Amelia

Amelia
Episode 9


__ADS_3

Keesokkan Paginya


Setelah menyelesaikan meetingnya, Arga beristirahat sebentar. Rapat dengan atasan, menguras banyak energi. Membuat Arga kelelahan dan kecapean.


Tok .... tok .... tok


"Permisi?" sapanya, ternyata yang masuk adalah Ratih.


"Ratih! Ada apa?" tanya Arga.


"Ini, Pak! Saya membuat lemon tea untuk Bapak! Ini sangat bermanfaat untuk seseorang yang sedikit mengalami stress dan lelah!" ujarnya.


"Lemon tea!" ucap Arga, namun sepertinya, minuman yang dibawa Ratih sangat menggoda.


Arga pun meminumnya, ternyata segar juga, dia menghabiskan satu gelas lemon tea buatan Ratih.


"Terima kasih, Ratih!"


"Sama-sama, Pak!"


"Hanya inilah yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Bapak!" ucapnya lagi.


"Oke!" Arga tersenyum manis, membuat hati Ratih benar-benar bahagia.


Dret .... dret .... dret


Sebuah panggilan masuk ke ponselnya, setelah dilihat ternyata ayahnya yang menelfon.


"Sebentar, Ratih! Aku ada panggilan!" ucapnya, di jawab anggukan oleh Ratih, sembari Arga menjawab panggilan, Ratih duduk di sofa, menunggu Arga menyelesaikan panggilannya.


"Hallo, Yah! Ada apa?" tanya Arga.


"Arga! Ibumu pergi ke rumahmu untuk menemui Amelia! Ibumu nekad untuk melabrak Amelia!" kata Ayahnya.


"Apa? baik, Yah! Aku akan pulang sekarang!" ucap Arga kaget, karena Arga benar-benar tidak percaya kalau ibunya akan mencampuri rumah tangganya.


Arga meninggalkan Ratih begitu saja, tanpa berpamitan. Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah.


Dalam waktu sekitar 35 menit Arga sampai di rumah, ada keributan di rumah. Suaranya pun sampai terdengar hingga luar, ibunya sudah masuk di dalam rumah sedang memaki-maki Amelia.


"Dasar kau tidak tahu diri! Sejak awal aku tidak setuju kau menikah dengan putraku! Putraku sangat bodoh! Dia mau saja menikahimu! Wanita yang sudah tidak perawan lagi! Wanita tidak suci! Wanita murahan!" ejek Dahlia sambil menjambak rambut menantunya.


"Sakit, Bu!" pekik Amelia.


"Hiks...hiks....hiks!"


"Kau harus meninggalkan putraku! Wanita pembawa sial! Tinggalkan putraku!" bentak Dahlia.


"Lepaskan! Sakit!" pikik Amelia lagi, karena jambakan ibu mertuanya semakin keras.

__ADS_1


"Berani-beraninya kau menipu keluargaku! Wanita seperti dirimu harusnya mati saja! Wanita menjijikkan!" teriak Dahlia, membuat tetangga yang mendengar, jiwa keponya bangkit.


Arga yang baru sampai di halaman rumah, menyuruh orang-orang yang berkerumun di depan rumahnya untuk bubar.


Arga langsung masuk ke dalam rumah, dan melihat keadaan Amelia sudah menyedihkan.


Baju dan rambut Amelia berantakan, lalu Dahlia keluar dari kamar mandi dengan menyiramkan air cucian ke tubuh Amelia. Arga yang melihat itu, menghentikan ulah ibunya, namun air sudah diguyurkan ke tubuh Amelia, membuat tubuh Amelia basah kuyup.


"Hiks ... hiks .... hiks!" tangis Amelia.


"Ibu hentikan! Apa yang telah ibu lakukan?" tanya Arga.


"Tentu saja membuat wanita ini sadar, bahwa dia tidak pantas untuk putraku yang seorang manajer Perusahaan terkenal!"


"Sekarang lihatlah dirinya sama seperti air cucian, sama-sama kotornya!" hina Dahlia.


"Ibu!" pekik Arga tertahan.


"Kenapa? Kau tidak suka? Ingat Arga, aku melakukan semua ini, karena aku tidak terima, kalau dia sudah menipu keluarga kita, menipumu juga dengan wajah cantiknya!" sinis Dahlia.


"Hiks .... hiks .... hiks!"


"Kenapa kau hanya diam saja, Mas?" tanya Amelia tiba-tiba.


"Padahal aku adalah istrimu, yang seharusnya kau lindungi dan kau bela!" ujarnya.


"Kau dengar itu, Arga!" sinis Dahlia.


"Wanita ini sudah berani meminta haknya, meminta dilindungi dan dibela oleh mu!" ucap Dahlia.


