Amelia

Amelia
Episode 117


__ADS_3

"Seharusnya aku yang marah! Kenapa tiba-tiba saja dia yang marah?" batinnya.


Bram masuk ke dalam rumah. Mama Celine yang melihat perubahan pada raut muka putrinya, tentu saja bertanya-tanya.


"Ada apa, Bram? Kenapa istrimu cemberut?" tanya Celine.


"Entahlah, Ma. Bram juga bingung. Perasaan tadi yang cemberut Bram. Kenapa justru Alina?" ucap Bram.


"Susul Alina ke kamar! Wanita yang sedang hamil itu sangat sensitif," tutur Celine.


"Baik, Ma. Bram ke kamar dulu!"


CEKREEK .....


Bram masuk ke kamar, dia lihat istrinya sedang menangis. Dia mendekat ke arah istrinya.


"Sayang?" panggilnya mesra.


"Kenapa kok menangis?" tanya Bram menggoyangkan bahu istrinya. Alina menepis tangan suaminya.


"Jangan sentuh aku. Kamu jahat, Bang!" ucapnya.


"Jahat? Emang aku jahat kenapa?" heran Bram.


"Perasaan yang marah tadi aku. Kenapa sekarang dia yang marah?" batin Bram.


"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya Bram.


"Aku tuh lagi pengen makan Bakso, Bang! Tapi, Abang nyuruh aku makan di rumah saja. Abang benar-benar nggak peka!" sewot Alina.


"Oh, jadi kamu lagi pengin makan bakso! Iya, sudah aku beliin ya?" ucap Bram.


"Aku mau ikut!"


"Tapi, Sayang, kamu lagi nggak boleh capek. Ingat kan kata Dokter?"


"Tapi, Al, pengen ikut!" rengek Alina seperti anak kecil.


"Baiklah. Kau boleh ikut!"


"Benarkah? Al boleh ikut?"


"Iya, Sayang,"


"Yeay, Al, boleh ikut!" senangnya.


Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia mencari warung bakso yang ramai. Karena biasanya kalau tempatnya ramai pasti enak.


"Sepertinya ini enak!" ucap Bram, menunjuk warung bakso yang cukup ramai.


"Iya, Bang, ramai banget! Pasti enak!" Alina menelan ludahnya sendiri.


Bram memarkirkan mobilnya, dia mencari tempat yang nyaman untuk mereka makan.


"Sayang, kita duduk di sana saja, tempatnya nyaman!" Bram nenunjuk tempat duduk yang kosong.


"Iya, Bang!"


Bram memesan dua mangkok bakso, satu untuk istrinya dan yang satunya lagi untuk Alina. Tidak menunggu waktu yang lama, pesanan sudah datang. Alina langsung menyerobot mangkok tersebut, dan menambahnya dengan lima sendok sambel. Membuat kuah bakso berwarna merah merona.


"Sayang, kamu makan bakso atau makan sambal sih?" tanya Bram heran.

__ADS_1


"Al, sedang ingin makan pedas, Bang!" jawabnya.


"Tapi itu sambalnya banyak sekali, Sayang? Nanti perutmu sakit?" protes suaminya.


"Tapi, Al, benar-benar sedang ingin makan pedas," jawabnya lagi.


"Kau ini!" Bram hanya geleng-geleng kepala saja.


Bram tidak percaya, hanya dengan hitungan beberapa menit saja, istrinya sudah menghabiskan satu mangkok bakso super pedas didepannya. Bram sampai menelan air liurnya sendiri.


Selesai makan bakso mereka pun memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, Bram mampir dulu ke supermarket.


"Sayang, aku mau beli sesuatu. Apakah kamu mau ikut?" tanya Bram.


"Nggak, Bang. Al, disini saja!"


"Baiklah, kalau begitu. Jangan kemana-mana! Ingat itu?" tutur Bram.


"Iya, Bang. Tenang saja!" ucapnya.


Sembari menunggu suaminya berbelanja, dia keluar dari mobil untuk mencari udara segar. Tiba-tiba matanya melihat pohon mangga, dimana banyak mangga muda yang bergelantungan di sana. Alina menelan air liurnya sendiri. Dia berencana ingin mengambil mangga tersebut. Namun Bram mengetahuinya terlebih dahulu.


"Sayang?" panggil Bram melihat istrinya hendak memanjat pohon.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Bram.


"Aku mau mangga itu, Bang!" tunjuk Alina.


"Hah!"


"Kita beli saja, Sayang. Di pasar banyak yang jual!" ujarnya.


"Tidak mau. Al, cuma mau makan mangga yang masih menggelantung itu!" jawabnya.


"Nggak mau, Bang! Pokoknya Alina mau mangga yang itu! Ayo, Bang, panjat! Kalau Abang nggak berani, biar Alina yang memanjat!" ujarnya.


"Aduh, Abang nggak berani, Sayang! Kita beli saja ya!" bujuk Bram lagi.


"Abang jahat!" rajuknya.


"Duh, bisa-bisa dia ngambek lagi!" batin Bram sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Oke, Oke. Aku akan manjat! Kamu dibawah saja, jangan kemana-mana. Oke!"


"Iya, Bang!"


