Amelia

Amelia
Episode 132


__ADS_3

Dengan menggunakan mobil yang dikirim dari kantor bersama dengan sopirnya, Amelia dan Rani berangkat ke kantor agensi milik Dicky. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk datang ke sana. Karena, memang jaraknya tidak terlalu jauh.


Amelia dan Rani melangkahkan kakinya masuk ke kantor agensi dengan membawa sampel baju. Dengan ramah seorang kepercayaan Dicky menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang, Bu Amelia. Perkenalkan nama saya Yuni. Saya adalah salah satu pegawai kepercayaan Pak Dicky. Ibu sudah ditunggu di kantor. Mari saya antar!" ucap Yuni tanpa jeda sedikitpun. Membuat Rani melongo.


"Busyet, ngomongnya kayak bus Patas," batin Rani.


"Terima kasih banyak, Mba Yuni," jawab Amelia dengan sangat ramah.


Amelia dan Rani sampai di depan kantor Dicky. Kebetulan di kantor Dicky sedang ada tamu. Yuni menyuruh mereka untuk menunggu sebentar.


Tok ... Tok ... Tok


"Pak, tamunya sudah datang!" ucap Yuni kepada Dicky.


"Baik, Yun. Suruh mereka masuk ke dalam," jawab Dicky.


"Silahkan, Bu. Di dalam ada Kakaknya Pak Dicky, tapi, nggak apa-apa kok, Bu! Silahkan Masuk!" ucap Yuni.


"Terima kasih sekali lagi, Mba Yuni!" ucap Amelia sangat lembut. Yuni menganggukkan kepala, dan mohon undur diri untuk kembali bekerja.


Amelia dan Rani masuk ke dalam ruangan Dicky. Ruangan yang tidak terlalu besar, namun sangat nyaman dan rapi. Banyak sekali tertempel foto-foto dirinya bersama model-model jebolan dari agensinya yang sudah terkenal dan profesional.


"Silahkan duduk, Mel!" ucap Dicky mempersilahkan Amelia duduk.


"Lho, Saya nggak disuruh duduk nih, Pak Dicky!" ucap Rani.


"Oh, ya, Silahkan duduk, Mba Rani," ucap Dicky kepada Rani juga.


Diego yang sedang duduk di kursi, dia berdiri. Dia nampak tertegun melihat wanita didepannya.


"Oya, perkenalkan ini adalah kakak saya. Namanya Diego!" Dicky memperkenalkan kakaknya kepada Amelia.


"Senang bisa bertemu dengan Kakak Anda. Saya Amelia," ujarnya.


"Bukankah kita pernah bertemu?" ucap Diego.


"Benarkah?" Amelia memang lupa, "Ehm, dimana ya? Maaf aku lupa," ujar Amelia. terkekeh.


"Di Supermarket. Ingat!" ucap Diego.


"Oh, ya, di Supermarket," kekeh Amelia, "Maaf saya lupa!" ujarnya lagi.

__ADS_1


"Ah, tidak masalah," jawab Diego tersenyum. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan wanita itu. "Dunia memang sempit ya? Saya tidak menyangka, ternyata Nona adalah rekan kerja adik saya," ucapnya tersenyum.


"Ehm, iya, juga ya," jawab Amelia terkekeh.


Selama satu jam mereka membicarakan masalah bisnis. Ada Diego juga disitu. Diam-diam Diego mengagumi sosok wanita cantik di depannya. Bukan hanya cantik, Amelia juga wanita yang cerdas. Membuat Dicky langsung menyetujui ide yang disampaikan oleh Amelia.


"Saya setuju. Pakaian yang kamu rekomendasikan sangat bagus dan unik. Saya suka!" puji Dicky.


"Baiklah, kalau begitu. Nanti karyawan saya yang akan mengantarkan barang-barangnya ke kantor agensi Pak Dicky," ucap Amelia.


"Okey, Okey. Saya setuju," jawab Dicky.


"Baiklah, karena sudah sore, Saya langsung pamit pulang saja," pamit Amelia.


"Biar saya antarkan!" ucap Dicky dan Diego serentak. Membuat kakak beradik itu saling berpandangan dan salah tingkah. Amelia dan Rani hanya melongo saja dibuatnya.


"Tidak usah. Saya bawa ke mobil kok. Sopir saya sudah menunggu di depan," jawabnya, "Baiklah, Pak Dicky, Pak Diego, Saya pamit dulu! Terimakasih untuk semuanya!" pamit Amelia.


