Amelia

Amelia
Episode 110


__ADS_3

Thomas menunggu kedatangan istrinya di kamar, istrinya tidak kunjung datang. Padahal ini sudah pukul sepuluh malam. Aska juga tidak nampak di box bayinya.


"Ish, kemana dia? Sudah malam masa belum kembali ke kamar?" sungutnya. Thomas mondar-mandir di dalam kamar. Dia pun memutuskan untuk keluar. Dia mencari keberadaan istrinya di ruang tamu, dapur dan di kamar Mama. Thomas tidak menemukan istrinya di sana.


"Apa Amelia tidur di kamar Sherly?" pikirnya.


"Lebih baik aku ke kamar Sherly," ucapnya.


Thomas membuka pintu kamar Sherly, dan ternyata benar, mereka tidur bertiga dengan Aska di tengah.


"Amelia sedang marah, bahkan dia tidak mau tidur di kamar," sungutnya, "Bodohnya aku. Harusnya aku minta maaf!" Thomas merutuki kebodohannya. Dia mendekat ke arah tempat tidur istrinya.


"Sayang?" panggilnya.


"Sayang?" Thomas menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.


"Sayang?" panggilnya sangat lembut.


"Aku ngantuk, Mas!" ucapnya.


"Kenapa tidur disini? Kok nggak ke kamar kita?" tanya Thomas.


"Besok saja ngomongnya, aku ngantuk!" ujarnya.


"Kamu marah? Aku minta maaf, Sayang!" ucap Thomas.


"Ck, bisa nggak ngomongnya besok? Aku ngantuk, Mas!" kesal Amelia.


"Ayo, kita pindah! Aku kangen!" rajuk Thomas.


"Tidur saja sendiri!" sungutnya.


"Mana bisa aku tidur sendiri?"


"Sayang?" Thomas kembali menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.


"Mas, kamu ngerti nggak sih kalau aku ngantuk?" kesal Amelia menatap tajam ke arah Thomas.


"Astaga, menakutkan!" batin Thomas, "Sebaiknya aku nggak mengganggunya! Amelia sedang marah!"


Thomas kembali ke kamarnya, dia mencoba untuk memejamkan mata. Namun matanya tidak bisa diajak kompromi. Hingga tengah malam dia masih saja terjaga. Dia pun memutuskan untuk ke dapur.


Thomas membuat kopi sebagai teman merokok. Sambil memandangi bintang-bintang di langit, dia merokok sendiri.


Tiba-tiba tangan kekar memegang bahunya, membuat Thomas sangat kaget dan hampir menonjoknya.


"Sialan kau, Bram!" sungutnya.


"Ha ... Ha ... Ha," Bram terkekeh geli.


"Sorry, Bang. Habisnya kau serius sekali memandang langit. Apakah disana ada wajah istrimu?" goda Bram.


"Ck, aku tidak bisa tidur!" kesal Thomas.


"Tentu saja tidak bisa tidur! Istrimu kan sedang ngambek!" kekeh Bram.


"Iya, Amelia sedang ngambek,"


"Makanya, Bang. Sama wanita itu jangan terlalu kasar! Wanita itu paling nggak suka dikasarin! Alina juga begitu! Tapi untungnya aku pria yang romantis, tidak suka kekasaran!" ucap Bram mengunggulkan dirinya sendiri.


"Sok tahu, Lu!" cebik Thomas.

__ADS_1


"Huft." Thomas menghela nafasnya kasar.


"Bagaimana caranya supaya hati Amelia bisa luluh?" tanya Thomas.


"Biasanya wanita itu paling suka dengan bunga, perhiasan, barang-barang branded!" ucap Bram.


"Amelia bukan wanita seperti itu!"


"Ajak saja dia jalan-jalan ke mall, makan malam romantis," ucap Bram.


"Benar juga, Bram. Makan malam romantis!" pikirnya, "Terkadang kau pintar juga ya, Bram. Pantas saja Alina menyukaimu!"


"Enak saja! Aku memang pintar. Abang baru tahu kalau aku pintar?"


"Terkadang?" kekeh Thomas.


"Sudah, ah. Aku mau tidur!"


"Kok cepat amat sih, Bang?"


"Ngantuk!"


"Kopinya buat aku ya, Bang!"


"Ambil saja!"


"Asyik!" senang Bram menyeruput kopi sisa Thomas.


"Hoek,"


"Sialan! Tinggal ampasnya doang!" cebik Bram. Bram mengusap-usap mulutnya yang penuh dengan ampas kopi. Thomas terkekeh sambil berlalu pergi ke kamar.


Jam tiga malam, Thomas belum juga menutup matanya. Dia pun berpindah ke kamar Sherly. Untungnya kasur Sherly luas, hingga muat untuk empat orang. Thomas pun tertidur di sebelah anaknya.


