Amelia

Amelia
Episode 190


__ADS_3

Amelia duduk sendiri, menerawang jauh ke luar jendela. Dia melamun memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Dia sudah berusaha untuk melupakan semua kejadian demi kejadian yang terjadi. Namun rasa ketakutannya belum juga hilang.


Takut, cemas, dan gelisah. Perasaan itu yang muncul dihatinya. Dua tangan kekar melingkar di pinggang, menyenderkan dagunya ke bahu sang istri. Merasakan wangi tubuh sang istri, benar-benar sangat dia rindukan.


"Mas mengangetkan ku saja?" lirihnya. Thomas terkekeh.


"Aku mendapat surat dari Bram. Ternyata surat dari pengadilan," ucap Thomas sambil memeluk sang istri bertambah erat.


"Lalu?"


"Kau harus datang ke pengadilan. Besok adalah sidang pertama Diego!"


"Diego." Istrinya nampak sedang berfikir, "Siapa Diego?"


"Diego adalah orang yang sudah menculik mu!"


"A-pa?" Amelia memutar tubuhnya.


"Kau harus tenang. Lawan rasa takutmu, Sayang! Aku akan menemanimu datang ke Pengadilan. Agar kasus ini cepat selesai, Kau harus datang!"


"Tapi Mas, Aku takut!"


"Sayang, Lawan rasa takutmu itu! Jika Kau tidak datang, maka kasusnya akan ditunda. Kau harus datang!" tutur suaminya, "Jika Kau mau datang. Aku janji, sekarang juga Aku akan mempertemukan mu dengan anak-anak. Lalu kita berlibur bersama. Kemanapun yang Kau inginkan, Akan aku kabulkan!"


"Benarkah?"


"Iya, Aku janji!"


"Baik kalau begitu. Aku akan berani. Aku akan datang ke pengadilan!"


"Bagus, Aku mencintaimu!"


"Aku juga, Mas!"


Thomas masih berusaha untuk memulihkan mental istrinya, dengan menikmati waktu berdua. Makan malam romantis di balkon kamar. Dengan lilin menyala. Amelia nampak sangat bahagia.


"Nanti setelah kasus selesai, Kamu mau nggak bulan madu?" tanya Thomas. Membuat harapan, agar istrinya semangat dengan apa yang ada di depannya.


"Ehm, Kemana ya?"


"Kamu mau ke Bali? Atau ke Jerman lagi? Atau ke Paris?" Thomas tersenyum.


"Terserah Mas saja. Tapi, Anak-anak ikut ya, Mas! Aku merasa kesepian!" ujarnya.


Ibu tetaplah ibu. Seorang ibu tidak bisa terpisahkan dengan buah hatinya. Seorang ibu akan terus-menerus ingat dan memikirkan buah hatinya.


________________


Sementara Alina, dia merasakan sakit diperutnya. Ada cairan bening merembes dari arah pangkal paha. Sambil menarik nafas dalam-dalam, Alina berusaha untuk meminta pertolongan.


"Lina!" serunya. Kebetulan Lina yang habis memandikan anak-anak mendengar teriakkan majikannya, langsung berlari ke kamar Alina.


"Nyonya!" Lina panik.


"Cepat telepon suamiku. Sepertinya aku akan melahirkan!" perintah Alina.


"Bbbbb-baik, Nona!"


Dengan tergesa-gesa Lina memanggil semua pelayan dan security laki-laki. Barulah dia menelpon Bram yang masih dikantor.


"Hallo, Pak Bram!"


"Ada apa, Lin?"


"Pak, Sepertinya Nona Alina mau melahirkan. Ketubannya pecah!"


"A-pa?" Bram jadi ikut panik, "Oke, tunggu-tunggu! Tolong kamu siapkan baju-baju istri saya! Sekarang saya pulang!"


"Tapi, Pak. Jika menunggu Bapak, akan terlalu lama. Bayinya akan segera lahir, Pak!"


"Begini saja, Tolong kamu dan security bawa langsung ke Rumah Sakit terdekat. Saya akan menyusul ke sana!"


"Baik, Pak. Saya akan membawa Non Alina ke sana!"


"Baik."


Tut ... Tut ... Tut


Lina juga bingung, jika dia pergi anak-anak di rumah dengan siapa. Siapa yang akan menjaga mereka.


