Amelia

Amelia
Episode 163


__ADS_3

"Wat, Kemarilah!" ucap pelayan toko tersebut kepada temannya.


"Ada apa, Sari?"


"Lihatlah!" Sari menunjuk kaca kamar ganti. Dimana di kaca besar tersebut ada tulisan dengan menggunakan lipstik.


"Maksudnya apa sih? Ini orang iseng banget!" ucap Wati.


"Bukan isengnya, Wat. Tapi apakah itu ada maksudnya!"


"Maksud kamu!"


"Aku tadi melayani dua pasangan calon pengantin. Aku rasa si wanita kelihatan aneh. Mukanya terlihat tidak bahagia dan tertekan. Namun wanita itu tidak berani berkata apa-apa. Anehnya, dia meminjam lipstik dari aku. Dan apakah mungkin wanita tadi yang menulis ini!"


"Jangan-jangan maksud dari tulisan itu adalah sebuah permintaan tolong!"


"Benar, Wat. Mungkin wanita itu meminta tolong kepada kita untuk menghubungi pria yang bekerja di agensi model!"


"Iya, namanya Dicky."


"Jadi, Apakah ini termasuk kasus penculikan?"


"Iya, Wat. Aku yakin wanita itu diculik. Dan dia sedang meminta bantuan kepada kita."


"Lalu, Apa yang harus kita lakukan, Sari? Apakah kita akan diam saja atau mendatangi kantor agensi model?"


"Iya, Kita harus datang ke sana. Sebagai seorang wanita, aku merasa sangat kasihan!"


"Baiklah, nanti kita kesana!"


"Terimakasih,"


"Kau suka perhiasannya?" tanya Diego saat sudah berada di mobil.


"Suka, Pak."


"Mulai sekarang panggil aku sayang."


"A-pa?"


"Sebentar lagi kita kan akan menikah. Jadi, jangan panggil Pak! Panggil aku sayang!"


"Aku tidak mau. Panggilan itu hanya untuk suamiku!" ujar Amelia.


Chiiiiiiiiiiiiit ...


Hampir saja Amelia terbentur dasboard mobil.


Diego mencekram dagu Amelia. Maniknya menatap dengan tajam. Seperti tatapan rasa tidak kesukaannya.


"Sa-kit!" pekik Amelia. Diego mencengkeram dagu Amelia semakin kuat.


"Berhentilah memikirkannya! Dia sudah mati! Dan sekarang, akulah calon suamimu! Panggil Aku Sayang. Jika mau anakmu selamat!"


"I-ya. Sa-yang."


Hiks ... Hiks.


"Bagus. Ayo katakan lagi!"


"Sa-yang."


"Kurang keras!"


"Sa-yaaaaaaang! Kau puas!" teriak Amelia.


"Bagus. Aku suka wanita yang penurut!" senyum Diego.


"Kau tidak waras!" isak Amelia.


"Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Apakah nasibku akan seperti ini? Lebih baik aku mati!" isak Amelia di dalam hatinya.


Diego kembali melajukan mobilnya. Mendengar Amelia mengumpat, Diego hanya tersenyum tipis. Diego mengajak Amelia ke sebuah studio foto. Letaknya memang cukup jauh. Namun dia tidak memiliki pilihan lain, dia harus tetap menurut untuk melindungi kedua buah hatinya.


Kedatangan Diego dan Amelia sudah disambut hangat oleh pemilik studio. Sepertinya mereka kenal akrab. Saling berjabat tangan dan bergurau. Amelia hanya menjadi penonton yang manis di depan keakraban mereka.


"Diego, Apa kabarnya? Lama sekali kita tidak bertemu!" ucap pria itu.


"Gue baik. Kabar Lo gimana?"


"Gue juga baik,"


"Siapa wanita cantik ini? Apakah ini calon istri yang kau bicarakan ditelepon?"


"Iya, Perkenalkan namanya Amelia,"


"Wah cantik sekali. Pantas saja kau sudah bisa melupakan Monica!" gelaknya.

__ADS_1


"Amelia." Amelia hanya mengulas senyum tipis.


"Ayo masuk!"


