar pulau. Namun Bram yang sigap, dengan cepat menemukan keberadaan Diego berserta anak buahnya.
"Mau kemana Kau?"
"Bram. Apa kabar Kamu?" gelak Diego.
BUGH ...
BUGH ...
BUGH ...
BRAKK ..
BRUKK ...
Aksi baku hantam dan tembak-menembak terjadi. Mereka dihadang oleh anak buah Bram yang bertubuh tinggi dan kekar, yang jumlahnya lumayan banyak. Membuat anak buah Diego kalah dalam jumlah.
Bram menghadang Diego yang hendak masuk ke dalam kapal. Dengan sigap Bram menendang Diego hingga tersungkur. Menghajar tubuh pria itu yang notabenenya lebih pendek dari perawakan tubuh Bram.
"Dasar, Pria kurang ajar! Beraninya Kau bermain-main dengan keluarga Williams!" geram Bram kembali menghajar Diego tanpa ampun.
Bugh ... Bugh ... Bugh
Bram mengunci pergerakan Diego, hingga Diego tidak bisa berbuat apa-apa. Diego mengaduh kesakitan, merasakan kesakitan bagian tangannya yang dipelintir ke belakang. Namun bukannya takut, dia malah tertawa puas.
"Dasar pria gila! Kau harus ikut aku!" Bram memberikan kode kepada anak buahnya. Untuk mengikat mereka semua.
"Kita bawa kemana, Bos?"
"Kita bawa ke gudang. Abangku ingin berjumpa dengannya!" ujar Bram.
"Baik, Bos!"
Mereka semua digiring ke gudang kosong. Ke empat anak buah Diego, disatukan dan diikat. Sedangkan Diego di ikat di sebuah kursi, dengan wajah yang babak belur.
Dret ... Dret ... Dret
"Hallo, Bram?"
"Bang, Saya sudah menemukan Diego. Saya menyekapnya di gudang tua. Cepatlah kemari, Bang!"
"Oke. Tahan sampai aku datang! Kirimkan alamatnya! Aku akan menyuruh Dicky datang kesini untuk menemani Amelia!"
"Baik, Bang. Gue tunggu!"
Sementara itu, Thomas sudah menghubungi Dicky untuk datang menemani Amelia. Setengah jam kemudian, Dicky datang dengan membawa Arum. Sebenarnya Thomas agak tidak setuju dengan kehadiran Arum, tapi Dicky berusaha untuk menyakinkan Thomas.
Amelia butuh seorang wanita untuk menjaganya di RS. Jika Amelia butuh sesuatu, atau ke kamar mandi, tidak mungkinkan Dicky mengantarnya. Akhirnya Thomas pun mengiyakan kemauan Dicky mendatangkan Arum.
"Gue titip Amelia. Ada sesuatu yang penting harus gue kerjakan!"
"Baiklah, Tapi hati-hatilah, Pak Thomas!"
"Oke. Terimakasih, Bro!" Thomas menepuk pundak Dicky.
Dengan kecepatan tinggi, Thomas mengendarai mobilnya menuju arah gudang yang ditunjukkan oleh Bram.
Dicky nampak menautkan alisnya. Dia heran, kenapa Thomas terlihat buru-buru sekali.
"Mas, Kak Thomas itu sebenarnya mau kemana?" tanya Arum membuat lamunan Dicky buyar.
"Entahlah. Aku tidak tahu!"
"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Dicky.
Mereka masuk ke ruang rawat Amelia. Terlihat Amelia sedang tertidur pulas setelah menghabiskan sarapan dan meminum obatnya. Wajahnya sangat cantik, bahkan sedang tertidur sekalipun.
__ADS_1
"Inikah istri Kak Thomas?" tanya Arum.
"Iya. Namanya Amelia!"
"Ehm. Cantik sekali."
"Dia memang sangat cantik. Dia juga sangat baik."
"Sepertinya Mas Dicky juga mengagumi kecantikan dan kebaikan Mba Amelia!"
"A-pa?" Dicky sedikit terhenyak. Kemudian mengulas senyum.
"Ah, ti-dak. Aku tidak mengaguminya. Aku berbicara fakta."
"Oh." Gadis itu membulatkan bibirnya.
"Kau mau sesuatu? Aku mau ke kantin membeli kopi!"
"Ehm, Apa saja deh!"
"Oke. Aku belikan kamu jus saja! Jus sangat baik untuk kesehatanmu!"
"Terserah Mas saja!" ujar Arum tersenyum manis.
"Kamu tunggu disini sebentar ya! Aku ke kantin dulu!"
"Baiklah, Mas. Jangan lama-lama! Aku takut Mba Amelia terbangun!"
"Tenang saja!"
Sementara itu, Mobil Thomas sudah sampai di depan gudang tua dan kosong. Di sana ada dua mobil yang terparkir, mobil milik Bram dan satu lagi mungkin mobil anak buah Bram. Bram menyambut kedatangan Thomas.
