
Sherly dan Aska begitu senang, saat Mommynya mengajak mereka makan siang di Food Court. Dimana tempat tersebut menyediakan tempat bermain anak. Selesai menikmati makan siangnya, Sherly dan Aska berlari ke tempat bermain.
"Selamat siang!" sapa seseorang dari arah belakang Amelia. Amelia memutar tubuhnya, setelah mendengar sapaan tersebut.
"Pak Diego!" kaget Amelia hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun kedua tangan Diego menahan bahu Amelia, supaya dia tetap duduk ditempatnya.
"Jangan berdiri! Kau lihat dua pria yang berdiri di depan tempat bermain anak!" ucapnya. Manik Amelia memutar ke arah tersebut. Dan benar saja, ada dua pria asing memakai jaket hitam sedang mengawasi anak-anak, "Mereka tidak segan-segan untuk menyakiti anak-anak mu!" bisik Diego.
"Marilah kita sedikit berbincang hangat! Atau mungkin Kau ingin membicarakan masalah pernikahan kita?" gelak Diego.
"Kau jangan gila ya! Apa sih mau mu?" ketus Amelia, mendudukkan lagi bokongnya ke kursi. Dengan santai, Diego duduk disebelah Amelia.
"Sepertinya makananmu enak?" Diego memakan makanan sisa Amelia, "Meskipun hanya makanan sisa, tapi, jika sudah menyentuh bibirmu rasanya nikmat sekali!"
"Ck, Aku tidak tahu apa mau mu! Tapi, Apa yang kau lakukan hari ini adalah sebuah kesalahan besar!"
"Ha ... Ha ... Ha!" tawa Diego.
"Bukankah sudah pernah aku katakan. Aku akan merebut mu dari suamimu. Dan, sekarang aku bebas memilikimu. Tanpa ada pengganggu lagi!" ucapnya. Sontak Amelia membulatkan matanya.
"Apakah kau dalang kecelakaan suamiku?" marah Amelia.
"Hey, jangan menuduhku sembarangan! Aku tahu dari Dicky, kalau suamimu kecelakaan. Dan dia jatuh ke jurang! Aku yakin dia pasti sudah mati. Tubuhnya hancur dan dimakan binatang buas!"
"Anda jangan sembarangan bicara. Suamiku masih hidup. Aku yakin!"
"Ha ... Ha ... Ha!"
"Ternyata Kau naif sekali, Nona Cantik! Mana ada orang yang jatuh ke jurang bisa selamat. Paling kalau tubuhnya tidak hancur terkena bebatuan yang tajam, paling juga dimangsa binatang buas!"
"Sudah cukup! Aku nggak mau dengar lagi! Aku yakin, suamiku pasti masih hidup!" kesal Amelia.
"Anak-anak!" panggil Amelia, "Ayo kita pulang!"
"Tunggu!" Diego menahan tangan Amelia, "Hati-hatilah dengan orang terdekatmu. Bisa jadi ini sebuah rencananya untuk menyingkirkan semua keluarga Williams. Apakah kau tahu, banyak sekali orang diluar sana yang memiliki dendam dengan keluarga Williams!" bisik Diego tepat ditelinga Amelia.
"A-pa?" kaget Amelia. Dia mendorong tubuh Diego. Dan segera pergi dari tempat itu. Amelia menggandeng dua buah hatinya untuk keluar dari tempat bermain anak. Ada rasa takut yang luar biasa. Namun sebisa mungkin, dia menyembunyikannya. Supaya anak-anak tidak merasa khawatir.
"Mommy, Ada apa? Kenapa wajah Mommy pucat?" tanya Sherly di dalam mobil.
"Eh, tidak apa-apa, Sayang!" ujarnya sambil memaksa untuk tersenyum.
Tidak terasa Mobil sudah sampai di halaman rumah. Sherly dan Aska keluar dari mobil dengan riang. Mereka berlari, saling mengejar.
"Sayang, hati-hati! Jangan berlari!" seru Amelia.
BUGH ...
BRAKK ...
__ADS_1
"Huuuuuuaaaaaaaa!" tangis Aska yang terjatuh hingga lututnya berdarah.
"Aska!"
"Mommy, Mommy!"
"Cup, cup, Sayang! Kan Mommy sudah bilang, jangan berlari! Tapi, tetap saja Aska nggak mau mendengarkan ucapan Mommy!"
"Akit, Mommy! Ini cemua gala-gala Kak Chelly!" manyun Aska.
"Kan Aska sendiri yang mengejar kakak. Jadi, bukan Kak Sherly yang salah!" cibir Sherly.
"Sudah, kenapa malah bertengkar?"
"Ayo, masuk! Mommy obati!" ajak Amelia.
"Akit, Mommy. Aka au gendong!" rengeknya.
