Amelia

Amelia
Episode 58


__ADS_3

"Berjanjilah, Apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan ku dan Sherly! Kami sangat membutuhkan mu," ucapnya. Tentu saja membuat Amelia bertambah heran.


"Tapi, sebentar lagi kita akan menikah," ucap Amelia, namun belum selesai melanjutkan kalimatnya Thomas memotongnya.


"Berjanjilah?" tegasnya, menatap tajam manik Amelia.


"Iya, Amel, berjanji," ujarnya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Thomas mengecup kening Amelia dengan sayang.


"Ayo, sarapan dulu! Bukankah Mas belum sarapan?" tanya Amelia.


"Belum," jawabnya. Meskipun Amelia mengatakan seperti itu, tetap saja hatinya merasa sangat takut. Dia takut rahasia yang sudah lama dia tutupi, akan terbongkar disaat pernikahannya.


Hari demi hari, hubungan mereka semakin romantis. Bahkan didepan semua orang, mereka tidak segan-segan menunjukkan keromantisan mereka. Thomas yang mengetahui dengan jelas bahwa Aska adalah putra kandungnya, dia sangat senang dan bahagia. Hari-harinya, dia habiskan untuk bermain dengan Aska. Bahkan setelah pulang dari kantor, dia akan langsung bermain dengan Aska. Membuat Sherly cemburu dan merajuk.


"Dad, Kok cuma Aska yang diajak bermain? Sherly juga dong, Dad?" pinta Sherly.


"Iya, dong, Sayang," jawab Thomas, melihat Sherlly merajuk sangat lucu. "Ayo, kakak Sherly, kemari dong?" goda Thomas kepada Sherly yang sedang manyun. Melihat Aska yang begitu menggemaskan, Sherly pun mengurungkan niatnya untuk manyun. Dia ikut bergabung dengan Aska dan Daddy-nya. Melihat keakraban mereka, hati Amelia begitu bahagia.


Lima Hari Sebelum Pernikahan


Semua perlengkapan untuk menikah sudah siap, bahkan baju pernikahan pun sudah dikirim oleh Tante Audy lewat kurirnya. Baju itu di pajang di lemari, agar tidak rusak ataupun cacat. Kamar Thomas sedang direnovasi menjadi kamar pengantin yang sangat indah. Mereka berniat untuk mengurungkan acara honeymoon terlebih dahulu, melihat Baby Aska yang belum bisa mereka tinggalkan.


Mereka akan melangsungkan pernikahan di halaman rumah Mama Celine yang sangat luas. Halaman rumah Mama, sudah disulap menjadi tempat acara pernikahan yang terlihat sangat mewah dan modern. Amelia memang menolak menikah di gedung atupun hotel berbintang, dia hanya menginginkan untuk pernikahannya diadakan secara sederhana, yang penting sakral dan sah.


Sedari pagi, rumah ini memang terlihat sangat ramai. Banyak orang yang hilir mudik melakukan pekerjaannya masing-masing. Para pelayan juga nampak sibuk, ikut membantu orang-orang mendekorasi ruang tamu. Pelayan menyajikan makanan dan minuman untuk orang-orang tersebut.


Thomas nampak termenung saja, Mama Celine bisa melihat kegelisahan di mata putranya. Dia mendekati Thomas yang hanya termenung dan melamun.


"Ada apa, Nak?" tanya Mama Celine.


"Mama." Thomas terkejut dengan kedatangan Mamanya.

__ADS_1


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Mama.


"Tidak ada apa-apa, Mah!" jawabnya.


"Jangan berbohong, Mama tahu kau sedang berbohong," ujarnya.


"Memang tidak ada apa-apa, Mah!" jawabnya.


"Jangan berbohong! Mama kenal siapa kamu? Bagaimana kamu? Semuanya Mama sangat tahu," ucap mama. "Jika ada masalah, kamu pasti akan menyendiri. Dan Mama yakin, kamu sedang ada masalah," ucap Mamanya.


"Huft," Thomas menghela nafasnya panjang. Antara ingin bercerita dan meminta pendapat mamanya atau dia akan terus merahasiakan selama-lamanya.


"Ada apa? Cerita lah?" desak Mama.