"Hhhhhhhhh, Bagaimana ini?" Lina keluar memanggil security untuk membopong tubuh Alina ke mobil. Bergegas mereka semua menuju Rumah Sakit. Sedangkan anak-anak, Lina titipkan ke pelayan yang lain.


Sekitar dua puluh lima menit, Mobil mereka sampai diparkiran Rumah Sakit. Ternyata Pak Bram sudah menunggu kedatangan mereka di depan gerbang Rumah Sakit. Lina jadi lega, jadi, dia bisa langsung kembali ke rumah, menjaga anak-anak yang sempat dia tinggal.


Bersambung ...


☄️☄️☄️☄️☄️☄️


Bantu Like, favorit, rate bintang, dan Gift nya....


Judul : My Beloved Mafia Queen


Cuplikan:


Clara berdiri di depan sebuah fakultas terbesar di kota tersebut. Rencananya dia ingin menunggu di depan pintu gerbang. Menunggu adiknya keluar dari fakultas tersebut. Dia sedikit melongokkan kepalanya dari pintu gerbang.


"Mba mencari siapa?" tanya security satu.


"Eh, saya!" belum juga sempat menjawab, security kedua menarik tangannya masuk.


"Mba pasti dosen baru itu ya?"


"Hah." Clara bingung dengan ucapan security kedua.


"Bu ... !"


"Ayo, ikut saya! Mba sudah di tunggu sama Pak Rektor!"

__ADS_1


"Duh, Bagaimana nih?" Clara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo Mba!"


"I-iya."


Clara mengekor di belakang security kedua. Dia bingung harus melakukan apa. Nggak mungkin juga dong, dia bilang kalau sedang mencari orang difoto yang dia bawa. Bisa-bisa dikira mata-mata atau badan intelejen rahasia. Clara hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Eh, tunggu sebentar. Saya mau ke toilet dulu!"


"Hah!"


"Sebentar saja!" timpalnya lagi.


"Baik, saya tunggu!"


Clara masuk ke dalam toilet wanita. Tujuannya bukan untuk membuang air. Tapi dia sedang mengatur strategi. Kemudian dia melihat penampilannya di cermin besar di toilet.


Tidak terlalu buruk juga penampilanku! Ehm, sedikit menambahkan kaca mata!


Kacamata tebal dia pakai. Dan lumayanlah untuk merubah sedikit penampilannya supaya lebih meyakinkan lagi. Clara menahan tawanya, ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Melihat penampilannya sendiri di depan cermin.


Astaga, Apa aku sudah gila? Aku ini seorang Queen Mafia. Kenapa aku seperti wanita cupu seperti ini?


Clara keluar dari kamar mandi. Security yang menunggunya, siap mengantarkan ke ruangan rektor.


"Sudah siap?"


"Sudah, Pak."


"Mari, ikuti saya!" Clara menganggukkan kepalanya.


Mereka sudah berada di depan ruangan rektor. Di depan pintu terpasang papan, dimana disitu tertulis ruangan rektor. Security mengetuk pintu, dan masuk ke dalam. Sementara Clara menunggu di depan ruangan tersebut.


Tidak menunggu lama. Security keluar dari ruangan tersebut. Dan menyuruh Clara untuk masuk ke dalam.


"Silahkan, Mba! Masuk saja. Sudah ditunggu!"


"Baik. Terima kasih banyak!"


"Sama-sama."


Clara masuk ke dalam ruangan yang lumayan besar. Rapih. Bersih. Dan wangi. Sepertinya sang rektor sangat suka kebersihan dan kerapihan.


"Selamat pagi, Pak Rektor!" sapa Clara. Seorang pria sibuk memeriksa laporan di tangannya. Kursinya memunggungi Wanita cantik itu. Mendengar suara seseorang, kursinya memutar.


Wow, Amazing. Rektornya masih sangat muda dan enam huruf. T-A-M-P-A-N.


"Ini sudah siang. Kenapa Anda baru datang?"


"Hah."


"Duduk!" ucapnya. Tegas.


"Terimakasih, Pak!"


"A-pa?" Clara melongo.


Bagaimana dia tahu namaku? Apakah dia bisa membaca pikiranku? Apakah dia seorang yang sakti mandraguna?