"Kenapa Mas Thomas tidur disini?" batinnya, "Apakah dia tidak bisa memejamkan matanya gara-gara tadi malam aku cuekin?"


"Semoga aku tidak berdosa mendiamkan suami!" batin Amelia.


Amelia langsung bergegas mandi dan bersih-bersih. Hari ini dia sengaja tidak membangunkan Sherly sekolah, agar Sherly beristirahat dulu di rumah. Dia yakin, pasti Sherly masih trauma dengan kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.


Selesai mandi, Amelia membangunkan suaminya untuk pergi ke kantor.


"Mas, Bangun! Apakah hari ini Kau libur?" tanya Amelia.


"Hoam." Thomas hanya menguap, dan menarik selimutnya sampai ke dada.


"Mas, Bangun!" panggil Amelia tepat di telinga suaminya.


"Iya, sudah, kalau tidak mau bangun!" Amelia hendak pergi keluar, namun pinggangnya ditarik oleh Thomas.


"Auw. Mas, kau ini!" Amelia menepuk dada suaminya.


"Sayang, aku kangen! Aku mohon, jangan mendiamkan aku!" pinta Thomas.


"Aku sedang kesal sama kamu, Mas!" manyun Amelia.


"Iya, aku tahu, kalau aku salah! Makanya aku minta maaf!" ucapnya, "Kamu tahu kan, kalau masalah anak aku sangat khawatir. Karena aku sangat menyayangi anak-anakku. Jika terjadi sesuatu dengan mereka, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," ucapnya. Amelia bisa melihat itu di mata suaminya. Saat, Sherly hilang betapa khawatirnya dia.


"Sebenarnya aku tidak marah masalah itu. Aku marah, karena saat Mas pergi tidak membangunkan aku. Kenapa Mas begitu tega tidak mengajakku ke Australia?" manyunnya.


"Aku nggak mungkin mengajakmu, Sayang. Karena situasinya juga sangat mendesak. Kau juga tidak mungkin meninggalkan Aska sendiri di rumah kan?"

__ADS_1


"Iya, sih. Tapi, jika aku bertemu dengan Clara. Aku akan menjambak rambutnya, aku cakar wajahnya yang sok cantik itu!" kesalnya.


"Astaga, ternyata istriku sangat menakutkan," batin Thomas.


"Tapi, kau memaafkan aku kan, Sayang?" tanya Thomas.


"Iya, aku sudah memaafkan mu, Mas. Tapi ada syaratnya?"


"Syarat? Syarat apa sih? Kenapa harus pakai syarat-syarat segala?"


"Iya, dong,"


"Kamu mau apa?"


"Liburan?"


"No,"


"Perhiasan?"


"No." Amelia menggelengkan kepalanya.


"Tas branded?"


"No, mas,"


"Lalu apa dong?"


"Aku mau dimasakin makanan spesial, harus kamu sendiri yang memasak!" ucap Amelia.


"Oh, itu, gampang! Nanti aku masakin masakan yang spesial buat kamu!"


"Kalau begitu, Ayo bangun! Bantu aku buat sarapan!" ajak Amelia menarik tangan suaminya.


"Sebentar dong, Sayang! Aku mau cuci muka dan sikat gigi dulu!"


"Baiklah, aku tunggu! Sekalian mandi sana!" ucapnya tersenyum senang.



Amelia membaca buku resep, dia menunjukkan kepada suaminya, kalau hari ini dia ingin dimasakkan makanan yang persis di buku resep, yang baru kemarin dia beli.



Sambil menunggu Amelia memilih makanan, Thomas memandang wajah cantik istrinya.


"Istriku sangat cantik," gumamnya, "Cepat dong, Sayang! Kenapa lama sekali sih? Kamu mau dimasakin apa?" tanya Thomas.


"Sebentar! Aku sedang cari!"


"Nah, ini dia!" Amelia menunjukkan makanan yang dia inginkan.


"Ini, Mas. Aku ingin makanan yang ini!" ucapnya.


Thomas melihat makanan di buku resep, dia membelalakkan matanya melihat gambar makanan yang ditujukkan oleh istrinya.


"Sayang, ini rumit sekali! Mana bisa aku memasaknya?"


"Ayo dong, Mas. Aku yakin kamu bisa kok?"


"Lihat dong, aku sudah tampan seperti ini. Masa aku harus membuat masakan seperti itu!" sungut Thomas. Karena Amelia, ingin makan ayam bakar sambal hijau. Yang dibakar menggunakan arang. Tentu saja Thomas memberengut kesal. Pasalnya, dia sudah mandi dan berpenampilan tampan. Masa istrinya menyuruh membakar ayam?????? rasain tuh Thomas. Wkwkwk....

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2