
Mata Amelia terbuka, dia menatap langit-langit Rumah Sakit. Kemudian mengangkat tangannya, melihat selang infus di sana. Tangan kirinya terasa perih. Ada perban yang menempel di sana.
"Dimana saya?" tanyanya mendesis merasakan sakit di bagian pergelangan tangannya.
"Anda sudah di Rumah Sakit. Suami Bu Amelia sekarang sedang menunggu di luar," jawab Suster.
"Suami? Suami siapa?" ucap Amelia panik.
"Tidak, Saya tidak memiliki suami. Saya mau pergi. Saya harus pergi. Saya tidak mau ditangkap olehnya! Biarkan saya pergi!" teriak Amelia.
"Tenang, Bu Amelia."
"Saya mau pergi! Biarkan saya pergi!" teriaknya lagi.
"Sus, cepat panggil Dokter! Katakan kalau pasien sudah sadar dan mengalami halusinasi!" pinta suster pertama.
"Baik, Sus."
Suster kedua pun segera keluar memanggil Dokter. Sedangkan suster pertama berusaha menenangkan hati pasien.
"Biarkan aku pergi! Aku mau pergi! Aku mau pergi!" teriak Amelia.
"Tenang, Bu. Kalau ibu seperti ini terus. Tangan Ibu bisa terluka!" ucap Suster kualahan. Amelia memberontak dan melawan.
"Saya mau pergi! Jangan halangi saya!" Amelia mendorong tubuh Suster, dan melepaskan jarum infusnya. Dia turun dari tempat tidur. Mendorong tubuh Suster sekali lagi hingga terhuyung ke belakang.
Amelia hendak menarik daun pintu, namun Suster berusaha untuk menahan. Amelia kembali mendorong tubuh suster lagi.
"Jangan halangi aku! Aku mau pergi jauh!" teriaknya, "Aku tahu Kau bersekongkol dengan penjahat itu! Pergi! Aku bilang pergi!"
Dokter dan suster tadi masuk ke dalam. Amelia mengamuk, dia juga mendorong Dokter dan Suster itu.
"Pergi kalian semua! Kalau tidak pergi kalian akan aku bunuh!" teriak Amelia.
"Ibu tenang! Sekarang Ibu aman! Biarkan kami membantu Ibu!" ucap Dokter.
"Lepaskan saya! Saya mau pergi!" teriak Amelia.
"Lepaskan, Lepaskan saya! Saya tidak mau tertangkap!"
"Ibu tenang. Sekarang Ibu di Rumah Sakit. Ibu aman!"
"Tidak. Saya tidak mau. Lepaskan saya!" teriaknya lagi.
"Tenanglah, Bu. Ibu bisa terluka!" teriak Dokter.
Thomas yang baru datang dari kantin, sangat terkejut melihat keramaian dan mendengarkan orang berteriak. Thomas berlari mendekati sumber suara wanita yang berteriak. Dia sangat syok melihat istrinya yang sedang dipegangi oleh beberapa suster dan petugas RS.
"Amelia!" panggil Thomas lembut. Amelia berhenti berontak dan menoleh ke samping.
"Mas Thomas," lirihnya.
"Iya, Sayang. Ini aku!" Thomas mendekat ke arah Amelia. Para petugas melepaskan cengkeramannya.
"Pergi! Kau bukan Mas Thomas. Kau hanya bayangan! Pergi!"
"Sayang, Ini aku suamimu!"
"Bukan. Kau bukan suamiku. Kau Diego. Kau pasti Diego yang sedang menyamar menjadi Mas Thomas!"
"Amelia, Ini aku. Aku suamimu!"
"Tidak, jangan sentuh aku. Suamiku sudah meninggal. Pergi!" usirnya.
"Amelia!"
__ADS_1
"Jangan sentuh aku! Kau bajingan. Aku jijik melihatmu! Jangan sentuh aku!" isak Amelia kemudian.
"Sayang, ini aku Thomas. Suamimu!" Thomas menggelengkan kepalanya melihat keadaan istrinya yang tidak mengenalnya.
Amelia memegangi kepalanya, dan rubuh. Dengan sigap, Thomas menangkap tubuh sang istri. Amelia menatap bingung ke arah pria yang memeluknya. Seperti nyata dan tidak. Amelia ragu kepadanya.
"Ini aku, Sayang. Thomas. Suamimu!" Mata keduanya bertatapan. Namun mata Amelia kosong tidak fokus.
"Thomas."
"Iya, Ini aku, Sayang. Suamimu!" menyentuh lembut pipi Amelia yang masih bingung.
"Apa ini nyata?"
"Iya, Sayang. Ini aku. Aku Thomas. Suamimu!"
"Tolong jangan pergi! Aku takut. Aku takut sekali!" ujarnya.
"Iya, Sayang. Aku tidak akan pergi. Aku akan terus disini!"
"Tapi, dia akan datang. Dia akan menyentuhku lagi! Aku takut. Aku jijik kepada pria jahat itu!"
"Iya, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji!"
Dokter menyuntikkan obat penenang di tubuh Amelia. Secara perlahan Amelia mulai mengantuk.
Dokter menyuruh Thomas untuk membopong tubuh Amelia ke kasur. Pegangannya sangat erat. Amelia tidak mau suaminya pergi. Sementara itu Suster memasang infus baru di tangan Amelia.
Selama setengah jam, Thomas menemani di dalam. Akhirnya Amelia tertidur karena pengaruh obat bius.
"Sepertinya istri Anda mengalami tekanan mental, Pak! Dia juga mengalami depresi dan stress, membuat dia berpikir hal-hal tertentu saja. Dia merasa sangat ketakutan yang berlebihan. Membuat sedikit kehilangan memorinya!"
