Amelia

Amelia
Episode 26


__ADS_3

Keesokkan paginya


Seperti hari-hari biasanya, Amelia bangun pagi. Dia membersihkan dan merapihkan sedikit rumah yang agak berantakan. Selesai merapikan, ia mandi dan bersiap-siap untuk ke butik. Dengan memakai dress yang agak longgar motif bunga-bunga, namun sangat sepadan dengan tubuh wanita itu. Aura kecantikannya semakin terpancar, ketika kehamilannya sudah memasuki usia lima bulan. Tidak lupa ia harus sarapan terlebih dahulu, bagi Amelia sarapan sangatlah penting, yang merupakan penyemangat dan pengisi tenaga saat kita akan memulai aktivitas. Dia sarapan dengan roti isi dan satu gelas susu hamil, baginya itu sudah lebih dari cukup.


Selesai sarapan ia mencuci bekas gelas yang kotor, dan meletakkannya di rak gelas. Masalah kebersihan dia memang selalu menomer satukan. Amelia bergegas keluar dan mengunci pintu rumah, ia berjalan ke arah jalan raya untuk mencari kendaraan umum. Setiap hari memakai taksi, bagi Amelia adalah pemborosan. Karena biaya taksi lebih mahal daripada kendaraan umum. Sampai di kendaraan umum, ia duduk di kursi paling depan, belakang Pak sopir. Amelia mengeluarkan amplop berwarna putih dari dalam tasnya.


"Aku harus mengundurkan diri dari butik Tante Celine, aku benar-benar sangat malu dan merasa bersalah atas apa yang dilakukan suami dan maduku," batin Amelia.


Tidak terasa kendaraan yang dinaiki Amelia, sudah sampai di jalan raya. Untuk ke butik Tante Celine, ia hanya perlu berjalan kaki sebentar. Dia turun dari kendaraan yang membawanya, langkahnya sangat lemas untuk ke butik. Pasalnya, dia sangat tidak enak hati dengan Tante Celine, bahkan saat akan menyerahkan surat pengunduran diri pun, hatinya menolak keras.


Amelia memasuki butik Tante Celine, di sana dia disambut baik oleh para karyawan yang lain. Dia berjalan masuk ke kantor Tante Celine, ternyata Tante Celine sudah berada di ruangannya.


"Assalamualaikum?" Amelia memberikan salam kepada Tante Celine.


"Walaikumsalam, Mel! Ayo masuk!" perintah Tante Celine kepada Amelia.


"Iya, Tante!" ucap Amelia, mendekat ke arah Celine.


"Tan, Maaf! Apakah Amelia terlambat?" tanya Amelia.


"Tidak! Kamu tidak terlambat, Sayang!" jawab Tante Celine.


"Oh, ya, Tante memang datang lebih awal karena Tante ada keperluan sedikit! Daripada bolak-balik lebih baik Tante langsung datang ke butik saja," jelasnya.


"Mel, duduklah! Kenapa hanya berdiri saja di sana!" ucap Tante Celine.


"Terima kasih, Tan!"


"Oya, Tante! Ada hal penting yang ingin Amelia sampaikan!" ucapnya.

__ADS_1


"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan, Sayang?" tanya Tante Celine. Amelia menyerahkan amplop berwarna putih, ia letakkan di atas meja Tante Celine. Tante Celine melirik ke arah amplop tersebut. Ia mengernyitkan alisnya, pastinya Tante bingung, Amelia bisa melihat dari raut muka Tante Celine.


"Apa ini?" tanya Tante Celine.


"Ini surat pengunduran diri saya, Tan!" ucap Amelia tiba-tiba, membuat Tante Celine terkejut.


"Kenapa harus mengundurkan diri?" tanya Celine.


"Apakah Tante melakukan kesalahan kepadamu?" tanyanya lagi.


"Tidak, Tan! Tante tidak melakukan kesalahan apapun!" jawab Amelia begitu terkejut dengan pertanyaan Tante Celine.


"Amelia merasa tidak enak dengan Tante! Amelia banyak merepotkan Tante," imbuhnya lagi. Tante Celine mengerti, mungkin Amelia tidak enak hati karena kejadian kemarin di rumahnya.


"Sayang, Apakah semua itu karena kejadian di rumahmu yang membuat kamu mengundurkan diri dari butik Tante?" tanya Tante Celine begitu lembut dan menyejukkan hati Amelia. Amelia bisa melihat begitu besar kebaikan wanita separuh baya satu ini.


"Amelia malu sekali! Bahkan untuk menemui Tante saja, Amelia harus memiliki keberanian besar!" ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Tatap Tante!" perintah Celine kepada Amelia, pandangan mereka bertemu, Celine bisa melihat kesedihan mendalam pada diri wanita di depannya.


