
Dicky merasakan kegelisahan di dalam hati. Rasa takut yang luar biasa menyelimuti hatinya. Dia berusaha menghubungkan rangkaian peristiwa demi peristiwa. Meskipun terpotong-potong, Dicky menangkap dengan jelas. Bahwa pelaku yang sebenarnya adalah seseorang yang sangat dia kenal.
"Maaf, Pak Thomas. Apakah Anda bisa memberikan ciri-ciri orang yang sudah melakukan ini kepada Anda?" tanya Dicky kemudian. Dicky memang belum bisa mengungkap misteri ini. Tapi, dia bisa menyimpulkan bahwa peristiwa ini berhubungan dengan Diego.
"Pria itu bertubuh tinggi, tegap, dan memiliki alis mata yang tebal."
"Apakah ini orangnya?" Dicky menyodorkan ponselnya kepada Thomas.
"Iya, ini dia orangnya. Kau mengenalnya?" Thomas memang belum sempat bertemu dengan Diego.
Dugaan Dicky tidak meleset. Diego memang ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi pada keluarga Williams. Dan kemungkinan besar juga kakaknya berhubungan dengan perginya Amelia.
"Pak Dicky."
Suara Thomas membuyarkan lamunannya.
"Iya. Saya sangat mengenalnya. Dia adalah kakak saya Diego."
"A-pa?" kaget Thomas. Raut mukanya berubah menjadi kesal dan marah.
"Pak Thomas, Tolong Anda jangan menyamakan saya dengan Kakak saya. Karena saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini!" ucap Dicky.
"Bagaimana saya bisa percaya kamu? Kamu adalah adiknya!" kesal Thomas.
"Iya, Saya tahu. Tapi percayalah saya juga baru mengetahui! Saya ingat Diego memang memiliki dendam dengan seseorang. Terkait kematian calon istri Diego bernama Monica karena sebuah kecelakaan!"
"Kecelakaan?"
"Iya, kecelakaan," jawab Dicky. Kemudian Dicky menghela nafasnya panjang.
"Maaf sebelumnya, Pak Thomas. Saya harus menyampaikan ini! Orang yang menyebabkan kematian Monica adalah ayah Anda. David Williams. Anda bisa mengeceknya di Bisnis news online! Saat itu beritanya sangat heboh diperbincangkan. Namun ayah Anda memilih untuk diam menutup mata dan telinganya! Bahkan dia juga membayar orang untuk menutup kasus tersebut!" jelas Dicky perihal yang dia selidiki selama ini.
"Meskipun seperti itu, Saya tidak membenarkan tindakan Diego dengan membalaskan dendam kepada seluruh keluarga Anda. Saya sangat menyesal dengan tindakan Diego!"
"Pak Thomas. Percayalah! Saya akan membantu Anda sebisa mungkin. Saya merasa malu dan bersalah karena kekacauan yang sudah dibuat Diego kepada keluarga Anda!"
"Saya benar-benar tidak habis pikir kenapa dia tega melakukan hal itu kepada keluarga saya? Dia sudah membuat Mama saya meninggal!" teriak Thomas.
"Saya tahu, Pak. Saya benar-benar meminta maaf! Saya sendiri yang akan menyeretnya ke kantor polisi! Saya berjanji kepada Anda!"
"Sekarang saya harus bertemu dengan Bram!" ucap Thomas.
"Iya. Anda memang harus bertemu dengan adik Anda!"
"Pak Dicky. Anda bilang kalau Amelia diusir dari rumah. Sebelum bertemu Bram, Ayo kita cari Amelia di rumah kedua orangtuanya! Saya yakin, hanya rumah itu tujuannya sekarang!"
"Baik, Pak."
"Kak Thomas mau kemana?" tanya Arum tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Rum, kamu tunggu disini saja! Aku harus mencari istri dan anakku!"
"Tapi, Kak ... !"
__ADS_1
"Tolong, Rum. Menurutlah!"
"Baiklah, Kak."
"Ada Bi Surti yang menemani kamu di rumah ini! Jika kamu butuh apa-apa, kamu bisa bilang sama Bi Surti!" ucap Dicky kepada Arum.
"Terimakasih banyak, Mas!"
"Iya," sahut Dicky mengulas senyum.
Mobil mereka meninggalkan rumah Dicky menuju rumah peninggalan orang tua Amelia. Disepanjang perjalanan Thomas hanya terdiam. Dia sedang menata hatinya, bersiap-siap ingin memeluk istri tercintanya.
Rindu! Tentu saja Thomas sangat merindukan istrinya. Cukup lama dia tidak bertemu dengan sang istri. Rasanya ingin memeluk dan menghujani istrinya dengan ciuman kasih sayang.
Tidak terasa mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan halaman rumah Amelia. Rumah Amelia nampak sepi. Mereka pun turun dari mobil.
"Assalamualaikum!" panggil Thomas. Tidak ada sahutan.
"Amelia!"
Tok ... Tok ... Tok
"Sayang! Amelia!" panggil Thomas lagi.
"Sepertinya tidak ada orang, Pak Thomas."
"Iya. Aku juga merasa seperti itu. Tapi, kemana dia?"