"Terimakasih, Bro!"


"Ton, Aku ingin foto prewedding seperti dulu. Saat foto preweddingku dengan Monica. Aku ingin sama persis!"


"Lo yakin, Bro!"


"Iya. Kenapa nggak?"


"Apa-apaan ini? Sepertinya Diego memang gila!" batin Amelia.


"Oke, Gue akan buat persis seperti yang Lo mau. Tempat prewedding yang sama bahkan bajunya juga sama persis!"


"Widia, Bisa bantu calon mempelai wanita untuk mengganti bajunya dengan baju yang aku berikan kepadamu!"


"Baik, Pak!"


"Ini gila!" batin Amelia.


"Ayo, Mba. Saya bantu!" ujar Widia.


"Tolong saya!" bisik Amelia saat Widia membantu Amelia mengaitkan kancing di punggungnya.


"Ada apa?"


"Pria itu tidak WARAS! Dia sudah memaksa saya! Saya tidak mau menikah dengannya. Tapi, pria gila itu mengancam saya!" bisik Amelia lagi.


"Apa Nona yakin?"


"Jangan menghadap ke arahnya. Nanti dia bisa curiga!" bisik Amelia lagi.


"Bbbaiklah!"


"Dia pria tidak waras. Dia sudah memaksa saya untuk menikah dengannya. Jika saya menolak, dia akan membunuh anak-anak saya. Suami dan Ibu mertua saya sudah dia bunuh dengan keji!"


"A-pa?" Widia terkejut, "Apa yang harus saya lakukan?"


"Tolong bantu saya, hubungi Dicky. Dia pemilik agensi top model!"


"Kenapa kalian berbisik-bisik?" teriak Diego. Membuat keduanya terkejut dengan suara bariton yang tiba-tiba datang.


"Ini, Sayang. Kancingnya susah untuk dikaitkan! Bisakah Kau menolong ku!" pinta Amelia.


Diego membantu Amelia mengaitkan kancing di punggungnya. Diego terlihat kagum melihat kecantikan yang terpancar pada wajah calon istrinya. Tubuhnya yang seksi dan indah, sangat pas dengan baju yang dikenakan oleh Amelia. Diego mencium lembut pundak calon istrinya.


"Kau cantik sekali, Sayang! Aku sudah tidak sabar ingin menjadikanmu pengantinku!" ujarnya. Amelia hanya mengulas senyum manis.


"Kenapa Kau menginginkan aku mirip seperti Monica? Bahkan dari baju pengantin dan tempat untuk prewedding. Kau menginginkan yang sama persis!"


"Karena Aku ingin Monica hidup dalam dirimu!" ucap Diego mencium punggung tangan calon istrinya.


Gila! Aku yakin pria yang berdiri di depanku sudah tidak waras! Aku harus lepas dari pria seperti dia! Mas Kamu ada dimana? Aku yakin Kamu masih hidup!


to be continued ...


HeyΒ² Ayo dukung karya ini dengan tap like , favorit, rate bintang, vote, bunga dan kopi. . .


Ingin Author kalian tambah semangat lagi, tabur bunga dan kopi yang banyak 🀩🀩🀩


Ini aku ada karya lain, Barangkali saja suka ceritanya...



Judul : ISTRIKU BERBEDA


KARYA : CAHYANING FITRI


Bab 1 : Kejujuran Yang Menyakitkan


Michele Laura adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mandiri. Dia harus berhujan-hujanan karena dia lupa membawa payung di mobilnya. Biasanya dia selalu siap dan sedia, menyiapkan barang-barang yang nampak kecil namun besar kegunaannya dalam keadaan yang mendesak.


Michelle, wanita berparas ayu ini masuk ke dalam rumah dalam keadaan yang basah. Tubuhnya terguyur oleh air hujan. Hari ini dia tidak lembur, karena kebetulan semua pekerjaan ia selesaikan lebih awal. Michele melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan mendapati rumahnya tidak terkunci dengan ruangan yang gelap.


