
Jam makan siang sudah tiba, dia menengok ke arah jam diponselnya. Rasanya sangat aneh, karena sampai sekarang suaminya Thomas juga belum memberikan kabar apapun. Membuat Amelia sedari tadi gelisah tidak karuan.
Dia menoleh ke arah putranya yang terlelap tidur disofa. Bosan bermain dengan robot-robotan akhirnya dia tertidur pulas di sofa. Sesekali Aska kecil menggeliatkan tubuhnya, membuat Amelia tersenyum gemas.
"Mba Amelia, kami mau makan siang. Apa Mba Amelia mau nitip sesuatu?" tanya Rani.
"Eh, iya, Mba Rani. Saya mau nitip makanan untuk anak saya. Tolong bisa pesankan makanan yang tidak pedas!"
"Oh, chicken katsu saja kalau begitu, Mba. Anak-anak kan paling doyan sama makanan yang berbau ayam," ujarnya.
"Oh, boleh kalau begitu. Tolong ya Mba Rani!"
"Iya, Mba Amelia. Tenang saja!"
Amelia kembali menghubungi nomor ponsel suaminya. Tidak juga diangkat. Ponselnya aktif namun Thomas belum mengangkatnya.
"Kemana kamu sih, Mas? Kebiasaan deh, kalau ditelfon nggak ngangkat!" gerutu Amelia.
"Mommy," panggil Aska terbangun.
"Sayang, Kamu sudah bangun!"
"Aka mau pipis," ujarnya.
"Wah, jagoan Mommy sudah besar ya! Sudah pinter ngomong kalau mau pipis," senang Amelia. Amelia pun membantu putranya untuk mengantarkan Aska ke kamar mandi.
"Mommy, Aka mimpi buluk," ujarnya. Amelia nampak mengernyitkan alisnya.
"Masa anak sekecil ini sudah bisa mimpi buruk?" batin Amelia.
"Memangnya Aska mimpi apa?"
"Aka impi, Daddy mengelualkan banak dalah, Mom. Ih, ngeli," ucap Aska dengan suara cadelnya.
"Itu cuma mimpi, Sayang. Sudah lupakan ya!"
Tok ... Tok ... Tok
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam,"
"Permisi, Mba Amel. Nih Rani bawain makanan untuk makan siang!" ucap Rani seraya menyerahkan paper bag berisi makanan.
"Terima kasih banyak, ya, Mba Rani. Saya jadi merepotkan!" ucap Amelia.
"Nggak kok, Mba. Saya tidak merasa direpotkan. Aska pasti lapar, makanya saya buru-buru menyelesaikan makan siang saya, Mba. Supaya Mba Amelia dan Aska bisa makan siang juga!"
"Terimakasih banyak lho, Mba,"
"Iya, sama-sama,"
"Sayang, Ayo makan! Setelah makan, kita jemput Kakak Sherly di sekolah!"
"Asyik. Aka mau jemput kakak Shely," senangnya.
Setelah menjemput Sherly, Amelia mengajak kedua buah hatinya berbelanja di Supermarket. Mereka begitu riang, saat masuk ke dalam. Sherly mengambil trolly besar, dan dia dorong sendiri.
"Sini, biar Mommy saja!" pinta Amelia kepada putrinya.
"Thanks, Mom,"
"Sama-sama, Sayang,"
Aska berdiri di atas trolly, dengan berpegangan kuat. Sedangkan Sherly sedang asyik memilih makanan kesukaannya.
"Sayang, jangan terlalu banyak makan permen. Nanti gigi kamu rusak!" tutur Amelia.
"Lima boleh, Mom?"
__ADS_1
"Nggak,"
"Empat?"
"Nggak. Satu bungkus saja! Satu bungkus kan isinya banyak," ucap Amelia.
"Baiklah. Tapi, Apakah Sherly boleh membeli keripik?"
"Boleh, Sayang," Sherly mengambil beberapa keripik kentang dengan berbagai rasa.
Setelah ke rak cemilan, Amelia mengajak kedua buah hatinya ke tempat buah. Dia membeli apel, anggur, pisang, alpukat dan banyak lagi.
"Mom, Aka au jus buah," ujarnya.
"Iya, Sayang, Nanti kita buat dirumah ya! Mommy akan buat jus buah paling enak buat kamu,"
"Asyik,"
"Mommy, Ice Cream!" pinta Sherly memelas dengan wajah puppy eyes. Amelia tergelak, dia tidak bisa tidak menuruti anak-anaknya.
"Okey, kita beli ice Cream. Tapi dibawa pulang saja ya!"
