
"Jadi Kau yang sudah meneror kami semua,"
"Iya, Sayang," sahutnya sambil tersenyum.
"Kau sudah tidak waras ya?" marah Amelia, "Jadi, selama ini Kau dalang dibalik semua ini!"
"Bukan hanya itu. Aku juga yang sudah menyerempet mobil Thomas hingga masuk ke jurang!" ujarnya tanpa merasa bersalah.
"Tega sekali Kau, Diego!" marah Amelia.
"Lalu, Kenapa kau tega memfitnah Bram?"
"Karena Aku suka mengadu domba kalian," kekehnya.
"Kau memiliki dendam dengan ayah mertuaku. Jadi, tidak ada hubungannya denganku. Tolong lepaskan aku! Pergi dari sini!" suruh Amelia mulai ketakutan.
"Ha ... Ha .. Ha!" tawanya menggelegar.
"Kau takut?"
Jujur Amelia sangat ketakutan. Tapi, sebisa mungkin dia tidak menunjukkan rasa ketakutannya di depan Diego. Dia berusaha untuk bersikap tenang. Karena di dalam juga ada kedua anaknya yang masih kecil.
"Ti-dak. Aku tidak takut kepadamu!" seloroh Amelia.
"Kau memang tidak ada hubungannya dengan semua itu. Tapi sayangnya aku jatuh cinta padamu! Kau menggantikan posisi Monica dihatiku. Dan aku harus mendapatkanmu!"
"A-pa Kau sudah gila! Kau menyukai wanita yang sudah bersuami!" kesal Amelia.
"Amelia! Ternyata kau belum bisa melepaskan kepergian suamimu! Mau sampai kapan hah?" bentak Diego. Membuat Amelia terkejut. Dia takut kedua buah hatinya mendengar.
"Aku mohon, Tolong lepaskan aku! Biarkan aku bahagia dengan kedua anakku! Jangan ganggu kami!" ujar Amelia.
"Sayangnya tidak bisa, Sayang! Aku terlalu tertarik denganmu!" gelak Diego, "Ikutlah denganku! Aku akan membuatmu bahagia! Bahkan melebihi Thomas membahagiakanmu!"
PLAKK ...
"Jaga ucapanmu! Aku wanita baik-baik!" teriak Amelia. Diego mengusap pipinya yang panas akibat tamparan wanita didepannya. Diego mendekat ke arah Amelia. Dia mendorong tubuh Amelia dan menindihnya, membuat wanita tersebut susah untuk bernafas.
"Sudah dua kali Kau menamparku! Tapi, tidak apa. Aku suka!"
"Le-pas-kan aku!"
"Ikutlah denganku! Aku akan membahagiakanmu dengan harta!"
"A-ku ti-dak sudi!" ucap Amelia terbata. Dia membuang mukanya benci menatap wajah pria itu. Melihat wanita cantik dibawahnya tidak berdaya, Diego bangun dari tubuh Amelia. Amelia menangis sejadinya.
"Ha ... Ha ... Ha." tawa Diego menggelegar di ruangan itu.
"Kau sangat lucu! Tapi aku suka!"
__ADS_1
"Aku tahu Kau wanita yang cukup cerdas. Buktinya Kau bisa menghandle dua butik sekaligus," puji Diego, "Aku yakin Kau tidak mau terjadi sesuatu dengan kedua buah hatimu, yang sangat kau cintai itu!" Ucap Diego menunjuk pada dua buah hatinya yang mengintip di balik tembok.
"Ti-dak! Jangan sakiti anakku!" tangis Amelia.
" Mommy," teriak Aska. Namun Sherly memegang tubuh adiknya supaya tidak mendekat.
"Kau mau ikut dan menikah denganku?" Amelia memandang wajah anak-anaknya yang polos sambil menangis.
"Aku saja bisa menyingkirkan ibu mertua dan suamimu. Apalagi hanya dua bocah ingusan itu!"
"Baik. Aku akan ikut denganmu. Tapi, ajak mereka juga. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka sendiri disini!" ucap Amelia memohon kepada Diego.
"Aku mohon!" Amelia mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Baiklah,"
"Aku tunggu Kau diluar. Cepat bersiap-siaplah kemasi semua barang-barangmu!" seru Diego, "Dan ingat! Jangan macam-macam jika memang anakmu ingin selamat!"
"Iya,"
"Ayo, Nak. Kemasi barang-barang kalian!"
Amelia mengajak kedua anaknya untuk mengemasi semua barang-barang. Sambil mencari cara untuk menghubungi Dicky, dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
"Apa yang harus kulakukan? Jika aku menelepon Dicky pasti akan lama. Diego akan marah dan dia bisa menyakiti anak-anak!"