"Eh, lihat Pak!" tunjuk Dicky, "Ini kunci apa ya?" Dicky melihat kunci yang tergeletak begitu saja di dekat kesed.
"Iya, memang kunci rumah ini." senang Thomas. Setidaknya ada sedikit petunjuk yang mulai terpecahkan.
Mereka pun masuk ke dalam. Tapi, rumah itu memang sudah kosong cukup lama. Ada bekas makanan di meja, dan sudah menjamur. Itu pertanda kalau Amelia memang meninggalkan rumahnya begitu saja tanpa membereskan piring-piring yang kotor.
"Sepertinya mereka sempat kemari," ujar Thomas.
"Iya, Pak. Terus mereka kemana ya?"
"Amelia. Kamu kemana?" cemas Thomas.
Thomas mendatangi kamar istrinya. Siapa tahu ada barang Amelia yang tertinggal.
Ternyata kamarnya juga kosong. Tidak ada barang Amelia satupun. Itu tandanya, istrinya pergi membawa semua barang-barangnya.
"Tidak ada petunjuk apapun, Pak!"
"Iya, Dicky. Memang tak ada petunjuk apapun."
Tidak sengaja Dicky menyenggol tumpukan selimut dan sprei di atas meja rias Amelia. Thomas membantu melipatnya. Dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan permintaan tolong.
"Lihatlah!" tunjuk Thomas.
"Ini berarti Amelia sedang dalam bahaya, Pak!" ujar Dicky.
__ADS_1
"Mungkin. Apakah Diego yang melakukan ini semua?" gumam Thomas.
"Astaga. Jika memang Kakakku yang melakukan, ini benar-benar sudah keterlaluan!" geram Dicky.
"Sial! Brengsek!" marah Thomas, "Dimana aku harus menemuinya?" Thomas mencekeram kerah baju Dicky.
"Ayo kita cari dirumahku!" ajak Dicky.
"Rumahmu?"
"Ayolah!"
Amelia duduk termenung. Tatapannya kosong ke luar jendela. Tidak terasa air matanya mengalir. Dia tidak menyangka, hidupnya tidak berdaya di tangan Diego.
Beberapa bulan yang lalu, dia begitu bahagia. Setelah berpisah dengan mantan suaminya, dia hidup menjadi satu keluarga dengan Thomas dan Sherly. Banyak sekali impian-impiannya dengan sang suami yang belum tercapai. Tapi sekarang dia harus kehilangan sang suami.
Lamunannya buyar, saat kedua buah hatinya masuk ke kamar bersama Lina Baby sister. Amelia menghapus air matanya. Dia berusaha kuat demi kedua buah hati.
"Darimana kalian?" tanya Amelia.
"Kami habis jalan-jalan dengan Mba Lina, Mom!" ucap Sherlly.
"Iya. Aka abis jalan-jalan ama Mba Ina," timpal Aska. Membuat Amelia terkekeh.
"Terimakasih banyak, Lin."
"Sama-sama, Mba Amelia." lirihnya. Amelia menoleh ke arah Lina dengan mata yang sendu. Dia berharap Lina mau membantunya keluar dari rumah besar itu.
"Lina, Aku tahu kau wanita yang sangat baik. Tolong bantu aku!" mohon Amelia menggenggam lembut tangan baby sisternya.
"Bantu apa, Mba?" Lina nampak tergagap, "Saya takut ketahuan Pak Diego. Dia sudah membayar sejumlah uang kepada saya. Dan saya sudah mengirimkannya ke desa. Jika saya ketahuan berkhianat, Pak Diego bisa menghabisi keluarga saya di desa. Saya nggak berani, Mba!" ucap Lina.
"Lina. Aku tidak menyuruhmu untuk membebaskanku. Aku hanya meminta tolong bawa anak-anakku pergi dari tempat ini saat pernikahanku dengan Pak Diego berlangsung. Aku tidak mau terjadi apapun padanya!" sedih Amelia memohon pertolongan Lina. Lina nampak berfikir.
"Diego akan membawaku ke Bali. Kami akan menikah di sana. Aku tidak bisa membawa serta anak-anakku. Tolong bawa dia pergi jauh dari rumah ini. Kembalikan dia ke rumah besar suamiku!"
"Tapi, Mba .. !"
"Tolong, Lin. Hanya kamu yang bisa menolongku!"
"Baiklah, Saya coba ya Mba! Saya melakukan ini, karena saya juga seorang wanita. Saya tidak tega melihat Mba Amelia di perlakukan seperti ini oleh Pak Diego!"
"Terimakasih banyak, Lin! Semua kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan!"
"Iya, Mba. Saya minta maaf, Mba. Saya sudah mengkhianati kepercayaan Mba Amelia. Saya butuh uang untuk pengobatan Bapak saya di desa. Saya sudah menerima uang banyak dari Pak Diego. Tapi, saya juga harus melakukan apapun yang diperintahkan. Kalau saya berkhianat, keluarga saya di desa yang menjadi taruhan!"
"Saya tidak menyalahkan kamu, Lin. Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir di dalam hidup saya!"
"Maafkan saya ya, Mba!"
"Iya,"
to be continued ....
__ADS_1
Ayo dong votenya, mana votenya???????