"Oke, Mom,"
Selesai berbelanja, Amelia pun memutuskan untuk pulang. Pak Sopir sudah menunggunya di parkiran mobil. Mereka terlalu lama berbelanja , membuat Pak Sopir tertidur di dalam mobil.
to be continued ...
HeyΒ² , Ayo dukung karya ini!!!
Kasih like, rate bintang lima, bunga dan kopinya dong Say.....π₯°π₯°
Eh, hari Senen, ayo dong vote karya ini......π€π€π€
Mampir juga dikarya Author yang lain...
Michele Laura adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mandiri. Dia harus berhujan-hujanan karena dia lupa membawa payung di mobilnya. Biasanya dia selalu siap dan sedia, menyiapkan barang-barang yang nampak kecil namun besar kegunaannya dalam keadaan yang mendesak.
Michelle, wanita berparas ayu ini masuk ke dalam rumah dalam keadaan yang basah. Tubuhnya terguyur oleh air hujan. Hari ini dia tidak lembur, karena kebetulan semua pekerjaan ia selesaikan lebih awal. Michele melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan mendapati rumahnya tidak terkunci dengan ruangan yang gelap.
Michelle masuk ke ruang tengah, nampak baju suaminya berserakan. Dan yang membuatnya nampak sangat heran, ada baju wanita teronggok di lantai. ****** ***** dan bra juga teronggok di sofa begitu saja. Michelle mendengar suara-suara aneh didalam kamarnya. Suara ******* kenikmatan dari dua orang insan manusia yang berbeda lawan jenis.
"Argggggh." sebuah pelepasan yang sempurna, saat dua insan manusia itu mencapai titik klimaksnya.
"Hangat sekali, Sayang," ucap wanita cantik, yang suaranya sangat merdu ditelinga. Karena dia juga merasakan kenikmatan saat pelepasannya.
Michelle berjalan perlahan menuju kamarnya, dan membuka pintu kamar. Dia menghidupkan lampu kamarnya, betapa terkejutnya dia. Michelle melihat pemandangan yang membuat hatinya sangat hancur. Diranjang yang biasa ia gunakan untuk bercinta dengan suaminya, saat ini digunakan Nathan untuk bercinta dengan Dewi, sepupunya sendiri.
Nathan Hadiwijaya adalah suami yang dinikahinya lima tahun yang lalu. Selama lima tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, dan itu membuat Nathan bosan dan jenuh dengan pernikahannya sendiri. Nathan dan Dewi begitu terkejut, aktivitas panasnya telah dipergoki oleh Michelle.
"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku? Teganya kalian melakukan perbuatan menjijikkan dibelakang ku?" teriak Michelle dengan amarah menggebu-gebu.
"Hebat, kamu, Mas. Saat aku sedang bekerja kau malah berselingkuh dengan j****Ng ini!" isaknya. Hatinya sangat hancur, dadanya terasa sesak.
Nathan langsung memakai pakaiannya, begitu juga dengan Dewi. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Dan kau, adalah sepupuku. Bagaimana bisa kau melakukan ini kepadaku?" bentak Michelle kepada Dewi.
"Maafkan kami, Michie. Kami bersalah. Aku dan Mas Nathan saling mencintai," ucap Dewi menunduk.
"Apa?" Michelle tidak percaya dengan apa yang dikatakan sepupunya.
"Aku dan Dewi sudah menjalin hubungan sejak lama. Bahkan sebelum kita menikah, aku dan Dewi sudah menjalin hubungan terlebih dahulu. Dan rencananya kami akan menikah. Namun kedua orang tua kita, sudah menjodohkan kita lebih dulu. Sehingga, hubungan ku dengan Dewi kandas. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Sampai sekarang dan sampai detik ini aku masih sangat mencintai Dewi," jelas Nathan.
"Apa kamu bilang, Mas?" tubuh Michelle bergetar, dia tidak percaya suaminya mengakui semuanya.
"Aku tidak salah dengar kan?" herannya.
"Tidak. Aku masih mencintai Dewi sampai sekarang. Perasaanku tidak akan pernah berubah kepadanya, walaupun sudah lima tahun berlalu," jujur Nathan.
__ADS_1
"Jahat kamu, Mas! Kalian benar-benar tidak tahu malu! Apakah kalian tidak takut, perbuatan kalian dilaknat Allah?"
"Hiks ... Hiks .... Hiks." Michelle meninggalkan kamarnya, menuju kamar yang lain. Hatinya sudah tidak kuat lagi, Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Di kamar yang lain, tangis Michelle pecah. Dia tidak mengira, suami yang sangat dia cintai begitu tega menghianati dirinya. Padahal sebagai seorang istri dia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suami. Namun apa yang dia dapatkan. Hanya pengkhianatan dan air mata. Tidak terasa air matanya membanjiri pipinya.