Thomas pun menceritakan semuanya kepada Mama. Dia menceritakannya dari awal sampai akhir, Membuat Mama sangat terkejut dan syok dengan apa yang dilakukan putranya. Dia tidak menyangka putranya tega melakukan itu dan lari dari tanggung jawab, membuat Mama Celine marah, kecewa dan geram.


PLAKKK ....


"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Mama.


"Apa yang telah kamu lakukan? Siapa yang mengajari kamu melakukan perbuatan terkutuk seperti itu, Hah?" murka Mama. "Gara-gara kau, Amelia harus menderita! Gara-gara kau juga dia harus kehilangan segala-galanya," bentak Mama. "Mama tidak pernah mengajarimu untuk merendahkan wanita, kenapa kau melakukannya?" bentak Mama.


"Maafkan, Thomas, Ma! Thomas tidak sengaja, waktu itu Thomas dalam keadaaan tidak sadar," elaknya.


"Tapi, tetap saja kamu bersalah! Kamu yang sudah merenggut kesucian Amelia," bentak Mama kepada Thomas.


PRANG .....


Nampan minuman yang dibawa Amelia terjatuh hingga pecah dan berantakan. Membuat Thomas dan Mama Celine terkejut dengan suara tersebut dan menoleh ke sumber suara. Mereka bertambah syok, seketika melihat Amelia yang berdiri di sana.


"Amelia?" kaget Thomas.


"Amelia?" kaget Mama Celine.

__ADS_1


Amelia mendekat ke arah mereka. Dia menatap tajam ke arah calon suaminya ingin meminta penjelasan. Namun yang ditatapnya tidak berani untuk menatap, dia hanya menunduk dan merasa takut.


"Katakan apa yang aku dengar adalah bohong!" bentak Amelia kepada Thomas. Mama Celine hanya diam dan mendengarkan Amelia membentak putranya, Amelia ingin meminta penjelasan. "Katakan, Mas?" bentaknya lagi.


Hiks .... Hiks .... Hiks


"Aku mohon, Tolong katakan sejujurnya!" bentak Amelia lagi. Thomas masih terdiam, kemudian Amelia beralih menatap Mama Celine.


"Mah, Tolong katakan sejujurnya! Apakah yang aku dengar tadi benar?" tanyanya kepada Mama Celine. Mama Celine menangis sangat sedih, dia terlalu sedih hingga tidak bisa mengatakan apapun kepada Amelia.


"Mamah, Amelia mohon! Katakan sejujurnya?" mohon Amelia, Mama Celine menganggukkan kepalanya.


"Hiks .... Hiks .... Hiks."


Betapa sedihnya Amelia, dia tidak mengira pelaku pemerkosaan itu adalah calon suaminya sendiri. Takdir telah mempermainkannya. Hatinya sangat hancur berkeping-keping, Amelia langsung pergi meninggalkan calon suaminya dan Mama Celine begitu saja di sana. Dia langsung masuk ke kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.


Hatinya begitu sedih dan terluka. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Amelia menangisi dan meratapi nasibnya. Sekarang dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah akan melanjutkan pernikahannya atau dia akan membatalkan pernikahannya.


Dia mendekati box bayi putranya. Pantas saja, Thomas dan Aska begitu dekat, ternyata mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Tanpa dia sadari, air matanya menetes begitu saja. Amelia terus menangis dan meratapi nasibnya.


Thomas mengetuk-ngetuk pintu kamar Amelia. Dia ingin menjelaskan semuanya. Dia tidak mau kehilangan dirinya, dan Amelia sudah berjanji tidak akan meninggalkannya.


"Tolong, buka pintunya, Mel! Aku akan menjelaskan semuanya!" ucap Thomas mengetuk pintu Amelia dengan keras.


"Kamu harus tahu, aku tidak sengaja melakukannya! Aku memang bersalah, aku minta maaf, Mel," ujarnya. "Kamu boleh menghukum ku, tapi, aku mohon maafkan aku," ucap Thomas. "Tolong, Mel! Maafkan aku," mohon Thomas berkali-kali meminta maaf kepada Amelia. Thomas terisak, dia sangat menyesalinya. Dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya.


to be continued.....


******************************************


Terimakasih atas dukungannya, jangan lupa kasih like, vote dan bunganya, dukungan dari para Readers adalah penyemangat buat Author.


Terima kasih....♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2