
Satu Bulan Berlalu
Seperti biasa, Amelia selalu bangun pagi membuat sarapan untuk keluarganya. Sekarang dia lebih rutin membuatkan sarapan, padahal sudah ada juru masak di rumah itu. Tetapi menurut Amelia, memasak sendiri untuk keluarganya adalah sesuatu kebahagiaan yang tidak ada duanya.
Setiap pagi, Amelia akan berkutat dengan peralatan masak dan bahan-bahan makanan. Juru masak hanya membantu sedikit, dan selebihnya Nyonya Thomas yang mengerjakan semua. Masakan sudah terhidang di meja makan. Dan ini adalah waktunya membangunkan sang suami dan gadis cantiknya.
Amelia memasuki kamar, dan melihat orang-orang kesayangan masih bergelung di bawah selimut yang tebal. Semenjak Sherly diperbolehkan tidur di kamar sang Papa, setiap hari dia merajuk minta tidur dengan sang Mommy. Amelia yang memang memiliki sifat yang sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang, dia tidak akan tega membiarkan Sherly merajuk dan merengek.
"Sayang, bangun!" bisik Amelia tepat ditelinga suaminya. "Mas, Ayo bangun!"
"Hoam." Thomas menggeliatkan tubuhnya. Setiap dia bangun, dia akan melihat wajah cantik sang istri. Amelia akan membangunkannya dengan sangat lembut, membuat Thomas enggan untuk mandi dan bersih-bersih.
"Ayo, Mas, Bangun!" perintah Amelia. "Hari ini kamu ke kantor kan?" tanya Amelia.
"Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama denganmu, Sayang! Tapi, apa boleh buat, aku harus bekerja untuk menafkahi anak dan istriku," manyunnya.
"Ish, kok nggak ikhlas?" cibir Amelia.
"Ikhlas dong, Sayang! Buat kamu apa sih yang tidak?" ucapnya manja.
"Sudah sana mandi! Aku akan membangunkan Sherly," ucap Amelia. Saat hendak akan berdiri, pinggang Amelia ditarik oleh sang suami. Membuat Amelia jatuh tepat di pelukan sang suami.
"Aku kangen banget, Sayang!" ucapnya.
"Ck, setiap hari kita ketemu, masa masih kangen juga," ucap Amelia terkekeh.
"Hem, namanya saja pasangan pengantin baru," ujar Thomas.
"Hey, Sayang, sudah satu bulan kita menikah. Mana ada pengantin baru?" gurau Amelia.
"Iya, Tapi, aku selalu merasa kalau kita pengantin baru," kelakar suaminya.
"Ish, Mas ini!" cebik Amelia. "Sudah siang, cepatlah mandi!" suruh Amelia.
"Kiss dulu!" pinta Thomas. Karena memang setiap hari, mereka rutin saling mengecup. Itu sudah menjadi kebiasaan baru bagi mereka.
Setelah membangunkan suaminya, sekarang tinggal membangunkan putri cantiknya. Sherly memang tidak terlahir dari rahimnya, tapi, kasih sayangnya selalu tercurahkan untuk putri kecilnya. Amelia harus bisa membagi kasih sayang dan perhatian untuk ketiga orang terkasihnya.
Selesai memandikan Sherly, Dia juga harus memandikan buah hati yang satunya lagi. Sekarang Aska sudah menginjak usia dua bulan. Aska juga sudah pandai telungkup dan mengangkat kepalanya. Terkadang juga merespon ketika diajak bicara, dan Sherly sangat gemas bermain dengan adiknya. Apalagi kalau Aska sedang berceloteh, membuat Sherly terkekeh geli.
__ADS_1
"Sayang, Ayo sarapan dulu!" ajak Amelia kepada putrinya.
"Yes, Mom." Sherly beranjak dari tempat duduknya menuju meja makan.
Di sana sudah ada Oma dan Om Bram, Sherly menyapa keduanya.
"Selamat pagi, Oma, Om Bram!" sapanya.
"Hey, cantik. Ayo bergabung bersama kami," ajak Om Bram.
Dari arah tangga, pasangan suami istri itu bergandengan tangan, terlihat sangat serasi dan sangat mesra. Dan Baby Aska sedang berada di gendongan sang Mommy.
"Hey, cucu Oma!" Celine berdiri dan mengambil Aska dari gendongan Amelia. "Sudah genteng dan wangi," puji Celine kepada Aska. Aska tersenyum dan berceloteh, seakan-akan dia tahu apa yang orang dewasa katakan. Membuat semuanya terkekeh geli. "Huh, pintarnya cucu Oma."
"Mas, Mau sarapan apa?" tanya Amelia.
