
"Ada apa, Sayang?" tanya Thomas heran.
"Mas, Lihatlah Alina! Sepertinya dia habis menangis," ucap Amelia.
"Masa sih?" Thomas mengernyitkan alisnya.
"Ish, kalau kamu tidak percaya, kau lihat saja sendiri," suruh Amelia.
"Aku percaya kok, Sayang! Dia seperti itu karena dia patah hati," ucapnya.
"Patah hati? Maksud Mas, Alina sedang dikhianati oleh seseorang?" tanya Amelia.
"Bukannya dikhianati, tapi, lebih tepatnya ditinggal pergi," jelas Thomas.
"Mas, mengenal orangnya? Kalau Mas mengenalnya katakan kepadanya, jangan tinggalkan Alina begitu saja! Kasihan Alina, Mas!" ucap Amelia.
"Ish, kau tidak mengerti, Sayang! Kisah cinta Alina sangat rumit, aku saja tidak bisa membantunya," ucap Thomas.
"Kenapa tidak bisa membantunya? Serumit apa sih?" tanya Amelia penasaran.
"Huft," Thomas menghela nafasnya panjang.
"Sejujurnya, Alina menyukai Bram sejak dulu," terang Thomas.
"Aaaaapa?" Amelia membulatkan matanya. "Apa maksud kamu, Mas? Mereka kan kakak beradik, bagaimana bisa Alina menyukai Bram yang jelas-jelas adalah kakaknya sendiri?" heran Amelia.
"Bram bukan saudara kandung kami," lirih Thomas.
"Benarkah?" Amelia masih bingung.
"Dia anaknya sahabat Mama, dan mereka sudah meninggal semua, tapi, Mama menganggap Bram seperti anak kandung Mama sendiri," jelas Thomas. "Itulah yang membuat cinta mereka begitu rumit, mereka tidak berani jujur kepada Mama, sehingga mereka menahan perasaannya masing-masing. Untuk melupakan perasaannya kepada Alina, Bram sengaja membayar wanita itu untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Karena yang aku tahu, jika Mama bertemu dengan Bram, Mama akan terus memaksa Bram untuk cepat-cepat menikah," jelas Thomas panjang lebar.
"Astaga, ternyata benar-benar rumit," cakap Amelia.
"Sudahlah, jangan kau pikirkan masalah Alina dan Bram, Nanti kepalamu pusing," ujar Thomas.
Setelah menidurkan Aska dan Sherly, Amelia pergi ke dapur untuk mengambil minum, saat hendak kembali ke kamarnya, Amelia melihat Alina sedang melamun di dekat kolam renang, dia pun mendekati Alina.
"Hey, Al," sapa Amelia.
"Eh, Mel, Kau belum tidur, ini sudah malam," ucap Alina.
__ADS_1
"Aku belum mengantuk," jawabnya.
"Apakah anak-anak sudah tidur?" tanya Alina.
"Sudah, Aska sudah tidur di box bayi, sedangkan Sherly tidur di tempat tidurku," jawab Amelia. "Kau sedari tadi melamun, Apakah ada masalah?" tanya Amelia kepada Alina. "Aku tahu, mungkin aku terlalu lancang mengurusi urusan pribadimu, mungkin, jika kita berbagi sedikit saja dengan orang lain, beban masalah kita sedikit berkurang," tuturnya.
Alina menatap manik Amelia, mungkin benar juga apa yang dikatakan Amelia. Jika kita sedikit berbagi beban kita, maka beban kita akan sedikit berkurang. Alina pun menceritakan kisah cintanya kepada Amelia, calon kakak iparnya.
Alina bercerita bahwa dia menyukai Bram sejak masih remaja. Mereka juga sama-sama belajar di sekolah yang sama, bagi Alina Bram bukan hanya sebagai kakak yang baik, tapi dia juga seperti sosok pahlawan baginya. Semakin lama perasaannya tidak bisa di bendung lagi, dia pun menyatakan cintanya kepada Bram. Bukan penolakan yang dia dapatkan, ternyata Bram juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Akhirnya mereka menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi.
Mereka harus berpisah karena Alina harus kuliah di universitas kedokteran di Singapura, namun mereka masih menjalani hubungan jarak jauh. Sesuatu hal yang membuat mereka harus berpisah, karena saat itu Bram akan di jodohkan dengan anak teman Mama. Membuat Alina sangat bersedih berkepanjangan. Bram pun tidak tega, akhirnya Bram memutuskan untuk mengikuti jejak Thomas di Jerman. Amelia turut bersedih mendengarkan kisah cinta Alina.
