
Amelia nampak melamun di balkon kamar. Dia bingung, apakah akan bercerita kejadian kemarin kepada sang suami atau menutupinya. Pasalnya, kata-kata Diego adalah sebuah ancaman yang membahayakan rumah tangganya.
"Haaaaaaahhhh," Amelia membuang nafasnya kasar.
Thomas sudah berdiri dibelakangnya. Kemudian tangan kekar Thomas melingkar di pinggang ramping sang istri. Hampir saja Amelia meloncat karena terkejut.
"Ish, Mas mengangetkan saja!" cemberut sang istri.
"Siapa suruh melamun?" gelaknya. Thomas menyadarkan dagunya di bahu sang istri. Suasana seperti ini sudah lama tidak ia rasakan. Mungkin karena kesibukan masing-masing.
"Ada apa sih? Apakah kau masih marah kepadaku?" tanya Thomas penasaran.
"Nggak, Aku sudah nggak marah!" ujarnya.
"Beneran?"
"Iya, Mas. Mana mungkin aku bisa marah dalam waktu yang lama!" ucapnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu, Ayo kita buktikan!" Thomas membopong tubuh ramping itu masuk ke dalam.
"Ish, Apa yang Mas lakukan?" manyun Amelia.
"Mumpung Aska sedang tidur sama Sherlly. Ayo kita bercinta!" ajak suaminya.
"Ck, dasar mesum. Lepaskan aku!" manyun istrinya.
"Lho, nggak masalah kan. Aku kan melakukannya dengan istri sendiri!"
"Ish, alasan!"
Thomas membaringkan tubuh sang istri di tempat tidur. Dia memberikan sentuhan-sentuhan lembut di tubuh istrinya. Membuat Amelia terangsang hebat dan mengikuti permainan sang suami. Thomas mencumbunya dengan lembut dan penuh dengan perasaan. Membuat Amelia terbang melayang.
Sentuhan-sentuhan suaminya membuat dia lupa akan masalahnya. Malam itu, senjata Thomas berdiri dengan gagahnya, membuat wanita berparas cantik itu bergidik ngeri.
"Kenapa? Kau takut?" goda suaminya.
"Perasaan punyamu bertambah besar saja, Mas," kekeh Amelia.
"Tentu, Sayang. Karena kan aku asah setiap hari," gelaknya.
"Kamu pikir pisau, Mas?" cebiknya.
"Tapi, Kau puaskan!"
Suara lenguhan dan ******* menggema di ruangan kamar, saling menyentuh dan saling memuja, di teruskan dengan ciuman-ciuman penuh birahi dari keduanya. Untung saja, di setiap kamar dipasang peredam suara. Hingga suara-suara laknat itu tidak terdengar hingga luar ruangan.
"Ssssssssssshhhhhhhhh,"
"Mppppph."
Mereka melakukan pergumulan panas dengan penuh gairah. Saling menyahut dan menyebut nama. Hingga mencapai titik *******, Thomas membenamkan seluruh senjatanya, di goa istimewa milik sang istri.
"Arrrrrrrrggggghhhhh."
Tubuh Thomas terkulai lemas dan ambruk ke samping, hingga cairan kenikmatan tercecer di sprei. Thomas dan istrinya terengah-engah, setelah melewati pergumulan panas tersebut. Kemudian Thomas mencium puncak kepala sang istri dengan tersenyum.
"Terimakasih, Sayang. Rasanya nikmat sekali!" Thomas merengkuh tubuh istrinya untuk dia jadikan guling. Mereka pun tertidur dalam selimut yang sama, dalam keadaan masih polos.
Keesokkan paginya, Amelia sudah bangun dan membenahi semua kekacauan yang dilakukannya dengan sang suami. Seperti kapal pecah, semua berserakan di lantai. Dia memunguti baju kotornya dan baju kotor suami. Yang kemudian dia taruh di tempat baju kotor.
Dengan bergegas, Amelia membersihkan tubuhnya. Sebelum kedua buah hatinya masuk ke kamar. Dan benar saja, baru keluar dari kamar mandi. Suara ketukan pintu kamar terdengar.
Amelia bergegas membangunkan sang suami. Dia tidak mau anak-anak sampai bertanya-tanya. Daya pikir seorang anak, dengan cepat merekam semua hal-hal apa yang didengar dan dilihatnya.
"Mas, Bangun!" ucap Amelia menggoyangkan tubuh suaminya.
"Hemmmmmm." Thomas justru semakin terlelap.
__ADS_1
"Ih, cepetan bangun!"
Tok ... Tok ... Tok
"Mommy!" panggil Aska.
"Mommy!" panggil Sherly.
"Mas, Bangun! Itu di depan ada anak-anak!" teriak Amelia tepat ditelinga Thomas.
"A-pa?" kaget Thomas.
"Cepetan bangun! Tuh anak-anak di depan kamar kita!"