PLAKKK ...


Dahlia menampar pipi Amelia, hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar, dan Amelia pun tidak sadarkan diri.


"Amelia!"


"Amelia!" panggil suaminya, namun Amelia tidak bangun juga.


"Biarkan saja dia, pasti itu hanya sebuah tipuan semata! Agar kau bersimpati kepadanya, sudah sebaiknya kau ceraikan saja dia!" perintah Dahlia.


"Amelia benar-benar pingsan, Ibu! Aku harus membawanya ke Rumah Sakit!" ucap Arga, seraya membawa tubuh Amelia masuk ke mobilnya. Ternyata Dahlia memiliki kekhawatiran juga, takut kalau Amelia kehilangan nyawa gara-gara dirinya, dia pun mengekor di belakang Arga ikut ke Rumah Sakit.


Amelia masuk ke UGD, mendapatkan pertolongan pertama. Sebelum diperiksa, baju Amelia sudah diganti dengan baju RS oleh suster. Amelia sedang diperiksa oleh Dokter. Sekitar 30 menit, Dokter keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arga.


"Saya sudah mengobati luka luarnya! Saya harap Anda bisa menjaga istri Anda dengan baik, karena saat ini, istri Anda sedang mengandung!" ucap Dokter.


"Baiklah, Saya permisi!" pamit Dokter, diangguki oleh Arga.

__ADS_1


JEDERR....


Seperti disambar petir di siang bolong, Arga harus menerima kenyataan pahit lagi. Dahlia naik pitam, setelah mendengar menantunya hamil, padahal usia pernikahan putranya belum satu Minggu.


"Astaga! Anak siapa yang dia kandung?"


"Hah, rasanya aku ingin sekali mencabik-cabik wajahnya!" marah Dahlia.


"Sekarang, telfon kedua orang tuanya! Ayo cepat telfon!" perintah Dahlia kepada Arga.


Arga menuruti perintah ibunya, dia menelfon orang tua Amelia. Hati Arga benar-benar geram, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Rasa cintanya kepada Amelia, berubah menjadi kebencian.


Tidak berselang lama kedua orang tua Amelia datang ke Rumah Sakit, Amelia masih dalam keadaan pingsan. Namun Amelia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Di ruang rawat sudah ada besannya dan suami Amelia, Bunda sangat bahagia melihat ibu Dahlia begitu perhatian kepada putrinya, buktinya dengan setia ibu Dahlia menunggu putrinya yang terbaring di Rumah Sakit.


Bunda hendak memeluk besannya, namun Dahlia menolaknya dengan kasar.


"Jauhkan tangan kotor mu!" bentak Dahlia kepada Bunda, sontak ayah sangat terkejut dengan perlakuan kasar besannya.


"Kenapa Anda harus berbicara kasar kepada istri saya?" tanya ayah.


"Jangan berpura-pura sok alim, saya sudah tahu semuanya! Saya benar-benar tidak habis pikir, satu keluarga bisa kompak berbohong!" sindir Dahlia, membuat Rahman mengerutkan keningnya.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, kalian sengaja kan? Memberikan barang yang sudah rusak kepada kami!" marah Dahlia kepada keluarga Amelia.


"Apa maksudmu?" tanya Ayah, namun bunda sudah terlihat pucat, karena dia yakin rahasianya sudah terkuak.


"Apakah perlu aku umumkan? Bahwa putrimu sudah tidak perawan lagi!" ucapan pedas Dahlia membuat kaget Rahman.


"Kau sengaja, menyerahkan putrimu yang sudah bobrok itu!" sinis Dahlia, Rahman hanya diam, karena dia merasa bersalah.


Amelia mengerjapkan matanya, suasana di dalam kamarnya memanas, dia melihat sudah ada bunda dan ayah di kamarnya, dia juga melihat ada suami dan ibu mertuanya.


"Bunda?" panggilnya.


"Amelia!" ucap bunda sembari memeluk Amelia.


"Oh, tuan putri sudah bangun, baguslah, sekalian saja semuanya diperjelas!" ucap Dahlia.


"Tadi, Dokter bilang, bahwa Amelia sedang mengandung! Itu anak siapa?" tanya Dahlia menatap tajam ke arah besannya.


"Apa? Hamil?" Amelia tidak percaya, padahal hanya sekali ba*******ngan itu menyentuhnya.


"Itu tidak mungkin!"


"Hiks .... hiks .... hiks!" tangis Amelia.


"Bagaimana nasib pernikahanku? Mengetahui aku tidak suci saja, suamiku begitu jijik melihatku! Apalagi setelah mengetahui aku hamil anak orang lain?" batin Amelia, dunianya serasa hancur.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2