Amelia

Amelia
Episode 18


__ADS_3

Mobil suaminya berbelok ke arah Apartemen, dan memarkirkan mobilnya di sana. Amelia sangat heran, pasalnya itu adalah Apartemen. Dan Apartemen itu di beli dari sebagian tabungannya selama ini. Saat itu Arga sangat ingin memiliki hunian yang dekat dengan kantor, hingga Amelia harus bekerja keras untuk mendapatkan uang tambahan, dengan cara mengambil lemburan setiap hari liburnya.


Setelah membayarkan uang taksinya, Amelia berjalan menuju kamarnya berada.


Amelia menaiki lift, dan lift yang digunakan juga lumayan penuh, hingga dia harus rela berdesak-desakan di lift tersebut.


Ting...


Pintu lift terbuka, Amelia keluar dari dalam lift, menuju kamar Apartemennya. Dia yang sudah sangat hafal kode sandi, untuk masuk ke Apartemennya, dengan sangat cepat ia menekan sandinya. Jantungnya berdetak lebih cepat, antara ingin masuk dan tidak, ia berada ditengahnya. Namun rasa keingintahuannya yang besar, membuat ia membulatkan tekadnya, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Cekreek ...


Amelia memasuki Apartemennya, dia dikejutkan dengan beberapa pakaian wanita dan pria berserakan di ruang tamu. Hatinya berdetak sangat cepat, ingin marah, sedih, kecewa dan terluka, ia mendekati kamar impiannya. Amelia membuka pintu tersebut, dan ia sangat syok dengan pemandangan yang ada didepannya. Suaminya sedang bergumul dengan seorang wanita, ditempat tidur miliknya.


"Mas?" teriaknya, membuat kedua pasangan tersebut sangat kaget. Terutama suaminya, ia tidak menyangka istrinya akan menyusulnya ke Apartemen. Arga lupa, bahwa istri pertamanya juga tahu kode sandi Apartemen ini.


"Amelia," kaget Arga, langsung menutupi tubuhnya yang polos. Begitu juga Ratih, langsung menutup tubuhnya dengan jubah mandinya.


"Teganya kau berbuat seperti itu," bentaknya, Amelia berjalan masuk ke kamar tersebut dan mendekat ke arah Ratih, Amelia yang sangat emosi, secara refleks menjambak rambut Ratih. Membuat Ratih mengaduh kesakitan.


"Auw, sakit," pekiknya.


"Dasar ja****ng, bagaimana kau bisa menggoda laki-laki yang sudah beristri," marah Amelia.


"Amelia berhenti," ucap Arga.


"Sakit," pekiknya lagi.


"Tolong, Mas," mohonnya.


"Berhenti, Mel," bentak suaminya seraya, menarik tangan Amelia agar terlepas dari rambut istri keduanya.


"Kenapa kau membelanya, Mas? Apakah selama ini, kau sudah membohongiku, Mas? Apakah kau mengkhianatiku selama ini? Berapa lama kalian menjalin hubungan? Ayo jawab?"" cecar Amelia dengan banyak pertanyaan.


"Mel, aku akan menjelaskan semuanya!" ucap Arga.


"Aku dan wanita ini sudah menikah, kami sudah sah menjadi pasangan suami istri," ujarnya.


Bagai tersambar petir disiang bolong, Amelia mendengar kelakar suaminya yang sangat memuakkan. Tubuh Amelia terhuyung ke belakang, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.'


"Apa yang kamu katakan, Mas? Kamu bohong kan, Mas? Kamu bercanda kan?"


"Tega sekali kamu, Mas! Selama ini kamu mengkhianati pernikahan kita,"

__ADS_1


"Hiks ... hiks .... hiks." tangis Amelia.


"Apa kesalahanku, Mas? Katakan, Apa kesalahanku?"


"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik buat kamu, kenapa kau tega mengkhianatiku? Bahkan kau bercinta di Apartemen, tempat impian kita sebelum menikah!"


"Apa kesalahanku?"


"Hiks ... hiks .... hiks."


"Maafkan aku, Amelia," ucapnya.


"Dia sedang mengandung anakku, darah dagingku, dan diam-diam aku mencintainya," ujarnya, membuat Amelia membelalakkan matanya.


"Cinta? tega sekali kau mengatakan cinta, setelah apa yang aku lakukan untukmu," ucap Amelia, "Dan anak? Jadi selama ini kau mengkhianatiku? Katakan mas?" bentak Amelia.


"Maafkan aku," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Ck, Kau manusia yang tidak memiliki perasaan! Aku sangat membencimu, Mas." ucapnya sambil berlalu pergi dari kamar itu.


"Amel?" panggil suaminya hendak mengejar, namun Ratih menghalanginya.