Amelia menulis sesuatu di kertas, dan menyelipkan kertas tersebut di lipatan selimut yang ia letakkan di atas meja. Kemudian dia keluar dari rumahnya dengan menggandeng kedua buah hatinya.
"Ayo masuk mobil!" suruh Diego.
"Iya." Amelia sengaja menjatuhkan kunci rumahnya.
Diego menyuruh anak-anak Amelia untuk duduk di depan di samping Pak Sopir. Sedangkan Amelia dengan dirinya duduk di kursi belakang. Sherly dan Aska menurut, tanpa ada perlawanan.
Ternyata Diego sudah dikawal oleh beberapa bodyguard, yang mengekor tidak jauh dari mobilnya.
Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang perjalanan Amelia hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Dia membuang wajahnya kesal ke luar jendela. Dia benar-benar sangat membenci pria yang duduk disampingnya.
Selama satu jam perjalanan akhirnya mobil mereka sampai disebuah rumah mewah dengan cat berwarna putih. Memiliki gerbang dan pagar keliling yang tinggi. Rumah itu dilengkapi dengan penjagaan yang ketat. Banyak security dan bodyguard yang menjaga rumah tersebut.
Diego menyuruh Amelia turun dari mobil. Dengan mesra dia menggandeng lengan Amelia. Beberapa pelayan sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Mereka semua sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai penghormatan kedatangan sang majikan.
Diego memperkenalkan pelayan-pelayan itu kepada Amelia. Amelia berusaha untuk tersenyum manis, dan bersikap seramah mungkin.
"Dengarkan semua! Wanita yang berdiri di samping adalah calon Nyonya rumah ini. Jadi kalian harus memperlakukannya dengan sangat baik. Jangan sampai lecet sedikitpun. Jika itu terjadi, kalian tahu apa yang akan terjadi pada kalian?"
"Iya, Tuan. Kami mengerti!" jawab Mereka serentak.
"Lina!" panggil Diego.
__ADS_1
"Lina?" kaget Amelia, "Jadi mereka bersekongkol!" batin Amelia. Lina berani menatap Amelia dengan menegakkan kepalanya.
"Lina akan tetap menjadi baby sister anak-anakmu!" ucap Diego.
"Apa yang kau pikirkan benar! Lina bekerja untukku. Dan dia sudah menjadi duri di keluargamu!" gelak Diego.
Amelia hanya menatap pria itu dengan rasa benci yang luar biasa. Dia tidak menyangka, semua sudah direncanakan dengan sangat matang. Bahkan pengasuh anak sekalipun, sudah ditata dengan baik untuk masuk ke keluarga Williams.
"Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya?" batin Amelia.
"Ayo kita masuk!" ajak Diego menggamit pinggang wanita cantik tersebut. Amelia menatap tajam ke arah Diego. Pria itu sudah berani memegang pinggang, tangan, dan besok entah apalagi.
Diego mengantarkan Amelia ke kamarnya. Awalnya, kamar Amelia akan dipisah dengan kamar kedua anaknya. Namun Amelia bersikeras ingin satu kamar dengan kedua buah hatinya.
"Bukankah kita akan menikah! Kalau begitu sementara biarkan aku tidur dengan anak-anakku. Setelah menikah, bukankah waktuku hanya untukmu. Jadi aku mohon!"
"Baiklah. Anak-anakmu boleh tidur dengan mu! Tapi, setelah menikah jangan harap! Kau hanya akan menjadi milikku!" ucap Diego.
"Aku setuju,"
"Mana ponselmu?"
"Untuk apa?"
"Untuk memastikan Kau tidak membuat rencana dengan seseorang! Aku tahu, Kau sangat pintar! Jadi, Maaf. Aku tidak percaya denganmu!" ucap Diego.
"Ini!" Amelia menyerahkan ponselnya.
"Baiklah. Beristirahatlah!" ucap Diego sambil mencolek dagu Amelia. Lagi-lagi Amelia membuang mukanya jijik.
"Mommy,"
"Mommy!" panggil Aska.
"Kenapa orang itu jahat?" tanya Sherly.
"Entahlah. Mommy tidak tahu. Jangan dipikirkan! Sekarang Sherly dan Aska mandi, ganti baju lalu bobo!" suruh Amelia.
"Tapi Aka takut," ucap Aska.
"Jangan takut! Kan ada Mommy! Mommy akan melindungi kalian, walaupun nyawa taruhannya!" isak Amelia sambil memeluk mereka.
"Mommy!"
"Mommy!"
Hiks ... Hiks ... Hiks
to be continued ...
__ADS_1