Amelia

Amelia
Episode 70


__ADS_3

Kepulangan Bram ke Jerman sudah didengar sampai ke telinga Alina. Entah kenapa hatinya begitu sedih mendengar pria yang sangat dicintainya, memilih untuk pergi meninggalkan masalah. Alina menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Semuanya serba membingungkan baginya.


"Apakah dia lebih memilih untuk menghindar?" batin Alina.


Selesai jam praktek, Alina memutuskan untuk langsung pulang ke Apartemen. Tubuhnya sudah terasa lelah dan letih. Dia mengambil tasnya, kemudian keluar dari ruangannya. Dia berpamitan dengan beberapa teman yang seprofesi sebagai Dokter.


Alina melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran, ternyata ada seseorang yang sedang menunggunya. Dia adalah Bram. Bram sengaja menunggu Alina di dekat mobil milik Alina. Bram mendekati Alina yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Tunggu!" ucap Bram mencekal tangan Alina.


"Lepaskan!" Alina menepis kasar tangan Bram. "Aku tidak mau mengenal laki-laki pengecut seperti kamu," ucap Alina menatap manik Bram.


"Maafkan aku, Al," jawabnya. "Aku mempunyai alasan dibalik ini semua," ujarnya.


"Alasan apa?" tanya Alina. "Kau pengecut! Aku akan membuktikan kepadamu, aku bisa hidup tanpa dirimu! Dan akan aku pastikan aku bisa melupakanmu," Alina masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Bram yang masih terpaku di sana. Bram tidak menyangka kalau Alina bisa semarah itu dengan keputusannya untuk kembali ke Jerman.


Alina menangis, hatinya terlalu sakit. Dia merasa pengorbanannya selama ini hanyalah sia-sia, karena laki-laki yang sangat dia cintai tidak mau memperjuangkan cintanya didepan sang Mama.


Bram juga merasa sangat bersalah. Dia sudah membuat wanita yang sangat dicintainya menangis karena sedih dan kecewa. Bram pulang ke rumah dengan perasaan hampa, raut mukanya sangat masam. Thomas yang sedang bermain dengan putranya, melihat keadaan Bram dengan raut muka masam, timbullah banyak pertanyaan diotaknya.


Pandangan suaminya terus menatap ke arah Bram yang baru datang. Amelia yang melihat itu, menyikut perut suaminya.


"Auw, sakit, Sayang!" pekik suaminya.


"Apa yang Mas lihat?" tanya Amelia.


"Tuh," tunjuk Thomas ke arah Bram. Mata Amelia beralih menatap ke arah Bram yang sedang berjalan menunduk lesu. Menaiki tangga demi tangga, sampai batang hidungnya tidak terlihat lagi. Tiba-tiba dengan jahil, tangan Thomas menutup mata Amelia.


"Sudah, jangan dipandang terus! Mas jadi cemburu nih!" ujarnya.


"Ish, Mas ini," Amelia memberengut kesal.


Thomas hanya terkekeh geli. "Mas, Apa yang terjadi dengan Bram? Apakah Bram sakit?"


"Sepertinya tidak, Sayang. Bram pasti sedang bertengkar dengan Alina," jawab Thomas.

__ADS_1


"Kok mas tahu?" tanya Amelia.


"Mas paling hafal dengan mereka berdua," ucap Thomas. "Mas temui Bram dulu ya?"


"He'em," jawabnya.


Thomas melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar Bram. Dan benar saja, Bram sedang ada masalah. Dia sedang merokok di balkon. Jika Bram merokok, itu tandanya dia sedang gelisah dan banyak pikiran.


"Ada apa?" tanya Thomas tiba-tiba mengangetkan Bram yang sedang merokok. Dia segera mematikan rokoknya.


"Abang, mengangetkan saja," sungutnya.


"Kenapa? Kau pikir aku Mamah?" ucap Thomas terkekeh melihat raut muka Bram yang ketakutan.


"Bukan begitu, Bang," elaknya.


"Ada apa? Kau sedang dalam masalah?" tanya Thomas.


"Huft," Bram menghela nafasnya panjang.


"Kenapa harus bingung?" tanya Thomas. "Tiket sudah siap, barang-barangmu juga sudah beres! Lalu apa yang membuatmu bingung?"


"Gue, Gue bingung, Bang! Gue bingung dengan perasaan gue sendiri!" ujarnya.