"Hati-hati, ya!" ucap Dicky.


"Permisi!" ucap Amelia keluar dari ruangan Dicky.


"Permisi, Pak Dicky!" pamit Rani mengekor di belakang Amelia.


"Lu, nggak gila kan?" tanya Diego memegang kening adiknya.


"Ck, aku nggak gila lah!" sahutnya.


"Terus kenapa Lu senyum-senyum sendiri?" tanya Diego.


"Sayang, Amelia sudah punya suami. Andai saja kalau belum, pasti aku akan pepet terus sampai dia jadi milik gue!" ucap Dicky.


"Kenapa selera gue dan Dicky sama sih?" batin Diego, "Tapi memang Amelia itu wanita yang cantik, dia juga memiliki daya tarik tersendiri. Pokoknya gue harus dapetin hatinya," seringai Diego.


"Lu juga senyum-senyum sendiri! Lu gila ya, Bang?" ucapan Dicky membuat lamunan Diego buyar.


"Sialan, Lu!" kesal Diego, "Gue mau pulang, gue capek!" ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan kantor Dicky.


"Okey, hati-hati!"


☄️☄️☄️☄️☄️


Setelah sampai di rumah, Amelia disambut oleh teriakan dua buah hatinya. Mereka sangat bahagia melihat kedatangan sang Mommy. Terutama Aska, dia langsung menggelayut manja di lengan Mommy nya.

__ADS_1


"Mommy, Aka au endong!" manjanya.


"Iya, Sayangnya Mommy. Kengen ya sama Mommy," ucapnya.


"Ih, Aska manja!" manyun Sherly, kakaknya.


"Bialin, Weeeee!" ucapnya menjulurkan lidah. Membuat Amelia terkekeh dengan tingkah laku keduanya.


"Sudah, sudah. Jangan bertengkar!" tutur Amelia, "Daddy sudah pulang belum?" tanya Amelia.


"Belum," jawab mereka serentak.


"Ada siapa saja dirumah?"


"Ada Oma, Tante Alina," jawab Sherly.


"Oh," sahut Amelia ber'oh ria, "Ehm, iya sudah. Mommy mau mandi dan bersih-bersih dulu. Kalian main sama Oma dan Tante Alina dulu yah!"


"Okey, Mom," jawab mereka lagi serentak.


"Sayang, Kamu sudah pulang?" tanya Mama Celine melihat kepulangan menantunya yang sedang disambut meriah oleh cucu-cucunya.


"Iya, Ma," sahut Amelia mendekat ke arah mertuanya, dan mencium punggung tangan mama mertuanya.


"Amel mandi dulu ya, Ma! Gerah," ucapnya sambil mengipas-ngipaskan tangan didepan wajah.


"Iya, sudah sana mandi. Jangan terlalu sore, nggak baik seorang wanita mandi sore-sore!" tutur Celine.


"Iya, Ma," jawabnya ,"Sherly, Aska, Mommy mandi dulu ya! Kalian main dulu sama Oma. Habis ini nanti Mommy temenin kalian bermain!" ucap Amelia kepada kedua buah hatinya.


"Okey, Mom!" jawab mereka.


Amelia masuk ke dalam kamar. Melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya. Dan menaruhnya di tempat baju kotor. Karena ada pelayan sendiri yang akan mengambilnya, untuk kemudian dicuci.


Amelia merendamkan tubuhnya di bathtub sambil memejamkan mata. Rasanya otot-otot kaki yang kaku dan pegal, berangsur menghilang. Bahkan aroma terapi yang tercium di indera penciumannya, seketika membuat tubuh dan otak menjadi rileks.


Thomas baru saja pulang. Dia sedikit berbasa-basi dengan Mamanya. Dia langsung masuk ke kamar. Ingin segera bertemu dengan istri tercinta. Setengah hari tidak bertemu membuatnya sangat rindu.


Thomas tidak mendapati istrinya di kamar, namun, dia masih bisa mencium bau aroma sabun bercampur dengan aromaterapi, sangat wangi dan segar.


Thomas pun langsung menyusul istrinya ke kamar mandi. Secara perlahan, dia membuka pintu kamar mandi. Dan dia sangat bersyukur karena pintu kamar mandi tidak dikunci.


Dengan mengendap-endap, Thomas masuk. Dia mendapati istrinya sedang berendam di bathtub, dengan memejamkan mata. Thomas tertegun, jakunnya naik turun dengan cepat, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Melihat tubuh istrinya telanjang.

__ADS_1


to be continued ....


__ADS_2