Amelia

Amelia
Episode 155


__ADS_3

"Apakah Kakak tidak malu? Massa Iddah Kakak belum selesai! Kenapa kakak tidak bisa menahan diri untuk tidak berpelukan di butik? Mama sudah mempercayai Kakak untuk menjalankan butik, tapi, Kakak sudah mengecewakan Mama!" ketus Alina, "Tahu gitu, biar Alina yang meneruskan butik Mama!"


"Apa sih maksud kamu, Al? Aku nggak ngerti!" kesal Amelia.


"Lihat ini! Bukankah ini Kakak!" tunjuk Alina ke ponselnya. Amelia sangat terkejut.


"Bagaimana bisa ada foto seperti itu di ponsel Alina?" batin Amelia. Maniknya menoleh ke arah Lina yang sedang berdiri menunduk.


"Kakak ipar tidak bisa mengelak lagi! Kakak memang sengaja kan memanggil pria ini untuk datang ke kantor! Untuk mengobati kebutuhan biologis Kakak! Tapi, bukan seperti itu caranya!"


"Kamu salah paham, Al. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan! Tuduhanmu terlalu keji! Saat itu Kakak pusing, dan hampir terjatuh. Dan Pak Dicky yang membantu Kakak. Kami tidak memiliki hubungan spesial yang seperti kamu tuduhkan, Al! Lagipula, Lina juga ada di sana!" geram Amelia. Namun dia tidak melihat Lina lagi di sana.


"Kemana Lina pergi?" batin Amelia.


"Alah. Sudahlah, Aku tidak mau mendengarkan penjelasan Kakak lagi! Aku sudah muak!" ketusnya, "Aku nggak mau nama Williams tercoreng gara-gara kelakuan tidak baik Kakak ipar!"


"Kok kamu tega banget ngomong kayak gitu sih, Al!" sedih Amelia.


"Ternyata benar kata orang. Kakak itu pembawa sial dirumah ini. Dalam satu hari, aku harus kehilangan dua orang yang sangat aku cintai!" ketus Alina.


"Kamu tega mengatakan itu kepada Kakak, Al!"


"Kakak cukup pintar. Dan tahu apa yang harus Kakak lakukan! Jadi pikirkanlah baik-baik!" imbuh Alina lagi. Kemudian berlalu pergi ke kamarnya.


Tubuh Amelia luruh dilantai. Dia tidak percaya Alina tega mengatakan itu semua. Dan kata-kata Alina, benar-benar menusuk hati. Dan yang paling membuatnya bersedih, Secara tidak langsung Alina menyuruhnya pergi dari rumah.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada yang tega untuk memfitnahku? Apa tujuannya? Lalu siapa orang dibalik ini semua?" gumam Amelia.


"Bram, Apakah Bram yang memfitnahku? Tidak mungkin!"


"Lina!" gumam Amelia, "Apakah Lina yang mengambil foto itu?"


Amelia masuk ke kamar, dia mengemasi barang-barangnya. Kata-kata Alina sudah membuatnya terluka. Untuk saat ini, tidak ada yang bisa melindunginya.


"Mas Thomas, Kamu dimana?" isak Amelia sambil memandang foto suaminya.


"Aku nggak tahu mau pergi kemana? Aku nggak punya tujuan!"


Pagi-pagi sekali, Amelia menata barang-barangnya di koper, Amelia membangunkan kedua buah hatinya. Sherly dan Aska nampak mengerjapkan mata. Berkali-kali mereka menguap. Amelia tahu kalau mereka masih sangat mengantuk. Tapi, Apa boleh buat. Dia harus mengambil keputusan.


"Ayo, Sayang, Pakai jaket mu!" suruh Amelia ke Aska dipagi buta.


"Mommy mau kemana?"


"Sayang, Kamu tinggal disini saja ya! Sama Tante Alina dan Om Bram!"


"Nggak, Mau!" manyun Sherlly, "Sherly mau ikut Mommy,"


"Tapi ... !" Amelia nampak sedang berfikir. Rasanya tidak tega juga harus meninggalkan Sherlly sendiri di rumah.


"Baiklah, Kamu boleh ikut. Ayo pakai jaket mu!" suruh Amelia kepada Sherly.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada para pelayan, Amelia pun pergi dari rumah itu. Amelia ingin berpamitan dengan Alina dan Bram. Tapi, sepertinya mereka belum bangun.


"Sudahlah. Sebaiknya aku pergi saja! Aku tidak mau membangunkan mereka!"


Mereka meninggalkan rumah mewah itu di pagi buta. Dan itu menjadi pertanyaan bagi para pelayan. Namun mereka tidak berani untuk bertanya kepada Amelia.


Amelia dan anak-anaknya memasuki taksi yang sudah dia pesan. Kali ini tujuannya hanya rumah peninggalan orang tuanya. Di sanalah satu-satunya tempat yang aman untuk membesarkan kedua buah hatinya.


Sekitar empat puluh menit mereka sampai dihalaman rumah yang cukup sederhana. Rumah peninggalan orang tuanya. Masih layak untuk dihuni, karena setiap hari Amelia membayar orang untuk membersihkannya.