"Ehm, nasi goreng saja, Sayang," ucapnya. Dengan telaten Amelia menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya. Barulah dia membuatkan sarapan untuk Sherly. Setiap pagi, Sherly sarapan dengan sereal dan susu. Dengan cekatan, Amelia membuatkan sarapan khusus untuk putrinya. Barulah dia menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri.
"Oya, Sayang, hari ini kau jadi ke butik mama?" tanya suaminya.
"Jadi, Mas," jawabnya disela dia sedang mengunyah makanan.
"Tapi, Mah, Bagaimana dengan Aska?" tanya Thomas. "Dia masih terlalu kecil untuk ditinggal, dia masih membutuhkan ASI, Ma!"
"Kamu tenang saja, Boy. Kan ada Mama dan Baby sister. Yang penting ada stok ASI, Mama yakin kok, Aska tahu kalau Mommynya sedang bekerja mencari uang," jelas Celine.
"Tapi, Ma, Thomas kan juga bekerja? Thomas masih mampu kok memberikan nafkah untuk istri Thomas," seloroh Thomas.
"Mama tahu, Thom. Tapi, kalau bukan Amelia, siapa lagi yang akan meneruskan butik mama?" tanya Celine.
"Mas, aku nggak apa-apa kok. Aku malah senang, dengan begitu aku ada kegiatan, Mas. Kamu tenang saja, Sayang. Aku pasti bisa kok, membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga," terang Amelia.
"Kamu yakin, Sayang?"
"He'em," Amelia mengangguk.
"Baiklah, Kalau begitu, yang penting kamu harus bisa membagi waktu kamu, Sayang," tutur suaminya.
"Oya, semuanya, besok mungkin aku akan kembali ke Jerman," ujar Bram tiba-tiba.
__ADS_1
"Kok mendadak sekali?" tanya Mama Celine.
"Ini nggak mendadak, Ma. Sudah satu bulan, Bram di Indonesia. Bagaimana bisnis Bram di sana?"
"Tapi, Nak, Apakah kamu tidak ingin berumah tangga? usia kamu sudah cukup untuk berumah tangga!" tutur Celine. "Kalau kamu masih tidak mau menikah, Mama akan mencarikan jodoh buat kamu!"
"Jangan, Ma, Bagiamana dengan Alina?" celetuk Amelia tiba-tiba. Membuat Thomas dan Bram membulatkan matanya.
"Maksudnya?" tanya Mama tidak mengerti.
"Itu karena mereka ....!" belum menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Thomas membungkam mulut istrinya.
"Thomas, Kenapa denganmu?" tanya Mama. "Istri lagi ngomong di tutup mulutnya! Kamu mau, mama bungkam mulut kamu dengan sandal!" sewot Mama Celine. Thomas yang mendengar omelan mamanya, hanya terkekeh geli.
"Maaf, Ma. Sepertinya Thomas lupa menyiapkan berkas buat meeting. Dan berkasnya tertinggal di kamar," elak Thomas. "Sayang, bisakah ambilkan berkas ku diatas nakas?"
"Berkas? Memang ada ya?" Amelia nampak berfikir.
"Ada, Sayang, Cepat ambilkan!" pinta Thomas.
"Baiklah, Mas. Aku ambilkan!" Amelia pun bergegas ke kamarnya untuk mengambilkan berkas yang diminta oleh suaminya. Thomas mengekor di belakang istrinya.
"Nggak ada berkas, Mas," ucap Amelia mencari berkas yang dimaksud oleh suaminya. Thomas terkekeh geli melihat tingkah laku istrinya yang kebingungan.
"Sayang, sebaiknya biarkan Bram dan Alina jujur dengan perasaanya masing-masing," tutur Thomas. "Kita tidak perlu ikut campur."
"Begitukah? Tapi, Aku geregetan, Mas!" ujar istrinya. "Mereka tidak saling jujur saja. Kalau sudah kehilangan barulah mereka yang menyesal seumur hidup," kesal Amelia.
"Aku tahu, Sayang. Niat kamu baik! Tapi, mereka bukanlah anak kecil lagi, yang harus dibantu bagaimana cara mengungkapkan semuanya! Mereka harus bisa jujur dengan perasaan mereka," tutur Thomas lagi.
"Baiklah,"
"Iya, sudah. Ayo kita berangkat bersama! Sekalian aku mengantarkan Sherly ke Sekolah,"
"Oke, Sayang." Amelia bergegas mengambil tasnya.
Setelah berpamitan dengan Mama dan buah hatinya, mereka pun berangkat bersama. Thomas yang mengemudikan mobilnya.
to be continued....
__ADS_1