Amelia

Amelia
Episode 164


__ADS_3

Thomas dan Arum meninggalkan rumah Pak Badi pagi-pagi sekali. Mereka sengaja bangun lebih pagi, supaya bisa ikut mobil bak sayur ke kota. Tidak banyak uang yang dibawa Arum, hingga terpaksa mereka harus menumpang di mobil sayur tujuan pasar di Kota.


Selama perjalanan Thomas hanya diam. Dia masih sangat kesal dengan sikap Arum. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan Arum sepenuhnya. Bagaimanapun Arum dan Ayahnya sudah menolong dirinya. Dia juga berjanji di dalam hati, dia ingin membantu keluarga Arum yang hidup dalam garis kemiskinan.


Perjalanan selama satu jam mereka tempuh untuk sampai ke kota. Namun mobil yang mereka tumpangi berhenti di pasar. Mereka pun turun di pasar.


"Aku bantu, Kak!" tawar Arum.


"Terimakasih,"


"Pak, terimakasih atas tumpangannya!" seru Thomas.


"Sama-sama, Mas!" mobil itu pergi untuk membongkar muatannya di pasar bagian dalam. Sedangkan mereka turun dari mobil hanya di depan pintu masuk utama pasar. Mereka sedikit berjalan mencari kendaraan menuju pusat kota.


Thomas menyeka peluhnya yang bercucuran di dahi. Panasnya matahari membuat dia berkeringat banyak. Arum memperhatikan setiap gerak-gerik pria yang ada disampingnya, kemudian membantunya mengelap keringat di dahi Thomas.


"Tidak usah, Biar aku saja!" ketus Thomas. Membuat hati Arum ciut untuk mendekatinya.


Sudah satu jam lamanya, bis yang mereka tunggu tidak kunjung datang. Karena lelah mereka pun memutuskan untuk duduk di bangku tunggu halte.


Sekilas Thomas melihat Amelia di mobil yang sedang berhenti. Mobil itu sedang menunggu lampu lalulintas berwarna hijau. Thomas beranjak dari tempat duduknya. Dia sangat yakin bahwa itu memang istrinya. Tapi di mobil tersebut istrinya tidak sendiri. Dia bersama dengan pria lain, dan Thomas tidak bisa melihat siapa pria yang sedang bersama istrinya.


"Ada apa, Kak?" tanya Arum membuat Thomas terkejut dan menoleh ke arah Arum.


"Aku seperti melihat istriku Amelia!"


"Kakak mau kemana?"


"Aku harus mengejar mobil itu!"


"Tapi lampu lalu lintas sudah berubah hijau!"


"Kak!" panggil Arum. Thomas tidak menghiraukannya.


"Amelia!" panggil Thomas.


"Kak Thomas! Awas ada mobil!" seru Arum.


Chiiiiiiiiiiiit ...


"Woi, kalau menyeberang hati-hati!" ketus seseorang mengendarai mobil angkutan.


"Maaf, Pak! Maafkan kakak saya!" ucap Arum seraya menarik tangan Thomas agar minggir ke trotoar.


"Kak, hampir saja tertabrak!"


"Aku yakin itu tadi istriku!"


"Iya, Arum tahu. Kita nanti langsung bertemu di rumah saja ya!" ucap Arum.


"Ya, apa yang dikatakan Arum benar. Menemui istrinya di rumah adalah jalan yang terbaik. Dan menanyakan perihal tadi!" batin Thomas.


"Eh, itu bus nya sudah datang!" seru Thomas, "Ayo cepat Arum kita naik!"


"I-iya, Kak."


Mereka menaiki bus jurusan pusat kota. Kembali Thomas terdiam, dan sibuk dengan berbagai pertanyaan dihatinya.


"Siapa yang bersama Amelia?" batin Thomas.


"Aku harus bertemu dengan Amelia. Dan menanyakan siapa pria yang duduk disampingnya!" Thomas nampak sedang berpikir keras.


"Stop!" seru Thomas membuat Arum sangat terkejut.


"Apakah kita sudah sampai, Kak?"

__ADS_1


"Iya, Arum. Kita turun disini!" ujar Thomas.


"Ayo!"


Setelah membayar ongkos bis, mereka pun turun. Sedikit berjalan ke arah kompleks perumahan. Arum sampai terpana melihatnya. Tidak berkedip dan terkagum-kagum.


Thomas mendekati gerbang rumahnya. Namun sepertinya rumah sepi. Tidak ada security yang menjaga. Thomas pun berteriak memanggil nama semua orang yang tinggal dirumahnya. Tidak ada yang keluar.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan Thomas. Seorang pria keluar dari mobil tersebut. Pria tersebut nampak heran, mengamati Thomas dari ujung kepala hingga kaki, kemudian tertawa senang.


"Pak Thomas!"


"Dicky,"


"Pak Thomas baik-baik saja? Apakah ini benar-benar Anda? Anda masih hidup?" Dicky memberondong Thomas dengan banyak pertanyaan.


"Iya, Ini aku. Aku masih hidup."


"Syukurlah. Amelia mencari keberadaan Anda hingga dia seperti orang gila. Setiap hari dia menangisi kepergian Anda. Dia selalu yakin bahwa Anda masih hidup!"


