Amelia

Amelia
Episode 7


__ADS_3

Setelah 6 hari Pernikahan


Kabar kepulangan Arga dan istrinya dari honeymoon sudah sampai ke telinga kedua orang tua Arga. Pasalnya Arga dan istrinya akan honeymoon selama satu Minggu, namun kenyataannya sebelum satu Minggu mereka sudah kembali. Bahkan yang membuat curiga, mereka tidak langsung menemui orang tua mereka.


Dahlia sangat khawatir dengan pernikahan putranya, tidak biasa-biasanya Arga bersikap demikian.


Dahlia yang sedari tadi mondar-mandir di depan Pak Mono ( ayah Arga ), membuat Pak Mono pusing.


"Bu, Ada apa sih? Dari tadi mondar-mandir di depan Ayah!" tanya suaminya.


"Yah, Arga sudah kembali ke rumahnya sendiri, Tapi, sampai sekarang dia belum mengabari kita! mampir kesini saja tidak! ibu cemas! Ibu yakin pasti ada apa-apa dengan pernikahan mereka!" ujar Dahlia panjang lebar.


"Sudah toh, Bu! Jangan suka berfikir negatif, nggak baik!" nasehat suaminya.


"Ih, Ayah, coba Ayah pikir! Mereka pergi honey moon itu, satu Minggu! Kenapa belum satu Minggu sudah kembali, pasti ada masalah?" cemas Dahlia.


"Ya, mungkin saja Arga ada pekerjaan mendadak di kantornya, makanya dia buru-buru pulang!" ucap Pak Mono menjelaskan.


"Gak mungkin, Ayah! Pokoknya ibu mau telfon Arga, supaya dia kesini!" ucap Dahlia, sambil mendial nomer telpon putranya.


Dret...dret ...dret


"Assalamualaikum?" sapa Arga.


"Walaikumsalam, Nak!" jawab Dahlia.


"Bagaimana kabarmu, Nak?"


"Alhamdulillah Arga sehat, Bu! Ada apa, Bu? Arga sedang kerja nih!" ucapnya.


"Arga, pulang kerja mampir ke rumah ibu! Ada hal penting yang ingin ibu tanyakan!" ucap Dahlia.


"Tapi?"


"Gak usah tapi-tapian! Pokoknya pulang kerja mampir ke rumah!" tegas ibunya.


"Wassalamu'alaikum!"


"Walaikumsalam!" jawab Arga.


Huft....


Arga menghela nafasnya panjang, dia yakin hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk dirinya. Pasti akan banyak pertanyaan dari ibunya, namun dia masih mengira-ngira, hal apa yang membuat ibunya sampai harus menyuruh Arga datang ke rumah.


Arga sudah tidak fokus lagi untuk bekerja, dia menghentikan pekerjaannya dan melangkahkan kakinya ke pantry, kebetulan di sana ada Ratih sedang membuat kopi.


"Ratih?" sapanya.

__ADS_1


"Eh, Bapak! Bapak mau membuat kopi juga?"


"Kalau mau, biar saya buatkan!" tawar Ratih.


Ratih salah satu karyawan baru di sini, dia juga masih bekerja di bawah manajemennya.


"Kopi hitam dengan satu sendok teh gula!" ujarnya, memberikan perintah kepada Ratih untuk membuatkan secangkir kopi.


"Baik, Pak!" ucap Ratih, segera membuatkan kopi untuk bos-nya.


Selesai membuat kopi, Ratih langsung mengantarkan kopi tersebut ke ruangan Arga.


Ratih masuk ke ruangan tersebut, dia nampak kagum dengan ruangan bosnya, ruangan yang tidak terlalu besar, namun sangat rapih dan wangi. Ratih sangat suka dengan wanginya.


"Ini kopinya, Pak!" ucap Ratih.


"Taruh saja di meja!" jawab Arga masih sibuk menatap laptopnya, saat Ratih hendak keluar tiba-tiba saja kakinya tersandung kaki meja, membuat tubuhnya oleng dan hampir terjerembab ke lantai, namun tangan Arga dengan sigap menangkapnya, menarik tubuh Ratih kepelukannya, mata mereka bertemu dan saling menatap.


Timbul rasa yang sangat nyaman diantara mereka, degup jantung keduanya berdetak lebih kencang dari biasanya. Seketika Arga menatap ke cincin pernikahan yang melingkar di jarinya, seketika pula ia ingat bahwa dirinya sudah memiliki seorang istri.


"Apakah kau bisa berdiri dengan benar?" ucapnya, membuat Ratih malu.


"Maaf, Pak, kaki saya tersandung!"


"Saya permisi, Pak!" pamit Ratih keluar dari ruangan bosnya, Arga mengangguk.


"Assalamualaikum?" salam Arga.


"Walaikumsalam!" jawab keduanya serempak.


"Ayah, Ibu! Bagaimana kabar kalian?" tanya Arga seraya mencium punggung tangan keduanya bergantian.