"Namamu Clara kan?" Clara mengangguk.


"Iya, Pak. Kok Bapak bisa tahu nama saya Clara? Bapak bisa membaca pikiran orang ya?" tanya Clara dengan konyolnya. Pria itu hanya mengerutkan keningnya. Menoleh ke arah wanita yang duduk di depannya.


Brukk ...


"Bukankah ini datamu!" ucapnya menyerahkan satu map ke arahnya.


Clara membaca nama dosen yang ada di kertas berwarna putih itu. Banyak tulisan di sana. Tentu Clara malas membacanya. Dia hanya melewatinya begitu saja, turun ke bawah, memang ada nama Clara di sana. Tapi bukan Clara Lunoks, melainkan Clara W.


W itu apa ya? Oh, God. Apakah tuh orang salah? Duh, gimana ni?


"Anda akan mengajar di sini mulai besok. Semua datanya sudah kami terima." Clara tersenyum kecut.


"Silahkan Anda lihat-lihat dulu kampusnya. Memperkenalkan diri boleh dengan dosen-dosen yang lain!" ucap pria itu manis sekali. Seperti gula.


Ish, Apa yang aku pikirkan?


"Oh, ya. Sebelumnya, perkenalkan!" pria itu mengulurkan tangannya, "Saya rektor disini. Nama saya Fabiyan Bramantyo. Panggil saja Byian. Anda paham, Bu Clara!"


"I-i-iya, Pak. Saya paham!"


"Silahkan! Anda bisa melihat-lihat! Mau saya antarkan!"


"Oh, Boleh, Pak. Kebetulan saya juga kurang tahu. Lagian kampus ini luas sekali!" ujarnya.


"Mari silahkan!"


Fabyan mengajak Clara untuk berkeliling kampus. Pertama di ajak ke kantor dosen. Clara memperkenalkan dirinya. Memberikan senyumnya yang paling manis.


Setelah beramah-tamah di ruangan dosen, Fabyan juga mengajaknya ke kelas. Tempat yang nantinya dia akan mengajar.


Oh my God! Apa yang telah aku lakukan. Aku ini seorang mafia. Kenapa aku nyasar kesini?


Clara menggaruk kakinya yang terasa gatal. Dia garukan ke kaki satunya. Rasanya sangat gatal. Benar-benar membuatnya tidak tahan.


"Anda kenapa?"


"Ti-dak apa-apa, Pak!" senyumnya simpul.


"Anak-anak, perkenalkan! Dia dosen baru kalian! Namanya Bu Clara. Dan Bu Clara yang akan menjadi dosen pembimbing kalian. Kalian mengerti!"


"Mengerti, Pak!" seru mereka serentak. Disertai dengan riuh tepuk tangan.


"Saya tinggal, Bu! Silahkan memperkenalkan diri ibu kepada mereka!"


"Terimakasih banyak, Pak Fabyan!"

__ADS_1


Pintu ditutup. Fabyan sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Wajah anak-anak berubah menjadi aneh. Clara menghembuskan nafasnya kasar.


Maniknya mengamati seluruh kelas. Clara sedang mencari seseorang yang menuntut ilmu di kampus ini. Tidak ada.


"Baiklah. Saya perkenalkan diri saya dulu! Baru nanti kalian yang memperkenalkan diri! Oke!" ujarnya sambil membenarkan kaca mata tebalnya.


"Oke, Bu!" jawab mereka serentak.


"Nama saya Clara. Panggil Saya Bu Clara! Apakah ada pertanyaan?"


"Eh, kok dosennya seperti itu!" salah satu mahasiswa.


"Iya, Kenapa cupu banget sih!" jawab mahasiswa yang lain.


"Aku kira dosen baru kita, seorang dosen yang tampan!" kata yang satunya lagi.


"Aku juga pikir seperti itu! Ternyata seorang dosen cupu!" mereka terkekeh geli.


Sampai sini, anak-anak sibuk mengobrol sendiri. Bahkan ada yang menggunjing didepannya. Membuat Clara sedikit kesal. Dan mengumpat anak-anak itu dalam hati.


Jika saja aku tidak sedang dalam misi, Aku tembak kalian semua! Dasar anak-anak menyebalkan. Kenapa sih, aku harus terjebak disini?