"Benarkah?" senang Thomas, "Karena itu aku ingin secepatnya menemuinya!" Thomas memutar tubuhnya hendak memanggil nama istrinya. Namun tiba-tiba dicegah oleh Dicky.


"Apakah Anda tidak tahu bahwa istri Anda sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?"


"A-pa?" kaget Thomas.


"Aku sudah sering datang ke rumah ini. Kata security yang menjaga, Adik Anda yang bernama Alina sudah mengusir istri Anda dari rumah karena sebuah kesalahpahaman!"


"Maksud kamu?"


"Ikutlah denganku! Aku akan menceritakan semuanya!"


"Tidak. Aku tidak percaya denganmu! Tidak ada seorangpun yang bisa aku percaya sekarang!" ketus Thomas.


"A-pa?" Thomas nampak sangat terkejut, "Kau jangan membuat cerita bohong!" kesal Thomas hendak menghajar wajah Dicky.


"Lakukanlah! Jika itu membuat Anda percaya dengan saya!"


Thomas nampak berfikir. Kemudian dia menurunkan tangannya. Sedikit mengalah.


"Ikutlah dengan saya! Kita pergi ke suatu tempat. Akan aku jelaskan sesuatu!"


"Baik. Kali ini Aku percaya kepadamu. Jika kau membohongiku, Aku pastikan, Aku akan menghajarmu!"


"Silahkan. Dengan tangan terbuka, aku akan menerima setiap pukulan Anda!"


Thomas dan Arum pun naik ke mobil Dicky. Dicky membawa mereka ke suatu tempat. Setelah kepergian mereka, keluar security dari dalam rumah. Dia nampak keheranan. Security itu seperti mendengar seseorang memanggil. Tapi setelah keluar ternyata di depan tidak ada orang.


"Rumah siapa ini?" tanya Thomas setelah mobil Dicky berhenti di halaman rumah itu.


"Ini rumahku, Pak Thomas."


Dia mempersilahkan Thomas dan Arum untuk masuk dan membersihkan diri mereka.


Sebelum ke rumah itu, Dicky mampir ke sebuah butik untuk membeli beberapa stel baju yang layak untuk Thomas dan Arum. Dicky melihat pakaian yang Thomas kenakan sekarang sangat kumal dan kotor.


"Terimakasih banyak. Semua jasa-jasa mu tidak akan aku lupakan!" ucap Thomas sudah membersihkan tubuh dan mengganti bajunya.


"Sama-sama, Pak."


"Oya, Siapa wanita yang datang bersama Pak Thomas?" tanya Dicky.


"Oh, itu. Dia adalah orang yang sudah menolongku. Dia juga membantuku hingga sampai di kota ini!"


"Oh, begitu."

__ADS_1


"Sekarang bisa Kau ceritakan secara detilnya!"


"Oya, Aku hampiri lupa!" ujar Dicky. Dicky mengambil sesuatu dari dalam mobil. Dia kembali duduk di samping Thomas. Dan menyerahkan sebuah surat kabar lama. Surat kabar lama dari Amelia.


"Apa ini?"


"Terakhir aku bertemu Amelia, dia memberikan surat kabar ini. Dia mengatakan kalau dia curiga dengan seseorang di rumah. Kemudian dia menyelidiki seseorang di rumah itu!"


"Apakah maksudmu Bram?"


"Anda tahu?"


"Tidak. Bukan dia orangnya!" ucap Thomas, "Dia hanya diperalat seseorang!"


"Apakah Anda yakin?"


"Saya yakin!" tukas Thomas, "Sebelum Saya jatuh ke jurang. Ada dua mobil yang menyerempet saya. Mobil saya tergelincir, dan berhenti di tepi jurang. Ada batang pohon besar yang menahan bobot mobil. Bram keluar dari mobilnya. Saya sempat meminta tolong kepada Bram, tapi, Bram justru pergi meninggalkan saya. Setelah Bram pergi, ada mobil yang datang. Orang itu keluar dari mobil, dia tersenyum lebar. Dia juga mengatakan, Alasan dia melakukan perbuatan keji kepada saya dan keluarga saya. Dia berhasil memperalat Bram untuk membalaskan dendam nya pada keluarga Williams!" jelas Thomas seraya menghela nafasnya panjang.


"Dan orang itu yang membuat mobil saya jatuh hingga ke dasar jurang!"


"A-pa?" Dicky terkejut.


"Kenapa Amelia bisa diusir dari rumah? Apakah Kau tahu?"


"Kata salah satu pelayan Anda mengatakan bahwa ada seseorang yang berusaha untuk memfitnah istri Anda!"


"Sekarang dimana dia tinggal?" cemas Thomas di dalam hatinya.


Aska? Sherly? Daddy kangen kalian!


Dicky merasakan kegelisahan di dalam hatinya. Rasa takut yang luar biasa menyelimuti hatinya. Dia berusaha menghubungkan rangkaian peristiwa demi peristiwa. Meskipun terpotong-potong, Dicky menangkap dengan jelas. Bahwa pelaku yang sebenarnya adalah seseorang yang sangat dia kenal.


to be continued ....


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!


Vote yuk Beb!!!!!


Ayo bantu vote!!

__ADS_1


__ADS_2