"Lima tahun sudah kita menikah, kenapa kau begitu tega menghancurkannya dalam sekejap mata?" isaknya.
"Bahkan aku baru tahu kalau kau sudah memiliki hubungan dengan sepupuku sendiri. Kenapa saat orang tua kita menjodohkan, kau tidak pernah bercerita kepadaku?" isaknya lagi.
"Tidak, kau tidak boleh menangis Michelle. Kau wanita cantik, pandai dan berprestasi. Jangan menjadi wanita lemah dan bodoh dihadapan pria seperti dia!"
Michelle menghapus air matanya, dia berusaha berdiri dan bercermin.
"Kamu sangat cantik, pintar dan tidak lemah! Kamu tidak boleh menangisi pria seperti dia!" ucapnya kepada dirinya.
Michelle masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Berendam di bathtub dengan aromaterapi adalah salah satu cara merilekskan otot dan pikirannya supaya lebih tenang.
Selesai mandi dan berganti baju. Dia keluar kamar, tidak lupa dia memakai hijabnya, walaupun masih dilingkungan rumah.
Dia melihat suaminya Nathan sedang duduk di ruang makan. Sedangkan Dewi mungkin sudah pulang. Michelle ke arah dapur, dan menyiapkan makan malam untuk suami dan dirinya.
Hidangan ala kadarnya sudah siap di meja makan. Michelle mempersilahkan suaminya untuk menikmati makan malam yang ia masak sendiri. Bagaimanapun Nathan masih suaminya, dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yaitu melayani suami.
"Michie, duduklah! Aku mau bicara denganmu!" ucap Nathan dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ada apa, Mas?" Michelle duduk tepat dihadapan Nathan.
"Ayo kita bercerai!" ucap Nathan.
DEGH ....
Hati Michelle seperti tertimpa palu yang beratnya berton-ton. Dadanya terasa sangat sesak. Hatinya begitu hancur. Rumah tangga yang dibina selama lima tahun, sekarang harus kandas begitu saja.
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Michelle.
"Ayo kita bercerai. Setelah bercerai aku akan menikahi Dewi," jawabnya.
Badannya terasa sangat lemas. Kaki serasa tidak bertulang. Michelle menatap mata suaminya.
"Jika memang itu keputusanmu, aku akan menerimanya. Tapi, sebelumnya kau katakan dulu kepada ayah dan ibu. Bagaimanapun kita harus melibatkan orang tua. Karena mereka adalah orang-orang yang sangat aku hormati," ucap Michelle tegas.
"Iya, aku pasti akan mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi. Karena aku tidak pernah bahagia denganmu!" ucap Nathan.
"Tidak pernah bahagia?" Michelle tersenyum hambar.
"Lalu apa yang selama ini kita lakukan diranjang? Bahkan kau sangat menikmatinya? Apakah semua itu tidak ada artinya apa-apa bagimu?"
"Tidak. Aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai seorang suami," jawabnya.
Terluka? Tentu saja Michelle sangat terluka, mendengar kata-kata yang diucapkan Nathan kepadanya, seperti ribuan sembilu yang menancap dihatinya, sakit dan perih itu yang sedang dirasakan Michelle. Namun dia berusaha untuk tidak menangis.
"Lima tahun menikah, kita belum juga dikaruniai anak. Jadi untuk apa kita masih mempertahankan rumah tangga yang sangat membosankan ini?"
"Tapi, kita masih banyak waktu, Mas. Kita bisa berusaha lebih keras lagi. Bila perlu kita akan berkonsultasi dengan Dokter kandungan,"
"Sudahlah, Michie. Kenapa kau masih bertahan dengan pernikahan yang membosankan ini? Bukankah lebih baik kita bercerai dan menjalani kehidupan kita masing-masing," ucap Nathan.
"Kenapa kau begitu jahat, Mas? Aku tidak melihat cinta dan sayang yang sering kau katakan kepadaku. Apakah cinta dan sayang itu sudah pupus, setelah kau bertemu Dewi kembali?"
"Iya. Karena pada dasarnya, dari dulu aku masih sangat mencintai Dewi. Dan sampai sekarang pun aku masih sangat mencintainya," ucap Nathan.
"Baiklah, jika itu keputusan kamu. Aku akan menerima semua keputusan kamu. Tapi, tolong katakan kepada kedua orang tuaku dengan baik-baik," ucap Michelle menundukkan kepalanya.
to be continued.....
πππππππππ
Ketemu Author Cahyaning Fitri lagi. Ini novel baru netes ya Guys. Tiba-tiba aja ide muncul, Author tulis deh....Minta dukungannya ya?????
__ADS_1