"Diego dan anak buahnya ada di dalam, Bang!"
"Oke."
"Diego. Apa kabar?" Diego sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak percaya bahwa pria yang sedang berdiri di depannya masih hidup.
"Thomas. Kau masih hidup?" Thomas tersenyum.
"Kenapa? Kau terkejut?" Thomas tersenyum sinis.
Bugh ... Bugh ... Bugh.
Tiga pukulan berhasil mendarat di wajah Diego dengan kaki dan tangan terikat.
"Brengsek. Beraninya Kau bermain-main denganku! Kau tidak tahu siapa aku Diego!" Thomas menarik kerah baju Diego. Bukannya takut justru Diego tertawa terbahak-bahak.
"Thomas, Thomas. Ternyata kau memiliki nyawa tujuh. Sayang sekali. Kenapa Kau tidak menyusul saja ibumu ke neraka!"
Bugh ... Bugh ... Bugh
Thomas kembali menghajar tubuh Diego. Dan menyuruh Bram untuk melepaskan ikatannya. Diego yang tidak berdaya hanya duduk di bangku sambil mengamati sekitarnya.
"Ayo lawan aku!" Diego masih tertawa.
"Kau tahu, tubuh istrimu sangatlah indah! Aku bisa merasakan kehangatannya!"
"Bajingan!"
Bugh ... Bugh ... Bugh
Thomas kembali menghajar tubuh Diego. Darah segar mengalir di mulutnya dan dihidungnya.
"Akan ku bunuh Kau!" Thomas mencengkeram leher Diego dengan kuat.
"Apa yang Kau lakukan sudah diluar batas. Jika memang Kau dendam dengan keluargaku. Kau tidak perlu membawa-bawa istri dan anak-anakku. Mereka tidak bersalah!" teriak Thomas.
__ADS_1
"Gara-gara Kau, Amelia mengalami depresi dan stress. Ini semua gara-gara Kau!" teriaknya lagi.
"A-pa?" Diego sedikit terkejut.
"Kau memang BRENGSEK!"
Bugh ... Bugh ... Bugh
"Bang, hentikan! Dia bisa mati!" seru Bram.
"Biar dia mati!"
"Bang, Kau tidak perlu mengotori tanganmu. Serahkan dia ke Polisi!" suruh Bram.
"Sial!"
"Andai saja tidak ada hukum di negara ini. Akan aku bunuh Kau!" geram Thomas.
"Aku sudah memanggil Polisi untuk datang ke sini. Kita serahkan semuanya kepada pihak berwajib!" Bram berusaha untuk memberikan pengertian kepada Thomas.
"Baiklah." Thomas melepaskan cengkeraman tangannya dari tubuh Diego. Pria itu hanya terdiri. Dia sedang mencerna kata-kata yang diucapkan Thomas barusan.
Satu jam kemudian. Satu mobil polisi datang untuk meringkus Diego dan anak buahnya. Diego sudah dalam kondisi babak belur di hajar oleh Thomas. Pria malang itu harus dilarikan ke RS, karena bibir bagian atasnya sedikit robek. Dan terdapat lebam di sekujur tubuhnya.
Thomas memutuskan untuk kembali ke RS. Dia takut kalau Amelia terbangun dan mencarinya. Kondisi Amelia yang belum pulih benar, membuat Thomas takut untuk meninggalkannya terlalu lama.
"Bram, Kau boleh pulang! Temui Alina! Kau juga bisa memberitahu dia, kalau aku masih hidup!"
"Iya, Bang! Sekali lagi aku ingin meminta maaf atas kesalahanku!"
"Ok. Aku maafkan Kau!" Thomas menepuk bahu Bram, dan berlalu pergi masuk ke mobilnya.
Sampai di parkiran RS, Thomas langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar rawat sang istri. Dan benar saja, Amelia sudah terbangun. Dia berteriak dan menjerit. Beberapa orang mencekal pergelangan tangannya, termasuk Dicky. Sedangkan Arum duduk di sudut ruangan karena ketakutan.
"Aku mau pergi. Jangan halangi aku!" teriaknya, "Lepaskan. Lepaskan tanganku! Kalian semua komplotan Diego! Pergi, pergi kalian dari sini!"
"Sayang!" panggil Thomas. Amelia menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Mas, Tolong aku!" isaknya.
Thomas memberikan kode kepada mereka semua untuk melepaskan istrinya. Amelia berlari menghambur ke pelukan sang suami.
"Mas, dia datang. Dia datang ke sini. Dia ingin membawaku pergi darimu dan anak-anak!" ujarnya.
"Tidak, Sayang. Diego tidak akan pernah mengganggu kita lagi. Dia sudah tertangkap polisi!"
Dicky sedikit terperanjat. Tapi, dia berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Benarkah?"
"Iya, Sayang. Ayo kembali ke kamar mu!"
Bersambung ...
Mana dukungannya Beb....
Vote
Vote
Vote
Vote
Vote
Vote
__ADS_1