
Satu Bulan Berlalu
Arga sedang duduk di sebuah Cafe sambil menyeruput kopi. Hari ini dia ada janji bertemu dengan temannya di cafe. Tanpa dia duga, netranya melihat seseorang yang sangat di kenalnya. Dia berjalan dengan menggelayut lengan seorang pria yang sudah berumur.
"Ratih!" ucapnya dalam hati. Kemudian dia bergegas mengikuti jejak istrinya. Terpaksa dia harus membatalkan janji bertemu dengan temannya.
Arga beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti Ratih. Sepertinya mereka habis berbelanja banyak, Arga bisa melihat barang-barang belanjaan yang Ratih bawa.
Hingga di area parkir, mereka masih mengumbarkan kemesraan. Arga sudah tidak tahan lagi melihat adegan tidak bermoral itu. Dia pun berniat melakukan melabrak istri dan selingkuhannya.
Namun saat kaki Arga hendak melangkah mendekati mereka, tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya memukuli tubuh Ratih dengan tasnya. Dia memaki-maki Ratih dengan sumpah serapah yang memekikan telinga. Adegan itu menjadi tontonan banyak orang di tempat parkir.
"Dasar wanita murahan. Apakah tidak ada pria lain, kau rela menyerahkan tubuh mu kepada pria tua ini, hanya demi uang. Dasar wanita menjijikkan. Wanita murahan. Aku tahu, kau adalah selingkuhan suamiku selama ini. Wanita hina. Wanita tidak bermoral. Wanita kotor," ucap wanita itu.
Semuanya menghujat Ratih sebagai wanita murahan. Ratih hanya diam saja, duduk membisu, dia tidak berani menegakkan kepalanya. Mungkin malu, takut dan sedih, entahlah.
Wanita itu menarik tangan suaminya, untuk pergi dari sana. Sedangkan Ratih diam terpaku di tempatnya berdiri. Dia menangis sejadi-jadinya karena telah dipermalukan di depan semua orang di sana. Arga mendekat ke arah istrinya, dia menarik tangan Ratih supaya menjauh dari keramaian.
Arga memaksa Ratih masuk ke dalam mobilnya dengan sangat kasar. Dia sangat kesal dan marah. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ratih, dia terlalu terkejut dengan kedatangan suaminya.
"Kenapa Mas Arga hanya diam saja? Aku yakin, Mas Arga melihat pria yang tadi bersamaku!" batin Ratih.
"Mas? Kok kamu bisa sampai di sana?" tanya Ratih agak ketakutan. Ratih melirik ke arah suaminya, tetap saja dia tidak bergeming. Arga hanya fokus mengemudikan mobilnya.
Sampai di rumah, Arga menarik kasar tangan Ratih. Kemudian menariknya agar masuk ke dalam rumah. Dahlia yang baru saja memandikan Keyla, begitu terkejut.
"Arga, Ada apa?" tanya Dahlia. Namun Arga tidak menjawab pertanyaan dari ibunya.
Arga terus saja menarik tangan Ratih hingga masuk ke kamar, lalu, Arga mengambil koper Ratih untuk mengemasi semua baju-bajunya.
"Mas, kenapa semua bajuku kau masukkan ke koper?" tanya Ratih takut.
__ADS_1
"Kau masih bertanya!" bentak Arga. Arga menatap manik istrinya dengan amarah. Matanya memerah, Ratih tidak berani untuk menatapnya.
Arga dengan jelas mendengar kata-kata wanita paruh baya itu.
'Dasar wanita murahan. Apakah tidak ada pria lain? kau rela menyerahkan tubuh mu kepada pria tua ini, hanya demi uang. Dasar wanita menjijikkan. Wanita murahan. Aku tahu, kau adalah selingkuhan suamiku selama ini. Wanita hina. Wanita tidak bermoral. Wanita kotor."
"Mas?" isak Ratih.
"Aku sudah cukup bersabar denganmu. Selama ini aku selalu mendiamkanmu. Tapi, kau sudah keterlaluan Ratih! Kau rela menjual tubuhmu hanya untuk kesenanganmu semata. Kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku. Aku adalah suamimu, kepala rumah tangga dan imam buatmu. Tapi, kau sudah mencoreng namaku, sudah menginjak-injak harga diriku, kau juga sudah menginjak-injak kehormatanku. Maka dari itu, aku, Arga Mahendra menalakmu. Kau sudah bukan istriku lagi," murka Arga.