"Biarkan saja mas, rambutku sangat sakit! Apakah kamu tidak merasa kasihan kepadaku dan calon anak kita?" tanya Ratih.


Amelia berjalan tanpa arah, dia masih menangis sesenggukan. Hatinya benar-benar sangat terluka. Rasanya begitu menyakitkan baginya, dia berjalan jauh tanpa tujuan, hingga dia berhenti di sebuah taman. Dia duduk sendiri di taman, menangisi nasibnya. Menangisi nasib pernikahannya.


"Ayah, bunda? Bawalah aku bersama kalian!"


"Hiks .... hiks .... hiks."


"Amelia sudah tidak kuat, rasanya sangat sakit, Amelia sangat lelah, Amelia sangat capek," ucapnya sambil menangis sesenggukan.


Lama Amelia menangis, dan duduk sendiri di bangku taman. Hingga tidak ia sadari, ada seorang anak kecil tanpa sengaja menendang bola ke arah Amelia.


"Auw," pekik Amelia, karena bola itu mengenai tangannya.


"Maaf Tante," ucapnya, sangat menggemaskan, suara khas anak kecil yang imut. Sekali melihat manik gadis cilik tersebut, Amelia sudah jatuh hati dengannya.


"Tidak apa-apa," ucapnya sambil tersenyum.


"Tante menangis?" tanya gadis kecil itu, rasa keingintahuannya sangatlah besar. Amelia yang menyadari bahwa dirinya masih berlinang air mata, dia langsung menghapus air matanya.


"Tidak, mata Tante kemasukan debu, jadi perih deh," elaknya.

__ADS_1


"Tante bohong! Tante tidak boleh berbohong!" nasehatnya sangat lucu.


"Emangnya Tante mau masuk ke neraka karena berbohong? kata Bu guru Sherly, kalau orang dewasa suka berbohong, tandanya sedang bersedih!" terangnya, membuat Amelia tersenyum geli.


"Benarkah?" senyum Amelia.


"Apakah Tante dimarahi orang tua Tante? Karena Sherly akan menangis kalau Daddy-nya Sherly marah!" ujarnya lagi.


"Sherly," panggil seseorang kepada gadis kecil itu.


"Oma, Sherly disini," ujarnya, sambil melambaikan tangan.


"Oma cari-cari, ternyata disini! Kan Oma sudah mengatakan Sherly menunggu di mobil saja," ucap wanita paruh baya itu.


"Eh, Siapa ini?" tanyanya melihat wanita cantik yang sedang duduk disamping cucunya.


"Selamat sore, Nyonya, saya Amelia," ucapnya memperkenalkan diri.


"Wah, cantik sekali, saya Celine, Omanya Sherly," jawabnya.


"Tante cantik habis menangis, Oma," ujarnya, membuat Amelia terkesiap, ia baru menyadari bahwa omongan seorang anak kecil itu sangatlah polos, tidak dibuat-buat.


"Ayo, Oma, belikan Tante cantik ini ice Cream, pasti Tante tidak akan bersedih lagi," ucapnya polos, membuat Amelia tertawa dengan tingkah lucunya.


"Tidak, kok, Tante tidak menangis!" ucap Amelia, berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Ayo, Oma, belikan Tante ice Cream." ucap Sherly sambil menarik-narik tangan Omanya.


"Iya, Sayang, sabar dulu! Ayo kita beli ice Cream," ujar Omanya menuruti keinginan cucunya yang ingin membelikan Tante cantik itu ice Cream. Mereka pun membeli tiga ice Cream rasa coklat, vanila, dan strawberry. Dan Sherly memberikan satu untuk Tante cantiknya. Amelia hendak menolak, namun Sherly memohon dengan wajah Popy eyesnya, membuat Amelia menerimanya.


"Enakkan, Tante?" ucap gadis cilik itu menggemaskan.


"Iya, Sayang, terima kasih yah, berkat Sherly, Tante tidak sedih lagi," ucapnya.


"Tuh, kan benar! Kata Daddy, kalau kita bersedih, kita makan ice Cream saja," ujarnya sangat polos, membuat Amelia dan Oma Celine tertawa.


"Terima kasih, Tante! Atas traktiran ice Creamnya, lain kali Amelia yang akan mentraktir Tante dan Sherly, iya kan cantik?" ujarnya.


"Senang bisa bertemu kamu, Sherly juga sangat senang bertemu denganmu!" ucap Oma Celine.


Lumayan lama mereka mengobrol, waktunya juga semakin sore, Amelia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Mereka berpisah ke rumah masing-masing, Oma Celine sudah menawarkan untuk mengantarkannya pulang, namun Amelia menolak karena tidak mau merepotkan.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2