"Kenapa?" tanya Thomas. "Apa soal Alina?"


"Iya, Bang," jawabnya. "Jujur, gue sangat mencintai Alina. Tapi, gue belum berani mengatakan kepada Mama. Gue takut Mama akan kecewa. Dan Lo tahu sendiri, gue nggak mungkin menyakiti Mama. Karena, gue sangat menghormati beliau." jelasnya panjang lebar. Sekarang Thomas mengerti kenapa Bram memilih untuk menghindari semuanya.


"Abang ngerti! Kenapa kamu nggak coba jujur kepada Mama?" ucap Thomas. "Siapa tahu Mama merestui hubungan kalian?" saran Thomas.


"Gue nggak berani, Bang," jawab Bram.


"Ayolah, Bram. Masa seorang Bram tidak berani mengakui perasaannya?" ucap Thomas. "Apakah kamu mau kehilangan Alina untuk selamanya?"


"Kamu tahu, Alina itu sangat cantik. Dan dia seorang dokter yang kompeten, pastinya banyak laki-laki yang meliriknya. Apa kamu mau dia diambil orang lain?" tanya Thomas.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Bang." jawab Bram.


"Nah, kamu nggak rela kan? Sekarang saatnya kamu jujur dengan perasaan kamu sendiri. Katakan pada Mama, bahwa kamu sangat mencintai Alina, bereskan!" ujar Thomas. "Nih, contoh Abang mu ini! Dengan gagah berani Abang mu ini menyatakan cinta, padahal sudah jelas Abang mu ini bersalah, tapi, takdir berkehendak lain! Amelia sampai bucin banget sama Abang, kamu tahu kenapa?"


"Memang kenapa?" tanya Bram.


"Tentu saja dia akan rugi besar jika meninggalkan Abang mu ini. Abang mu ini sudah tampan, baik dan kaya lagi, Siapa sih yang nggak tergila-gila dengan Abang?" sombongnya.


"Alah, begitu saja bangga!" cibir Bram.


"Oh, jadi karena itu," ucap seseorang tiba-tiba. Ternyata Amelia sudah berdiri dibelakang suaminya dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Thomas begitu terkejut melihat kedatangan istrinya.


"Sayang," ucap Thomas. Amelia meletakkan nampan itu, dan menatap tajam ke arah suaminya.


"Nanti malam, Mas harus libur!" ucap Amelia tegas. "Nggak dapet jatah!" Kemudian Amelia berlalu pergi dari kamar Bram. Thomas terpaku mendengar kata-kata istrinya. Sedangkan Bram tertawa terbahak-bahak.


"Ha .... Ha .... Ha." tawa Bram menggelar, membuat Thomas memberengut kesal.


"Sialan, Kamu! Kenapa tidak bilang kalau ada Amelia?" sungut Thomas.


Thomas memberengut kesal kepada Bram. Dengan teganya dia justru tertawa terbahak-bahak, seakan-akan itu adalah hal yang sangat lucu. kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. Ia menyusul istrinya ke kamar.


"Sayang?" panggilnya. Amelia membuang mukanya ke arah lain. "Sayang, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Sebenarnya aku mengatakan itu untuk memotivasi Bram supaya dia bisa jujur dengan perasaannya sendiri," jelas Thomas kepada Amelia.


"Jadi, berapa wanita yang tergila-gila sama mas?" tanya Amelia menatap sinis ke arah suaminya.


"Nggak ada, Sayang. Beneran, mas nggak bohong!" ucapnya. Amelia semakin menatapnya tajam. "Ada beberapa, tapi, Mas nggak pernah menanggapinya. Karena Mas hanya cinta sama kamu, Sayang!"


"Bukankah Mas sendiri yang memohon kepada Amelia, biar ngga membatalkan acara pernikahan? Dan mas juga memohon-mohon supaya Amelia nggak meninggalkan mas? Kenapa seolah-olah Amelia yang mengejar-ngejar mas!" cecar istrinya.


"Iya, sayang, Mas minta maaf. Mas yang mengejar-ngejar kamu. Mas juga yang memohon sama kamu supaya tidak pergi meninggalkan mas. Dan mas juga yang memohon supaya kamu nggak membatalkan pernikahan. Mas minta maaf, Honey," ujarnya. "Maaf, Sayang. Tolong jangan marah lagi ya, Sayang!"


"Ck, dasar tidak tahu malu," gumamnya, membuat Thomas terkekeh.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2