Amelia

Amelia
Episode 71


__ADS_3

Amelia melangkahkan kakinya menuju kamar mertuanya dengan menggendong Aska yang sedari tadi tidak mau tidur.


Tok .... Tok .... Tok


"Mah, Bolehkah Amel masuk!" ucap Amelia meminta izin.


"Masuklah, Sayang. Pintunya tidak dikunci," jawab Celine dari dalam.


"Mah?" kepala Amelia menyembul di celah pintu.


"Kemarilah!" dengan menggendong Aska, Amelia mendekati tempat tidur mertuanya. "Hey, cucu Oma," ucap Celine mengambil Aska dari gendongan Amelia."Uh, tampannya cucu Oma,"


"Ada apa, Sayang? Apakah ada yang ingin kamu bicarakan dengan Mama?" tanya Celine kepada Amelia.


"Ehm, sebenarnya ada sih, Ma. Tapi, ini masalah Alina dan Bram," jawab Amelia. Celine mengernyitkan alisnya.


"Alina dan Bram? Ada apa dengan mereka?" tanya Celine bingung. Amelia pun menceritakan semuanya kepada Mama Celine tanpa terkecuali. Mama Celine yang mendengarkan cerita Amelia hanya manggut-manggut saja.


"Sebenarnya Mama sudah curiga, tapi, Mama hanya ingin mendengar kejujuran langsung dari mulut mereka," terang Mama.


"Iya, Ma," jawab Amelia.


"Iya, sudah, Sayang, terima kasih banyak atas informasinya. Nanti biar Mama yang urus mereka, kamu tenang saja," ucap Mama Celine tersenyum penuh arti.


"Oke, Mam,"


Hari itu juga Mama Celine menyuruh anak-anaknya untuk berkumpul di ruang tamu. Bram yang sedang mempersiapkan barang-barangnya untuk dibawa besok, dia pun meletakkannya sebentar, guna memenuhi panggilan sang Mama. Bram menuruni anak tangga demi anak tangga, di ruang tamu sudah ada Mama, Thomas dan Amelia.


"Duduklah!" suruh Mama. Bram pun ikut bergabung dengan mereka.


"Ada apa, Ma? Tumben Mama mengumpulkan kami?" tanya Thomas. "Apakah Mama akan membagi-bagikan warisan?" tanya Thomas.


"Ck, Kau pikir Mama sudah mati, Thom? Seenaknya saja kamu bicara!" cebik sang Mama. Amelia menyikut perut suaminya.


"Auw, sakit, Sayang," pekik Thomas meringis kesakitan.


"Makanya, Mas diam saja! Dengarkan saja apa yang akan dikatakan Mama," ujar Amelia memberengut kesal.


"He .... He ... He, Iya, Sayang!"

__ADS_1


"Bram, Mama memutuskan akan menjodohkan kamu dengan seorang wanita," ucap Celine dengan tegas, membuat Bram terlonjak kaget. Thomas juga ikut terkejut.


"Kekekenapa, Mah????" heran Bram.


"Yah, Mama pikir usia kamu sudah matang untuk berumah tangga. Lihatlah Abang kamu, bahkan dia sudah menikah sampai dua kali. Kau satupun belum pernah, Bram!" ucap Mama.


"Tapi, Mah, Bram masih ingin melajang. Bram belum siap untuk menikah," jawab Bram.


"Ck, Kamu mau menunggu apa? Golok mu itu sudah karatan, Bram. Terus kamu mau menunggu apa lagi?" cecar Mama.


"Hah, Karatan?"


"Ha .... Ha .... Ha." seketika tawa Thomas menggelegar di ruangan itu. Amelia juga ikut tertawa.


"Mama memang paling bisa," bisik Thomas kepada Amelia.


"Ish, jangan gitu dong, Mas," ucap Amelia.


"Kamu mau menunggu apa lagi, Bram?" tanya Mama. "Menunggu Mama mu mati!" sedih Mama.


"Mah, Kok ngomongnya gitu!" Bram menatap sendu wajah Mamanya. Bram mendekati Celine, dan mengusap tangan wanita separuh baya itu. Wanita yang sudah sangat hebat merawatnya dan memperlakukannya seperti putra kandungnya.


"Apapun yang Mama katakan, pasti Bram akan menurutinya," ujarnya. "Tapi, Ma, besok Bram akan kembali ke Jerman. Bram sudah memesan tiket pesawat ke Jerman,"


"Baiklah, Ma. Bram bersedia menikah dengan wanita pilihan Mama," jawab Bram.


