
Hari ini sesuai janjinya, Thomas mengajak mereka semua untuk berjalan-jalan malam di sekitar Bremen. Namun Mamanya menolak untuk ikut, karena tubuhnya terasa lelah. Amelia juga menolak ikut, karena Tante Celine juga tidak ikut. Dia merasa tidak enak, jika harus bepergian bertiga dengan Thomas.
"Ayo, Tante! Pokoknya Tante harus ikut," rengekan Sherly terdengar memekik di telinga.
"Baiklah, Tante akan ikut," Amelia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sangat tebal, memakai kaos kaki dan kaos tangan supaya lebih hangat. Amelia sudah siap dengan pakaian tebalnya dan Sherly juga sudah bersiap-siap dengan pakaian tebalnya juga.
Thomas memakai topi penghangat untuk kepala putrinya, dia juga memberikan Amelia penutup kepala. Jantung Amelia berdegup sangat kencang, bahkan lebih kencang dari biasanya.
"Ada apa denganku?" tanyanya di dalam hati.
"Kau harus pakai ini supaya telingamu tidak kedinginan," ujar Thomas sambil tersenyum.
"Terima kasih," lirihnya.
Mereka bertiga pun berpamitan kepada Celine, Mereka sengaja tidak menggunakan mobil, karena mereka ingin menikmati musim salju di Bremen. Disepanjang jalan, mereka hanya menemukan salju tebal di depan rumah-rumah penduduk. Bahkan atap-atap rumah juga tertutup salju tebal.
Ternyata keluar rumah di saat malam hari sangatlah menyenangkan, jalanan masih padat penduduk. Mereka sengaja keluar rumah untuk menikmati salju, dan ada juga yang bermain-main salju di malam hari. Thomas membuatkan boneka salju besar untuk Sherly, di bantu oleh Amelia, mereka bekerja sama membuat boneka salju raksasa untuk Sherly. Sherly sangat bahagia, dia terus berjingkrak-jingkrak bahagia. Setelah membuat boneka raksasa, sekarang mereka membuat bola-bola salju. Yang sebentar lagi di Bremen akan diadakan acara lempar bola salju.
Amelia menolak untuk mengikutinya, karena dia sedang hamil, tidak mungkin juga dalam keadaan hamil dia harus berdesak-desakan untuk mengikuti acara tersebut. Thomas pun menyuruh Amelia untuk duduk di bangku sana. Thomas membelikan coklat panas untuk Amelia, agar Amelia tidak bosan menunggu.
Acara lempar bola salju segera dimulai, Thomas dan putrinya sudah menyiapkan banyak bola salju yang mereka buat sendiri.
"Priiiiiiiit," suara peluit terdengar, tandanya acara sudah dimulai. Aksi saling lempar di mulai, ternyata yang mengikuti acara ini lumayan banyak. Semua warga sangat berantusias dengan acara ini. Suara tawa kegembiraan menyatu di dalam area terbuka itu. Amelia terkekeh geli melihat Thomas dan Sherly penuh dengan salju. Selesai acara, mereka kembali bermain dengan salju. Sherly begitu sangat bahagia, dia menidurkan tubuhnya di hamparan salju. Dan meminta Amelia untuk memfotonya di tengah hamparan salju yang luas.
Tidak terasa ternyata hari sudah malam, Thomas mengajak Sherly dan Amelia pulang. Amelia juga terlihat sudah sangat kedinginan, Thomas melepaskan jaketnya dan dia kenakan pada tubuh Amelia.
"Tidak usah, Mas," jawabnya.
"Kau terlihat sangat kedinginan," ujarnya.
"Tapi, aku benar-benar tidak apa-apa," jawabnya lagi.
"Kamu sedang hamil, kamu harus memperhatikan bayi yang ada di dalam kandunganmu," kata Thomas.
__ADS_1
"Apa hubungannya?" lirihnya.
"Tentu saja ada, jika kau kedinginan, bayinya juga kedinginan," jawab Thomas lagi.
"Apakah bisa seperti itu?" tanya Amelia, nampak sedang berfikir.
"Sudah malam, Ayo kita pulang," ajak Thomas.
Thomas menggendong tubuh Sherly di punggungnya, sampai rumah ternyata Sherly tertidur. Thomas meletakkan tubuh Sherly di tempat tidur, dan Amelia membantunya dari arah belakang. Amelia melepaskan pakaian yang dikenakan Sherly dan menggantinya dengan piyama.
