Amelia

Amelia
Episode 6


__ADS_3

Sedari siang sampai malam menjelang, mobil Arga hanya berputar-putar saja di pusat kota. Dia terlalu malas untuk bertatap muka dengan istrinya. Mobilnya berhenti di sebuah diskotik, yang letaknya jauh dari keramaian. Arga turun dari mobilnya, melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam. Namun seorang wanita menabrak tubuhnya, hampir saja dia kehilangan keseimbangan.


BRUGH..


"Maaf!" ucap wanita tersebut, sang wanita mengenal pria yang ditabraknya.


"Pak Arga!"


"Kamu! Ratih kan?" Arga mengingat-ingat wanita itu, karena penampilannya hari ini sungguh sangat berbeda, dia terlihat lebih cantik dengan makeup tebal dan bibir warna merah menyala.


"Pak, Tolong saya!" pintanya, dari arah belakang wanita ini ada dua bodyguard yang mengejarnya. Sontak Arga menarik tangan Ratih, agar naik ke mobilnya. Arga menjalankan mesin mobilnya, mobil melesat dengan kecepatan tinggi.


Disepanjang perjalanan, Arga melihat Ratih hanya duduk terdiam. Raut mukanya nampak sedang ketakutan. Arga membelokkan mobilnya, menuju arah pantai.


Mobil berhenti, Arga menatap manik wanita yang ada di depannya.


"Hiks ... hiks ... hiks!" tangisnya.


"Siapa mereka? Bagaimana kamu bisa berada ditempat seperti itu?" cerca Arga.


"Mereka akan menjual saya kepada laki-laki hidung belang, Pak!"


"Hiks .. hiks ... hiks!" tangis Ratih lagi.


"Ayah saya menjual saya ke diskotik itu! sebagai kupu-kupu malam! saya menolak! kemudian saya lari!"


"Hiks .. hiks ... hiks!"


"Saya takut, Pak!" ucap Ratih bersandar di bahu Arga, Arga tidak menolak memberikan bahunya.


"Kenapa ayahmu tega menjual mu?" tanya Arga lagi.


"Ini semua demi uang, Pak! Demi uang ayah akan melakukan apapun!" ujarnya.


"Hiks ... hiks .. hiks!"


"Saya takut, Pak!" ujarnya lagi, lumayan lama mereka bercakap-cakap sambil menikmati makan malam di dekat pantai, Arga memesan dua nasi goreng seafood dan es teh manis.


"Ehm, ikutlah denganku!" ajak Arga.


"Kemana, Pak?" tanya Arga.


"Ikuti saja!" jawabnya, Ratih mengangguk.


Arga membawa Ratih ke sebuah Apartemen dekat kantornya, tidak terlalu besar namun cukup mewah.

__ADS_1


Dulu, Arga menggunakan Apartemen ini sebagai rumah keduanya. Karena selain dekat dengan kantor, Apartemen ini juga sebenarnya hasil jerih payah dirinya dengan Amelia, sedikit demi sedikit mereka mengumpulkan uang untuk membeli Apartemen ini.


"Apartemen siapa ini, Pak?" tanya Ratih.


"Punya saya!" jawab Arga, seraya membuka Apartemen itu.


"Sementara, kamu bisa tinggal di sini dulu!"


"Benarkah, Pak!"


"Saya jadi merepotkan Bapak!" ucap Ratih.


"Ah, tidak!"


"Di lemari itu ada beberapa pakaian wanita!" tunjuk Arga ke sebuah lemari pakaian besar.


Ratih membuka lemari tersebut, benar saja, ada beberapa helai pakaian wanita, hatinya bertanya-tanya, namun dia tidak berani untuk bertanya lebih jauh.


Sebenarnya itu adalah pakaian Amelia, yang sengaja Amelia beli saat mereka mampir ke Apartemen.


"Terima kasih banyak, Pak!"


"Saya tidak tahu bagaimana bisa membalas kebaikan Bapak!" ucap Ratih tulus.


"Jangan panggil saya Bapak!" ujarnya.


"Terserah kamu! Yang penting jangan panggil saya Bapak, karena saya bukan Bapak kamu!" selorohnya.


"Ehm, Bagaimana kalau Abang atau mas!" ucapnya.


"Mas saja, lebih bagus!" saran Arga.


"Baiklah, Mas! Terima kasih banyak atas bantuan Mas!" ucap Ratih.


"Hem, aku pulang dulu!"


"Jika kamu butuh sesuatu, hubungi nomer ini!" ucap Arga, seraya menyerahkan kartu nama dan sejumlah uang.


"Kamu bisa membeli makanan sendiri dengan uang itu!"