"Benarkah?" senang Celine. "Kamu mau menuruti apa kata Mama?"


"He'em," dijawab anggukan oleh Bram.


"Kamu yakin? Kamu bersedia menikah dengan pilihan Mama?" tanya Celine sekali lagi.


"Mah, jangan paksa Bram untuk menikah dengan pilihan Mama," bela Thomas.


"Ish, diam kamu!" hardik Mama Celine kepada Thomas.


"Mas, sebaiknya kamu diam saja. Mama pasti memilihkan jodoh yang terbaik untuk Bram," bisik Amelia.


"Tapi, Sayang ....!"

__ADS_1


"Sudah diam saja! Jangan berisik!" ucap Amelia memotong pembicaraan suaminya.


"Ish, kamu jahat sekali, Sayang,"


"Kasihan Bram dan Alina, akhirnya mereka tidak bisa bersama. Mama akan menjodohkan Bram dengan wanita pilihan Mama," batin Thomas.


"Baiklah kalau kamu menyetujui perjodohan ini, sebentar lagi wanita yang akan Mama jodohkan denganmu akan datang," ucap Mamanya.


Bram merasa sangat bersalah dengan Alina dan juga perasannya sendiri. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Dia sangat menyayangi wanita yang sudah dia anggap seperti mama kandungnya sendiri. Tentu saja perintahnya merupakan titah baginya.


Beberapa menit kemudian, Alina datang setelah mendapatkan pesan dari sang Mama. Dia terlalu takut kalau Mamanya kenapa-napa. Dengan langkah cepat, ia memasuki rumahnya. Ternyata semua sedang berkumpul di ruang tamu.


"Mama?" panggilnya. "Apa yang terjadi, Ma?"


"Mama nggak kenapa-napa, Sayang. Mama sengaja menyuruhmu datang kesini karena ingin meminta pendapatmu," jawab Mamanya.


"Pendapat?" bingung Alina. "Pendapat apa, Ma?"


"Usia Bram sudah sangat matang untuk berumah tangga. Rencananya, Mama ingin menjodohkannya dengan pilihan Mama," ucap Celine kepada putrinya.


"Apa?" Alina begitu terkejut.


"Bram sudah setuju dengan keputusan Mama, menurut kamu, Bagaimana?" tanya Mama. Alina tidak mampu untuk menjawab pertanyaan mamanya, matanya hanya mengalih ke arah Bram. Bram hanya menunduk, dia tak sanggup harus menatap raut muka wanita yang sangat dicintainya.


"Kok kamu diam saja, Sayang?" tanya Mama lagi. Tidak terasa air matanya menetes begitu saja. Alina langsung menghapus air matanya, takut sang Mama mengetahuinya.


"Alina terserah sama Bang Bram saja, Ma. Toh, yang menjalani dia," lirihnya. Thomas bisa merasakan kesedihan adiknya.


"Baiklah, semuanya setuju kan kalau Mama akan menikahkan Bram dengan wanita pilihan Mama. Kamu setuju kan, Thom?" tanya Mama kepada Thomas selaku anak pertamanya.


"Thomas terserah Bram saja. Kalau Bram setuju, maka Thomas juga sangat setuju," jawab Thomas terasa kelu melihat sang adik menatapnya sedih.


"Baiklah sudah Mama putuskan bahwa Bram akan segera Mama jodohkan dengan wanita pilihan Mama," senang Celine.


"Memang mana wanita yang akan Mama jodohkan dengan Bram? Apakah dia anak dari teman Mama? Atau Mama mencarinya di biro jodoh?" tanya Thomas kepada mamanya.


"Ish, Kau ini! Jangan sembarangan ya! Kau pikir Mama mau menjodohkan Bram dengan wanita yang diambil dari biro jodoh!" cebik sang Mama. "Tentu saja dia wanita yang cantik, berkelas, wanita baik. Dan kau pasti menyukainya Bram," ucap Mama.


"Kapan Bram bisa melihat dia, Mah?" tanya Bram.

__ADS_1


"Tenang saja, Sayang. Wanita itu sudah ada di sini kok," jawab Mamanya. Sontak Bram, Alina dan Thomas menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan perempuan yang dimaksud mama. Tapi, mereka bertiga tidak menemukannya. Jelas mereka sangat bingung dengan ucapan mama Celine. Sedangkan Amelia hanya duduk dengan tenang, karena sebelumnya dia sudah mengetahui rencana Mama Celine. Amelia hanya terkekeh melihat reaksi ketiganya, terutama melihat reaksi Bram dan Alina.


to be continued.....


__ADS_2