Amelia mengucapkan terima kasih kepada Thomas, karena telah mengizinkannya ikut berjalan-jalan.
"Terima kasih karena sudah memberikan kasih sayang dan perhatian kepada Sherly," ucap Thomas tiba-tiba, membuat Amelia salah tingkah.
"Saya sangat suka dengan anak kecil, jadi berteman dengan Sherly menjadi hiburan tersendiri buat saya," jawabnya. Thomas tersenyum mendengar jawaban Amelia.
"Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu," terangnya. "Ibu kandungnya meninggalkan Sherly, saat Sherly masih sangat kecil," ucap Thomas. Amelia bisa merasakan kesedihan di mata Thomas.
"Bahkan untuk sekedar melihat pertumbuhan putrinya saja dia tidak pernah sekalipun datang, sekarang dia sudah memiliki kehidupan sendiri dengan keluarga barunya," jelas Thomas.
"Aku bisa melihat dia sangat bahagia saat bersamamu," ucapnya menatap lekat ke arah manik Amelia.
"Saya juga sangat bahagia jika berdekatan dengan Sherly, dia bukan hanya pintar tapi dia juga sangat menggemaskan," puji Amelia.
"Baiklah ini sudah malam, sebaiknya kamu beristirahat! Kamu pasti sangat lelah," ucapnya.
"Terima kasih banyak, Mas,"
"Sama-sama," jawab Thomas. Thomas pun keluar dari kamar putrinya. Amelia langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Kemudian barulah dia tidur dan beristirahat.
Indonesia
Arga kembali dikejutkan dengan foto-foto istrinya, namun kali ini istrinya berfoto ramai-ramai.
__ADS_1
"Amelia sedang berfoto di mana? Aku yakin ini bukan Indonesia," gumamnya. "Melihat bangunannya, ini seperti di Jerman!" Arga nampak berfikir.
"Apakah mungkin Amelia berada di Jerman? Sedangkan untuk ke Jerman saja membutuhkan biaya yang besar," batinnya.
Arga kembali menghubungi nomor istri pertamanya, ternyata nomornya sudah diblokir Amelia.
"Ah, sial! Sepertinya dia benar-benar sangat marah kepadaku," ujarnya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Arga memutuskan langsung pulang ke rumah Ratih. Mobilnya berhenti di depan rumah, dan dia sempat mengecek kotak surat yang terpasang di halaman rumahnya. Ternyata ada beberapa surat yang masuk dan tidak sempat dia ambil.
Arga duduk di ruang tamu, melihat suaminya sudah pulang, Ratih langsung menghampirinya.
"Apa itu, Mas?" tanya Ratih kepada Arga.
"Surat," jawabnya. Kemudian dia menemukan surat dengan amplop warna coklat, Arga nampak berfikir.
"Surat apa ini?" tanya Arga sambil membolak-balik surat tersebut.
"Di sini tertera surat dari pengadilan, Mas," kata Ratih. Dan benar juga apa yang dikatakan Ratih. Pengirimnya adalah pengadilan negeri. Arga membuka surat tersebut, dan dia begitu terkejut karena surat tersebut adalah surat gugatan cerai dari Amelia.
"Ini surat gugatan cerai," lirihnya, Arga mengusap wajahnya kasar. Dia tidak percaya kalau akhirnya akan seperti ini.
"Ada apa, Mas?" tanya Ratih penasaran. Ratih pun membaca surat tersebut, dan dia begitu girang. Rasanya dia ingin berloncat-loncat seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah. Namun dia harus bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Aku tidak percaya, dia akan melakukan perbuatan itu," geramnya. "Padahal aku ingin memulainya kembali dari awal, kenapa malah justru seperti ini," kesal Arga kepada dirinya sendiri.
"Tenangkan dirimu, Mas! Mungkin Amelia sedang emosi," ucap Ratih berusaha untuk menenangkan suaminya.
"Semuanya adalah kesalahanmu! Jika saja kau tidak membuat gara-gara dengan Amelia, pastilah aku masih bersamanya," kesal Arga.
"Kenapa Mas malah menyalahkan Ratih?" tanyanya.
"Tentu saja kau yang salah, aku tidak akan pernah menceraikan Amelia," kesal Arga sambil berlalu masuk ke kamar.
__ADS_1
to be continued.....