Amelia

Amelia
Episode 35


__ADS_3

Arga seperti orang kebakaran jenggot, dia mencari Amelia sampai ke tempat kerjanya yang dulu. Namun belum juga dia menemukan dimana istrinya berada. Arga mencoba menghubungi ponsel istrinya kembali, ponsel istrinya aktif, namun tidak diangkat. Arga mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi. Dia pulang dengan muka yang kusut dan tidak bersemangat. Ratih yang melihat semua itu merasa jengkel dan dongkol.


"Mas, Apakah seharian ini kau akan mencari Amelia terus?" kesal Ratih.


"Aku sudah bersalah kepadanya! Tidak seharusnya aku memukulnya! Ini semua adalah kesalahan ku! Aku yang telah membuatnya pergi dariku! Seharusnya aku harus bisa lebih mengontrol emosiku!" sesalnya.


"Sudahlah, Mas! Masih ada aku dan anak kita! Sebaiknya kau ceraikan saja Amelia! Kita bisa hidup bahagia bertiga," seloroh Ratih. Arga menatap Ratih dengan tatapan tajam, dia tidak suka dengan apa yang dikatakan Ratih.


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikannya!" geramnya.


"Kenapa? Bukankah kau sudah tidak mencintainya?" tanya Ratih, memberengut kesal.


"Aku masih sangat mencintainya," jawabnya.


"Meskipun dia hamil, anak orang lain," ujar Ratih.


"Tutup mulut kamu," marah Arga, dia hendak menampar Ratih.


"Kenapa? Kamu mau menamparku, Mas?" tanyanya. "Ayo, tampar! Ayo, tampar!" teriaknya.


"Sudahlah, Ratih! Aku capek, aku mohon berhentilah! Jangan memancing amarahku!" kesalnya, Arga berlalu pergi meninggalkan Ratih, namun Ratih mengekor di belakangnya.


"Kamu mau kemana, Mas? Kamu baru sampai?" tanya Ratih, mengejar suaminya yang hendak pergi meninggalkan rumah.


"Aku mau pergi! Aku pusing mendengar ocehan mu!" kesal Arga.


Arga masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sepi. Dia kembali ke rumah Amelia, berharap istri pertamanya akan pulang ke rumah.


Rumah Tante Celine


Dengan diantarkan sopir, Amelia berangkat ke butik Tante Celine. Sedangkan Tante Celine sendiri, dia sengaja tidak datang ke butik karena ingin menghabiskan waktunya dengan putra dan cucunya.


"Bagaimana pekerjaanmu, Thomas?" tanya Mamanya.


"Baik-baik saja, Ma!" jawabnya, sambil menyeruput kopi yang disediakan oleh pelayan.


"Apakah kau akan terus-menerus meninggalkan Sherly?" tanya Celine. "Sherly butuh kasih sayang, Thomas!" ujar Celine.


"Bukankah kita sudah pernah membahas ini, Ma! Aku bekerja siang malam juga untuk Sherly," ujarnya.

__ADS_1


"Tapi, putrimu butuh kasih sayang! Bukan hanya uang, Thomas!" ujar Celine.


"Ma, Aku tahu! Tapi, Mama juga kan tahu! Bisnisku yang di luar negeri tidak bisa aku tinggalkan! Kecuali, aku mendapatkan orang yang bisa aku percaya untuk meneruskannya! Maka, aku akan fokus di Perusahaan di Indonesia!" jelasnya.


"Tapi, Kau bisa menyerahkan bisnis itu kepada Bram," jawab Celine. "Bram juga tidak kalah hebat denganmu," imbuhnya. Bram adalah sahabat sekaligus asisten Thomas. Jika Thomas sedang berada di Indonesia, Bram yang menggantikan posisinya di Perusahaan Jerman. Bram sudah Celine anggap seperti anak kandungnya sendiri. Kasih sayang yang dia berikan kepada putra dan putri kandungnya, dia berikan juga kepada Bram. Bram adalah anak dari sahabatnya. Kedua orang tua Bram sendiri sudah meninggal karena kecelakaan tragis, dan Celine menganggap Bram seperti anak kandungnya sendiri. Memberikan kasih sayang dan cinta tulus seorang ibu kepada Bram yang sudah tidak memiliki siapapun.


"Nanti Thomas pikirkan, Ma!" jawabnya.


"Oya, Ma! Dimana suami Amelia?" tanya Thomas tiba-tiba.


"Amelia!" Celine melirik ke arah putranya, tidak biasanya putranya bertanya soal perempuan.


"Oh, Amelia! Dia sedang proses perceraian," jawab Celine santai.