Dengan bersusah payah, Bram mengambil mangga muda untuk istrinya. Walaupun menjadi pusat perhatian, dia tidak perduli. Yang penting istrinya tidak cemberut, dia sudah bahagia.


Bram mengambil beberapa mangga muda untuk dibawa pulang. Kebetulan juga, pohon mangga tersebut milik umum. Jadi tidak ada yang protes berapa mangga yang dia ambil.


"Pulang dari sini, aku akan membuat sambalnya, pasti sangat enak!" gumamnya sendiri. Bram hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin manja.


Mobil sudah sampai di depan rumah. Alina bergegas masuk ke dalam dan langsung ke dapur. Dia menyuruh pelayan untuk membuatkan sambal, karena dia ingin makan mangga mudanya dengan dicocol sambal.


"Heum, pasti sangat lezat!" ucapnya.


Bram yang baru masuk juga sangat heran. Apalagi Mama Celine, dia melongo melihat tingkah lucu Alina. Datang-datang sudah membuat para pelayan kerepotan.


"Ada apa sih, Bram?" tanya Celline.


"Alina mau makan mangga muda saja heboh banget, Ma!" jawab Bram, "Apa sih enaknya makan mangga muda dengan sambal?"

__ADS_1


"Oh, untuk ibu hamil itu sudah biasa, Bram. Itu namanya ngidam," jawab Mama.


Pelayan membawa sambal dan irisan mangga muda ke tempat duduk, yang terletak di pinggir kolam renang. Karena Alina yang memintanya. Dia ingin menikmati mangga mudanya di dekat kolam renang.


"Bang, sini!"ajaknya, "Ayo temani aku makan mangga ini!"


"Tuh, Bram. Sana kamu temani, Alina. Nanti kalau kau tidak mau, dia bisa marah, Lho!" tutur Celine kepada Bram.


"No, aku tidak mau, Sayang. Nanti perutku sakit," ujarnya.


"Ini enak sekali! Ayo, kesini!" ajak Alina lagi.


"Sayang, aku nggak mau. Sepertinya itu masam sekali!" tolak Bram. Celine terkekeh melihat Bram yang terus dipaksa memakan mangga muda.


"Ayolah, ini enak banget. Rasanya manis banget! Ayolah, satu kali saja!" bujuknya lagi.


"Iya, Iya, baiklah. Aku akan memakannya." Bram pun memaksa makan mangga tersebut, membuat alisnya mengerut karena menahan rasa asam yang luar biasa.


"Ada apa sih? Sepertinya seru banget!" ucap Thomas tiba-tiba datang dengan istrinya. Thomas dan Amelia baru pulang.


"Eh, Kak Thomas. Sini Kak! Mau nggak?" ucap Alina menawarkan.


"Wah, Apa enak tuh?"


"Enak, Bang. Coba deh!" dengan secepat kilat, Thomas menyambar mangga dan sambalnya.


"Hoek!" Thomas memuntahkan mangga yang sudah ia kunyah di mulut.


"Asam," ucap Thomas sambil berkumur-kumur dengan air putih. Bram tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Celine dan Amelia terkekeh geli.


"Ini enak Kok! Kenapa harus dimuntahkan sih, Kak?" manyun Alina.


"Enak apanya? Asam begitu?"


"Astaga, Mas. Namanya juga mangga muda, ya pastilah asam!" sahut Amelia.


"Itu namanya ngidam, Thom!" ujar Mama.


"Dulu, Amelia nggak begitu. Ngidamnya juga nggak aneh seperti Alina," ucap Thomas.


"Memangnya kamu tahu, dulu aku ngidam apa Mas?" tanya Amelia. Thomas menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tuh ngidam makan pentolnya Bang Parjo, Mas. Tapi, nggak ada yang mau beliin. Terpaksa deh aku menahan keinginanku makan pentolnya Bang Parjo!" manyun Amelia, membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.


"Astaga, Kenapa Bang Parjo dibawa-bawa sih?" cemberut Thomas.


"Ini semua tuh gara-gara Bang Thomas. Coba dulu dia nggak membobol gawang anak orang! Dihalalin dulu kek! Kasihan kan, saat ngidam orok pengen apa-apa nggak diturutin!" ucap Bram. Alina mencubit paha suaminya.


"Sialan Lu, Bram!" kesal Thomas.


"Sudah-sudah. Yang sudah terjadi jangan diungkit-ungkit lagi! Yang terpenting, Kalian berdua hidup bahagia. Dan kau Bram dan Alina, contoh kakak kamu dan kakak ipar kamu. Mereka saling mencintai, semua terjadi karena takdir Allah. Kita manusia hanya bisa menjalaninya!" tutur Celine kepada anak-anaknya.


"Iya, Mah. Kami semua bahagia kok. Kami semua saling menyayangi dan mencintai. Mamah sehat-sehat selalu ya!" ucap Amelia memeluk Mama mertuanya. Disusul oleh Alina dan Thomas. Saat Bram juga ingin ikut memeluk, Thomas melotot tajam kepadanya.


"Awas Kau jika memeluk istriku!" ancamnya.


"Ck, dasar Abang pelit! Kuburan mu sempit, Bang!"


"Kau menyumpahi ku!"


"Tidak,"

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2