Amelia

Amelia
Episode 150


__ADS_3

"Kemana Arum?" tanya Pak Badi, saat baru sampai di rumah sore menjelang petang.


"Saya meminta tolong kepada Arum untuk menelfon keluarga saya, Pak. Tapi sampai sekarang Arum belum pulang?"


"Kemana dia?" Pak Badi nampak mengernyitkan alisnya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Baru dibicarakan Arum sudah kembali. Thomas nampak senang melihat gadis itu pulang.


"Arum, akhirnya kau kembali," senang Thomas.


"Iya, Mas," jawabnya tergagap.


"Bagaimana, Rum. Apakah kau sudah menelpon istri saya?"


"Belum, Kak. Istri kakak tidak mengangkat panggilan!" jawabnya.


"Kenapa?"


"Arum nggak tahu,"


"Apa dia sedang sibuk?" gumam Thomas.


"Sial. Andai saja kakiku sembuh, aku pasti langsung kembali ke rumah. Aku sangat merindukan istri dan anakku!" lirih Thomas merutuki nasibnya.


"Sabar, Nak. Yakinlah pasti kamu sembuh!" tutur Pak Badi.


"Maafkan Arum, Kak. Arum terpaksa berbohong. Arum tidak mau kakak pergi dari sini!" batin Arum.



Amelia bangun lebih pagi. Setelah menyiapkan semua keperluan Sherly untuk sekolah, dia menyuruh putri kecilnya bersiap-siap. Lina membantu Sherly untuk mandi dan berganti baju. Selesai Lina menyiapkan Sherly untuk sekolah, barulah dia mengurus keperluan Aska mandi.



Mereka sudah siap di meja makan. Bram dan Alina baru keluar dari kamar. Alina menyapa kakak iparnya dengan hangat. Begitu juga dengan Amelia, dia juga menyapa pasangan itu dengan hangat juga. Meskipun Amelia memiliki rasa curiga dengan orang-orang disekitarnya, sebisa mungkin dia bersikap biasa.



Amelia menyudahi sarapannya Karena takutnya Sherly terlambat ke Sekolah. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan, barulah mereka semua berangkat. Seperti biasa, sopir mengantarkan Sherly ke Sekolah. Kemudian baru ke butik.



Sebelum ke butik, Amelia memiliki janji ketemu dengan Dicky disebuah cafe. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Dicky. Untuk sementara, hanya Dicky yang bisa dia percaya.



Ternyata Dicky sudah sampai di cafe. Pria itu melambaikan tangannya. Amelia tersenyum manis.



Karena ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Dicky, terpaksa Amelia menyuruh baby sister untuk mengajak putranya berjalan-jalan di taman dekat dengan cafe. Tidak terlalu jauh letaknya.



Raut muka Lina nampak kesal, saat Amelia menyuruhnya pergi ke taman. Tapi Amelia tidak terlalu memperhatikan raut muka baby sister nya.



"Pak Dicky!"


"Amelia,"


"Sudah lama?" tanya Amelia.


"Nggak kok," sahutnya tersenyum, "Oya, ini sudah aku pesankan jus buah buat kamu."


"Wah, terima kasih, Pak!" ujarnya, "Pak Dicky, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan!"


"Ada apa? Kenapa kamu sangat pucat?"

__ADS_1


"Iya, Pak," ujarnya.


"Ada apa?"


"Saai ini, cuma Anda yang saya percayai. Jadi tolonglah saya!"


"Coba Anda ceritakan ada apa?"


"Sebelumnya saya minta maaf. Ini menyangkut Kakak Anda!"


"Kakak saya?" Dicky memicingkan matanya, "Maksud kamu Diego?"


"Iya, Pak," jawab Amelia, "Saya tahu Anda adalah orang baik. Saya yakin Anda dan Kakak Anda berbeda. Jadi, Saya percaya kepada Anda,"


"Iya, Lalu?"


"Anda ingat pertemuan pertama Saya dengan Pak Diego?"


"Iya, Saya masih ingat betul! Waktu itu kalian bertemu di kantor agensi saya."


"Betul, Pak! Setelah pertemuan itu, keesokkan paginya Pak Diego menemui saya. Saya pikir, dia kebetulan lewat butik. Ternyata saya salah. Diam-diam, dia sering memperhatikan saya. Kelamaan dia sudah mulai berani mengatakan perasaannya kepada saya. Padahal jelas-jelas dia tahu kalau saya sudah menikah," jelas Amelia.


"Karena itu, dulu Pak Thomas menghajar saya?"