Michelle masuk ke ruang tengah, nampak baju suaminya berserakan. Dan yang membuatnya nampak sangat heran, ada baju wanita teronggok di lantai. ****** ***** dan bra juga teronggok di sofa begitu saja. Michelle mendengar suara-suara aneh didalam kamarnya. Suara ******* kenikmatan dari dua orang insan manusia yang berbeda lawan jenis.


"Argggggh." sebuah pelepasan yang sempurna, saat dua insan manusia itu mencapai titik klimaksnya.


"Hangat sekali, Sayang," ucap wanita cantik, yang suaranya sangat merdu ditelinga. Karena dia juga merasakan kenikmatan saat pelepasannya.


Michelle berjalan perlahan menuju kamarnya, dan membuka pintu kamar. Dia menghidupkan lampu kamarnya, betapa terkejutnya dia. Michelle melihat pemandangan yang membuat hatinya sangat hancur. Diranjang yang biasa ia gunakan untuk bercinta dengan suaminya, saat ini digunakan Nathan untuk bercinta dengan Dewi, sepupunya sendiri.


Nathan Hadiwijaya adalah suami yang dinikahinya lima tahun yang lalu. Selama lima tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, dan itu membuat Nathan bosan dan jenuh dengan pernikahannya sendiri. Nathan dan Dewi begitu terkejut, aktivitas panasnya telah dipergoki oleh Michelle.


"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku? Teganya kalian melakukan perbuatan menjijikkan dibelakang ku?" teriak Michelle dengan amarah menggebu-gebu.

__ADS_1


"Hebat, kamu, Mas. Saat aku sedang bekerja kau malah berselingkuh dengan j****Ng ini!" isaknya. Hatinya sangat hancur, dadanya terasa sesak.


Nathan langsung memakai pakaiannya, begitu juga dengan Dewi. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Dan kau, adalah sepupuku. Bagaimana bisa kau melakukan ini kepadaku?" bentak Michelle kepada Dewi.


"Maafkan kami, Michie. Kami bersalah. Aku dan Mas Nathan saling mencintai," ucap Dewi menunduk.


"Apa?" Michelle tidak percaya dengan apa yang dikatakan sepupunya.


"Aku dan Dewi sudah menjalin hubungan sejak lama. Bahkan sebelum kita menikah, aku dan Dewi sudah menjalin hubungan terlebih dahulu. Dan rencananya kami akan menikah. Namun kedua orang tua kita, sudah menjodohkan kita lebih dulu. Sehingga, hubungan ku dengan Dewi kandas. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Sampai sekarang dan sampai detik ini aku masih sangat mencintai Dewi," jelas Nathan.


"Apa kamu bilang, Mas?" tubuh Michelle bergetar, dia tidak percaya suaminya mengakui semuanya.


"Aku tidak salah dengar kan?" herannya.


"Tidak. Aku masih mencintai Dewi sampai sekarang. Perasaanku tidak akan pernah berubah kepadanya, walaupun sudah lima tahun berlalu," jujur Nathan.


"Jahat kamu, Mas! Kalian benar-benar tidak tahu malu! Apakah kalian tidak takut, perbuatan kalian dilaknat Allah?"


"Hiks ... Hiks .... Hiks." Michelle meninggalkan kamarnya, menuju kamar yang lain. Hatinya sudah tidak kuat lagi, Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.


Di kamar yang lain, tangis Michelle pecah. Dia tidak mengira, suami yang sangat dia cintai begitu tega menghianati dirinya. Padahal sebagai seorang istri dia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suami. Namun apa yang dia dapatkan. Hanya pengkhianatan dan air mata. Tidak terasa air matanya membanjiri pipinya.


"Lima tahun sudah kita menikah, kenapa kau begitu tega menghancurkannya dalam sekejap mata?" isaknya.


"Bahkan aku baru tahu kalau kau sudah memiliki hubungan dengan sepupuku sendiri. Kenapa saat orang tua kita menjodohkan, kau tidak pernah bercerita kepadaku?" isaknya lagi.


"Tidak, kau tidak boleh menangis Michelle. Kau wanita cantik, pandai dan berprestasi. Jangan menjadi wanita lemah dan bodoh dihadapan pria seperti dia!"


