
Aska sudah menginjak usia satu tahun. Pertumbuhannya begitu cepat, belum ada satu tahun saja, dia sudah lincah berjalan. Kini, tanpa bantuan, Aska semakin lancar berjalan.
Thomas berinisiatif untuk memindahkan kamarnya ke lantai satu. Dia sengaja melakukan itu, supaya tidak membahayakan putranya.
Hari ini adalah hari bahagia untuk Sherly. Karena, Sherly akan merayakan pesta ulang tahun di rumah dengan mengundang teman-temannya. Amelia mengatur taman di depan rumah, sedemikian rupa. Menjadi tempat pesta Ulang tahun yang sangat cantik dan indah. Bertema perkebunan, namun, banyak terdapat hiasan mainan dan pernik-pernik untuk anak kecil. Tepat di tengah, sengaja Amelia memberikan sentuhan air mancur buatan yang sangat indah.
Sherly sangat suka dengan boneka Winnie the Pooh, Amelia sengaja memesan kue ulang tahun berbentuk Winnie the Pooh raksasa. Pesanan Kue Ulang tahun sudah datang, Amelia menyuruh orang untuk meletakkannya di meja besar di depan.
"Sayang, Cepatlah mandi dan bersiap-siap! Pakailah baju yang Mommy belikan untuk kamu!" suruh Amelia.
"Okey, Mom," senang Sherly.
Sembari menunggu Sherly mandi, Amelia pun bersiap-siap, memakai baju yang sangat cantik dan indah. Dia juga mendadani putranya, dengan memakai kemeja dan celana panjang, sungguh sangat menggemaskan.
"Sayang, kamu cantik sekali," puji Thomas.
"Jangan merayu," cibir Amelia.
"Mas, Cepatlah bersiap-siap! Sebentar lagi para tamu datang!" suruh Amelia.
"Siyap, Ratuku!" ucap Thomas.
Semua anak-anak yang di undang datang, mereka sangat senang. Karena menghadiri pesta ulang tahun yang sangat indah dan meriah. Mama Celine menyambut tamunya di pintu masuk, dan mempersilahkan untuk duduk. Sebagian besar teman-teman Sherly datang dengan orang tuanya.
Ada dua badut yang menghibur mereka. Sang badut sedang memulai atraksinya di depan anak-anak. Membuat semua anak-anak tertawa terbahak-bahak.
Acara di mulai dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Semua anak-anak begitu bahagia dan antusias. Sampai di acara tiup lilin, mereka berjejer ingin mencicipi kue tart berbentuk Winnie the Pooh raksasa. Amelia membantu Sherly memotong kuenya. Suapan pertama ia berikan kepada Mommynya dan suapan ke tiga dia berikan kepada Daddy-nya. Hingga suapan terakhir dia berikan kepada Omanya. Semua bertepuk tangan bahagia, merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Sherly. Mereka pun mendapatkan giliran menikmati kue tart.
Akhir acara, mereka semua memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Sherly dengan memberikan kado yang dibawanya dari rumah masing-masing. Tentu saja Sherly begitu girang. Tidak lupa juga, Sherly memberikan bingkisan untuk teman-temannya sebagai hadiah untuk di rumah.
Semuanya sudah pulang meninggalkan rumah Sherly, kini giliran Daddy dan Mommy nya memberikan hadiah untuk putri cantiknya. Sebuah sepeda cantik untuk Sherly dengan boneka Winnie the Pooh yang diletakkan di keranjang sepeda.
"Apakah ini untuk Sherlly, Mom?" tanya Sherly tidak percaya dia mendapatkan hadiah yang selama ini dia impikan.
"He'em," jawab Daddy dan Mommy nya.
"Kau suka, Sayang?" tanya Amelia.
__ADS_1
"Yes, Mom, Aku suka banget!" senang Sherly. Thomas dan Amelia tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.
"Wah, selamat ulang tahun, Sayang. Semoga panjang umur, sehat dan tambah pintar," ucap Omanya.
"Terima kasih, Oma," ucap Sherly berhambur kepelukan Omanya.
Seorang wanita berjalan dengan menggunakan gamis dan hijab, terlihat begitu sangat cantik dan anggun. Dia adalah Ratih. Sekian hari dan sekian bulan, akhirnya Ratih kembali ke rumah. Namun dalam kondisi yang berbeda, sekarang dia memakai gamis dan hijab, terlihat sangat cantik sekali.
"Mba Ratih?" panggil salah satu tetangga.
"Eh, Bu Neneng, Apa kabar?" tanya Ratih.