"Ini semua bukan kesalahan kamu! Berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri! Jika kamu memang sudah tidak dihargai oleh suami kamu! Tinggalkan dia! Kamu masih memiliki bayi yang berada didalam kandunganmu! Jangan pernah merasa sendiri! Ada Tante, Sherly dan anak kamu! Kamu harus kuat, Nak! Jangan mau terus ditindas! Kamu manusia, bukan patung ataupun boneka! Kamu berhak bahagia! Kamu berhak menjalani kehidupan yang lebih baik, jalan kamu masih panjang, Sayang!" ucap Tante Celine panjang lebar. Membuat hati Amelia terenyuh dengan kata-kata seorang wanita yang menjadi bos-nya. Kata-kata yang sederhana namun sangat memiliki makna mendalam dan penyemangat dirinya.


"Kamu tidak perlu keluar dari butik Tante! Kamu harus terus bekerja! Jika bukan untuk diri kamu sendiri, lakukanlah untuk bayi yang ada di kandungan mu! Kamu perlu biaya banyak untuk persalinannya kelak," terang Tante.


"Terima kasih, Tan! Terima kasih banyak atas kebaikan Tante selama ini!"


"Hiks ... hiks .... hiks!" tangis Amelia, Tante Celine memeluk Amelia dengan sayang, mengusap rambut panjangnya dan menyeka air matanya yang mengalir.


"Jangan menangis! Kamu harus menjadi wanita kuat dan bersemangat lah menjalani semuanya! Seperti nama kamu, Amelia! Artinya semangat dan kerja keras! Jadi kamu harus bersemangat, pantang menyerah!" tutur Tante Celine.

__ADS_1


"Iya, Tan! Terima kasih banyak," ucap Amelia.


Amelia pun kembali bekerja seperti biasanya, ia membuang surat pengunduran dirinya ke tempat sampah.


Hari ini Amelia lebih bersemangat kerjanya, ia mengecek pembukuan butik dengan sangat teliti. Amelia yang memiliki otak encer, dengan cepat menguasai ilmu yang diberikan Tante Celine kepadanya. Ia memang hanya lulusan sekolah menengah atas saja, namun dulu di sekolah dia menyandang predikat siswi tercerdas. Dalam waktu satu Minggu belajar, ia sudah sangat lihai menguasai teknik pembukuan. Tante Celine juga mengajari Amelia memasukkan data ke komputer, dalam hitungan menit, ia juga sangat cepat menguasainya. Sedikit-sedikit dia juga pernah belajar komputer di sekolahnya dulu. Selesai membuat pembukuan dan laporan akhir bulan, ia sedikit melemaskan otot-ototnya. Duduk selama berjam-jam, ternyata membuat pinggangnya pegal.


"Kenapa? Capek?" tanya Tante Celine melihat Amelia sedang meregangkan otot-ototnya sambil tersenyum.


"Lumayan, Tan!" jawab Amelia sambil tersenyum.


"Kalau sudah selesai istirahat saja! Ini juga sudah jam makan siang!" cakap Tante Celine.


"Baiklah, Tan! Terima kasih," jawabnya.


"Apakah Tante tidak istirahat untuk makan siang? tanya Amelia.


"Sebentar lagi aku akan pulang menjemput Sherly, biar nanti Tante makan siang di rumah saja," jawab Tante Celine.


"Oh, begitu," jawab Amelia. Setelah berpamitan dengan Tante Celine Amelia keluar, ternyata teman-temannya yang lain juga hendak pergi makan siang. Amelia mengekor di belakang teman-temannya.


"Mel, Ayo kita makan siang dulu!" Ajak Kak Rani, karyawan paling senior di sana.


"Iya, Kak! Yuk, bareng kak?" Mereka semua meninggalkan butik untuk makan siang.


Di butik milik Tante Celine, saatnya jam makan siang karyawan, maka butik akan tutup sebentar, kemudian nanti akan dibuka kembali setelah jam makan siang selesai. Itu juga salah satu peraturan di butik milik Tante Celine.


Mereka semua makan siang di tempat makan seberang jalan. Cuma membutuhkan waktu Lima menit saja untuk berjalan ke tempat makan tersebut. Tempatnya lumayan besar, banyak juga para pengunjungnya. Mereka berlima duduk disudut ruangan itu, mengahadap kaca besar. Hingga dari luar terlihat langsung pemandangan jalan raya. Mereka memesan lima porsi soto Lamongan dan lima gelas es teh manis. Mereka semua makan dengan sangat lahap, menikmati satu mangkok soto dan es teh yang harganya sangat ramah dikantong para karyawan.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2