"Apakah bisa sembuh, Dok?"
"Kami akan memeriksanya dulu. Kami harus mencari tahu apa penyebabnya. Saya prediksi, karena tekanan selama penculikan, membuat Bu Amelia ketakutan. Dan sepertinya, Bu Amelia sangat membenci pelaku. Sehingga sedari tadi menyebut nama pelaku!" papar Dokter.
"Mungkin saja, Pak. Sepertinya Bu Amelia begitu takut, benci dan jijik kepada si pelaku!" ucap Dokter lagi, "Saya akan melakukan tindakan observasi kepada Bu Amelia. Apakah ada kekerasan seksual yang dialami Bu Amelia atau ada penyebab lain?"
"Baik, Dok. Terimakasih banyak!"
Dokter kembali masuk ke ruangan melakukan tindakan observasi terhadap pasien. Sedangkan Thomas mundur, dan menabrakkan punggungnya ke dinding RS.
"Brengsek, jika hal itu sampai terjadi! Akan aku bunuh Kau, Diego!" Thomas meremasi tangannya sendiri. Rahangnya mengatup, dadanya bergemuruh karena rasa amarah yang meletup-letup.
Dret ... Dret ... Dret
"Hallo, Bang?"
"Bram, Apakah Kau sudah menemukan keberadaan Diego?"
"Belum, Bang. Kami masih mencarinya!"
"Bram, Kerahkan semua orang-orangmu! Masa mencari satu orang saja Kau tidak bisa?" marah Thomas.
"Iya, Bang. Akan saya usahakan!"
***Keesokkan Paginya***
Jari-jari lentik istrinya mengait erat jarinya. Air matanya sudah tidak mampu dia bendung lagi. Membayangkan bagaimana istrinya merasa tertekan, berada dengan laki-laki asing selama berhari-hari hanya untuk melindungi kedua buah hatinya.
"Pak Thomas!" panggil Dokter masuk ke ruang rawat Amelia.
Melihat keadaan pasien yang sudah agak membaik, Dokter menyuruh Thomas untuk memindahkan pasien ke ruang rawat. Thomas memilih ruangan VIP untuk merawat Amelia.
__ADS_1
"Iya, Dok. Ada apa?"
"Jadi begini, Pak. Kami tidak menemukan tanda-tanda adanya kekerasan seksual. Ini murni hanya ketakutan Bu Amelia saja. Tekanan demi tekanan yang dia terima pasca penculikan membuatnya stress dan depresi!"
"Dokter yakin?"
"Saya jamin, Pak!"
"Terimakasih atas penjelasannya, Dok!"
"Sama-sama, Pak! Baik saya permisi dulu!" Thomas menganggukkan kepalanya.
Thomas menggenggam tangan sang istri. Mencium punggung tangan itu, dan tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.
"Maafkan aku, Sayang! Tak seharusnya aku meragukan kesetiaan mu! Aku tahu, Kau pasti akan menjaga kehormatan dan harga dirimu sebagai seorang istri dengan sangat baik!"
Satu jam berlalu, Amelia mengerjapkan matanya. Kali ini tidak sehisteris kemarin. Thomas duduk disampingnya, tersenyum manis. Tidak sedetikpun dia beranjak dari tempatnya duduk.
Amelia menyentuh pipi Thomas. Ingin memastikan apa yang dilihatnya nyata. Thomas membiarkan saja apa yang dilakukan oleh sang istri. Thomas paham, istrinya masih dalam keadaan bingung.
"Mas Thomas!" lirihnya dengan suara yang parau.
"Kau sudah bangun, Sayang! Jangan takut lagi, Aku akan menjagamu. Tidak akan aku biarkan laki-laki itu menyentuhmu!"
"Menyentuh?" Amelia sedikit panik dan gusar. Dia menarik tangannya menyentuh sang suami. Kemudian dia terisak, menjambak rambutnya sendiri. Mengusap-usap bagian tubuhnya.
"Ada apa, Sayang?" heran Thomas.
"Bajingan itu sudah menyentuhku. Dia mencuri ciumanku. Aku kotor. Aku tidak pantas untukmu!" tangisnya kembali histeris.
Thomas merengkuh tubuh itu ke pelukannya. Berusaha untuk menenangkan hati istrinya.
"Bagian mana bajingan itu menyentuhmu?" tanya Thomas lembut.
Amelia nampak ragu untuk menunjukkan bagian mana Diego menyentuhnya. Dia kembali menangis.
Secara tiba-tiba, Thomas mencium bibir istrinya. Membuat Amelia sangat terkejut.
"Apakah bagian ini?"
"Apakah ini juga?" Thomas mengecup leher jenjang sang istri. Semua yang sudah terjamah oleh laki-laki itu, Thomas menciumnya dengan lembut.
"Hiks ... Hiks ... Hiks."
"Sudah jangan menangis! Sekarang Kau sudah aman. Aku berjanji akan menjagamu lebih baik lagi!" Thomas merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya.
"Aku kotor!"
"Tidak ada yang kotor. Bajingan itu yang memiliki otak kotor!"
"Aku berusaha untuk menolak, bahkan Aku sudah menyiapkan pisau itu untuk membunuhnya!"
"Tidak, Sayang. Jangan Kau lakukan! Itu hanya akan mengotori tanganmu saja!" Thomas mencium punggung tangan sang istri.
"Jangan takut lagi! Aku ada disini untukmu!"
"Anak-anak?" tiba-tiba dia teringat akan anak-anaknya.
To be continued ...
__ADS_1
Ayo mana dukungannya?????