"Ish, mengganggu saja mereka!" cibirnya.
"Ck, mereka kan juga anakmu! Kau lupa," gerutu istrinya.
"He ... He ... He."
"Iya, Sayang. Aku lupa," gelaknya.
"Cepetan mandi!" suruh Amelia.
"Iya, iya. Aku mandi!" Thomas berlalu ke kamar mandi. Dengan tubuh polosnya dia berlalu ke kamar mandi.
"Astaga, Kamu benar-benar tidak tahu malu!" cebik istrinya.
"Mommmmmmmyyyy!" teriak jagoan kecilnya membangunkan semua orang yang masih terlelap tidur.
"Iya, sebentar!"
"Ish, kenapa harus teriak-teriak sih?" manyun Mommy nya melongok kepalanya di celah pintu.
"Habisnya Mommy lama banget," cibir Sherly, "Mommy dan Daddy habis ngapain sih?"
"Belum," jawab Aska.
"Aska mau inum cucu. Lasa coklat," ujarnya.
"Oh, mau minum susu. Iya udah, Ayo kita ke dapur bikin susu cokelat,"
"Asyik,"
"Mana Daddy?" tanya Sherly mengamati ruangan kamar yang berantakan. Memang tadi malam suaminya bermain kasar diranjang, hingga membuat kamar seperti kapal pecah.
"Ada kok. Daddy lagi mandi,"
"Oh," sahutnya hanya ber'oh ria. Amelia jadi salah tingkah jadinya.
"Ayo, katanya mau bikin susu cokelat!"
"Ayo!"
"Ini buat Aska. Dan ini buat Kakak Sherly," ucap Amelia menyerahkan satu gelas untuk masing-masing anak.
"Wah, pada ngumpul disini nih!" ucap Celine tiba-tiba datang.
"Iya, nih, Ma. Anak-anak minta dibuatkan susu,"
"Hem, enaknya,"
"Thomas sudah bangun?"
"Sudah, Ma. Sedang mandi,"
"Oh. Hari ini Mama ingin mengajak Thomas, menemani Mama ke acara reunian teman-teman kuliah Mama,"
__ADS_1
"Oh, gitu. Iya udah, sama Mas Thomas saja, Ma!"
"Kamu mau ikut? Acaranya di Villa. Mungkin pulangnya agak malam,"
"Nggak usah deh, Ma. Biar Amelia di rumah menjaga anak-anak,"
"Beneran nggak mau ikut? Soalnya rumah sepi lho. Bram dan Alina kan sedang ada di Bandung, mengunjungi kantor cabang di sana!"
"Nggak apa-apa, Ma. Biar Amelia dan anak-anak di rumah,"
"Iya, sudah kalau begitu,"
"Selamat pagi semuanya!" sapa Thomas.
"Pagi, Sayang," sahut Amelia.
"Pagi,"
"Thom, Anterin Mama ke Villa, Yuk!"
"Ngapain, Ma?"
"Ke acara reunian teman-teman kuliah,"
"Malas ah,"
"Ayolah, Thom. Kamu tega membiarkan Mama pergi sendiri?"
"Ajak saja sopir,"
"Tapi, Mama kurang aman gitu, Thom,"
"Anterin saja, Mas. Kasihan Mama,"
"Ehm, gimana ya?" Thomas nampak berfikir.
"Oke deh! Kamu ikut, Sayang?"
"Nggak lah, Mas. Anak-anak kan Sekolah,"
"Iya, sudah deh. Thomas anterin. Tapi ingat ya, ada uang jalannya!"
"Ck, anak kurang ajar. Sama Mamanya sendiri perhitungan! Harusnya tuh kamu yang kasih Mama, bukan minta di Mama," ngedumel Celine. Thomas terkekeh geli.
Setelah mengantar Sherly sekolah, barulah Thomas mengantar istrinya ke butik. Dan kali ini ada yang berbeda. Amelia membawa serta Aska ke butik.
"Sayang, setelah ini langsung pulang! Nanti ada sopir yang menjemput kamu!"
"Okey, Mas. Hati-hati ya!"
Setelah mencium punggung tangan suaminya, dan mobil Thomas tidak terlihat. Barulah Amelia masuk ke dalam butik. Baru masuk saja, para karyawan sudah menyambut kedatangan bos-nya di depan pintu. Belum lagi ditambah dengan kedatangan si kecil Aska. Nampak mereka begitu senang sekaligus gemas dibuatnya. Tingkah laku bocah itu semakin hari semakin menggemaskan.
to be continued ...
Sekian purnama akhirnya bisa update lagi. Karena Author nya nggak semangat.....
Biar semangat, Ayo dukung terus karya ini. Gampang kok caranya...
Tap tanda...👍
Tap...♥️
kasih bunga ...
Kasih Kopi ...
__ADS_1
Tahukan caranya, tuh klik gambar bunga dan kopi.... Terimakasih semuanya...🤭😂