"Saya minta maaf, Pak, atas kesalahan suami saya dulu. Suami saya pikir, Anda bersekongkol untuk mempermainkan kami,"


"Sungguh saya tidak tahu hal itu, Amelia!" lirih Dicky.


"Iya, saya tahu. Anda orang baik!"


"Lalu, Apa yang ingin kamu ketahui tentang Diego?"


"Ceritanya belum selesai, Pak! Diego datang lagi ke butik. Dia juga mengatakan hal yang sama. Menyatakan perasaannya kepada saya. Saya pun marah, dan menamparnya!" terang Amelia mengambil nafas, "Dia sama sekali tidak jera, bahkan dia berani mengancam saya, Pak!"


"Mengancam kamu?" kaget Dicky, "Dia mengancam apa?"


"Dia akan menghancurkan rumah tangga saya. Dan akan merebut saya dari sisi Mas Thomas!" lirihnya.


"Lalu, setelah kejadian kecelakaan itu. Pak Diego kembali menemui saya," sedih Amelia.


"Apakah dia mengancam kamu lagi?" Amelia menggelengkan kepalanya.


"Awalnya saya pikir kecelakaan tersebut ada hubungannya dengan Pak Diego! Tapi, ada hal yang lebih mencengangkan dari itu!"


"Apa?" Dicky penasaran.


"Pak Diego bilang, ada orang dalam yang menginginkan kematian keluarga Williams!"


"Apa maksudnya?"


"Entahlah, saya tidak tahu, Pak!" sedih Amelia, "Saat ini saya tidak bisa mempercayai orang-orang rumah!"


"Apakah menurut Pak Dicky ini ada hubungannya dengan kakak Anda?"


"Apakah Kakak Anda memiliki dendam dengan keluarga Williams?" lirih Amelia lagi, "Karena sebelum kejadian ini terjadi, keluarga Williams mendapatkan teror dari seseorang yang tidak dikenal!"


"Teror?" Dicky nampak berfikir.


"Kamu tenang saja! Aku akan membantu menyelediki Kakak ku!"


"Maaf, Pak Dicky. Saya sudah merepotkan Anda!"


"Amelia, Jangan berkata seperti itu. Kamu tahu dengan jelas, Aku sangat peduli denganmu. Tapi, kamu jangan salah paham dulu. Aku perduli dengan kamu karena kita adalah teman! Oke!"


"Terimakasih, Pak!"


"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Thomas. Aku suruh mereka menyusuri sungai, hutan, bahkan dasar jurang. Semoga ada hasilnya. Kalau ada hasilnya, aku akan segera menghubungimu!"


"Terimakasih, Pak. Anda sudah seperti Kakak saya sendiri!"


"Kalau kamu memang menganggap Aku sebagai kakak, berhenti memanggilku Pak! Panggil aku kakak!"


"Baiklah, Kak," senang Amelia.

__ADS_1


"Kamu harus berhati-hati! Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kamu langsung hubungi nomor ku!"


"Baiklah, Pak! Eh, maksudnya, Kak!" gelak Amelia.


"Baiklah, Kak. Aku harus ke butik. Aku nggak mau ada orang melihat kita!"


"Baik. Hati-hati dijalan!"



Amelia pun langsung meninggalkan Cafe. Nampak Lina dan putranya sedang asyik bermain di taman dekat dengan


Cafe. Amelia mengajak mereka untuk ikut ke butik.



to be continued ....



Baca juga karya Author yang sudah tamat. Judul: Om I Love You



Blurb :



Zevanya Putri Sabila adalah sosok gadis yang sangat cantik, periang dan juga dikenal tomboi. Dia memiliki kekasih bernama Yuda Nalendra, seorang pemuda tampan, idola di kampusnya. Mereka dipaksa menikah muda karena sebuah kesalahpahaman.



Namun disaat acara pernikahan akan segera berlangsung, Yuda meninggalkan pernikahannya. Terpaksa Omnya yang bernama Alan Putra Xaquille, yang harus menggantikan Yuda, sebagai pengantin prianya.



Bagaimana perjalanan rumah tangga suami istri ini dengan usia yang terpaut jauh? Apakah mereka bisa menjadi pasangan yang harmonis dan bahagia atau justru sebaliknya?? baca dan ikuti ceritanya...



Hey kakak-kakak yang cantik dan ganteng minta dukungannya buat novel aku ini, biar masuk ranking Favorit dan like... Semoga kebaikan kakak semuanya mendapat balasan yang lebih baik...



Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕



Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕



Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕



Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕


Happy reading...🥰💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2