"Baik, terima kasih, Mas!" ucap Ratih, Arga meninggalkan Ratih di Apartemennya. Ini sudah terlalu malam, dia lupa kalau meninggalkan istrinya sendiri di rumah tanpa uang dan makanan.


Sebelum pulang Arga belanja kebutuhan pokok, dan makan malam untuk istrinya.


Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Rumah nampak sepi, namun semua lampu rumah sudah menyala. Pertanda bahwa istrinya masih di rumah itu.

__ADS_1


CEKREEK...


Arga membuka pintu, Amelia menyambut kedatangan suaminya dengan hangat. Sebenarnya Arga juga ingin membalas sambutan yang hangat pula, namun rasa egonya terlalu tinggi, hingga menutupi seluruh perasaan dan hatinya.


Arga menaruh semua barang-barang belanjaannya di meja dapur, Amelia langsung menatanya di kulkas.


Arga memberikan bungkusan kresek hitam kepada istrinya, ternyata isinya adalah makanan.


Arga ingin sekali menemani istrinya makan, namun mengingat kejadian itu, tiba-tiba moodnya sangatlah buruk. Dia mengurungkan niatnya untuk menemani Amelia makan.


"Mas sudah makan?"


"Kita makan sama-sama ya, Mas!" ajak Amelia.


"Singkirkan tangan kotor mu!" ucap Arga, sambil menepis kasar tangan Amelia. Arga pun langsung masuk ke kamarnya.


Tentu saja membuat Amelia sangat bersedih, sambil menelan makan malamnya, Amelia berderai air mata. Sebenarnya sudah bukan makan malam lagi, karena ini sudah tengah malam. Selesai makan, Amelia langsung membersihkan meja makan dan masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Keesokan paginya, Amelia bangun pagi-pagi. Membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Kegiatan seperti ini sudah biasa ia lakukan, setelah menjadi seorang istri dia merasa tidak kaget dengan pekerjaan rumah tangga.


Sarapan sudah siap, Amelia membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Saat pacaran Arga sangat menyukai kopi hitam buatan dirinya, dengan satu sendok teh gula, Amelia masih mengingatnya dengan jelas.


Selesai menyiapkan sarapan, Amelia langsung mandi. Dia menggunakan dress selutut, tanpa lengan. Berdandan di depan cermin, memoleskan sedikit bedak dan lipstik, membuat wajahnya semakin cantik.


Dia keluar dari kamar, suaminya sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Sangat tampan dan gagah, menurut Amelia.


"Pagi, Mas?" sapa Amelia.


"Hem!" jawabnya.


"Mas mau sarapan apa?" ucap Amelia hendak menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya.


"Aku makan di kantor saja!" ucapnya, membuat Amelia kembali bersedih. Ternyata usahanya untuk menyenangkan hati suaminya tidak berjalan mulus seperti yang diharapkannya. Bahkan setelah Amelia bersusah payah berdandan agar tampil cantik pun, sama sekali tidak dihiraukan suaminya, apalagi dipandang.


Arga keluar dari rumah, hatinya masih belum bisa memaafkan kesalahan istrinya. Memandang wajah istrinya, dia benar-benar enggan.


Mobil Arga meninggalkan rumah, Amelia hanya bisa memandang kepergian suaminya dari kaca jendela. Untuk sekedar bersalaman saja, Suaminya menepis tangan istrinya dengan kasar. Hatinya benar-benar sangat sakit, dia ingin sekali pergi dari rumah ini, namun setelah berpikir dua kali untuk meninggalkan rumah ini, yang ada dipikirannya hanyalah kondisi bunda.


Bunda pasti akan sangat bersedih, Amelia mengurungkan niatnya.


Dia hanya bisa duduk menyendiri dan meratapi nasibnya, Amelia menangis pilu tanpa ada seseorang yang memberikannya dukungan.


Amelia membungkus semua makanan yang tadi pagi dimasaknya, dia membagi-bagikan nasi bungkus itu kepada anak-anak jalanan dan pengemis. Dia tidak bisa membuang makanan begitu saja, karena menurutnya makanan juga rezeki dari Allah, masih banyak orang yang kelaparan di luar sana, itulah yang selalu ayahnya ajarkan.


Para anak jalanan berterima kasih kepada Amelia, sebagai ucapan terimakasih mereka seorang gadis kecil memberikan satu buah permen lollipop kepadanya.

__ADS_1


Hati Amelia sangat tersentuh dengan pemberian gadis kecil itu, Amelia pun memberikan makanan lebih untuk gadis itu dan keluarganya. Betapa senangnya hati mereka, hingga tanpa Amelia sadari ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatannya di pagi hari seperti ini.


to be continued....


__ADS_2