"Baiklah. Mommy gendong!"
"Dasar Aska manja!" cebiknya.
"Bialin!"
"Weeeee!" Aska menjulurkan lidahnya.
"Baik, Mom. Mommy tenang saja. Sherly kan sudah besar! Sherly bisa kok ganti baju sendiri!" ujarnya.
"Dua jempol buat kakak Sherly!" puji Amelia kepada anaknya.
"Wah, Biar saya yang obatin, Mba!" tawar Lina.
"Nggak au. Aka au diobatin Mommy!" rengeknya.
"Biar saya saja, Lin. Kamu bantu Sherly mandi dan menyiapkan baju gantinya. Dan, suruh Sherly tidur siang!"
"Baik, Mba,"
Setelah mengobati kaki putranya, Amelia menemani Aska tidur siang. Setelah kepergian Thomas suaminya, akhir-akhir ini Aska sering sekali merengek dan manja. Entah apa yang sedang dirasakan anak itu. Amelia tidak tahu.
Aska mulai terlelap. Amelia membantu membenarkan posisi tidur putranya supaya lebih nyaman. Setelah memastikan putranya tertidur, barulah dia beranjak dari tempat tidur. Dia menoleh foto suaminya yang terpajang di atas nakas. Tidak terasa air matanya mengalir.
"Mas, Aku rindu kamu! Kamu ada di mana Mas?" isak Amelia, "Aku terlalu rapuh tanpa kamu, Mas!"
Amelia menyeka air matanya yang tidak berhenti mengalir. Dadanya terasa sesak kala mengingat kalau suaminya benar-benar sudah tiada. Dan itu artinya, dia tidak akan pernah bertemu dengan suaminya lagi.
"Tidak. Aku tidak boleh patah semangat! Aku harus yakin bahwa Mas Thomas masih hidup dan dia baik-baik saja! Aku yakin dia baik-baik saja!" monolog Amelia dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Bram duduk di kursi kebesaran Thomas, Perusahaan Williams Group. Semua tugas Thomas, sementara dia yang menggantikan. Bahkan kalau bisa, Dia ingin selamanya menggantikan posisi Thomas di Perusahaan tersebut. Dia tidak mau selalu menjadi bayang-bayang Thomas.
"Papa, Mama. Sekarang Aku sudah berdiri di Perusahaan ini! Merebut semuanya. Merebut apa yang sudah menjadi hak ku. Dan menyingkirkan orang-orang yang sudah membuat kalian pergi dariku!" gumam Bram tersenyum simpul.
"Dengan perlahan aku juga akan membuat istri Thomas terusir dari rumah. Biarlah rumah itu, hanya aku, Alina dan calon anakku saja yang tinggal di sana," gelaknya, "Lalu, bagaimana caranya aku bisa membuat Amelia pergi dari sana?"
"Ehm ... !" Bram memainkan ujung pulpen dan mengetuknya di meja. Dia nampak sedang berpikir.
"Aku tahu, Apa yang harus aku lakukan!" seringainya.
Bram keluar dari kantor tepat pukul empat sore. Sebelum pulang ke rumah, dia sengaja mampir ke toko bunga. Dia membeli satu ikat bunga mawar merah. Rencananya, dia ingin memberikan surprise kepada sang istri. Akhir-akhir ini, Alina terlalu stress memikirkan semuanya. Bram tidak mau itu mempengaruhi tumbuh kembang janin yang ada di perut istrinya.
Satu ikat mawar merah sudah dia beli. Bunganya cantik sekali, dengan tulisan berbentuk hati terselip di tengahnya. Terlihat sangat romantis.
"Perfect!" ucapnya.
"I'M coming, Sayang!" senang Bram.
Mobil Bram sampai di halaman rumah. Alina sudah menyambutnya dengan senyuman yang manis. Bram juga tidak kalah hangat menyambut istrinya yang terlihat lebih segar. Bram mencium puncak kepala sang istri.
"Apa itu?" tanya Alina kepada suaminya. Bram menyembunyikan bunga tersebut dibelakang punggungnya.
"Kejutan," ucap Bram, "Bunga cantik untuk wanita paling cantik!"
"Wah, cantiknya!" senang Alina, "Eh, tapi dalam rangka apa, Abang memberikan Alina bunga?"
"Dalam rangka membuat istri Abang kembali tersenyum,"
"Ish, Alina sudah tersenyum kok!" manyun Alina.
"Kok manyun lagi?" ledek Bram.
"Ck, Abang. Jangan bikin Alina malu deh!" pipi Alina nampak memerah seperti pipi tomat.
"Kalau begitu senyum dong?" goda Bram.
"Iya, nih, Al, tersenyum!" ucap Alina sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Nah, kan cantik," goda Bram lagi.
to be continued ...
__ADS_1