"Apa?" Ratih begitu terkejut, "Tidak, aku tidak mau, Mas. Aku masih ingin menjadi istrimu. Aku mohon, jangan talak aku!"
"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Ratih.
"Sekarang kemasi semua barang-barangmu. Angkat kaki kau dari rumah ini!" bentak Arga.
"Tidak, Aku tidak mau!" ucapnya. Ratih berlutut di depan Arga, dia memohon pengampunan atas kesalahannya. Namun, Arga sudah terlalu murka. Dia tidak menghiraukan permohonan maaf istrinya.
"Ada apa, Arga?" tanya Dahlia. Arga menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Ini benar-benar gila," batin Arga. Dia menjambaki rambutnya sendiri, karena frustasi.
"Arga, jawab ibu!" bentak ibunya. Dia bisa melihat putranya begitu hancur. Arga masih terus saja terisak.
"Arga, Ada apa?" tanya ibunya lagi.
"Dulu, aku selalu mengatai Amelia wanita hina, wanita kotor, wanita menjijikkan, wanita murahan. Sekarang aku tahu siapa yang pantas dikatakan seperti itu, Bu," ucapnya sambil terisak," Di belakang ku dia sudah berselingkuh, Bu. Pekerjaan yang selama ini digeluti Ratih adalah perbuatan kotor. Dia sudah menjual tubuhnya kepada laki-laki hidung belang," jawab Arga.
"Astagfirullah, kenapa dia tega melakukan itu kepada kita, Nak? Apa salah kita? Apakah uang yang selama ini kamu berikan tidak cukup?" cecar Dahlia.
"Ratih memang tidak akan pernah puas, Bu!"
__ADS_1
"Hiks .... Hiks .... Hiks."
Dahlia ikut menangis, karena dia juga merasakan sakit seperti apa yang dirasakan oleh putranya.
"Arga telah gagal menjadi seorang suami. Arga juga gagal menjadi seorang imam. Dulu, Amelia yang meminta sendiri berpisah dengan Arga. Sekarang, Arga sendiri yang harus menceraikan Ratih. Apakah ini karma untuk keluarga kita Bu? Dulu kita begitu jahat kepada Amelia. kita selalu menghina, merendahkan dan meremehkannya. Apakah ini hukuman untuk keluarga kita? Hukuman untuk ku juga?" isak Arga.
"Sabar, Nak. Keputusan kamu untuk menceraikan Ratih memang sudah benar. Kamu harus berfikir tenang, jangan gegabah. Kamu juga harus memikirkan Keyla. Dia masih sangat membutuhkan kamu, Nak!" tutur Dahlia.
"Maafkan Arga, Bu. Selama ini Arga selalu menyusahkan ibu!" ucapnya.
"Apa yang kamu katakan, Nak. Ibu tidak pernah merasa kau menyusahkan ibu!" ucap Dahlia.
Ratih berjalan tanpa arah. Satu-satunya yang bisa dimintai tolong adalah ibunya. Dia pun pulang ke rumah orang tuanya. Ibu Ratih sangat terkejut dengan kedatangan putrinya.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibunya khawatir.
"Bu, Mas Arga sudah menceraikan Ratih dan dia mengusir Ratih dari rumah," ucap Ratih kepada ibunya.
"Lho, kenapa? Apa yang terjadi?"
"Sudahlah, Bu. Ibu nggak usah tahu apa alasannya. Yang penting mulai hari ini, Ratih akan tinggal disini," ucapnya.
"Silahkan kamu tinggal di sini, Nak. Rumah ibu selalu terbuka lebar buat kamu. Tapi, jelaskan dulu ada apa?" tanya Ibunya.
"Bukankah sudah Ratih bilang, ibu tidak perlu tahu apa alasannya!" ucap Ratih dengan nada agak meninggi.
"Tapi, Nak?"
"Sudah, Ratih capek. Mau tidur!" jawabnya dengan nada.agak meninggi. Ratih berlalu ke kamarnya.
"Ratih, kenapa sifatmu begitu berubah? Dulu, kau sangat lembut. Tidak pernah sekalipun berbicara dengan nada tinggi dengan ibu. Kenapa sekarang kamu seperti itu, Nak?" batin ibunya.
__ADS_1
to be continued....