Michelle menghapus air matanya, dia berusaha berdiri dan bercermin.


"Kamu sangat cantik, pintar dan tidak lemah! Kamu tidak boleh menangisi pria seperti dia!" ucapnya kepada dirinya.


Michelle masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Berendam di bathtub dengan aromaterapi adalah salah satu cara merilekskan otot dan pikirannya supaya lebih tenang.


Selesai mandi dan berganti baju. Dia keluar kamar, tidak lupa dia memakai hijabnya, walaupun masih dilingkungan rumah.


Dia melihat suaminya Nathan sedang duduk di ruang makan. Sedangkan Dewi mungkin sudah pulang. Michelle ke arah dapur, dan menyiapkan makan malam untuk suami dan dirinya.


Hidangan ala kadarnya sudah siap di meja makan. Michelle mempersilahkan suaminya untuk menikmati makan malam yang ia masak sendiri. Bagaimanapun Nathan masih suaminya, dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yaitu melayani suami.


"Michie, duduklah! Aku mau bicara denganmu!" ucap Nathan dengan menyilangkan tangannya di depan dada.


"Ada apa, Mas?" Michelle duduk tepat dihadapan Nathan.


"Ayo kita bercerai!" ucap Nathan.


DEGH ....


Hati Michelle seperti tertimpa palu yang beratnya berton-ton. Dadanya terasa sangat sesak. Hatinya begitu hancur. Rumah tangga yang dibina selama lima tahun, sekarang harus kandas begitu saja.


"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Michelle.


"Ayo kita bercerai. Setelah bercerai aku akan menikahi Dewi," jawabnya.


Badannya terasa sangat lemas. Kaki serasa tidak bertulang. Michelle menatap mata suaminya.


"Jika memang itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Tapi, sebelumnya kau katakan dulu kepada ayah dan ibu. Bagaimanapun kita harus melibatkan orang tua. Karena mereka adalah orang-orang yang sangat aku hormati," ucap Michelle tegas.


"Iya, aku pasti akan mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi. Karena aku tidak pernah bahagia denganmu!" ucap Nathan.


"Tidak pernah bahagia?" Michelle tersenyum hambar.


"Lalu apa yang selama ini kita lakukan diranjang? Bahkan kau sangat menikmatinya? Apakah semua itu tidak ada artinya apa-apa bagimu?"


"Tidak. Aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai seorang suami," jawabnya.


Terluka? Tentu saja Michelle sangat terluka, mendengar kata-kata yang diucapkan Nathan kepadanya, seperti ribuan sembilu yang menancap dihatinya, sakit dan perih itu yang sedang dirasakan Michelle. Namun dia berusaha untuk tidak menangis.


"Lima tahun menikah, kita belum juga dikaruniai anak. Jadi untuk apa kita masih mempertahankan rumah tangga yang sangat membosankan ini?"


"Tapi, kita masih banyak waktu, Mas. Kita bisa berusaha lebih keras lagi. Bila perlu kita akan berkonsultasi dengan Dokter kandungan,"


"Sudahlah, Michie. Kenapa kau masih bertahan dengan pernikahan yang membosankan ini? Bukankah lebih baik kita bercerai dan menjalani kehidupan kita masing-masing," ucap Nathan.


"Kenapa kau begitu jahat, Mas? Aku tidak melihat cinta dan sayang yang sering kau katakan kepadaku. Apakah cinta dan sayang itu sudah pupus, setelah kau bertemu Dewi kembali?"


"Iya. Karena pada dasarnya, dari dulu aku masih sangat mencintai Dewi. Dan sampai sekarang pun aku masih sangat mencintainya," ucap Nathan.


"Baiklah, jika itu keputusan kamu. Aku akan menerima semua keputusan kamu. Tapi, tolong katakan kepada kedua orang tuaku dengan baik-baik," ucap Michelle menundukkan kepalanya.


to be continued.....


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Ketemu Author Cahyaning Fitri lagi. Ini novel baru netes ya Guys. Tiba-tiba aja ide muncul, Author tulis deh....Minta dukungannya ya?????

__ADS_1


__ADS_2