"Kabar saya baik, Mba," jawabnya, "Wah, mba Ratih sekarang berbeda ya? Lebih cantik," puji Bu Neneng.
"Ah, Ibu bisa saja," sahut Ratih.
"Selama ini, Mba Ratih kemana? Kok nggak ada kabarnya?" tanya Bu Neneng.
"Saya belajar agama. Saya ingin memperbaiki diri," ujarnya.
"Sudah dulu ya, Bu Neneng. Saya izin masuk dulu!"
"Silahkan, Mba," jawabnya.
Ratih mengamati rumah yang cukup lama ia tinggalkan. Rumah yang masih sama, namun, sedikit berdebu di bagian-bagian tertentu. Dia mengamati tempat di mana ayahnya terbujur kaku dengan bersimbah darah beberapa bulan yang lalu.
Ratih mendudukkan pantatnya di kursi yang sudah usang dimakan usia. Dia mengamati langit-langit rumahnya, yang terlihat rapuh. Tidak terasa air matanya meleleh begitu saja. Dia mengingat, kala itu, dia di telfon oleh polisi bahwa ibunya kritis dan sedang menuju Rumah Sakit.
Ratih begitu panik, dan langsung menyusul ke Rumah Sakit. Ternyata di sana, dia mendapati ibunya sudah meninggal.
Pihak Rumah Sakit menyatakan bahwa Martha mengidap kanker stadium empat. Itulah yang menjadi penyesalan seumur hidup Ratih, karena dia baru mengetahui bahwa ibunya mengidap penyakit mematikan. Yang selama ini dia sembunyikan dengan epiknya.
Ratih beranjak dari tempat duduknya, dia mengemasi sedikit barang-barangnya. Lalu, langsung mandi dan membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Ratih memakai gamis baru, yang ia ambil dari kopernya. Rencananya dia ingin melihat makam ayah dan ibunya.
Sampai di makam, tidak terasa air matanya mengalir. Sekarang dia sudah tidak memilki apa-apa dan siapapun di dunia ini. Sekilas dia teringat dengan putrinya Keyla.
__ADS_1
to be continued......
Yuk intip-intip cerita Hidden Rich Twins..
Penggelan Cerita :
"Aku sudah menemukan mu! Aku sudah memenuhi janjiku kepada ibu, tapi kenapa justru kau terus menutup matamu? Ayo, bangunlah!" ajak Halwa kepada Salwa. Kondisi Salwa masih tetap sama saja, tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.
"Asisten Adam, Apa yang terjadi kepada Salwa?" tanya Halwa kepada asisitennya.
"Dia koma, Nona! Kata Dokter, dia koma selama enam bulan lebih akibat kecelakaan tragis, Nona!" jawab Asisten Adam.
"Kecelakaan?"
"Iya, Nona! Tapi, yang membuat saya heran, tidak ada satupun dari keluarga Nona Salwa datang untuk menjenguknya," ujar Asisten Adam.
"Apa yang kau ketahui lagi Asisten Adam?" tanya Halwa kepada Asistennya. Adam menunjukkan berkas hasil informasi dari detektif swasta yang dia percaya untuk mencari informasi tersebut. Halwa membacanya dengan seksama, apa yang tidak dimengerti oleh Halwa, Adam mencoba untuk menjelaskannya secara detail.
"Huft," Halwa menghela nafasnya panjang.
"Apakah menurutmu ini kecelakaan yang disengaja, Asisten Adam?" kesal Halwa.
"Saya rasa begitu, Nona!" ucap Adam. "Rasanya begitu aneh, menurut informan saya, Nona Salwa tidak bisa mengendarai mobil! Bagaimana dia bisa berada di mobil dan tiba-tiba saja terjun ke jurang? Rasanya sangat mustahil!" terang Asisten Adam. "Dan yang membuat saya merasa aneh, tidak ada satupun keluarganya yang mencari atau sekedar ingin tahu kabar beritanya! Padahal dia memiliki suami dan juga keluarga suaminya! Lalu, kemana mereka semua?" kira Adam.
"Apakah menurutmu begitu?" tanya Halwa.
"Iya, Nona!" jawabnya.
"Aku ingin mengetahui secara detail keluarga Salwa! Aku akan masuk ke rumahnya sebagai Salwa! Dan aku akan mencari tahu, bagaimana dia mengalami kecelakaan," ujar Salwa penuh penekanan.
"Anda serius, Nona!" ujar Adam.
"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah tega mencelakai saudaraku bisa bebas berkeliaran di sana! Dia harus membayar semua perbuatan yang telah dilakukannya," marah Halwa.
__ADS_1