
"Apakah kau buta, Anak muda?" ucapnya. "Dia itu wanita murahan, sudah hamil di luar nikah, dan tidak tahu siapa bapaknya, sekarang dia sedang berusaha menggoda mu!" ucapnya, membuat Amelia malu dan meninggalkan toko.
"Tutup mulutmu, jika kau bukan orang tua, pasti sudah aku hajar mulutmu," bentak Thomas.
"Astaga, dia membentakku," ujar Dahlia sambil mengelus dadanya.
"Sayang, Tunggu!" panggil Thomas. Amelia nampak cemberut, kemudian dia membawa calon istrinya ke sebuah cafe.
"Kita makan dulu, barulah kita ke toko itu lagi," ujar Thomas.
"Baiklah," jawab Amelia. Amelia masih terdiam dan hatinya sangat dongkol.
"Ada apa? Apakah ada yang menggangu pikiran mu?" tanya Thomas.
"Apakah Mas tidak ingin bertanya sesuatu?" tanya Amelia heran.
"Aku harus bertanya apa?" tanya Thomas.
"Tentang masa laluku," ucap Amelia.
"Aku tidak perlu bertanya masa lalu mu? Aku hanya ingin melangkah ke depan bersama mu dan anak-anak kita kelak," jawab Thomas singkat namun mengena di hati Amelia.
"Jangan dengarkan apa kata orang! Sekarang kau harus lupakan masa lalumu. Ayo kita melangkah bersama menuju keluarga yang bahagia, dimana di situ ada kamu, aku, Sherly, Aska dan anak-anak kita nantinya," terang Thomas.
"Terima kasih, Mas! Aku sangat beruntung bisa bertemu kamu, aku sangat bahagia karena kamu akan menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihan ku," ucap Amelia. Thomas sangat senang bisa melihat Amelia kembali tersenyum.
Setelah makan siang, mereka kembali ke toko perhiasan itu. Thomas memilih perhiasan yang paling mahal dan paling baru di toko tersebut. Pemilik toko memberikan satu set perhiasan Limited editions, hanya satu-satunya di dunia ini. Harganya sangat mahal bahkan dibilang fantastis. Amelia sudah menolak, tapi, Thomas tidak perduli dengan ocehan calon istrinya.
Tubuhnya terasa lelah dan letih, Thomas dan Amelia memutuskan untuk pulang. Urusan belanja yang lain bisa dilakukan di lain hari. Amelia juga teringat terus dengan baby Aska, takutnya dia rewel dan justru membuat Mama Celine kerepotan. Mobil Thomas berhenti di depan rumah, dia membukakan pintu mobil untuk calon istrinya dengan membungkukkan badannya. Membuat Amelia tertawa geli.
"Cukup, jangan membuatku tertawa terus," kesal Amelia, karena apa yang dilakukan Thomas, selalu membuatnya tersenyum atau tertawa geli.
"Nah, gitu dong, kan cantik kalau tertawa seperti itu," ujarnya.
"Ish, Mas ada-ada saja," cibir Amelia.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan ternyata benar, kalau Aska sedang menangis kencang. Amelia buru-buru menghampiri Aska. Mama Celine merasa kerepotan, ternyata tangisan Aska sangatlah kencang. Membuat semua orang panik.
"Cup ... Cup .... Cup. Kenapa sayang, kok menangis?" tanya Amelia mengambil Aska dari gendongan Mama Celine.
__ADS_1
"Haus, yah?" tanya Amelia.
Thomas menyuruh Amelia untuk menyusui Aska di dalam kamar. Karena nggak mungkin kan, jika menyusui Aska di ruang tamu. Aska langsung tertidur di dekapan Amelia. Ternyata bukan hanya haus, Aska juga kangen sama Mommy nya.
Setelah Aska tertidur, barulah Amelia mandi dan bersih-bersih. Hari juga sudah semakin sore. Badannya juga sangat gerah dan lengket.
Selesai mandi ternyata Thomas ada di kamarnya sedang menidurkan Aska kembali, mungkin Aska terbangun saat dirinya sedang mandi.
"Mas? Apakah Aska terbangun?' tanya Amelia.
"Iya, Sayang. Aska terbangun, sepertinya dia lapar mau minum susu" kata Thomas.
"Padahal tadi sudah minum ASI banyak," sungut Amelia. "Mas, sebaiknya kamu keluar dulu! Amel mau menyusui Aska," ucap Amelia.