"Ayo kita masuk!" ajak Amelia. Sherly nampak enggan untuk masuk. Amelia paham. Sejak kecil Sherly tidak pernah kekurangan apapun. Semua kebutuhannya, Thomas berusaha untuk mencukupi. Dan sekarang dia harus hidup di rumah kecil yang sangat sederhana. Amelia pun berusaha untuk membujuk Sherly masuk ke dalam.


"Sementara kita disini, Sayang. Kalau Mommy sudah mendapatkan tempat yang bagus, kita pindah ke rumah baru! Oke!"


"Oke, Mom," senangnya.


Selagi Amelia mengganti sprei, Anak-anaknya bermain air di luar. Dengan selang yang panjang, mereka bermain air. Membuat baju dan tubuh mereka basah. Mereka tidak perduli, karena sekarang mereka sangat bahagia bermain air.


"Eh, anak siapa ini?" tanya Bu Wati salah satu tetangga rumah.


"Apakah ini anak-anak Amelia?"


"Anak-anak, Ayo mandi! Mommy sudah menyiapkan air hangat buat kalian!"


"Hore, Hore!" teriak mereka.


"Amelia!"


"Eh, Bu Wati. Apa kabar?"


"Saya juga baik, Bu,"


"Kok kamu tinggal disini lagi?"


"Iya, Bu. Saya kangen rumah Ayah dan Bunda," jawab Amelia.


"Oh. Itu anak kamu?"


"Iya, Bu,"


"Suami kamu ikut?"


"Nggak. Suami Amel sedang kerja di Jerman,"


"Wah, hebat ya kamu. Ibu ikut senang bisa melihat kamu lagi!"


"Terimakasih banyak, Bu!"


"Maaf ya, Bu. Saya tinggal masuk ke dalam. Saya mau memandikan anak-anak!"


"Oh, ya, Silahkan! Saya juga mau pulang, mau masak!"

__ADS_1


"Baiklah, Saya masuk dulu!"


Segera Amelia menutup pintu rumahnya. Terlalu lama mengobrol dengan tetangga, nanti akan banyak pertanyaan yang muncul. Lebih baik dia menghindar.


"Huft," Amelia menghela nafasnya.


Selesai memandikan kedua buah hatinya. Amelia memesan makanan online. Harusnya anak-anaknya sudah sarapan. Tapi, karena dia harus membereskan barang-barang, membuat sarapan dan makan siang dijadikan satu waktu.


"Setelah makan, Kalian tidur siang ya! Mommy akan sedikit merapikan barang-barang yang kalian berantakin!" ucap Amelia kepada kedua anaknya.


"Okey, Mom," jawab mereka serentak.


Setelah makan siang, Aska nampak kelelahan. Dia langsung naik ke tempat tidur. Sambil memeluk guling, dia tertidur di kamar. Amelia sangat gemas dengan jagoan kecilnya.


Berbeda dengan Sherly, Sherly nampak bersedih. Anak itu duduk melamun. Amelia tahu apa yang dipikirkan buah hatinya. Dia pun duduk disebelah putrinya, dan menggamit tangan mungil itu.


"Ada apa? Cerita kepada Mommy!"


"Sherly rindu dengan Daddy!"


"Mommy juga sangat rindu. Kita harus terus berdoa supaya Daddy kalian cepat kembali!"


"Memangnya kemana Daddy?"


"Daddy?" Amelia bingung harus bagaimana menceritakan semua itu kepada anak sekecil Sherly. Amelia tidak mau, Sherly bersedih. Dia sendiri masih sangat bingung. Rasanya sangat rapuh, jika tidak ada kedua anaknya.


"Sherly mau mendengarkan sebuah cerita?"


"Mau,"


"Kemarilah, Sayang. Kita rebahan di kasur!"


Seperti anak kucing, Sherly menurut. Dia tidur berbantalkan tangan Mommynya.


"Pada suatu hari hiduplah seorang putri cantik dan pemberani. Dia memiliki seorang ayah, ibu, dan juga adik. Mereka adalah keluarga yang sangat bahagia. Keluarga harmonis. Saling mencintai dan menyayangi. Suatu hari, ayahnya pergi bertugas ke sebuah negara sebelah. Sebelum ayahnya pergi, sang ayah berpesan kepada putrinya yang pemberani untuk selalu menjaga ibu dan adiknya. Dengan beraninya putri cantik itu mengatakan iya. Berangkatlah ayah ke Negera sebelah. Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Sang Ayah belum kembali juga. Tentu saja membuat ibu dan adiknya sangat bersedih. Sherly tahu apa yang dilakukan putri itu?"


"Apa Mom?"


"Dengan beraninya putri mengatakan kepada sang ibu, bahwa putri tersebut akan menjaga ibu dan adiknya hingga ayah benar-benar kembali! Ibu dan adiknya sedikit tersenyum,"


"Sang ibu memeluk sang putri. Dia bersyukur memiliki anak-anak yang berani, penurut, dan yang terpenting saling menyayangi!"


"Mommy," isak Sherly.


"Mommy juga bangga punya anak seperti Sherly. Mommy, Daddy dan Aska sangat menyayangi Sherly!"


"Sherly juga sangat menyayangi Mommy, Daddy dan Aska,"


"Anak pintar! Sekarang tidur ya! Nanti sore Mommy akan ajak kalian berjalan-jalan!"


"Benarkah, Mom?"

__ADS_1


"Tentu!"


To be continued ....


__ADS_2