"Alhamdulillah kami semuanya sehat!" jawab Ayah.


"Dimana Salwa dan Halwa?" tanya Arga, menanyakan adik kembarnya.


"Mereka ada kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya!" jawab ibu.


"Arga! duduklah!" ajak ibu.


"Ada apa, Bu?" tanya Arga, menjatuhkan pantatnya di sofa yang sangat empuk.


"Kenapa kamu sudah kembali dari bulan madu? Bukankah rencananya satu Minggu!" tanya Dahlia.


"Ehm, Iya, Bu! rencananya memang satu Minggu, tetapi Arga ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan, Bu! terpaksa kami pulang cepat!" jelas Arga.


"Jangan berbohong kepada ibu, Ga! Ibu kenal betul siapa kamu!" hardik ibunya.

__ADS_1


"Tapi memang seperti itu, Bu!" kilah Arga.


"Sudah, Bu! seperti apa yang Bapak bilang! Arga memang ada pekerjaan penting yang tidak bisa di tinggalkan! terpaksa dia harus pulang cepat! jadi tidak usah dipermasalahkan lagi toh, Bu!" jelas Ayahnya.


"Tapi rasanya sangat aneh, kalau alasannya cuma seperti itu!" ujar Dahlia masih belum percaya.


"Gak ada apa-apa, Bu! Ibu tenang saja!" ucap Arga.


"Baiklah kalau begitu, ya, sudah ibu mau masak dulu buat makan malam! Apakah kamu akan makan malam di sini atau pulang ke rumah? kalau mau makan malam di sini lebih baik kamu telfon Amelia, biar di rumah dia tidak usah masak! Kasihan juga kalau sudah capek-capek masak, gak dimakan!" ucap ibunya.


"Iya, Bu, nanti Arga akan kirim pesan kepada Amelia!"


"Arga mau mandi di sini saja, badan Arga gerah banget!" ucapnya sambil berlalu ke kamarnya sendiri.


Kebetulan masih ada baju miliknya di rumah ibu, Arga langsung mandi dan bersih-bersih.


Selesai mandi, Arga keluar kamar. Arga lihat ibunya masih sibuk di dapur, sedangkan ayahnya sedang bersantai di dekat kolam ikan yang letaknya di belakang rumah ini.


Rumah yang ditempati orang tuanya adalah rumah yang dibeli Arga dari hasil kerja kerasnya. Rumahnya tidak mewah semewah rumahnya, namun sangatlah besar dan bergaya klasik.


Ada empat kamar di rumah ini, setiap kamarnya memiliki kamar mandi sendiri, namun di luar kamar juga ada kamar mandi. Dapur dan ruang makan yang lumayan luas, serta ruang keluarga dan ruang tamu.


Dibelakang rumah ini, ada kolam ikan koi yang sangat luas, ikan peliharaan ayahnya diwaktu senggang.


Arga menghampiri ayahnya yang sedang bersantai sambil memberikan makan ikan koi.


"Yah?" panggilnya.


"Iya, Ga! Ada apa?" tanya ayahnya.


"Yah, Arga mau minta pendapat ayah!" ucap Arga secara bisik-bisik.


"Ada apa, Ga?" tanya ayahnya mendengarkan dengan seksama.


Arga pun menceritakan masalah rumah tangganya dari awal sampai akhir, hingga dia tidak jadi honeymoon selama satu Minggu, dia juga menceritakan bahwa dirinya sangat kecewa dengan Amelia dan keluarganya, bahkan sampai sekarang dia belum bisa menerima keadaan Amelia. Dia sangat malas untuk bertemu dengan istrinya.


Ayahnya sempat terkejut, namun dia memandang dari sudut pandang yang berbeda, dengan bijaksana dia memberikan nasehat-nasehat yang baik untuk putranya.


"Ga, Amelia hanyalah korban dari sebuah kebiadaban laki-laki, jika dia bisa menolak takdirnya, pasti dia tidak mau itu terjadi, namun ini sudah menjadi takdirnya! ini adalah masalah kalian di dalam rumah tangga! Bagaimana kamu bisa mengatasinya? Hanya kalian yang tahu! Kamu dan Amelia sudah berpacaran selama 5 tahun! Dia adalah wanita yang sangat hebat! Kau tahu itu, dia selalu ada di sampingmu di saat kamu susah, di saat kamu membutuhkan biaya banyak untuk biaya kuliah mu! Siapa yang memikirkan semuanya?"


"Ingatlah semua jasa-jasanya, Nak!" pesan ayahnya, mengingatkan jasa-jasa Amelia pada karirnya.


"Tapi, Yah! Arga benar-benar kecewa! Arga belum bisa menerima! Dia sudah tidak suci lagi! Dia bekas orang lain! Dia kotor! Arga juga sangat kecewa karena dari awal dia tidak memberitahu Arga!" ujarnya.


"Apa? Tidak suci?" teriak ibu tiba-tiba, membuat kedua pria itu tersentak kaget dengan teriakannya.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2