"Kenapa memang? Sebentar lagi kamu juga akan menjadi istriku? Jadi, sudah sewajarnya ya, kalau aku melihat semuanya?" tanya Thomas.
"Ish, dasar mesum!" manyun Amelia, membuat Thomas tertawa senang. "Cepatlah keluar sebentar, aku akan menyusui Aska," suruh Amelia.
"Kanapa harus malu?" tanyanya.
"Sudah sana keluar," suruh Amelia lagi.
"Sudah sana!" Amelia hampir tidak percaya, ternyata laki-laki yang sebentar lagi akan menikahinya adalah orang yang sangat mesum.
Satu Minggu sebelum pernikahan
Semua persiapan sudah siap, tempat untuk pernikahan juga sudah siap beserta catering makanannya, kartu undangan pernikahan juga sudah disebar. Alina juga ikut sibuk membagikan undangan kepada teman-teman Mama dan juga keluarga besar Williams. Selesai membagikan kartu undangan, dia memutuskan pulang ke rumah Mama, barangkali saja ada undangan yang belum dibagi.
Alina memarkiran mobilnya di depan rumah. Ada beberapa mobil di depan rumah Mama, entah itu mobil siapa saja. Kakinya melangkah ke dalam rumah, betapa terkejutnya dia saat tamu yang sedang duduk ruang tamu adalah Bram. Namun Bram tidak datang sendiri, dia datang bersama seorang wanita cantik dan rombongan-rombongan yang lain.
"Alina? Sini, Sayang!" panggil Mama Celine kepada putrinya. Alina mendekat ke arah mereka, ingin memastikan siapa wanita yang datang dengan Bram.
"Iya, Mah," jawabnya.
"Kau masih ingat Bram kan?" tanya Mama.
"Ish, Mama, tentu saja aku ingat," cibirnya.
" Dan yang disampingnya adalah calon istrinya," kata Mama. Hati Alina sangat hancur, dia seperti terkena sambaran petir yang sangat dahsyat.
__ADS_1
"Hei, Alina. Namaku Naura, senang bisa berjumpa denganmu," ucap Naura memperkenalkan diri.
"Aku juga," jawabnya. "Maaf, badanku sangat lelah, sebaiknya aku beristirahat dulu," ucapnya kepada semua orang yang ada di sana.
Alina pun buru-buru ke kamarnya sendiri di rumah Mama. Dia menangis sejadi-jadinya, hatinya begitu hancur. Melihat orang yang sangat dicintainya sudah dimiliki oleh orang lain.
Semua keluarga Naura dan Naura sendiri di ungsikan ke Apartemen. Tidak mungkin membiarkan mereka tinggal di rumah. Amelia membawakan makanan untuk Alina, karena seharian Alina tidak keluar kamar.
Tok ... Tok ...Tok
"Al, bukalah pintunya? Aku membawakan mu makanan, seharian ini kau belum makan apa-apa," ucap Amelia.
CEKREEK ...
Alina membuka pintunya, terlihat matanya sangat sembab, tapi Amelia tidak berani untuk bertanya.
"Al, makanlah dulu, kau belum makan apa-apa kan?" tanya Amelia. "Apakah kau ada masalah?" tanya Amelia khawatir dengan keadaan Alina.
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya. "Terima kasih makanannya," ucapnya tidak bersemangat.
"Ada apa yah?" gumam Amelia. Amelia pun bergegas menemui Thomas ingin membicarakan sesuatu. Thomas yang sedang mengobrol dengan Bram, langsung ditariknya begitu saja, agar menjauh dari Bram.
"Ada apa, Sayang?" tanya Thomas heran.
"Mas, Lihatlah Alina! Sepertinya dia habis menangis," ucap Amelia.
"Masa sih?" Thomas mengernyitkan alisnya.
"Ish, kalau kamu tidak percaya, kau lihat saja sendiri," suruh Amelia.
"Aku percaya kok, Sayang! Dia seperti itu karena dia patah hati," ucapnya.
"Patah hati? Maksud Mas, Alina sedang dikhianati oleh seseorang?" tanya Amelia.
"Bukannya dikhianati, tapi, lebih tepatnya ditinggal pergi," jelas Thomas.
"Mas, mengenal orangnya? Kalau Mas mengenalnya katakan kepadanya, jangan tinggalkan Alina begitu saja! Kasihan Alina, Mas!" ucap Amelia.
"Ish, kau tidak mengerti, Sayang! Kisah cinta Alina sangat rumit, aku saja tidak bisa membantunya," ucap Thomas.
__ADS_1
to be continued....