Amelia

Amelia
Episode 160


__ADS_3

"Kenapa kamu terlihat sedih, Rum?" tanya Ayahnya.


"Yah!" Arum memeluk tubuh tua itu, kemudian menangis.


"Arum sedih, Yah," jawab Arum.


"Kenapa?"


"Kak Thomas sudah bisa berjalan. Dan pastinya dia akan pergi meninggalkan kita."


"Arum, Arum!" Ayah tersenyum, "Biarkan saja Thomas pergi. Dia kan punya keluarga!"


"Tapi Arum tidak mau Kak Thomas pergi, Yah!"


"Lho kenapa?"


"Karena Arum sayang banget sama Kak Thomas, Yah!" isaknya.


"Kamu menyukai Thomas?"


"Iya, Yah. Tolong, Yah! Cegah Kak Thomas pergi dari sini! Arum mencintainya, Yah!"


"Arum, Thomas sudah memiliki keluarga!"


"Tapi, Arum sangat mencintainya, Yah. Arum nggak bisa hidup tanpa Kak Thomas!" isak Arum lagi, "Selama ini Arum juga sudah berbohong kepada Kak Thomas. Arum nggak pernah menghubungi Istrinya. Arum tidak pernah pergi ke rumah Windi. Arum juga nggak pernah mendaki bukit untuk mencari sinyal. Arum bohong, Yah!"


"Kenapa kamu melakukan itu, Rum?"


"Karena Arum nggak mau Kak Thomas pergi dari sini, Yah?" isaknya.


"A-pa? Jadi kamu berbohong selama ini, Rum?" suara Thomas serak, suara khas orang bangun tidur. Tiba-tiba Thomas sudah berdiri di belakang Arum. Dia mendengar dengan jelas percakapan terakhir Arum dengan Pak Badi.


"Kak Thomas!" kaget Arum.


"Katakan, Apa benar Kau sudah berbohong kepadaku?" Thomas menatap tajam manik Arum.


"Hiks ... Hiks ... Hiks."


"Maafkan aku, Kak!" ucap Arum.


"Ayo katakan sejujurnya!"


"Arum tidak mau Kakak pergi dari sini. Arum sayang sama Kakak. Arum terpaksa berbohong pada Kakak!"


"Tega sekali kamu, Rum!" kecewa Thomas, "Kamu tahu, pasti dia sangat khawatir! Mungkin juga dia menganggap bahwa Aku suaminya sudah tiada!" isak Thomas.


"Kamu sangat tega, Rum!" Thomas memutar tubuhnya, dia berlalu meninggalkan ayah dan anak itu. Arum menyusul Thomas dibelakangnya.


"Kakak mau kemana?"


"Aku harus pergi. Aku akan ke Kota!"


"Jarak antara Desa ini ke kota cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki!" ujar Pak Badi, "Ini saya ada sedikit ongkos untuk ke kota!" ucap Pak Badi.


"Tapi ... !"


"Saya ikut, Kak!" timpal Arum.


"Nggak Rum. Saya akan pergi sendiri!"


"Tapi Kakak butuh Arum untuk membantu Kakak agar bisa sampai ke Kota. Arum juga punya sedikit tabungan untuk pergi ke Kota!" Thomas nampak berfikir. Dia tidak mungkin pergi ke Kota tanpa membawa uang sepeserpun. Dia membutuhkan uang Arum. Tapi gadis itu ternyata sangat cerdik. Dia sengaja menawarkan diri untuk ikut perjalanannya ke kota.


"Baiklah, Kamu boleh ikut!" ujar Thomas.




Sudah beberapa kali Dicky menghubungi ponsel Amelia. Namun ponsel Amelia tetap tidak aktif. Dia juga mendatangi butik Amelia. Namun semua karyawannya juga tidak mengetahui keberadaan Amelia. Bahkan sekarang butik diambil alih oleh Alina.

__ADS_1


"Kemana Amelia?" gumam Dicky menaruh curiga kepada Bram dan Alina.


"Aneh sekali, kenapa tiba-tiba Amelia tidak ada kabarnya begini?"



Amelia terisak saat dirinya mengingat bagaimana dirinya bisa sampai di rumah Diego. Dia merasa menjadi seorang istri yang gagal. Tidak bisa menjaga marwah dirinya. Bahkan dia tidak berdaya saat Diego dengan seenaknya bebas memegang tangan dan memeluk pinggangnya. Amelia terisak disudut ruangan kala dua buah hatinya tertidur pulas.



Keesokkan paginya, Amelia bangun lebih pagi. Dia keluar kamar. Guna menghirup udara segar. Semalaman menangis membuat dirinya lemah.



Para pelayan menyapa Amelia dengan sangat ramah. Begitu juga Lina, pengasuh buah hatinya. Wanita berkepala dua itu juga menyapanya. Namun Amelia membalasnya dengan sedikit senyum diwajahnya.


"Selamat pagi, Nyonya! Apa yang ada butuhkan, nanti kami siapkan?" tanya salah satu pelayan.


"Saya ingin menghirup udara segar. Aku ingin sedikit berkeliling. Bolehkan?"


"Silahkan, Nyonya!"


Amelia berkeliling rumah mewah ini. Rumah yang cukup besar dengan dua lantai. Rumah modern dengan gaya Eropa. Sangat indah.


Ada beberapa pelayan di rumah tersebut. Dan ada empat bodyguard di gerbang depan. Tidak mungkin jika dirinya kabur begitu saja dari penjagaan yang super ketat itu. Amelia pun mencari cara lain, agar dia bisa keluar dari rumah.