"Kok bisa, Ma?" tanya Thomas lagi.


"Kan Mama pernah bercerita sama kamu, bahwa suaminya orang yang sangat kejam!" jelas Celine. "Mama menemukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah," imbuh Celine.


"Apakah pria itu tidak merasa kasihan, karena istrinya sedang hamil, Ma?" tanya Thomas lagi. Mamanya menoleh ke arah Thomas, dia menghela nafasnya berat. Celine pun menceritakan kisah Amelia kepada putranya, Thomas terlihat sangat terkejut dengan cerita Mamanya, dia tidak menyangka wanita sebaik dan selembut Amelia bisa diperlakukan sedemikian oleh suaminya sendiri.


"Mama merasa kasihan kepada Amelia! Itulah mengapa Mama mengajak Amelia untuk tinggal bersama kita! Kamu tidak keberatan kan, Thomas?" tanya Celine.


"Apakah kau juga menyukainya?" tanya Celine.


"Ish, Mama! Dia kan masih status istri seseorang! Bagaimana bisa Thomas menyukainya?" ujarnya.


"Jika dia sudah tidak bersuami! Apakah kau akan menyukainya?" tanya Celine agak girang.


"Ma! Aku sudah tidak terlalu percaya dengan seorang wanita! Jadi, aku tidak terlalu memikirkan yang seperti itu!" jawabnya.


"Apakah kau akan menduda terus?" kesal mamanya.


"Bukan begitu, Ma! Hati Thomas belum ada yang cocok! Thomas tidak mau lagi mengambil langkah yang sama!" ujarnya.


"Terserah kau saja! Mama mau beristirahat terlebih dahulu!" cebiknya, sambil berlalu ke kamarnya.


"Daddy?" teriak Sherly berusaha untuk membuat Daddy-nya kaget, namun Sherly tidak berhasil karena sang Daddy sudah melihatnya terlebih dahulu. Membuat Sherly memberengut kesal.


"Daddy! Ayo jemput Tante cantik! Ini sudah pukul empat sore! Pasti Tante cantik sudah pulang dari butik Oma," rengek Sherlly meminta Thomas untuk menjemput Amelia.

__ADS_1


"Daddy nggak bisa, Sayang! Karena Daddy sedang sibuk!" jawabnya.


"Ayolah, Dad! Kali ini saja menuruti keinginan Sherly!" rengek Sherly lagi. Melihat wajah putrinya merengek meminta menjemput Amelia, akhirnya Thomas pun menuruti keinginan sang putri.


Thomas memerintahkan sopir agar tidak menjemputnya, karena dia sendiri yang akan menjemputnya dengan Sherly. Di dalam mobil Sherly sangat bahagia sekali, karena sebentar lagi dirinya akan bertemu Tante cantiknya di butik Oma. Sebenarnya bukanlah hal baru baginya bertemu Amelia di butik, namun kali ini dia akan merengek meminta jalan-jalan ditemani Daddy dan Tante cantiknya.


Mobil Thomas sudah berhenti di depan butik Omanya. Sherly melihat kalau Tante cantiknya baru saja keluar dari butik. Sherly pun memanggilnya dengan berteriak keras.


"Tante?" teriak Sherly, membuat Amelia menoleh ke sumber suara.


"Sherly," ucapnya, mendekat ke arah mobil itu. Ternyata di dalamnya ada Thomas, Amelia menyapa putra dari bosnya.


"Selamat sore, Pak!" sapanya.


"Sore," jawab Thomas. "Sherly merengek ingin menjemputmu!" ujarnya kepada Amelia.


"Tante, Ayo kita pulang!" ajak Sherly. Amelia nampak berfikir, rasanya tidak sopan jika dia menumpang pulang di mobil anak bos-nya.


"Kenapa?" tanya Thomas.


"Tidak ada apa-apa, Pak!" jawabnya.


"Kalau begitu, Ayo masuk! Tunggu apalagi?" ucap Thomas.


"Saya ikut, Bapak?" tanyanya.


"Iya, masuk saja!" perintah Thomas. Amelia membuka pintu mobil bagian belakang, dia duduk di kursi penumpang.


"Dad, Sherly duduk di belakang ya?" pinta Sherly.


"Hah?"


"Sherly mau duduk di samping Tante cantik," ujarnya.


"Baiklah, tapi, jangan nakal ya?" ujar Thomas.


Thomas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sekilas dia melirik ke arah kaca yang berada di dalam mobil. Dari arah kaca Thomas melihat keakraban keduanya, bagaikan ibu dan anak kandung.


to be continued..

__ADS_1


__ADS_2