Aaaaaaaaa. Sialan! Bisa-bisa aku frustasi!


Sabar!


Sabar!


Sabar Clara! Kamu bisa! Cari adikmu Sofia!


"Kalian dengar!" teriak Clara.


"Eh, dengar, Bu!" jawab mereka tergagap karena kaget.


"Bagus!"


Acara perkenalan selesai. Ternyata berteriak-teriak di depan anak orang, menguras seluruh tenaganya. Dia pun memutuskan untuk ke kantin. Namun Clara tidak tahu, dimana letak kantinnya.


"Permisi, dimana kantinnya?" tanya Clara pada anak-anak yang sedang mengobrol.


"Bu!" panggil segerombolan mahasiswa laki-laki. Clara memicingkan matanya. Mencium gelagat tidak baik dari mahasiswa tersebut. Mereka datang dengan menarik bibirnya. Nyengir kuda. Itulah yang ada dipikiran Clara.


Ada apa dengan mereka? Kenapa senyumnya sangat aneh? Apakah mereka ingin membuatku terpesona?


"Ibu mencari kantin ya?"


"Iya. Saya mau makan. Apakah kalian tahu?"


"Tahu. Ikuti kami, Bu!" ujarnya. Antara percaya atau tidak. Clara bukanlah anak kemarin sore. Melihat gelagat tidak baik dari mereka.


"Oke. Antarkan Ibu ke kantin."


"Silahkan!" ucap mahasiswa bertubuh tinggi tegap. Dengan anting kecil di telinga sebelah kanannya.


Clara mengikuti langkah ke empat pemuda itu. Jalannya berkelok-kelok. Entah mereka mau membawanya kemana. Si pria tegap itu menyuruh Clara untuk jalan ke sana. Namun mereka berhenti di tempat mereka.


Aneh!


Clara menuruti perintah mahasiswanya. Dia pikir, nggak mungkin kan ada mahasiswa bersikap kurang ajar kepada dosen. Dia pun menepis semua pikiran negatifnya pada anak-anak tersebut.


Clara terus berjalan lurus. Dan benar saja. Kantin sudah terlihat jelas. Clara pun memutar tubuhnya, menoleh ke empat mahasiswa itu. Mereka sudah tidak ada dibelakangnya.


Kemana mereka?


Bodo ah!


Clara seperti menginjak benang transparan. Menyangkut di kakinya. Dia tarik, Dan ...



Byurrrrrrr ...


Satu ember air, menguyur tubuh Clara. Semua mahasiswa dan mahasiswi yang mengerjainya tertawa lebar dan terbahak-bahak. Seolah-olah dirinya adalah lelucon yang sangat lucu.


Hahahaha ...


Tubuh dan baju Clara basah. Rambutnya juga basah. Apalagi kacamata tebalnya. Clara memberengut kesal. Dan memilih pergi dari tempat itu.


"Dasar anak-anak sialan! Berani-beraninya mereka mengerjai ku!" umpatnya.


Clara mengeringkan rambut dan bajunya dengan mesin pengering di toilet. Dia juga mengeringkan kacamatanya.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya seorang mahasiswi yang merasa prihatin dengan dirinya. Clara menoleh ke suara tersebut. Ternyata seorang gadis cantik yang berusaha berkomunikasi dengannya.


"Tidak apa-apa!"


Gadis itu tersenyum, "Syukurlah. Mereka semua memang selalu begitu kalau ada dosen atau mahasiswa baru!"


Clara mengamati gadis manis yang berdiri di depannya. Gadis itu sangat mirip dengan foto yang dibawanya. Namun ada sesuatu yang menurutnya sangat aneh.


Penampilan gadis itu sangat berbeda dengan yang ada di foto. Semakin cantik, dan semakin liar. Dengan makeup yang semakin berani.


Bajunya juga sangat seksi. Di atas lutut. Hidungnya mancung, sangat mirip dengan Papanya.


Apakah dia Sofia? Tapi dia sangat berbeda dengan fotonya!


"Ibu tidak apa-apa?"


"Tidak. Saya tidak apa-apa. Kamu tenang saja!" jawab Clara tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, Saya permisi, Bu!"


"Oke."


Akhirnya aku menemukannya, Pah! Aku menemukan Sofia. Anak papa.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2