Amelia mengamati setiap sudut rumah itu. Di setiap sudutnya terpasang kamera cctv. Dan itu membuatnya lebih sulit untuk keluar dan kabur.


Amelia berhenti di sebuah kolam renang. Ada salah satu pelayan sedang membersihkan kolam renang. Amelia menyapanya dengan ramah.


"Permisi, boleh saya bertanya?"


"Boleh, Nyonya,"


"Siapa nama Bibi?"


"Nama Bibi, Bi Sumi. Panggil Bi Sumi saja, Nyonya!"


"Aduh, nggak berani, Nyonya! Bibi nanti dimarahi Tuan!"


"Apakah Bibi sudah lama ikut Tuan Diego?" tanya Amelia.


"Baru 2 bulanan sih, Nyonya!"


"Oh, jadi baru dua bulan,"


"Iya, Nyonya,"


"Apakah perlakuan Tuan Diego kepada Bibi baik?"


"Maksud Nyonya?"


"Maksudnya, Apakah perlakuan Tuan Diego kepada semuanya baik?"


"Baik Kok Nyonya!"


"Bibi betah ya ikut Tuan Diego?"


"Iya dong Nyonya! Tuan kan baik!"


"Aku nggak bisa mengorek keterangan apapun dari Bi Sumi. Aku harus meminjam telepon dari Bi Sum. Tapi siapa yang harus aku telepon. Nomor Dicky ada dikontak ponselku. Aku tidak ingat! Sedangkan jika aku menelpon Alina, tidak mungkin aku melibatkan Alina yang tengah hamil!"


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Amelia. Dia benar-benar sangat bingung.


"Amelia?" panggil Diego memegang pundaknya. Sontak Amelia terkejut.


"Kau sedang melamun?"


"Iya, Maaf. Aku sedang mengobrol dengan Bi Sumi!" ujarnya.

__ADS_1


"Kau sudah mandi?"


"Su-dah,"


"Pantas kau sangat cantik!" Diego mengusap wajah Amelia lembut.


"Tolong, jangan seperti ini!" Amelia menepis tangan Diego.


"Kenapa? Sebentar lagi kita akan menikah!"


"Iya, tapi, rasanya tidak enak jika dilihat orang!" Diego menjentikkan jarinya kepada Bi Sumi untuk pergi. Bi Sumi menganggukkan kepalanya menurut.


"Jadi kalau tidak ada orang aku boleh menyentuhmu!" bisik Diego tepat ditelinga Amelia.


"Kenapa kau harus melakukan semua ini?" tanya Amelia dengan sedikit keberaniannya.


"Karena aku mencintaimu! Kau sangat mirip dengan Monica. Bahkan Kau lebih cantik dari Monica!" ujarnya terkekeh.


"Tapi aku bukan Monica dan aku tidak mencintaimu. Aku mencintai suamiku. Jadi percuma saja kau memaksakan kehendakmu!"


Diego tersenyum tipis, dia mencengkeram dagu Amelia dengan keras. Membuat Amelia memekik tertahan.


"Aku tidak membutuhkan pendapatmu! Kau harus menggantikan posisi Monica. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan mu! Termasuk membunuh penghalang hubungan kita!"


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu jelas apa maksudku!" Diego melirik ke arah kamar, dimana kedua buah hatinya tertidur.


"Ja-ngan lakukan itu!" isak Amelia. Diego tersenyum penuh kemenangan, "Aku mohon jangan!"


Diego mencium bibir Amelia dengan paksa. \*\*\*\*\*\*\* dan memperdalam ciumannya. Namun Amelia tidak membalas ciuman itu. Amelia hanya bisa menangis kencang. Dia merasa jijik dengan dirinya sekarang. Pria yang bukan suaminya sudah berani mencium bibirnya tanpa dia bisa menolaknya.


"Jangan khawatir, Aku tidak akan melampaui batas!" ujarnya tersenyum tipis.


"Aku sangat membencimu dari lubuk hatiku yang paling dalam! Dan Apa yang ada padamu, Aku sangat membencinya! Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah memberikan hatiku kepadamu. Cintaku hanya untuk suamiku. Kau bisa saja mendapatkan tubuhku, tapi, Kau tidak bisa memiliki cintaku!" ketus Amelia. Namun lagi-lagi Diego hanya tersenyum tipis.


"Bersiap-siaplah! Aku akan mengajakmu ke butik untuk memilih baju pengantin!"


"A-pa?" Amelia terkejut.


"Aku akan mempercepat tanggal pernikahan kita!"


"Tidak, Aku tidak mau. Bukankah pernikahannya satu bulan lagi. Kenapa dipercepat?"


"Itu untuk hukuman kamu yang berani mengatakan kata-kata tadi!"


"Anda tidak bisa seperti itu, Pak Diego! Aku mohon pikirkanlah!" isak Amelia.


"Aku minta maaf. Aku tarik kata-kataku kembali!" ucap Amelia.


"Sudah terlambat!" ujarnya, "Cepat bersiaplah, aku menunggumu di mobil!"



Dengan terpaksa Amelia mengikuti kata-kata Diego. Lagi-lagi Diego mengancam Amelia. Dan Anak-anak adalah kelemahannya sekarang. Dengan langkah malas, Amelia duduk di samping Diego dengan wajah yang sedih.



to be continued ...



Mohon dukungannya....


Vote ....


Like ....


Bunga ...

__ADS_1


Dan Kopi ...


__ADS_2