"Kamu yang sabar ya, Al!" Amelia mencoba menguatkan hati Alina. "Jika memang berjodoh pasti kalian akan bersama," ucap Amelia.
"Kau benar, Mel! Jika berjodoh, pasti kami bisa bersama," ucap Alina memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
"Ehm," dijawab anggukan oleh Amelia.
"Terima kasih, Mel,"
"Sama-sama,"
Mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing. Amelia hendak pergi ke kamarnya, namun tangannya ditahan oleh seseorang.
"Mas, Kau mengagetkanku saja," ucap Amelia. Thomas tersenyum senang karena bisa mengagetkan calon istrinya. Thomas memeluk Amelia dari belakang.
"Aku kangen," ujarnya.
"Astaga, Mas, setiap hari kita selalu bertemu kau bilang kangen? Bagaimana kalau satu bulan tidak bertemu?" tanya Amelia.
"Jangan dong, Sayang, nanti aku bisa gila," ujarnya.
"Ck,"
"Aku mau tidur!" ucap Amelia.
"Tunggu!" seru Thomas, menahan tubuh Amelia dari pelukannya.
"Mau apalagi, Mas?" tanya Amelia. Thomas menatap Amelia dengan intens, dan mencium bibir merah delima itu dengan rakus. Semakin Thomas memperdalam ciuman, semakin Amelia menikmatinya. Tanpa mereka sadari ada seseorang, yang melihat adegan panas mereka.
"Ehm ... Ehm .... Ehm." suara seseorang berdehem. Mereka menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah Bram. Amelia langsung mendorong tubuh Thomas, yang terlalu merapat kepadanya.
__ADS_1
"Astaga, ini sudah larut malam! Tidak bisakah kalian menahan diri selama satu Minggu lagi," goda Bram. Amelia sangat malu, dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya lagi. Dia pun memilih untuk masuk ke kamarnya.
"Sialan, Kau," kesal Thomas.
"Ha ... Ha .... Ha." tawa Thomas menggelegar.
"Kenapa kau pulang selarut ini?" tanya Thomas.
"Aku dari Apartemen," jawabnya. "Mengantarkan keluarga Naura ke Apartemen dan mereka mengajak ku mengobrol sampai malam,"
"Bang, Aku tidur di tempatmu ya?" pintanya.
"Kau kan bisa ke kamar mu sendiri," sungutnya.
"Ah, dasar pelit," cibirnya. "Ingat, Bang! Sebelum ada ikatan, kau tidak boleh main sosor saja," goda Bram sambil berlalu meninggalkan Thomas di sana.
"Ah, sialan kau," kesal Thomas. Tapi, memang yang dikatakan Bram ada benarnya. Tapi, bibir Amelia terlalu manis buatnya, sehingga bibir Amelia sudah menjadi candu baginya.
Keesokkan paginya
Amelia disibukkan dengan kegiatan barunya sebagai seorang Mommy dari dua orang anak. Sherly yang sedang manja ingin selalu diperhatikan, dan Aska yang sedang buang air besar dan Amelia harus menggantikan popoknya. Melihat Amelia kerepotan di pagi hari, Thomas pun menawarkan bantuan kepada Amelia.
"Sayang, kau butuh sesuatu?" tanya Thomas.
"Tolong ambilkan popok dan celana Aska, Mas!" pinta Amelia.
"Dimana?" tanya Thomas.
"Di lemari tengah," jawab Amelia.
Thomas pun membuka lemari tersebut mencari popok Aska. Saat hendak menarik celana paling bawah, di lipatan terakhir ada sebuah benda yang terjatuh. Thomas mengambil benda tersebut, ternyata itu adalah sebuah anting. Thomas memperhatikan anting tersebut dengan seksama. Seketika hatinya begitu gelisah, pikirannya tidak sinkron. Ada sesuatu rahasia besar yang selama ini dia pendam sendiri tanpa ada seorangpun tahu termasuk keluarganya.
to be continued.....
Hei, para readers sebelum baca, yuk kasih like, favorit dan votenya,, bunga juga boleh banget....
Memberikan dukungan yang besar kepada Author, agar lebih bersemangat lagi untuk berkarya....
Terima kasih banyak atas dukungannya kepada Readers yang masih setia mengikuti karya saya ...
Terima kasih banyak.....
__ADS_1
I Love You........💕💕💕💕💕💕